Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Saya tidak apa-apa kok, Pak" Jujur Dini, tersenyum tulus. Baginya tidak ada iri walau gagal ikut kompetisi. Marini siswi lama dan sudah seringkali menyumbangkan banyak prestasi, Dini justru mendukung bila Marini yang terpilih. "Pak guru dan Ibu guru tentu lebih tahu kemampuan anak didiknya yang layak ikut kompetisi" lanjutnya tanpa beban.
"Terima kasih Dini, saya yakin kamu akan mendapatkan kesempatan berikutnya" Aksa salut kepada Dini karena tidak merasa dicurangi. Walaupun hanya selisih nilai nol koma, tapi Dini sudah berusaha keras, Aksa tentu selalu menghargai. Tetapi mau apa lagi, kepala sekolah sudah memutuskan.
"Sebaiknya kamu pulang" titah Aksa perhatian, ia masih harus memberi materi kepada siswa yang terpilih.
"Baik Pak, permisi..." Dini mengangguk sopan lalu menuju parkiran diikuti Lestari.
Ia tidak tahu jika ada wanita yang menahan kesal setiap melihat kedekatan Dini dengan Aksa. "Hahaha... akhirnya saya yang akan ikut kompetisi Dini" Marini tertawa puas karena kepintarannya tidak bisa dikalahkan oleh Dini.
"Selamat Mar, aku doakan kamu menang dan bisa membawa kesuksesan untukmu dan sekolah" Dini berdoa tulus.
"Tidak usah kamu ajari, huh!" Marini melengos lalu mendahului Dini dan Lestari.
"Kamu sombong amat sih Mar, Dini kan sudah mendoakan yang terbalik" Lestari mendelik merah.
"Sudah Ri, kita pulang yuk" Dini menarik tangan Lestari menuju motor, tidak mau ada percekcokkan mulut.
"Kamu itu jadi orang kebangetan ngalah sih, Ni" Lestari ngomel-ngomel, namun begitu ia ingin belajar dari Dini bagaimana bisa menahan emosi.
"Sudah Lestari, jangan mencari dosa, ah."
"Astagfirullah... Iya, iya" Lestari pun ingin belajar untuk tidak membicarakan keburukkan orang lain, lebih baik naik ke atas motor Dini.
Tidak jauh dari tempat itu, Handoko rupanya mendengarkan mereka. Begitu Dini pergi, ia mengejar Marini.
"Seharusnya kamu tidak boleh takabur seperti tadi Mar" Handoko pasti akan malu seandainya lomba yang baru akan mereka jalani kalah lantaran kesombongan temannya.
"Siapa yang sombong sih Han, semua juga tahu, Marini itu sudah seringkali memenangkan kompetisi seperti ini bukan..."
"Aku tahu, tapi tidak seharusnya kamu berbicara seperti tadi kepada Dini."
"Sudahlah Han, sebaiknya kita temui Pak Aksa" Marini bersama Handoko menuju perpustakaan karena Aksa menunggu di sana. "Oh iya Han, kalau kita menang nanti kan mendapat 20 juta, terus kita bagi dua. Hadiah itu mau kamu buat beli apa?" Marini yakin menang. Dia membayangkan ketika ke sekolah membawa motor sendiri seperti Dini. Selama Dini sekolah di sini, ia merasa kalah semua. Kalah secara fisik karena Dini sangat cantik, kalah kecerdasan, kekayaan, dan yang terakhir lebih berat lagi untuk mendapatkan hati Aksa yang akhir-akhir ini semakin jauh darinya.
"Halaaah... menang saja belum kok sudah mikir hadiah" Handoko menarik napas panjang. Sedang tegang begini tapi sejak kemarin Marini hanya membahas hadiah.
"Kamu mah enak Han, anak orang kaya. Motor dibelikan, handphone dibelikan, apa-apa tinggal minta. Sedangkan aku..."
"Sudah Mar, kenapa jadi ngelantur..." Handoko berjalan menemui Aksa diikuti Marini. Mereka hendak pemantapan sebelum kompetisi dimulai.
.
Hari berlalu, tibalah saatnya kompetisi dilaksanakan, dengan mobil operasional sekolah Marini bersama Handoko berangkat menuju lokasi didampingi oleh Aksa dan juga Lusi. Sementara Dini bersama Cahyono pun menjadi cadangan bila mana peserta utama berhalangan.
"Loh, kok Dini ikut juga Pak?" Tanya Marini menatap Dini yang sudah di atas mobil tidak suka.
"Hanya untuk cadangan Mar, sudahlah, naik" titah Lusi, sementara Aksa hanya diam saja.
"Baik Bu..." Marini terpaksa duduk satu jok bertiga bersama Lusi dan Dini. Aksa di depan bersebelahan dengan pengemudi. Sementara Handoko bersama Cahyono di belakang.
"Marini dan kamu Handoko, kalian sudah siap kan, jangan buat ibu malu" kata Lusi ketika dalam perjalan. Lusi sekarang was-was karena sudah menjagokan Marini. Jika sampai kalah akan ia taro di mana wajahnya.
"Siap Bu..."
"InsyaAllah Bu..."
Jawab Marini bersamaan dengan Handoko.
Dua jam kemudian, kompetisi sudah dimulai. Dini bersama Cahyono hanya sebagai penonton dan duduk diantara para pendukung sekolah lain. Tidak ada sedikitpun rasa iri di hatinya, justru mendoakan Marini agar bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar.
Namun, Dini kaget ketika edisi tanya jawab Marini dan Handoko kalah cepat menekan tombol tentu sekolah lain yang beruntung.
Dini menatap Aksa yang duduk di deretan antara guru tampak gelisah dan gurat kecewa terukir di wajahnya, ketika menatap skor tertinggal jauh.
"Aku perhatikan Marini banyak melamun dan kurang konsentrasi, mikir apa Dia?" Cahyono pun rupanya memperhatikan.
"Semoga masih ada kesempatan untuk sesi berikutnya, Yon" Dini berharap demikian.
"Semoga..." Cahyono greget.
Namun, semua harus menerima kenyataan ketika acara selesai, skor akhir menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Hingga kompetisi diumumkan, perwakilan sekolah Dini hanya mendapat juara tiga.
Semua penonton pun meninggalkan gedung, termasuk Dini dan Cahyono.
"Dini Kirana bukan ya?" Tanya seorang pria berjalan di sebelah Dini.
Dini menoleh cepat. "Pak Agus..." Dini seketika memberi salam guru SMA nya yang terdahulu. Guru yang bernama Agus Setiawan itupun menanyakan kabar Dini.
"Alhamdulillah... baik Pak" Dini tersenyum manis, lesung pipinya itu membuat dada Agus berdebar-debar, hingga menatap Dini lekat. Dini tidak nyaman dengan tatapan itu lalu mengenalkan Cahyono di sebelahnya.
"Kamu kenapa pindah sekolah Dini..." sesal Agus, jika masih ada Dini tentu ia bisa selalu berdekatan. Bukan hanya itu saja, sekolah juga akan diuntungkan, Agus yakin Dini bisa memenangkan kompetisi karena terkenal pandai. Sekolah Dini yang lama pun pulang hanya membawa juara dua.
"Saya menemani Mbah Putriii Pak, kasihan beliau sudah tua tapi tinggal sendirian" Dini tidak bohong juga.
"Tapi kok nomor kamu tidak aktif" Agus rupanya sering menghubungi Dini.
"Saya ganti nomor Pak" Dini memang ganti nomor atas perintah Ratna khawatir kelacak oleh Ringgo.
"Oh, bisa tukar nomor?" Pria lajang yang lebih muda dari Aksa itu sebenarnya naksir Dini sejak setahun yang lalu, tapi Dini tidak tahu.
"Boleh Pak" Dini minta nomor Agus kemudian mengisi nomornya.
"Kenapa bukan kamu yang ikut kompetisi?" Agus yakin sekolah Dini mampu membawa pulang juara umum jika Dini yang ikut lomba.
"Tidak Pak, sekolah memilih teman saya pasti yang terbaik, jika tidak beruntung namanya juga lomba kan Pak, ada menang, ada kalah" Dini menyikapi dengan bijak.
"Kamu benar" Agus tersenyum melirik Dini, muridnya itu sama sekali tidak berubah.
Di belakang mereka rupanya Aksa memperhatikan tatapan Agus kepada Dini yang sangat menganggumi. "Dini... yang lain sudah menunggu di mobil" ucap Aksa.
"Baik Pak Aksa" Dini pun mengangguk.
"Saya duluan, Pak Agus..." Dini menangkupkan kedua telapak tangan, lalu mengejar Aksa yang mendahuluinya.
Cahyono merasa menjadi obat nyamuk antara Dini dan Aksa, lebih baik berjalan lebih dulu menuju tempat parkir.
"Siapa pria tadi?" Aksa melirik Dini di sebelahnya.
"Beliu Pak Agus, guru saya di sekolah yang lama, Pak."
"Sepertinya Dia suka sama kamu?"
"Bapak ini ada-ada saja" Dini hanya tersenyum.
Aksa tidak bicara lagi hingga tiba di pinggir kendaraan, langkah mereka berhenti ketika hendak masuk mobil terdengar isak tangis dari dalam.
...~Bersambung~...