NovelToon NovelToon
Noda Dibalik Cadar

Noda Dibalik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Patahhati / Cintamanis
Popularitas:52.8k
Nilai: 5
Nama Author: Amallia

Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.

Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode.29

Tiga tahun kemudian

Terlihat seorang wanita yang baru turun dari pesawat. Ia menghirup napas panjang sambil menatap sekeliling. Ia adalah Arsyila yang baru pulang dari Mesir setelah tiga tahun lamanya.

"Arsyila, biar saya bantu bawakan kopermu," ucap sedeorang yang baru muncul. Ia adalah Iqbal, anak salah satu kyai pemilik pondok pesantren. Kebetulan ia berkuliah di Mesir dan sudah naksir Arsyila. Bahkan sudah beberapa kali mengajak Arsyila ta'aruf, hanya saja Arsyila belum juga memberikan jawaban.

"Tidak usah, Mas," jawab Arsyila sambil menoleh ke belakang. Namun ia hanya menunduk, tak berani menatap Iqbal.

"Oh iya bolehlah aku minta alamatmu? Aku ingin bersilaturahmi dengan keluargamu," kata Iqbal.

Perasaan Arsyila sedikit was-was. Ia takut jika nanti Iqbal datang ke rumahnya malah melamarnya. Bukan ia tak mau memiliki pendamping hidup seperti Iqbal. Namun, ia merasa tak pantas dengan lelaki sesempurna Iqbal. Apalagi ia mempunyai trauma di masalalu jika mengingat soal hubungan.

"Maaf, Mas. Bukannya saya melarang Mas Iqbal datang ke rumah saya, hanya saja saya tidak mau memberikan harapan. Mas Iqbal tahu sendiri kan bagaimana perasaan saya selama ini," ujar Arsyila.

"Apakah tidak ada kesempatan untukku?" tanya Iqbal dengan sedikit lesu.

"Maaf, Mas." Hanya itu saja yang Arsyila ucapkan. Ia tak memberikan alasan apa pun.

"Baiklah, tapi biarkan aku menemanimu sampai depan. Aku hanya ingin bertemu dengan keluarga yang menjemputmu."

"Iya, Mas." Arsyila membiarkan Iqbal mengikutinya dari belakang.

Arsyila melihat ayahnya melambaikan tangannya. Bukan hanya ayahnya saja, ternyata disana juga ada Bu Fitri, Revan sang kakak tiri dan juga ada Adam.

"Cila, akhirnya kamu pulang juga. Papah kangen sekali sama kamu, Nak." Pak Wira mendekati anaknya lalu saling berpelukan melepas rindu.

"Om, sudah lepaskan! Jangan lama-lama peluk Cila!" tegur Adam.

"Astaga, calon mantu yang satu ini posesif sekali," ucap Pak Wira.

"Ekhm ...." Iqbal berdehem sehingga semua keluarga Arsyila menatapnya.

"Oh iya, Pah. Kenalkan ini Mas Iqbal, dia teman Arsyila di Mesir. Kebetulan dia itu anak Kyai kondang di Semarang," jelas Arsyila.

"Wah papah nggak nyangka kamu punya teman anak dari seorang kyai kondang, Nak." Lalu Pak Wira beralih menatap Iqbal. "Salam kenal Nak Iqbal."

"Salam kenal juga, Om," ucap Iqbal ramah.

Revan menelisik penampilan Iqbal dari atas sampai bawah. Penampilannya tak beda jauh dari Adam. Terlihat religius dan lebih tampan dari dirinya.

'Aku kira cuma Adam saja sainganku, ternyata nambah satu lagi,' batin Revan sambil memperhatikan Iqbal.

Setelah saling bertukar sapa, mereka bergegas pulang. Adam mengendarai mobil sendiri mengikuti mobil Pak Wira yang melaju di depannya. Adam berniat berkunjung ke rumah Pak Wira mengingat wanita pujaan hatinya sudah pulang.

Kedua mobil itu terparkir bersebelahan di halaman rumah Pak Wira. Adam keluar dari mobilnya lalu mendekati Pak Wira yang sedang berdiri di depan rumah.

"Nak Adam, mari masuk!" ajak Pak Wira.

Adam mengikuti mereka semua masuk ke dalam rumah. Sedangkan Arsyila langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan minum.

"Cila, biar Mamah saja yang buatkan minum. Kamu temani Nak Adam saja di depan," ucap Bu Fitri.

"Nggak apa-apa, Mah."

"Ya udah kalau gitu mamah siapkan cemilannya." Bu Fitri membuka tempat penyimpanan makanan lalu mengambil beberapa makanan ringan dan memasukannya ke dalam toples.

Adam tersenyum saat melihat wanita pujaannya membawa nampan berisi minuman. "Kamu masih capek loh, harusnya tidak usah repot-repot."

"Tidak apa-apa, Mas Adam," jawabnya.

Setelah menaruh minuman yang ia bawa, kini Arsyila duduk di kursi kosong di hadapan Adam. Bu Fitri pun ikut bergabung bersama mereka. Sedangkan Revan tadi langsung pergi mengurus pekerjaan. Kebetulan Revan sudah bekerja di perusahaan Pak Wira. Walaupun anak tiri, tetapi ia diberikan jabatan sebagai wakil direktur. Dan itu membuat sikap Bu Fitri pun berubah baik dan tulus, karena ternyata anaknya dan Arsyila mendapatkan bagian yang seimbang.

"Om Wira, Tante Fitri," ucap Adam sambil menatap keduanya, "Saya niatnya ingin langsung menikahi Arsyila. Itu pun kalau Arsyila setuju."

"Om setuju, Nak. Mengingat sudah cukup lama kamu menunggunya. Tetapi keputusan tetap berada di tangan Arsyila," ucap Pak Wira.

"Sebenarnya Cila setuju, hanya saja apa orang tua Mas Adam setuju?" tanya Arsyila.

"Kamu tenang saja, Cil. Papah dan Mamah sudah dari tiga tahun yang lalu merestui kita," ucap Adam.

"Syukurlah kalau begitu. Lebih baik Mas Adam bicarakan dulu dengan orang tuanya soal pernikahan kita," pinta Arsyila.

"Beres, nanti aku akan bilang ke mereka, terus besok kita datang kesini untuk menentukan tanggal pernikahan kita," ucap Adam penuh semangat.

"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Arsyila.

"Lebih cepat lebih baik, takutnya kamu di tikung sama lelaki lain," kata Adam.

"Apa yang Nak Adam katakan itu benar, Cil. Niat baik memang harus di segerakan," sahut Pak Wira.

Hanya satu jam Adam bertamu, kini ia berpamitan pulang. Lagian ia harus segera memberitahukan kabar bahagia ini kepada orang tuanya.

....

....

Tanggal pernikahan Adam dan Arsyila sudah di tentukan, yaitu dua minggu lagi. Baik keluarga Adam atau pun keluarga Arsyila sibuk mengurusi persiapan pernikahan.

"Pah, Cila pamit keluar sebentar ya. Cila mau pergi ke butik, tadi Tante Ratih menelepon katanya meminta ketemuan disana," ucap Arsyila.

"Hati-hati, Nak. Ingat, jangan mengendarai mobil sendiri kecuali nanti kalau sudah menikah. Papah takut jika terjadi sesuatu sama kamu di jalananan," ujar Pak Wira.

"Siap, Pah. Papah tenang saja tadi Cila sudah pesan taxi online kok."

Dengan menaiki taxi online kini Arsyila sudah sampai di depan butik ternama di ibukota. Ia turun dari taxi lalu menatap ke sekitar mencari keberadaan Bu Ratih.

"Cila," panggil seseorang yang ternyata adalah Bu Ratih.

Dengan senyum mengembang Arsyila menghampiri Bu Ratih. "Sudah lama, Tan?"

"Belum kok, Tante juga baru datang. Ayo kita masuk!" ajaknya.

Bu Ratih menggandeng tangan Arsyila. Mereka memasuki butik langganan Bu Ratih yang pemiliknya adalah sahabatnya sendiri.

"Assala'mualaiakum," ucap Arsyila saat memasuki butik.

"Waaalikum'salam," jawab Bu Ratih dan seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari pintu masuk.

"Akhirnya Jeng Ratih datang juga." Bu Rani memeluk sahabatnya lalu mereka saling cipika-cipiki.

Pandangan Bu Rani beralih ke Arsyila. "Ini pasti yang namanya Arsyila."

"Benar, Tante. Saya Arsyila," jawabnya.

"Wah ternyata Adam pintar srkali cari calon istri. Mari ikut Tante! Kita langsung cari gaun pernikahan untukmu," ucap Bu Rani.

Mereka mengikuti kemana Bu Rani pergi. Bu Rani memilihkan beberapa gaun muslimah untuk Arsyila pilih. Kebetulan Arsyila hanya membutuhkan tiga gaun saja untuk ijab dan resepsi.

Arsyila yang sudah berganti mamakai gaun, menghampiri Bu Ratih dan Bu Rani yang sedang menunggunya.

"Bagaimana penampilan Cila?"

Mereka berdua menatap Arsyila tak berkedip. Gaun muslimah berwarna putih itu sangat pas di badannya. Tidak terlalu ketat dan juga tidak terlalu kebesaran.

"Kau cantik sekali bidadariku," ucap Adam yang baru datang. Kebetulan tadi dia habis ada urusan lain di luar.

"Sempurna, kamu cocok pakai itu, Nak. Tuh Adam juga nggak kedip sejak tadi lihatin kamu," ucap Bu Rani.

"Adam, jangan memandang terlalu lama!" tegur Bu Ratih.

"Iya, Mah." Adam mengalihkan arah pandangnya. Sedangkan Arsyila hanya tersenyum mendengarkan obrolan mereka.

...

...

1
Umun Munawaroh
sangat bagus
Airin See
cerita nya bagus
zevayya abrielle
pengen gue buang ke amazon mak tirinya sih cilla
Dek Raraaa
laku banget adam yaaa ..
hahaha 🤣🤣🤣
Tien Tiennesdha Titin
nah ada kecebong lagi yg mau dekatin si Adam 😄,hati hati Adam jangan sampe terjebak Ama si cebong nesa 😄
Dek Raraaa
ahh cilla .
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
Ama
aku lum update ya, hp ku yg buat nulis di rumah, aku nya lagi pergi belum pulang
Dek Raraaa
😭😭😭😭cilaaaaaa
Dek Raraaa
jangan smpe ada poligami ya thorrr..
🤣🤣🤣
Dek Raraaa
eng inggg enggggg ..
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
Dek Raraaa
cie ilehhh .😆😆😆
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
Miftahul Jannah Maulida
hajar terus adam jangan kasih kendor🤣😊
Dek Raraaa
uhuyyyy . buka puasaaa ayang adamm yaa 🤣🤣🤣
Miftahul Jannah Maulida
terima kasih up nya kak othor
Miftahul Jannah Maulida
syukur lah semoga tidak ada masalah lagi yah kak di pernikahan mereka
Dek Raraaa
gus ilham denger apa ga ngilu yaa 🤣🤣🤣 ning aisyah jga kek nya ga baik baik bgt sma ky hilya licik kynyaa ..
Miftahul Jannah Maulida
legaaaah akhirnya kebusukan hilya terbongkar, gak pantes gelar ustadzah tetap melekat
Dek Raraaa
hahhhh lega ...
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.
Miftahul Jannah Maulida
semoga memang batal dan terbongkar semua kelicikan ustadzah hilya
Tien Tiennesdha Titin
nah si Fatimah mungkin udah ada bukti ,klo ustat hilya licik 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!