Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.
Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.
Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.
" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.
Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inka Adalah Penengah
" Terima kasih untuk kalian berdua dan sekarang aku akan pergi sama Inka. Oke ... Sudah. Ini yang paling adil dan... Jangan buat keributan lagi besok", aku berkata pada Tian dan Kana.
Aku menarik tangan Inka untuk naik ke dalam angkot. Melihat kami yang bergegas, Tian dan Kana sama-sama bergerak ingin mengikuti kami. Aku berbalik dan langsung menghentikan mereka.
" Stop... Jangan bergerak. . .jangan ada yang ikutin aku", kataku pada mereka berdua.
Tian menatapku lalu menghela nafas, sedangkan Kana raut wajahnya seperti tidak terima. Tapi mereka menurut untuk tetap diam di tempatnya sampai angkot kami bergerak menjauh.
" Aduh, ini mah bencana Awan", Inka mengeluh.
Aku tidak memberikan jawaban pada Inka. Aku tidka tau besok-besok akan seperti apa. Mungkin mereka akan terus mengikuti aku, terutama Kana yang sekelas denganku.
" Gini aja deh, beberapa hari ke depan kamu sama-sama aku terus", kataku pada Inka.
" Gimana maksudnya?", Inka tidak mengerti. " aku kan tiap hari sama kamu".
" Maksud aku, kemana-mana kita berdua. Gak boleh pisah pokoknya", aku memberikan ide pada Inka.
" Awan... Kita tiap hari bersama saja salah satu dari mereka pasti ikutan gabung... Kecuali kita nempel jadi kembar siam", Inka berkomentar.
" Benar juga ya...aku harus gimana dong ya?", tanyaku pada Inka.
" Hmmmm.... Sebentar aku pikir dulu", Inka berpikir sejenak.
Aku jadi ikutan berpikir bagaimana solusi untuk menghindari pertikaian di antara mereka berdua itu. Tapi ide tak kunjung muncul juga.
" Udah deh... Kita makan... terus mandi dulu.. Mungkin habis itu ada ide", kata Inka.
" Iya benar juga. Ya udah deh bye", aku dan Inka berpisah di depan rumah Inka.
Aku berjalan menuju rumahku sambil berpikir apa yang harus aku lakukan untuk menghindari pertengkaran mereka. Saat mengangkat wajahku aku melihat Kana duduk di atas motornya menungguku di dekat rumah.
" Wah... seharusnya sudah aku duga dia tidak akan menurut", aku menggeleng kepala pelan lalu berjalan menghampiri Kana.
Kana turun dari motor dan tersenyum ke arahku. " Kamu lama sekali", kata Kana.
" Ya namanya naik angkot pasti banyak ngetemnya. Kamu balap ya ke sini?", aku melirik ke arah motornya.
" Emmm gak sih. Cuma tarikan gas motornya agak di lebihkan dikit", Kana menjelaskan secara halus.
" Ngeles aja terus kayak bajai", aku menggelengkan kepala.
" Jadi ada apa kamu ke sini?", tanyaku pada Kana.
" Mau ngasih ini", Kana menyerahkan selembar kertas kecil ke arahku.
Aku melihat ke arah kertas itu. Konser Dewa 19, aku melihat ke arah Kana.
" Kamu ajak aku nonton Dewa?", tanyaku padanya.
" Iya. Kamu gak suka?", tanya Kana.
" Suka.. Aku suka mereka. Tapi.... kamu yakin pergi sama aku?", tanyaku pada Kana.
" Iya... dong.. Ngapain aku balap ke sini kalau bukan karena mau ajak kamu", Kana meyakinkan. " Sebenarnya tadi aku mau ajak pergi kamu sekalian mau kasih ini. Tapi .... Ya sudahlah. Sekarang aku sudah kasih ke kamu", Kana tersenyum puas.
Aku ikut tersenyum melihat tiket itu. " Iya nanti aku minta ijin ke papa aku dulu ya. Terima kasih Kana", aku senang sekaligus hatiku mulai bersemi kembali.
" Iya sama-sama... Sudah ya... Bye. Mama aku sudah tungguin", kata Kana sambil memakai helmnya kembali
" Iya... Daaa", aku melambaikan tangan ke arah Kana.
Sepeninggalan Kana, aku menatap tiket itu. Hatiku bersemi, pipiku terasa panas. Duh gimana mau menghindar kalau begini batinku.
***
Hari berikutnya lebih mengagetkan lagi. Saat akan berangkat sekolah aku di kejutkan dengan Tian yang sudah menungguku dengan setia di depan rumah menggunakan motornya.
Aku sampai terlonjak karena kaget melihatnya ada di depan pintu pagar rumahku.
" Selamat pagi Awan ...", Tian menyapaku sambil nyengir seperti kuda.
" Kamu .... Dari jam berapa di depan rumahku?", aku bertanya curiga. Jangan-jangan dia kemping di depan rumahku lagi.
" Hmmm belum lama... Dari jam 4 pagi lah", Tian menjawab sambil melihat ke arah jam tangannya.
" Jangan bohong ", aku melotot ke arahnya.
" Iya.. Iya... aku baru tiba di sini 15 menit yang lalu", Tian tersenyum ke arahku dengan santainya tanpa ada beban.
" Ya ampun... Kalau aku sudah berangkat duluan bagaimana? Kan kamunya bisa terlambat juga", aku mulai mengoceh.
Tian tersenyum senang mendengar aku mengoceh tidak jelas. " Kamu kalau marah lucu deh", kata Tian.
Aku melotot ke arahnya tidak mengerti dengan sikap Tian.
" Yuk naik... Nanti kita terlambat", kata Tian.
" Tapi Inka nungguin aku", aku berusaha menolak halus.
" Wah... Sedih banget. Padahal aku sudah bela-belain bangun pagi buat bisa jemput kamu", Tian mulai manyun.
Aku yang melihat perubahan raut wajahnya menjadi kecewa, jadi tidak enak hati. Akhirnya aku menelpon Inka dan di sambut tawa heran oleh Inka.
" Inka aku teh sudah di jemput Tian. Maaf ya kamu sendirian", aku berbicara di telpon.
" Dia datang? Wah gila sih.. Hahaha okelah. Nanti ceritanya kalau sudah di kelas", Inka tertawa di telpon.
" Iya...", aku mengakhiri pembicaraan.
Dan pada akhirnya aku sudah duduk di boncengan belakang motor Tian. Menggunakan helm pink yang entah mungkin baru dia beli kemarin. Karena aku masih melihat label harganya.
" Kamu baru beli helm ya?", tanyaku.
" Iya... Motornya juga baru beli", jawab Tian santai sambil terus berkonsentrasi dengan jalan di depannya.
" Ooh... Kapan kamu beli helm ini ?", tanyaku penasaran.
" Kemarin pas sekalian sama beli motor", jawab Tian santai.
" Ha? Apa? motor ini baru kemarin di beli?", aku tidak percaya.
" Iya. Aku belinya kemarin. Sebenarnya aku lebih suka naik angkot sama kamu sih", Tian menjelaskan lagi saat kami sedang menunggu lampu merah menjadi hijau.
" Hubungan sama naik angkot apa?", aku tidak mengerti.
" Iya. Aku beli motor ini karena aku bisa antar jemput kamu kapan aja dan lebih gampang ajak kamu jalan-jalan keliling dunia. Kalau naik angkot kamu kadang suka di culik Inka", Tian menjelaskan terlalu jujur.
Aku hanya bisa menghela nafas keheranan. Tidak menyangka akan mendapatkan teman laki-laki yang senekat dan seaneh ini. Tian memang kelihatannya urakan dan slengean, tapi kalau sudah kerjain sesuatu niatnya gak main-main. Seperti sekarang, tiba-tiba beli motor hanya karena motivasinya yang tidak jelas itu.
" Jadi motor ini punya nama", kata Tian lagi tiba-tiba.
" Apa?", aku penasaran.
" Namanya ... Siti", jawab Tian.
" Siti? Haha ... Kenapa Siti?", aku tertawa.
" Karena ... Suka aja nama Siti ...", Tian menjawab sekenanya.
Aku hanya menggeleng kan kepala tidak mengerti dengan jalan pikiran Tian.
Saat sampai di sekolah, aku tidak tahu bahwa Kana mengetahui kedatanganku bersama Tian. Wajahnya memang terlihat datar saat melihat Tian terus mengoceh di sampingku sampai di depan kelas IPA. Dan sempat-sempatnya Tian melambaikan tangan dengan penuh percaya diri ke arah Inka yang menatap kami sambil menahan tawa.
" Jadi gimana?", tanya Inka padaku.
" Gila banget pokoknya", aku menjawab lnka lalu menghela nafas.
Yang aku tau setelah hari ini adalah Kana menjadi lebih protektif dan mulai bertingkah menyebalkan.
***