TERSEDIA VERSI CETAK
Penny Patterson, sang detektif wanita berjuang menyelidiki kebenaran dibalik berbagai misteri dan kekacauan di kota asalnya, yaitu kota Magnolia, merupakan salah satu kota terdamai di dunia. Bersama rekan tim andalannya menyelidiki beberapa kasus dihadapinya penuh teka-teki.
Di tengah penyelidikannya, Penny selalu didukung, dibantu, dan dilindungi oleh Adrian Christopher, sang jaksa tampan dan cerdas sangat diandalkannya sejak pertama kali berhubungan sebagai partner kerja baik.
Dibalik suasana penuh ketegangan, Penny merasa partner kerjanya memperlakukannya bukan seperti sebatas partner kerja atau sahabat istimewa. Melainkan seperti menginginkan hubungannya lebih dari itu.
Apakah Penny, Adrian, dan rekan timnya berhasil memecahkan semua kasus mereka hadapi? Apakah Adrian sungguh memiliki perasaan istimewa terhadap partner kerjanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocollacious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31 - Kartu Cadangan
Aku berlari memasuki rumah, menaruh koperku di kamar tanpa merapikannya dulu. Dengan sigap aku mengambil sebuah paper bag yang berisi oleh-oleh yang kubeli, lalu menghampiri ibu yang sedang bersantai di ruang tamu.
"Ibu! Ibu!" teriakku heboh.
"Ada apa, Penny? Kamu baru saja pulang sudah bertingkah heboh seperti ini. Kamu baru berpacaran dengan seseorang?" tanya ibu bingung dicampur penasaran.
"Pokoknya ibu harus pergi ke rumah sakit sekarang juga!"
"Kenapa ibu harus pergi ke rumah sakit? Apakah mungkin kamu demam?" tanya ibu menyentuh dahiku.
"Aku tidak demam, Bu. Sudahlah pokoknya ibu harus ikut denganku sekarang!" ajakku menarik tangan ibu.
"Dasar anak nakal! Tunggu sebentar, biarkan ibu berganti pakaian dulu."
Setibanya di rumah sakit, aku menarik tangan ibu lagi berlari menuju kamar ayah. Saat tiba di kamar ayah, ibu masih belum menyadarinya bahkan geram padaku sekarang sambil melepaskan genggaman tanganku dengan kasar.
"Penny! Kenapa kamu menarik tangan ibu kasar sampai sakit begini! Kamu memang tidak ada sopan santunnya sama sekali!" bentak ibu memarahiku habis-habisan sampai telingaku terasa panas sekarang.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk--"
"Kamu tidak perlu mencari banyak alasan!"
"Maia, jangan memarahi Penny seperti itu. Dia tidak bersalah sama sekali," tegur ayah dengan lembut.
Ibu sangat terkejut saat mendengar ayah memanggil namanya. Ibu langsung berhenti memarahiku dan menoleh ke belakang melihat ayah yang masih hidup.
Tubuh ibu hampir terjatuh lemas sambil memijit pelipisnya lembut. "Kamu masih ... hidup selama ini?"
Aku menunduk sambil memainkan kuku jari. "Maaf Bu, seharusnya aku memberi tahu ibu dari awal."
"Penny, kamu mengetahui semua ini sejak kapan? Kenapa kamu tidak memberi tahu ibu sejak awal? Sebenarnya selama ini ibu sangat merindukan ayahmu." Air mata ibu mulai mengalir dari kelopak matanya.
"Sebenarnya kemarin aku pergi ke luar negeri tujuannya untuk menemukan ayah dan menjemputnya ke sini."
Ibu memukuli lenganku dengan ekspresi wajah murung.
Ayah menghembuskan napas lemas. "Maia, maafkan aku. Selama ini aku menghilang pasti kamu sangat kesepian di rumah bersama Penny."
"Selama ini kamu di mana? Kenapa kamu bisa dirawat di rumah sakit? Memangnya kamu sakit apa?" Ibu sangat penasaran sampai melontarkan banyak pertanyaan.
"Ceritanya sangat panjang ... akan kuberitahu padamu satu per satu."
Aku berinisiatif tidak ingin mengganggu privasi ayah dan ibu. Sebaiknya aku bergegas pergi dari sini dan membiarkan mereka berbincang lebih leluasa.
"Aku pergi dulu. Aku tidak ingin mengganggu pembicaraan ayah dan ibu," pamitku sambil meninggalkan mereka berdua.
"Kamu ingin pergi ke mana, Penny?" tanya ayah.
"Aku ingin bertemu Adrian. Aku harus menyapanya setelah bepergian jauh."
Ketika aku menelusuri koridor rumah sakit, aku mengambil ponselku dari saku jaketku menghubungi Adrian untuk bertemu di Kafe.
Setibanya di Kafe, aku melihat Adrian sudah menunggu di sana sambil meminum kopi. Dengan sigap aku melangkahkan kakiku mengukir senyuman bahagia menghampirinya menduduki kursi di hadapannya.
"Penny," sapanya ceria.
"Kamu pasti menungguku lama."
"Tidak juga. Aku juga baru tiba di sini," jawabnya santai.
Aku memberikan paper bag untuknya. "Ini aku beli oleh-oleh untukmu. Semoga kamu menyukainya."
Adrian membuka paper bag mengamati isinya berupa makanan khas Korea. Sebenarnya jam tangan spesial yang kubeli waktu itu, aku tidak akan memberinya sekarang. Aku menunggu waktu yang tepat memberikan kepadanya suatu hari nanti.
"Wah, kamu membelikan oleh-oleh untukku sebanyak ini! Padahal aku tidak memintamu membelikan oleh-oleh. Terima kasih, Penny!"
Ekspresi wajahku tersipu malu. "Kamu menyukainya?"
"Tentu saja aku suka. Aku suka makan makanan khas Korea."
"Aku juga sama sepertimu, Adrian."
"Lain kali kita makan bersama di restoran Korea saja sesekali."
Sebenarnya aku masih penasaran dengannya mengenai Tania dan Nathan diutus olehnya tiba-tiba menjadi pengawalku. Bibirku sudah tidak bisa menahannya lagi, pada akhirnya aku memutuskan menanyakannya langsung.
"Omong-omong, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Kamu ingin tanya apa?"
"Kamu sungguh mengutus Tania dan Nathan untuk menjagaku saat aku sedang pergi waktu itu?"
Adrian mengangguk malu sambil memindahkan paper bag di kursi sebelah. "Iya. Untung saja aku mengutus mereka melindungimu untuk berjaga-jaga. Karena saat kamu berpamitan denganku waktu itu, aku merasa tidak nyaman saja apalagi belakangan ini nyawamu selalu terancam. Lalu, aku mendengar dari mereka bahwa kamu waktu itu hampir dihajar secara habis-habisan oleh pelaku yang menculik ayahmu."
Meski hubungan kami sebatas sahabat, aku tidak menyangka ia sungguh memiliki firasat kuat terhadapku, seolah-olah aku adalah istrinya. "Adrian, terima kasih telah mengkhawatirkan aku."
"Kamu bepergian sendirian itu sangat berbahaya apalagi kamu seorang wanita. Maka dari itu, aku sebagai sahabat setiamu sangat mencemaskanmu."
"Kamu mencemaskanku sampai begitu, aku jadi terharu sekarang."
"Aku merindukanmu selama ini, Penny."
Mendengar perkataannya barusan, aku mengukir senyuman bahagiaku di hadapannya. Aku tidak menyangka Adrian ternyata sungguh merindukanku, padahal aku hanya pergi beberapa hari saja.
"Aku juga merindukanmu, Adrian. Aku rindu berbincang denganmu dan makan bersamamu."
"Tapi apakah kamu terluka saat berkelahi dengan pelakunya waktu itu?" Sorot matanya sedikit cemas mengamati wajahku dan tanganku.
"Aku hanya sedikit terluka. Lagi pula tidak terlalu sakit."
"Aduh seharusnya kamu lebih berhati-hati lagi! Seharusnya aku yang melindungimu dari awal," keluhnya.
Aku jadi lupa apa yang ingin kubicarakan pada Adrian sejak awal. Aku harus memberitahu sesuatu penting ini padanya.
"Omong-omong, ada hal lain yang aku ingin tanyakan padamu."
Adrian menyesap kopi pelan. "Apa itu?"
"Kasus penggelapan dana oleh ayahmu itu. Nama perusahannya apa?"
"Elite Company. Perusahaan itu sudah bangkrut sejak adanya kasus ayahku. Perusahaan itu mengelola dan memproduksi tas-tas mahal. Kenapa kamu menanyakan itu tiba-tiba?" Adrian terlihat bingung karena aku menanyakan hal itu.
Aku mengamati sekelilingku penuh waspada lalu memajukan bibirku mendekati daun telinganya. "Itu perusahaan milik Pak Colin. Ayahku, ayahmu, dan Pak Colin mendirikan perusahaan itu di Gangnam. Kata ayahku, Pak Colin yang melakukan penggelapan dana itu, bukan ayahmu."
Adrian membulatkan matanya. "Apa? Bagaimana ayahmu bisa tahu itu?"
"Sebenarnya ayahku dan ayahmu itu berusaha untuk mengungkapkan kebenarannya. Tapi Pak Colin menculik ayahku dan menjebak ayahmu supaya mereka tidak bisa berbuat apa pun yang bisa menjatuhkannya."
Tangan kanannya menggenggam cangkir kopi erat. "Aku tidak akan memaafkan Pak Colin selamanya!"
"Kamu ingin memberi tahu ayahmu mengenai hal ini? Mungkin ayahmu akan memberi tahu semuanya."
"Tapi kalau ayahku tidak ingin membuka mulutnya lagi dan mengatakan bahwa memang ayahku yang melakukannya gimana?"
Aku tersenyum cerdas. "Aku punya satu kartu cadangan lagi supaya ayahmu mengungkapkan semuanya dengan benar."
"Apa itu?"
"Ada deh, maka dari itu kita harus mengunjungi ayahmu sekarang," jawabku langsung beranjak dari kursi dan berjalan menuju tempat parkir.
"Tunggu, aku belum selesai minum kopinya!" Adrian menghabiskan kopinya terburu-buru, lalu berlari keluar.
Setibanya di rutan, sambil menunggu paman Randy memasuki tempat kunjungan tahanan, Adrian menatapku dengan tatapan masih penasaran mengenai kartu yang aku bicarakan tadi.
"Kartu cadangan apa itu? Ayolah Penny, cepat beritahu padaku!" rengek Adrian sambil menggoyangkan tanganku.
"Aduh, kamu harus bersabar! Nanti juga aku ungkapkan semuanya," balasku kesal.
"Ish dasar pelit!" ketus Adrian sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Kamu yang menyebalkan!" ejekku menjulurkan lidah.
"Padahal aku selalu melindungimu, tapi kamu menyindirku! Kamu yang menyebalkan, bukan aku!"
Tak lama kemudian, paman Randy menampakkan dirinya didampingi sipir penjara. Aku harus cepat mendiskusikan hal ini kepadanya karena waktuku hanya sedikit.
"Penny, aku senang melihatmu lagi di sini," sapa Randy ramah.
"Paman, aku boleh bertanya sesuatu lagi?" tanyaku langsung pada intinya.
"Boleh, ada apa ya?" tanya Randy padaku.
"Apakah benar paman dan ayahku berusaha untuk mengungkapkan penggelapan dana Elite Company yaitu perusahaan milik Pak Colin?"
Saat aku menanyakan hal itu, paman Randy tidak berani menatapku lagi dan menghindariku.
"Ayah, kumohon beritahu kejadian yang sebenarnya supaya ayah bisa dibebaskan," bujuk Adrian.
"Kumohon, Paman. Pak Colin itu adalah orang sangat kejam. Dia harus ditangkap dan dihukum sesuai dengan kejahatannya." Aku membantu Adrian membujuk ayahnya juga.
Ekspresi wajah Randy sangat lesu. "Tapi percuma jika kalian berhasil menangkap Colin, situasi tidak akan berubah."
"Itu tidak benar, Paman. Jika kita berhasil menangkap Pak Colin, nama baik paman akan kembali seperti semula. Paman tidak kasihan pada Adrian?"
"Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
Kalau begini terus, aku tidak akan pernah mendapatkan pernyataan kesaksian darinya. Secara terpaksa, aku harus menggunakan kartu cadanganku. Sebenarnya aku masih ingin merahasiakannya dari hal ini tapi apa boleh buat.
"Ayahku sekarang dirawat di rumah sakit," ungkapku berterus terang.
Paman Randy tersentak kaget mendengar perkataanku barusan. "Apa maksudmu, Penny? Peter masih hidup?"
"Ayahku sebenarnya ditangkap dan dikurung Pak Colin di rumah sakit terpencil. Kemarin aku menemukannya dan menjemputnya ke sini. Ayahku ditangkap seperti paman supaya paman dan ayahku tidak bisa mengungkapkan kejahatan Pak Colin."
"Teganya Colin memperlakukan kami seperti ini!" ketus Randy memukul meja.
"Ayah tidak perlu berpura-pura membela Pak Colin deh!" celetuk Adrian meninggikan nada bicara.
"Maka dari itu, paman harus membantuku dan Adrian untuk menangkap Pak Colin," bujukku meminta bantuannya sekali lagi.
Hening sejenak. Reaksi paman Randy terlihat pasrah. "Baiklah, paman akan memberi tahu semuanya."
Semoga semakin sukses ya Kakak..🥰