NovelToon NovelToon
Mendadak Khitbah

Mendadak Khitbah

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nur Ulsyah Musyarofah

Ardan, seorang dosen tampan yang menjadi penerus keluarga Adinata sedang menatap pada seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.

Gaun yang dikenakan olehnya menunjukkan bahu dan leher jenjang milik Sasha, membuat jiwa lelaki Ardan meronta. Namun ia harus menahan segala hasrat yang sedang mencapai puncaknya, karena mengingat akan kontrak pernikahan yang membatasi sentuhan fisik diantara mereka.

Pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam beberapa hari tersebut diakibatkan kebohongan yang dilakukan Ardan dan membuat seluruh keluarganya percaya bahwa Sasha adalah kekasihnya.

Bagaimana kisah mereka dimulai?

Happy reading guys

follow ig author
@kak.ofa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gara-Gara Delivery Order

"Awwwh," ringis Ardan kesakitan. "Apa-apaan kau?" Ardan refleks hendak membalas tinju yang dilayangkan Darius, namun sebuah tangan dari pemilik suara lembut dengan cepat mencegahnya.

"Mas Ardan, jangan!" Sasha memegangi lengan kekar Ardan yang telapaknya mengepal kuat memperlihatkan urat-uratnya.

"Pak Darius, jangan pukul mas Ardan lagi." Sasha masih memegangi Ardan.

"Ini sama sekali tidak seperti yang kalian pikirkan!" Suara berat Ardan terdengar begitu geram.

"Sasha, kau sudah datang? Padahal aku dan Ardan baru saja mau makan." Sania tiba-tiba menghampiri keributan itu dan berpura-pura biasa saja.

"Keterlaluan kau Sania!" Darius menunjuk wajah Sania tepat di depan keningnya.

"Sania, jangan mengatakan hal yang memperkeruh suasana! Pergi kau, aku tidak pernah mengundangmu!" Ardan mengusir Sania masih dengan amarah yang tak terbendung.

"Sepertinya aku tau, kalian berdua merencanakan ini semua kan?" Ardan menuduh Sania dan Darius bersamaan.

"Nggak, Mas. Pak Darius justru nolongin aku," bela Sasha pada Darius.

Ardan menepis Sasha yang memegangi tubuhnya. "Jadi kau membela dia?" tukas Ardan tak terima.

Ardan mengusap wajahnya kasar, dia sangat gusar karena kejadiani ini.

"Justru kau yang tidak usah berpura-pura, kubilang dari awal, jika kau menyakitinya, aku yang akan mengobatinya!" seru Darius tak ingin kalah terhadap Ardan.

"Kau menelantarkannya sendirian di tempat yang jauh darimu, dia sakit, dia tak sadarkan diri dan butuh pertolongan. Kau datang? Tidak, tidak sama sekali! Aku yang menolongnya! Kau malah bersenang-senang dengan dia!" tuduh Darius lagi pada Ardan.

Darius langsung menggendong Tsabiya dan meraih tangan Sasha untuk mengajaknya pergi.

"Kau tidak bisa membawa istriku!" Ardan mencegah Darius untuk membawa Sasha namun dengan halus Sasha melepasnya.

"Maaf Mas, aku sepertinya butuh waktu untuk menenangkan diri." Sasha berpamitan untuk meninggalkan Ardan.

Meski sempat percaya pada Ardan, tapi Sasha sedikit gundah. Mengapa Sania bisa sampai tau tempat Ardan berada jika tidak diundang oleh Ardan? Lalu suasana romantis yang ia lihat, seperti yang Ardan sengaja persiapkan. Sasha semakin ragu untuk meneguhkan perasaannya pada Ardan.

Sasha berjalan mengikuti Darius dan Tsabiya. "Kau mau ikut denganku?" tanya Darius pada Sasha.

Sasha menggeleng pelan. "Saya sedang ingin sendiri, Pak. Maaf." Sasha pun melenggang pergi meninggalkan bapak dan anak tersebut.

"Tante Sasha pergi, Pa? Kita jalan-jalan ke pantai berdua aja kalo gitu yuuuk!" rengek Tsabiya pada ayahnya. Anak kecil itu sepertinya sama sekali tak mengerti apa yang terjadi pada orang dewasa di sekitarnya.

Sasha masuk ke kamarnya dan mengunci kamar tersebut dari dalam. Gadis itu menangis membasahi pipi pucatnya dengan air mata.

***

"Pergilah San!" Ardan menyeru Sania untuk pergi.

"Ardan, tolong jujur padaku, kau sudah mencintai Sasha apa masih menyimpan perasaan padaku?" Lagi-lagi Sania menanyakan hal yang tidak seharusnya.

Ardan tidak menjawab, dia hanya memalingkan muka dan tak melihat Sania sedikit pun.

"Aku akan kembali pada Darius jika kau memang sudah mencintai Sasha. Tapi, jika perasaanmu masih padaku, aku akan berusaha membuka hatiku untukmu, Ardan." Sania memasang wajah melas di hadapan Ardan. Wanita ini begitu sendu menunjukkan kesusahan hatinya akan persoalan asmara yang selalu bertepuk sebelah tangan.

"Pergilah, San!" Ardan mengatakan hal yang sama sekali lagi.

Sania kesal karena tak mendapat jawaban yang ia harapkan.

"Oke, aku akan pergi. Tapi jika kau masih mencintaiku, jangan ragu cari aku. Aku akan membuka hatiku untukmu," ungkap Sania sekali lagi. Perempuan itu pun melenggang menjauh dari tempat Ardan.

***

Ardan terduduk lesu dengan pandangan yang kosong. Kenapa ketika ia ingin berbuat baik untuk Sasha hasilnya malah seperti ini. Apakah dirinya memang tidak ditakdirkan untuk bersama dengan Sasha?

Dengan hatinya yang gundah, pria itu berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya. Rambutnya sudah berantakan karena ia mengacaknya dari tadi.

Langkah gontai dari kaki panjangnya, membawa Ardan menuju ke kamarnya. Dalam hati ia ragu untuk masuk ke kamar, apa Sasha berada di dalam?

Ardan membuka kunci dengan kartu miliknya, namun ternyata pintunya di kunci dari dalam.

"Sasha pasti di dalam," yakin Ardan karena pintunya kali ini dikunci dari dalam.

Ardan mencoba mengetuk pintunya. "Sasha," panggilnya.

Tidak ada jawaban. Ardan pun memanggil lagi Sasha. "Sasha?" ulang Ardan memanggil Sasha.

Masih tidak ada jawaban.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan belas. Bahkan mentari sudah tenggelam dengan sempurna.

Ardan memutuskan untuk turun dan mencari masjid. Ia ingin sholat maghrib yang waktunya tinggal sedikit lagi. Karena ia yakin, Sasha tidak akan membuka pintunya dalam waktu dekat.

***

Sementara itu di dalam kamar.

"Apa aku harus membukanya?" Sasha bergumam karena ia merasa sedikit kasihan.

Krucuk ... krucuuk ...

Perut Sasha pun kini sudah berbunyi lagi. Di dalam kamar tidak ada persediaan makanan apapun, meski cuma sekedar camilan.

Sasha akhirnya memutuskan untuk membuka pintu.

Ceklek

Ia pun membuka pintu hotel. "Mas Ardan, sudah pergi rupanya." Ada rasa kecewa dalam hati Sasha ketika tau Ardan sudah tidak ada lagi di depan pintu.

Sasha pun memutuskan untuk turun menggunakan lift ke lantai dasar.

Gadis itu pun menekan tombol lift, dan ia pun menunggu hingga lift itu terbuka.

Ting

Pintu lift terbuka, dari dalamnya ternyata seorang pria dengan senyum merekah menyambut Sasha.

"Kamu mau keluar?" Pria itu langsung bertanya begitu melihat Sasha.

Sasha pun menganggukkan kepalanya. "Mas dari mana?" Sasha balik bertanya pada pria yang tak lain adalah suaminya sendiri tersebut.

"Aku abis sholat," jelas Ardan sambil keluar dari lift dan mengajak Sasha untuk berbalik menuju ke kamarnya.

"Maaf aku udah ngunciin Mas Ardan," ungkap Sasha sambil berjalan di belakang Ardan.

Ardan menghentikan langkahnya dan menunggu Sasha. Pria itu langsung merangkul bahu istrinya ketika Sasha sudah berada di dekatnya.

"Justru aku yang minta maaf, karena membiarkanmu salah paham." Ardan berjalan beriringan dengan Sasha menuju kamarnya.

"Sebenarnya, kau mau pergi kemana tadi?" tanya Ardan setelah mereka masuk ke dalam kamar.

"Aku mau pergi beli makan, Mas." Sasha menjawab sambil menunduk, debaran itu datang lagi ketika ia berdua dengan Ardan.

"Oh, jadi kau lapar?" tanya Ardan yang dibalas oleh anggukan kecil Sasha.

"Mari kita pesan saja," ajak Ardan yang langsung duduk di kasurnya, sementara Sasha memilih untuk duduk di sofa.

"Sejujurnya ... aku tadi ingin membuat kejutan untukmu." Ardan pun berjalan mendekati Sasha, dia pun berlutut dan menggenggam tangan gadis itu.

"Selamat ulang tahun, Sasha Adelia Adinata," ungkap Ardan dengan tulus sambil mengecup punggung tangan Sasha.

Gadis itu bahkan lupa jika hari ini adalah tanggal 25 Agustus yang merupakan hari ulang tahunnya.

Sasha yang terharu, pipinya pun bersemu merah. Dia tak berani menatap Ardan yang menjadi sumber rasa gugupnya.

Perlahan wajah mereka pun mendekat hingga hidung dan dahi mereka bersentuhan. Hembusan nafas kedua insan itu beradu hingga membuat jantung mereka berdegup kencang. Semakin cepat ritme jantung memompa darah masing-masing, semakin tinggi hasrat dalam hati mereka.

Sedikit demi sedikit bibir mereka pun bersentuhan, saling memberi kelembaban, menukar kehangatan. Kedua permukaan itu belum saling membuka, masing-masing masih menikmati sentuhan di area yang baru pertama kali mereka rasakan.

Mata keduanya terpejam dengan tangan yang berpelukan. Mereka begitu menikmati kedekatan yang begitu intim seperti ini. Semakin lama kedua bibir itu bersentuhan, semakin tinggi nafsu dan hasrat mereka berkumpul di ubun-ubun. Rasa ingin memiliki satu sama lain kini begitu tinggi, seakan sentuhan seperti ini saja belum cukup untuk memenuhi hasrat.

Ardan mencoba membuka jalan untuk pertama kali, ia ingin sekali melakukan sesuatu lebih dari ini dengan gadis di hadapannya.

Tok tok tok

"Delivery Order."

"Sialan," umpat Ardan. Sementara Sasha menyembunyikan muka yang sudah sangat merah seperti kepiting rebus.

***

Bersambung ...

Gimana up nya malam ini,

Sampai situ dulu ya man teman ...

Jangan lupa follow ig ku @kak.ofa

1
Indriyani_ Indry
jln ceritanya bgs,singkat,padat,dan jelas.
penokohannya jg pas.
walaupun ini karya perdana sang author,tp novel ini bgs menurut sy.
semoga utk ke depannya KK author lebih sukses lg dgn menghasilkan karya2 trbaiknya.
Yunerty Blessa
𝗠𝗮𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗸𝗮𝗸 𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗻𝘆𝗮..
𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂..
Yunerty Blessa
𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗷𝘂𝗴𝗮..
Fuji Yana
bagus bnget...
Yunerty Blessa
bagi kesempatan Sasha..
Yunerty Blessa
sedihnya..
Yunerty Blessa
makanya jadi suami tegas sedikit Ardan..
Yunerty Blessa
pasti karna Sania makanya seperti itu
Yunerty Blessa
teman suami seperti pelakor
Yunerty Blessa
Sania lagi..
Yunerty Blessa
buat kacau saja c delivery..
Yunerty Blessa
lanjut
Yunerty Blessa
seperti nya pak.ardan juga memang suka sama Sasha cuma malu mengakui..
Yunerty Blessa
jika kau mencintai Sasha darius.. lepaskan lah biarkanlah Sasha bahagia bersama Ardan..
Yunerty Blessa
kalau kau masih cintakan Sania Ardan baik kau lepaskan Sasha..kasian dia.
Yunerty Blessa
jika kau tak mencintai Sasha lepaskan dia... jangan buat dia tergantung tanpa tali..
Yunerty Blessa
seperti nya kedua nya punya perasaan tapi sulit mengutarakan
Yunerty Blessa
kalo memang Ardan tidak mencintai Sasha..ya lepaskan saja biarkan Darius yang membahagiakan nya
Yunerty Blessa
sakit nya seperti diabaikan..
Yunerty Blessa
sabar Darius..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!