Eiren Azura merupakan gadis periang denga wajah cantik dan penuh keberanian. Dia merupakan gadis yang tidak memiliki prestasi apa pun dalam bidang kuliahnya. Sebuah kesalahan membuatnya harus berurusan dengan Adelio Cetta, seorang dosen tampan, tetapi juga galak. Semua bermula dari kesalahannya hingga dia mengetahui begitu banyak tentang dosen populer yang digandrungi begitu banyak wanita.
Adelio Cetta, merupakan pria yang selalu bertanggung jawab dan terpaku pada masa lalu. Keberadaan Eiren perlahan melunturkan pandangannya tentang seorang wanita. Perlahan, gadis tersebut mampu mengikis benteng yang selalu dibangunnya hingga menjulang tinggi.
》》》》》
Aku berusaha menjauh darimu, menghindari luka yang masih begitu baru menampilkan goresannya. Namun, takdir begitu kejam menarikku hingga kembali padamu.
Eiren Azura
》》》》》
Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Apa pun yang kamu pikirkan saat ini. Aku hanya akan membawamu dalam genggamanku.
Adelio Cetta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31_Calon Menantu
“Ya, seperti yang baru saja kamu dengar. Eiren adalah kekasihku dan akan menjadi calon istriku.”
Eiren yang mendengar membelalak tidak percaya. Dia menikah dengan Elio? Hanya dalam mimpi. Eiren yang digenggam Elio dengan erat mencoba melepaskan diri, tetapi gagal karena tenaga Elio jauh lebih kuat darinya.
“Lepas,” desis Eiren dengan bibir mengerat dan menahan amarah yang siap meledak.
Elio menatap sekitar dan memperhatikan seisi ruangan dengan pandangan dingin. Terlebih ketika dia menatap Alex yang hanya diam dengan tangan mengepal, menahan amarah yang sudah berada di ubun-ubun.
“Elio, lepas,” geram Eiren dengan tangan yang masih berusaha melepaskan genggaman tangan Elio.
Elio yang mendengar langsung menatap Eiren dengan tatapan mematikan. “Diam atau kamu akan melihat surat pengeluaranmu dari kampus sekarang juga,” ancam Elio sembari menunjukan foto yang sudah tersimpan di kantong jasnya.
Eiren yang mendengar seketika menegang. Dia kembali diam dengan wajah mengeras dan siap memukul Elio. Jika saja Elio tidak memiliki foto memalukan dirinya, dia akan dengan senang hati memukul dosennya hingga babak belur.
“Jelaskan semuanya, Eiren,” ucap Alex dengan mata menatap Eiren lekat.
Eiren yang melihat hanya memejamkan mata dan tidak menatap Alex. Apa yang diharapkannya dari dua orang pria yang sedang memperebutkannya saat ini? Dia mencintai Alex, tetapi Eiren cukup sadar dengan takdir mereka yang memang berbeda. Sedangkan dengan Elio, dia membenci pria yang saat ini ada di sebelahnya. Pria yang dengan egoisnya melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginanya.
“Sudah tidak ada yang perlu dijelaskan, Alex. Kamu hanya butuh sadar dengan kenyataan yang ada,” jawab Elio karena Eiren hanya diam.
Alex baru akan melangkah mendekati Eiren ketika Elio mulai menarik gadis tersebut dan membawanya menjauh. Eiren hanya bisa diam menghadapi tatapan benci dari mahasiswi lain karena dirasa sudah menggoda dosen kesayangan mereka semua. Dalam hati dia benar-benar mengutuk siapa saja yang sudah memberinya obat konyol ke dalam minumannya. Membuatnya harus berurusan dengan manusia semacam Elio.
Eiren menatap sekeliling dengan pandangan tajam dan mendapati tempat tersebut sepi. Dengan cepat dia menyentak tangan Elio dan melepaskan genggaman tangan yang sejak tadi memegangnya erat.
Elio yang merasa sudah melepaskan Eiren berbalik dan menatap gadis tersebut dengan pandangan tajam dan juga dingin.
“Kamu gila, hah? Aku bahkan sudah dengan jelas mengatakan bahwa aku tidak mau menikah denganmu!” teriak Eiren mengeluarkan semua kekesalanannya.
Elio yang mendengar hanya memandang dengan wajah datar dan menghela perlahan. Tangannya dimasukan ke dalam kantong celana dan menatap Eiren yang masih menggeram marah di depannya.
“Kamu gila, hah? Kamu mau buat aku menjadi bahan bully-an di kampus?” geram Eiren masih dengan perasaan dongkol setengah mati. Tanggannya bahkan sudah mengepal erat dan siap menonjok Elio. Jika dia bisa, karena nyatanya, dia tidak bisa.
Elio yang melihat Eiren sudah selesai dengan perdebatannya menghela napas perlahan dan menatap Eiren dengan wajah datar. “Sudah bicaranya?” tanya Elio dengan kepala yang dimiringkan.
Eiren hanya diam dan menatap Elio dengan bibir mengerat. Dia masih ingin memaki, tetapi rasa lelah dan malas kembali menyerang. Dia lelah harus menjadi korban dari keegoisan seseorang.
“Kalau sudah, cepat masuk ke mobil. Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu,” ucap Elio dengan nada tajam dan menatap lurus ke arah Eiren.
“Dan aku tidak menerima penolakan,” tegas Elio dan langsung melangkah masuk ke dalam mobil.
Eiren yang mendengar hanya mampu mendesah tanpa daya. Dia tidak mau kuliahnya berantakan. Padahal niatnya hanya mau berkuliah dengan tenang dan tidak ada masalah sama sekali. Nyatanya, semua impiannya hilang ketika dia bertemu dengan Elio.
Lama Eiren berdiri di depan mobil Elio. Membuat siempunya merasa bosan. Elio langsung menekan klakson berulang kali agar gadis tersebut mulai sadar dari lamunannya. Eiren yang sudah merasa tidak memiliki pilihan lain hanya menurut dan masuk ke dalam mobil Elio dengan setengah hati.
Elio hanya diam dan segera menjalankan mobil, meninggalkan kampus tersebut. Dia sudah tidak memikirkan akan mendapat masalah atau apa pun. Baginya, yang terpenting hanya mengenai diri sendiri.
_____
Sepanjang perjalanan, Elio dan Eiren hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Eiren yang merasa hidupnya sudah terlalu hancur dan juga perasaan yang memang sudah menjadi abu. Apalagi yang dapat dilakukannya setelah ini? Eiren yakin, hari-harinya tidak akan pernah seindah dulu lagi.
“Keluar,” perintah Elio yang sudah menghentikan mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman.
Eiren yang ditegur segera tersadar dari lamunannya dan menatap rumah mawah di hadapannya. Matanya mengamati bangunan yang terasa asing di depannya. Keningnya mengerut dalam mengingat bahwa bukan ini tempat tinggal Elio.
“Kamu gak mau turun?” tanya Elio yang masih menatap Eiren yang masih memandang bingung.
Eiren kembali menatap Elio dengan wajah bingung. “Ini rumah siapa, Elio?” tanya Eiren dengan mata mengamati lekat.
“Masuklah dan kamu akan tahu ini rumah siapa,” jawab Elio dengan suara dingin.
Eiren yang melihat Elio hendak keluar mobil mencegah Elio dan menggenggam tangan pria tersebut, membuat Elio kembali menatapnya.
“Apa, Eiren?” tanya Elio dengan suara lelah.
“Jawab dulu, Elio. Apa yang kamu rencakan? Ini rumah siapa atau akan keluar dan pergi dari tempat ini,” ancam Eiren dengan wajah serius.
Elio yang mendengar mendesah pelan dan menatap Eiren dengan tatapan memohon. “Aku harapan untuk kali ini menurutlah, Eiren. Aku akan memberitahukanmu nanti,” jawab Elio dengan wajah memelas.
Eiren yang mendengar hanya menghela napas perlahan dan mulai melepaskan genggamannya pada lengan Elio. Dia mulai turun dan menatap bangunan megah di depannya. Matanya mengamati sekitar dan menatap takjub. Sudah ada beberapa orang yang berjaga di depan pintu dan berbagai sudut, membuat Eiren hanya mampu menelan ludahnya susah payah.
Tempat semacam apa ini? Kenapa begitu banyak orang menyeramkan, batin Eiren mulai ragu.
Elio menggandeng tangan Eiren dan mulai melangkah masuk. Jujur, Eiren sudah tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kabur juga terasa percuma saja. Dia pikir, Elio hanya akan membawa ke apartemen pria tersebut. Eiren semakin dibuat diam dengan pemandangan yang tersaji ketika langkahnya semakin dalam mulai memasuki rumah tersebut.
Sampai matanya menatap wanita cantik yang juga menatapnya dengan senyum sumringah. Langkahnya terhenti ketika wanita tersebut ikut berdiri dan melangkah mendekatinya.
“Jadi ini calon menantu mama?” ucap wanita tersebut dengan wajah penuh kebahagiaan.
Menantu? Mama? Eiren segera menatap Elio yang hanya menatapnya dengan pandangan datar. Sedangkan dia, hanya diam dengan kebingungan yang kian melanda.
“Eiren, perkenalkan, dia mamaku. Farah,” ucap Elio memperkenalkan.
“Dan dia Eiren, calon menantu mama,” sahut Farah dengan wajah yang masih menunjukan keceriaannya.
Eiren yang mendengar hendak memprotes ucapan tersebut langsung terdiam ketika Farah memeluknya dengan erat. Perasaan yang tidak pernah didapatkan Eiren dari mamanya. Dia hanya bisa meresapi setiap sentuhan dan juga pelukan hangat dari mama Elio.
“Terima kasih sudah membawa anakku untuk kembali mempercayai cinta, Eiren,” bisik Farah dengan nada begitu lega.
Eiren yang mendengar hanya diam dan menatap Elio dengan mata teduh. Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Elio?
_____
🌹🌹🌹🌹
Ini kenapa Elio nyebeli banget sih. hehehe😆😆😆
Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit dan vote Kim ya.
Jangan lupa juga baca cerita Kim yang berjudul “Relationship Goals”. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit dan vote Kim.
Selamat membaca sayangkuh.
See you next time
🌹🌹🌹🌹