NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 – Jebakan Kecil

Pagi di Sekte Awan Hitam selalu dimulai dengan suara lonceng tua yang menggema di seluruh lereng gunung.

Ren Tao bangun lebih awal dari murid lain. Bukan karena rajin, melainkan karena tubuhnya tak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, rasa sakit samar di meridiannya selalu mengingatkan satu hal ia masih lemah.

Namun kali ini, rasa sakit itu terasa… berbeda

Ia duduk bersila di sudut barak, memastikan tak ada yang memperhatikannya. Lalu ia menutup mata dan mengatur napas sesuai catatan yang terukir di dalam Cincin Retak.

Aliran energi spiritual bergerak perlahan. Sangat lambat, tapi stabil. Tidak lagi tersendat seperti sebelumnya.

Ren Tao membuka mata.

“Berhasil,” gumamnya pelan.

Bukan terobosan besar. Bahkan belum layak disebut peningkatan tingkat kultivasi. Tapi bagi Ren Tao, ini bukti bahwa jalannya benar.

Ia tersenyum tipis.

Sekarang aku hanya butuh waktu… dan korban uji coba.

Di lapangan latihan, para murid luar sudah berkumpul. Elder Han Qiu berdiri di depan, jubah abu-abunya berkibar tertiup angin pagi. Tatapannya tajam, seolah bisa menembus pikiran siapa pun.

“Hari ini, seleksi untuk tugas luar sekte,” ucapnya datar.

“Yang terpilih akan mendapat batu roh.”

Kata batu roh langsung memancing kegaduhan kecil. Bagi murid luar, itu adalah sumber daya berharga.

Mu Chen menyeringai. Ia melirik Ren Tao dengan tatapan meremehkan.

Ren Tao pura-pura tidak mendengar.

“Orang kayak kamu jangan mimpi,” bisiknya cukup keras agar terdengar.

Seleksi dimulai dengan uji fisik sederhana. Angkat beban, ketahanan napas, dan sparring ringan. Ren Tao sengaja tampil biasa saja cukup lolos, tidak mencolok.

Saat gilirannya sparring, ia dipasangkan dengan murid bernama Qiu An. Level kultivasi mereka hampir sama, tapi Qiu An terkenal ceroboh.

“Menyerah saja,” kata Qiu An sombong. “Aku nggak mau bikin kamu cacat.”

Ren Tao mengangguk. “Kalau begitu… jangan menyesal.”

Pertarungan dimulai.

Qiu An langsung menyerang membabi buta. Ren Tao mundur setengah langkah, menghindari pukulan dengan jarak tipis. Ia tidak membalas. Tidak terburu-buru.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Saat napas Qiu An mulai berat, Ren Tao bergerak. Ia memutar tubuhnya, kaki kirinya menyapu tanah berpasir.

Qiu An terpeleset.

Sebelum siapa pun sadar, Ren Tao sudah mendorong ringan di bahunya. Tidak keras. Tidak mencolok. Tapi cukup membuat Qiu An jatuh tersungkur.

“Habis,” ucap Elder Han Qiu singkat.

Lapangan mendadak sunyi.

Mu Chen mengernyit. “Keberuntungan,” dengusnya.

Ren Tao menunduk hormat, lalu kembali ke barisan. Wajahnya tetap datar, tapi pikirannya bergerak cepat.

Pertama: jangan menarik perhatian. Kedua: jangan terlihat lemah.

Seleksi berakhir. Nama-nama terpilih dipanggil, dan seperti yang Ren Tao perkirakan namanya termasuk di dalamnya.

Mu Chen menatapnya tajam.

Sore harinya, mereka dikirim mengambil ramuan di hutan luar sekte. Kelompok kecil, lima orang. Mu Chen menjadi pemimpin dadakan.

“Ren Tao,” katanya dingin. “Kamu ambil rute kanan. Kita sisanya ke kiri.”

Ren Tao tahu. Rute kanan adalah daerah berbatu licin, rawan binatang buas.

“Baik,” jawabnya tanpa protes.

Mu Chen tersenyum puas.

Begitu Ren Tao menghilang dari pandangan, Mu Chen berbisik, “Kalau dia nggak balik, bilang saja jatuh jurang.”

Ren Tao berjalan pelan di jalur kanan. Ia menghitung langkah, mengamati kontur tanah, dan seperti dugaannya menemukan bekas jejak binatang iblis tingkat rendah.

Serigala Batu.

Ia tidak panik.

Sebaliknya, ia mengeluarkan bubuk hitam tipis dari kantong bajunya dan menaburkannya di tanah.

Umpan.

Tak lama kemudian, suara geraman terdengar. Seekor Serigala Batu muncul dari balik semak, mata merahnya menatap Ren Tao.

Ren Tao berbalik dan lari.

Ia berlari bukan untuk kabur, melainkan memancing. Jalurnya tepat menuju area tempat Mu Chen dan yang lain seharusnya kembali.

“Sekarang,” bisiknya.

Saat Serigala Batu menerjang, Ren Tao melompat ke samping. Binatang itu terus maju dan keluar dari semak tepat di hadapan Mu Chen.

“Apa—?!”

Teriakan panik terdengar.

Ren Tao berdiri di kejauhan, napasnya sedikit berat, tapi matanya dingin.

Ia tersenyum tipis.

Jebakan kecil. Sebagai salam pembuka.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!