Di beli untuk dinikahi dan disakiti adalah jalan hidup seorang gadis cantik bernama Lovita. Di usianya yang masih remaja, Rumah bordil adalah tempatnya mengadu nasib. Uang sebanyak tiga milyar yang dibayarkan lelaki tampan itu untuk menikahinya semakin membuat Lovi merasa bahwa dunia ini kejam. Semua kesengsaraannya dimulai saat perusahaan Ayahnya bangkrut. ia bisa tinggal di rumah bordil dan menjadi budak Berry untuk mencari uang karena keegoisan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi mendekap
Devan berusaha menyesuaikan cahaya yang menembus retinanya. Matanya masih terasa berat akibat pengaruh alkohol yang belum hilang sepenuhnya.
Devan merasakan ada gerakan kecil di dadanya. Ia menunduk dan mendapati Lovi yang sedang bergelung dalam dekapannya. Tangannya melilit pinggang Lovi hingga posisi mereka sangat dekat tanpa adanya jarak.
Setelah sadar apa yang dilakukannya, Devan memberi jarak dengan melepaskan pelukannya itu. Ia mendorong pelan tubuh Lovi. Sentuhan di lengannya membuat Lovi mulai membuka matanya perlahan.
Melihat mata tajam itu dengan posisi cukup dekat membuat Lovi gugup. Ia langsung duduk seraya memeriksa keadaan tubuhnya di dalam gulungan selimut dan itu berhasil membuat Devan menyeringai.
"Sikapmu seperti seorang gadis saja,"
Ucapan Devan membuat Lovi bersemu. Mengapa ucapan Devan terdengar lembut walaupun ada maksud jahil di dalamnya?
Lovi harus keluar dari situasi ini. Lagipula tidak biasanya Devan berlaku sehangat ini setelah mereka menghabiskan malam bersama.
Devan menahan lengan Lovi dan duduk dengan cepat.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku akan mandi, Tuan," Cicit Lovi sangat pelan.
Devan melirik jam dinding yang ada di kamar Lovi dan kembali berucap datar,
"Lihatlah jam itu sekarang! Masih terlalu pagi untuk kamu membersihkan diri."
Lovi menggeleng tidak setuju. Ini adalah waktu mandi yang paling siang untuknya karena matahari sudah menyambutnya.
"Ini sudah sangat siang, Tuan,"
"Aku tidak akan membiarkanmu mandi sekarang,"
Mendengar itu Lovi langsung menatap Tuannya. Hendak protes namun ia kembali sadar bahwa yang akan dilakukannya nanti bisa menimbulkan kemarahan Devan di pagi ini.
"Kamu mendengarku?" Ujar Devan seraya mendorong wajah Lovi dengan jarinya karena mendapati perempuan itu melamun.
Lovi masih diam namun ketika lelaki itu menarik selimut yang melilit tubuhnya, Lovi langsung panik dan berusaha untuk menutupi bagian tubuhnya lagi.
"Apa yang Tuan lakukan?" Ujarnya dengan datar. Lovi tidak nyaman diperlakukan seperti itu. Ia menghiraukan seringai Devan.
"Bahkan letak tanda lahirmu saja aku sudah hafal. Apa yang masih kamu tutupi dariku?"
Sial! Devan benar-benar keterlaluan. Lovi tidak bisa lagi menahan kehadiran rona di wajahnya. Lovi malu ketika Devan berkata seperti itu.
"Aku ingin kembali menghabisimu sampai aku lelah,"
***********
"Ini karena kamu!" Maki Devan sembari berjalan dengan Lovi.
Melihat Devan yang tidak berhenti menyalahkannya membuat Lovi harus menghela napas pelan. Padahal Devan yang tidak bisa menahan nafasunya tapi Lovi yang di marahi sejak tadi.
Lelaki itu sengaja membawa serta Lovi untuk masuk ke dalam gedung pertemuan. Karena selesai dari urusan itu, Keduanya serta Ferro akan kembali ke negara mereka. Devan tidak bisa meninggalkan Elea lebih lama lagi. Ia sangat merindukan perempuan itu.
Devan berjabat tangan dengan rekan-rekan kerjanya yang sudah menanti sejak tadi. Lovi berusaha memberikan senyum terbaik dan sikap elegan yang dimilikinya agar Ia tidak membuat nama baik Devan tercoreng.
"Apa yang Kau perhatikan dari Istriku?" Ujar Devan sarkatis saat Joe menatap Lovi dengan pandangan nakal.
Di sisi lain, Lovi terkejud dengan pengakuan Devan tadi. Jantungnya berdetak tak normal saat Devan dengan penuh kepemilikan mengakuinya sebagai istri.
"Cantik," Joe mengucapkannya seraya tersenyum pada Lovi. Lovi yang memang ramah pun tidak mengerti akan sikap berlebihan yang ditujukan oleh Joe, sehingga Ia pun tersenyum. Entah mengapa Devan gerah melihatnya.
"Aku bertanya padamu, Joe sialan!!"
Lovi bingung saat mendengar Devan yang memaki kesal. Ia menatap Devan yang entah sejak kapan sudah memeluk pinggangnya dengan ketat.
"Hei, Kau terlihat sangat marah, Dude ? Aku hanya bergurau,"
Devan memutar bola matanya saat Joe tertawa geli. Lelaki itu melirik Lovi sebentar sebelum berkata,
"Berani sekali kau memperlakukan milikku seperti itu,"
Rahang Devan mengeras menatap Pria blasteran itu penuh peringatan.
"Kau berurusan dengan orang yang salah. Dasar Pria gila!"
Setelah mengatakan itu, Devan membawa Lovi pergi dari hadapan lelaki yang dianggapnya gila tersebut.
"Sikap murahanmu memang tidak bisa dihilangkan sedikit ya?"
Saat sampai di salah satu bagian ruangan, Devan mendorong Lovi untuk duduk sementara ia menjulang di hadapan Lovi menajamkan matanya pada Perempuan itu.
"Untuk apa kamu meladeni Dia? Uang dariku masih kurang untukmu? Sehingga kamu masih perlu lelaki lain?"
Beberapa orang di dekat mereka menoleh saat Devan berucap keras pada Istrinya dan itu membuat Lovi menunduk malu.
Harga dirinya kembali di rendahkan. Bahkan kali ini Devan melakukannnya di depan orang lain.
"Asal kamu tahu Dia tidak lebih kaya daripada Aku,"
Devan mengangkat dagu Lovi untuk melakukan kegiatan favoritnya.
"Aku akan memberi pelajaran untukmu agar tidak mengulanginya lagi,"
Seperti yang sudah-sudah. Hukuman yang dimaksud Devan tentu saja berhubungan dengan hasrat di atas ranjang. Devan tidak akan membiarkan Lovi melakukan kesalahan sedikitpun.
*****
Yuhuuuuu happy reading teman-temankuuu. Jgn lupa dukungannya yak. Maaciw
ceritanya kagak nyambung
lari sana lari sini
gak nyambung juga
biking pusing sy bacanya