Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032
Rumor yang Dipadamkan Pelan
Namun kata-kata itu sudah terlanjur masuk.
Kevin mencoba membuangnya bersama pesan yang ia hapus, tetapi sepanjang reading siang itu, kalimat Melinda tetap muncul di sela dialog. Dia akan bilang tidak sebelum berani mengaku takut.
Kiara tidak terlihat seperti orang yang takut.
Ia duduk di kursi lipat dengan naskah penuh catatan, sesekali bertanya pada Gunawan tentang motivasi Putri Mahkota. Rayhan berada di sisi ruangan, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Ia memberi Kiara ruang untuk bekerja, tetapi setiap kali Kiara batuk kecil atau menggosok pergelangan tangan, matanya langsung bergerak.
Kevin melihat semuanya.
Dan makin ia melihat, makin sulit membedakan mana perlindungan dan mana pengawasan.
Sore itu, sebuah akun gosip mengunggah potongan baru.
Caption-nya tidak lagi manis seperti sebelumnya.
Kevin Wibowo tampak mengkhawatirkan Kiara. Benarkah aktris muda itu terlalu dikontrol oleh sosok konglomerat tertentu?
Foto yang dipakai diambil dari sudut koridor reading room. Kevin berdiri di depan pintu, wajahnya serius. Kiara duduk di dalam. Rayhan tampak di belakangnya, setengah tertutup bayangan. Jika orang tidak tahu percakapan aslinya, gambar itu bisa dibaca sesuka hati.
Ci Lucy menemukan unggahan itu tiga menit setelah naik.
"Ini bukan organik," katanya tajam.
Kiara membaca caption, lalu menghela napas. "Mereka benar-benar suka sekali membuat hidup orang lain jadi drama."
Santi marah. "Kak, ini sengaja mengarahkan orang supaya berpikir Pak Rayhan mengurung Kakak."
Rayhan mengambil ponsel dari tangan Ci Lucy.
Wajahnya tenang. Justru terlalu tenang.
Kiara menatapnya. "Koko."
"Aku dengar."
"Jangan meledak."
"Aku sedang duduk."
"Koko bisa meledak sambil duduk."
Ci Lucy hampir tertawa, tetapi menahannya karena situasi tidak tepat.
Rayhan menatap Kiara beberapa detik. Lalu ia menyerahkan ponsel itu kepada Adi yang baru datang.
"Turunkan unggahan yang memakai sudut privat reading room. Jangan sentuh diskusi akting dan promosi film. Minta legal kirim peringatan ke akun yang menyebut kontrol, kurungan, atau hubungan pribadi tanpa dasar. Cari sumber foto."
Adi mengangguk. "Baik, Pak."
Kiara berkedip.
"Cuma itu?"
Rayhan menoleh padanya. "Kamu mau aku melakukan lebih?"
"Tidak." Kiara cepat menggeleng. "Aku cuma... kupikir Koko akan langsung menutup semua akun."
"Aku ingin." Jawabannya jujur. "Tapi kalau aku menutup semua, orang akan makin mengira kamu memang tidak punya suara."
Kalimat itu membuat Kiara diam.
Rayhan menunduk, merapikan naskah yang miring di pangkuannya. "Jadi aku tutup bagian yang menyentuh privasimu. Sisanya kamu yang bicara kalau kamu mau."
Ada sesuatu yang bergerak pelan di dada Kiara.
Ia tahu Rayhan tidak tiba-tiba menjadi pria normal yang santai menghadapi gosip. Ia masih berbahaya. Masih posesif. Mungkin di kepalanya, ia sudah membayangkan seratus cara untuk membuat akun itu hilang bersama pemiliknya.
Tapi ia berhenti di batas yang Kiara perlukan.
"Aku mau bicara," kata Kiara.
Ci Lucy langsung mengangkat alis. "Sekarang?"
"Bukan live panjang. Cukup satu story."
Rayhan tidak melarang.
Kiara mengambil ponselnya sendiri. Ia memilih latar set istana, bukan sofa pribadi, bukan mobil Rayhan. Dengan Santi memegang kamera, Kiara berdiri dalam kostum latihan sederhana dan tersenyum tipis.
"Teman-teman, terima kasih sudah memperhatikan proses Gerbang Majapahit. Aku senang banyak yang tertarik pada chemistry karakter kami. Tapi tolong jangan mengubah kerja profesional kru dan pemain menjadi asumsi tentang kehidupan pribadi. Aku sehat, aku bekerja dengan tim yang baik, dan semua keputusan profesionalku aku ambil sendiri bersama manajemen. Sampai ketemu di bioskop."
Satu take.
Jelas, sopan, dan tidak memberi makan drama.
Setelah story naik, komentar mulai berubah. Sebagian masih menggoda, tetapi banyak yang memuji cara Kiara bicara. Akun gosip yang tadi menaikkan isu menghapus caption dalam waktu dua puluh menit setelah surat legal masuk.
Kevin melihat story itu dari sudut studio.
Wajahnya panas.
Ia tahu Kiara sedang bicara kepada publik, tetapi sebagian kalimat itu seperti diarahkan kepadanya. Jangan mengubah kerja profesional menjadi asumsi pribadi.
Ponselnya bergetar lagi.
Melinda: Bagus. Artinya dia merasa perlu membela diri.
Kevin mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi.
Jangan pakai aku untuk menyeret dia.
Kali ini ia mengirim.
Balasan Melinda tidak datang.
Setelah take terakhir, Kevin menghampiri Kiara di depan meja properti. Rayhan sedang bicara dengan Gunawan beberapa langkah dari sana, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk tidak memotong.
"Kiara," kata Kevin.
Kiara menoleh. "Ya?"
Kevin menggenggam naskahnya sendiri, ujung kertas sedikit tertekuk. "Soal tadi. Pertanyaanku kelewatan. Aku minta maaf."
Kiara menatapnya beberapa detik. Ekspresinya tidak keras, tetapi juga tidak dibuat manis.
"Aku terima maafmu," katanya. "Tapi jangan ulangi."
"Tidak akan."
"Kalau kita mau membuat adegan kita bagus, cukup percaya pada naskah dan arahan Om Gunawan. Jangan bawa urusan pribadiku ke meja reading."
Kevin mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak Melinda mulai mengirim pesan, kepalanya terasa sedikit lebih jernih.
"Baik. Mulai besok, aku fokus pada naskah."
Kiara tersenyum tipis. "Itu lebih membantu."
Di sisi lain ruangan, Rayhan melihat semuanya. Ia tidak datang. Tidak mengambil alih. Hanya ketika Kiara berjalan kembali, ia menyodorkan botol air hangat seperti hadiah kecil untuk keberaniannya menyelesaikan masalah sendiri.
***
Malam itu, Adi menyerahkan laporan sumber foto kepada Rayhan.
"Akun pertama menerima materi dari admin promosi freelance yang pernah bekerja untuk acara Yanuar. Jalurnya berbelok lewat dua nomor, tapi salah satunya pernah aktif di grup pendukung Yolanda."
Nama itu membuat suhu ruangan turun.
Kiara sudah tidur di sofa kecil, naskah terbuka di dadanya. Rayhan mengambil selimut tipis dan menutup tubuhnya sebelum menerima tablet dari Adi.
Di layar, wajah Yolanda Yanuar muncul dalam foto lama dari gala.
Setelah dipermalukan, namanya memang meredup. Tetapi rupanya tidak benar-benar hilang.
Rayhan menatap foto itu lama.
"Dia masih punya waktu main-main."
Adi tidak menjawab.
Rayhan menurunkan suara, memastikan Kiara tidak terbangun.
"Besok pagi, bersihkan sisanya."