NovelToon NovelToon
One Night Romance

One Night Romance

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Duda / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: dewi widya

Rasa sakit yang Maura rasakan saat mengetahui Rafa menikah dengan wanita lain tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini dia rasakan saat tahu dirinya tengah hamil tanpa tahu siapa lelaki yang sudah membuatnya hamil.

Kejadian malam dimana dia mabuk adalah awal mula kehancuran hidupnya.

Hingga akhirnya dia tahu, lelaki yang sudah merenggut kesuciannya dan membuatnya hamil adalah suami orang dan juga sudah memiliki seorang anak.

Apa yang akan Maura lakukan? Apakah dia akan pergi jauh untuk menyembunyikan kehamilannya? Atau dia justru meminta pertanggung jawaban kepada lelaki itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi widya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Setelah mengubur dan memberi nama buat sang anak diatas batu nisan, Fabian pulang untuk membersihkan diri. Dia juga mengabari kedua orang tuanya kalau Maura keguguran dan saat ini tengah ada di rumah sakit. Entah nanti Papa sama Mamanya akan datang menjenguk Maura atau tidak, yang pasti saat ini dia sudah memberitahu kedua orang tuanya tentang kondisi Maura.

Fabian berdiri di balkon kamarnya. Dia menatap langit senja sore itu. Pikirannya melayang entah kemana. Hatinya terasa sesak mengingat calon anaknya yang belum sempat melihat dunia harus dilahirkan sedini mungkin karena tidak berkembang dan meninggal. Dia tidak menyalahkan Maura atau siapapun atas kematian anaknya. Mungkin karena belum rezeki nya saja dan Allah pasti memiliki rencana baik dibalik semua ini. Dan juga Allah pasti menyiapkan sesuatu yang lebih baik lagi untuk dirinya juga Maura buat kedepannya.

"Fatih!! Semoga kamu tenang dan bahagia setelah kembali ke sisi-Nya. Papa sayang sama kamu. Papa akan selalu mengingat kamu." Mata Fabian berkaca-kaca saat mengatakan harapan pada anaknya yang dia beri nama Muhammad Fatih Nugraha.

🌷🌷🌷

Di rumah sakit, Maura sudah siuman. Dia hanya diam dan melamun saja setelah sadar. Dia memikirkan anaknya yang pergi duluan sebelum melihat dunia. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjadi ibu yang baik dan menjaga calon anaknya dengan baik hingga membuat anaknya itu meninggal disaat usia kandungan belum genap empat bulan.

"Maafin, Mama!" Gumam Maura lirih. Air matanya terus saja menetes mengingat kepergian anaknya.

Saat ini Maura tengah sendirian di dalam kamar rawat. Dia tidak ingin ditemani maupun menerima tamu. Freya juga Bryan terlihat menunggu di depan kamar bersama saudara yang lain yang datang menjenguk. Yang awalnya hanya keluarga saja yang tahu kondisi Maura, kini orang luar juga tahu. Keluarga dari Rendy juga datang menjenguk Maura.

"Kenapa mbak nggak cerita kalau Maura hamil?" Tanya Annisa pada Freya. Dia tadi begitu kaget saat Rendy pulang kerja dan mengajaknya menjenguk Maura yang masuk rumah sakit karena keguguran.

"Kenapa harus cerita? Bukannya aib itu harus ditutupi bukan untuk diumbar." Timpal Freya yang merasa kehamilan Maura bukan sesuatu yang bisa diceritakan pada siapapun. Meski keluarga mereka dekat seperti keluarga sendiri, tapi tetap saja mereka orang lain, orang luar yang tidak memiliki ikatan darah.

Annisa menunduk, apa yang Freya katakan memang benar. Hamil di luar nikah memang sebuah aib, tidak untuk diumbar dan disebar luaskan.

"Lebih baik kalian pulang saja. Maura juga sudah baik-baik saja. Dia hanya ingin sendiri untuk beberapa saat. Biar aku sama Freya yang menaminya." Bryan meminta keluarga yang lain untuk pulang. Percuma saja mereka datang karena Maura belum mau ditemui sama siapapun.

"Baiklah!" Alex setuju dan berdiri dari duduknya. "Urusan kantor biar besok aku urus sama Evan. Kamu disini saja jaga Maura." Evan mengangguk setuju dengan apa yang Alex sampaikan.

"Terima kasih!" Ucap Bryan pada kedua iparnya. "Ca! Tolong jaga Mama." Caca mengangkat dua jempolnya sambil tersenyum mengiyakan perintah sang kakak.

"Kalian harus kuat didepan Maura jangan terlihat sedih." Pesan Rendy sebelum akhirnya mereka semua pergi pulang.

"Mas!! Apa kita coba masuk saja? Kita temani Maura didalam." Freya tidak tega melihat Maura sendirian di dalam. Pasti putrinya itu tengah menangis sekarang.

"Nanti dulu. Biarkan dia tenang baru kita masuk." Bryan membawa Freya untuk duduk dan menunggu Maura di luar ruangan.

🌷🌷🌷

"Dokter Fabian!!"

Fabian menghentikan langkah kakinya saat ada yang memanggil namanya. Dia menoleh pada seorang lelaki yang dia yakini tadi dialah orang yang memanggil dirinya.

"Anda memanggil Saya?" Fabian menunjuk dirinya sendiri sambil menatap lelaki itu.

Dia adalah Rafa. Dia tadi memang sengaja berjalan pelan untuk menunggu Fabian, untung saja Kamila tidak ikut, jadi dia bisa menemui Fabian terlebih dahulu. Dia yakin Fabian pasti kembali lagi ke rumah sakit. Tidak dia sangka, ternyata tebakannya benar, Fabian kembali lagi ke rumah sakit malam ini.

Rafa mengangguk membenarkan, "Saya Rafa, kakaknya Maura." Dengan percaya dirinya Rafa memperkenalkan diri sebagai kakak dari Maura.

Fabian memicingkan matanya, "perasaan Maura tidak memiliki kakak." Itu yang Fabian pikirkan saat ini. Karena setahu dia Maura anak pertama.

"Saya mewakili keluarga meminta Anda un,_" Rafa tidak sempat meneruskan perkataannya karena ada yang datang memanggil Fabian dengan terburu-buru.

"Ayo!! Ini darurat." Tarik Danu yang tadi memanggil Fabian.

"Maaf, saya permisi dulu." Ucap Fabian karena memang tujuannya kembali ke rumah sakit atas panggilan dari Danu karena pasien yang ditanganinya kritis.

"Lain kali panggil Dokter Tomi langsung." Tegur Fabian pada Danu mengingat pasien yang kritis tadi pasien penderita stroke. Meski dia dokter bedah saraf, tapi ada sendiri dokter yang bertanggung jawab atas pasien.

"Maaf, Dok!" Ucap Danu lirih.

Fabian menepuk pundak Danu pelan dan berlalu pergi menuju kamar rawat Maura setelah menangani pasien yang kritis tadi. Dia melangkah perlahan saat melihat kedua orang tua Maura menunggu di luar ruangan.

"Paman!! Bibi!!" Sapa Fabian pada Bryan dan juga Freya.

"Bian, kamu kesini lagi?" Tanya Freya menatap Fabian. Dia pikir Fabian tidak akan kembali lagi.

"Saya ingin melihat kondisi Maura." Jawab Fabian jujur dan sopan.

"Masuklah!! Siapa tahu kamu tidak diusir seperti kami." Ucap Bryan yang membuat Fabian langsung berpikir Maura tidak mau bertemu dengan siapapun.

"Saya coba dulu, Paman." Ijin Fabian dan mencoba masuk ke kamar rawat Maura. Dia melihat Maura yang berbaring di ranjang dengan posisi membelakanginya.

"Maura bilang Maura ingin sendiri. Lebih baik Ayah sama Bunda pulang saja." Ucap Maura yang berpikir yang masuk Bryan juga Freya.

Fabian tersenyum tipis bahkan hampir tertawa karena Maura salah mengira. "Tapi aku ingin bertemu dengan kamu." Sahut Fabian yang langsung membuat wanita yang baru saja kehilangan anaknya menoleh kearah belakang.

"Fabian!" Gumam Maura lirih. "Pulang lah!! Aku ingin sendiri." Usir Maura dan kembali ke posisi semula.

"Tapi aku ingin bertemu dan menemani kamu." Fabian bukannya keluar, dia justru melangkah mendekat ke ranjang dimana Maura berbaring. Dia duduk di sebuah kursi yang ada disamping ranjang.

"Maura!!" Panggil Fabian namun Maura tidak menoleh maupun menyahuti. "Apa kamu tidak ingin tahu siapa nama anak kita?" Fabian mencoba mengajak Maura berbicara. Dia tahu Maura pasti saat ini tengah bersedih dan perlu dihibur.

"Siapa namanya?" Tanya Maura dengan suara serak tanpa membalikkan badannya.

"Hadap sini dulu, nanti aku kasih tahu." Fabian memegang lengan kanan Maura, berharap Maura mau membalikkan badannya.

"Nggak mau." Tolak Maura. "Nggak dikasih tau juga nggak masalah." Gerutu Maura. Dia tidak mau membalikkan badannya karena wajahnya saat ini begitu sembab karena terlalu banyak menangis.

"Yakin nggak mau tahu?" Tanya Fabian lagi. "Baiklah kalau gitu. Aku pulang dulu." Fabian mendorong pelan kursi yang dia duduki hingga menimbulkan suara.

Maura yang mendengar suara kursi menggerutu dalam hati, "Fabian benar-benar nyebelin. Tega benget nggak ngasih tahu siapa nama anak aku."

Maura yang berpikir Fabian pergi meninggalkan dirinya lantas membalikkan badannya. Maura memekik kaget saat ternyata Fabian masih disana dan saat ini tengah mencondongkan tubuhnya mendekat padanya.

Maura sampai lupa caranya bernafas bagaimana saat wajah Fabian begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan kedua matanya tidak berkedip saat melihat senyum Fabian yang entah kenapa selalu membuatnya terhipnotis. "terlalu sempurna." pikir Maura.

🍁🍁🍁

BONUS

1
Ray Aza
knp hrs sll rafa.. ga tau cerita ttg dia tp udah ilfeel aja ama tokohnya. klrganya jg bikin ilfeel
Riya Ertoce
cukup bikin mata perih
Riya Ertoce
lanjut
Riya Ertoce
jd penyimak saja
4L1
Luar biasa
Ismawati Iis
Kecewa
Meli Susyanti S
kisah ayahnya Maura ada gak thor
Evy
Tidak dikasih jodoh Thor Pamannya Maura... kasihan juga jadi bujang lapuk..
Evy
Bisanya ngancam aja...
Evy
Dr Rafa yang iri... cinta tak kesampaian...
Evy
wah...ada yang julid...
Evy
Apa anak yang dari pernikahan yang sah itu bukan anak kandung Fabian..
Wulan Sari
Luar biasa
Sudarto Juwana14
siapa sih yang naruh bawang disini...
Sudarto Juwana14
kan bumil perasaannya sangat sensitif jadi harap maklum🙏
Sudarto Juwana14
keren Fabian semangat selalu jangan kasih kendor untuk cita-cita muliamu💪👍
Sudarto Juwana14
mungkin dokter Bian sama-sama lagi ada masalah
Zikran Zikran
Luar biasa
Yeni Fitriani
rafa sok sok an menuntut fabian utk tanggung jawab ats maura.....basiii rafa gak ush sok perduli wong cinta tulus maura 13 th sj lu PHP in......klo jd maura mending klo ketemu rafa pura2 gak kenal aja biar otak rafa bisa kembali mikir.
Yeni Fitriani
fotonya cowok cewek nya cocok bet utk jd pasangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!