Adara terpaksa menerima kehadiran seorang madu di rumah tangganya, dia tidak dapat berbuat apa-apa karena sang suami dan mertua yang begitu kekeuh menghadirkan madu tersebut. Madu bukannya manis, tapi terasa begitu menyakitkan bagi Adara.
Awalnya Adara merasa sanggup bila dirinya berbagi suami, tapi nyatanya tidak. Hatinya terasa begitu sakit saat melihat sang suami dan adik madunya sedang berduaan. Apalagi hubungan sang mertua yang terlihat sangat dekat dengan adik madunya. Ditambah lagi suami dan mertuanya juga memperlakukan sang adik madu dengan begitu istimewa, bak seorang putri yang harus selalu dilayani dan tidak boleh melakukan pekerjaan apapun. Berbanding terbalik dengan Adara yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk menyiapkan kebutuhan sang adik madu.
Hati Adara sangat sakit menerima perlakuan tidak adil tersebut.
Sejauh mana Adara sanggup bertahan membina rumah tangganya yang tak sehat lagi?
Yuk ikuti terus cerita ini. InsyaAllah happy ending.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 01Khaira Lubna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pov Erlang
Hujan semakin deras saja, tumben-tumbenan siang-siang begini turun hujan, sekarang hampir pukul sepuluh pagi, tapi tidak ada tanda-tanda hujan akan segera reda.
Kalau terus begini, bagaimana pesawat akan terbang.
Argh! Aku meremas kepalaku karena pusing memikirkan nasibku kedepannya.
Aku merasa cuaca pun ikut mendukung untuk menangkap ku. Kesalahan ku pada Adara tidak terlalu fatal, tapi kenapa aku harus di jatuh kan hukuman penjara selama lima tahun lamanya. Ini semua tak adil untukku.
Saat itu aku lagi gelap mata sehingga dengan setengah kesadaran aku memukuli istriku dengan ikat pinggang. Aku bersikap seperti itu juga karena ulahnya yang terlalu genit jadi wanita. Bisa-bisanya di depan Pak Saga dia bersikap sok cantik.
Adara, kenapa kamu tega sama Mas? Kamu pergi meninggalkan segudang masalah untuk Mas dan keluarga Mas. Jahat kamu Adara. Padahal Mas sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kita meskipun kamu punya kekurangan, yaitu tidak bisa mengandung.
Seorang wanita bila tak bisa mengandung, bukan lah wanita sejati dan bukanlah wanita idaman. Begitulah kata Mama ku
*
"Aku ke toilet sebentar, ya,'' kata ku. Aku berbicara pada mertua, Mama dan istri ku.
Aku ingin buang air kecil, sedari tadi aku sudah berusaha untuk menahan nya, tetapi kali ini sungguh tak tertahankan lagi. Bisa-bisa aku terkencing di celana. Mungkin karena cuaca yang dingin membuat aku begitu ingin buang air kecil.
Aku berjalan menuju toilet, sambil berjalan aku melihat ke kiri ke kanan, aku takut ada polisi yang mengintai pergerakan ku.
Syukurlah aku tidak melihat orang-orang yang memakai pakaian berseragam.
Saat selangkah lagi aku hendak melangkahkan kaki memasuki toilet, tiba-tiba saja tubuh ku bergeming karena suara yang begitu keras.
''Angkat tangan, jangan bergerak. Berani bergerak, maka peluru akan menembus kulit mu,'' suara yang berasal dari punggung ku tegas terdengar bersamaan dengan jantungku yang hendak copot rasanya.
Aku mengangkat kedua tanganku, melawan pun percuma saja. Aku tak akan sanggup.
''Balik badan,'' perintah anggota polisi.
Aku membalikkan tubuh ku, sehingga bisa aku lihat seorang pria berseragam tengah menodong pistol ke arah ku. Tubuh nya tinggi tegap dengan garis wajah begitu tegas.
Tidak hanya ada satu pria itu saja, tapi ada beberapa.
Kini, aku telah di kepung oleh polisi.
"Tangkap.''
Dua orang polisi mendekati aku, lalu mereka memasang borgol di tanganku.
Sesak rasanya dadaku, akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga.
Aku berjalan dengan beberapa polisi mendampingi ku, saat tiba di ruang tunggu bandara, banyak pasang mata yang menatap ke arah ku.
Dan ...
''Jangan, jangan... tangkap suami ku. Aku mohon!'' seru Winda. Dia berlari menembus polisi yang menjaga ku, lalu dia memeluk ku dengan begitu erat. Tangis nya berderai terdengar begitu memilukan.
Aku melihat ke arah wanita yang telah melahirkan aku, Mama pun sama, awalnya dia hanya diam dengan netra berkaca-kaca menatap ku, lalu setelah itu tangisnya pecah.
Mama menangis menjerit memohon agar polisi melepaskan borgol di tangan ku.
Mama mertua serta Papa mertua hanya bisa menatap ku dengan tatapan sendu.
Setelah itu tubuh ku di paksa berjalan menuju mobil yang telah menunggu.
Winda dan Mama tak mau melepaskan aku, mereka terus memohon dan menangis.
Polisi terpaksa turun tangan, tubuh Mama dan Winda di tarik oleh polisi agar menjauhi aku.
Aku merasa begitu terhina saat ini, harga diriku telah runtuh di depan semua orang. Ini semua karena aku yang telah salah memilih pendamping hidup, aku menyesal telah menikahi Adara.
Aku terus menunduk karena tak punya kekuatan untuk mengangkat wajah ku.
''Bu Adara, semuanya sudah beres! Pak Erlang akan segera kami bawa ke kantor polisi,'' spontan aku mendongak setelah mendengar polisi berucap.
Dan, netraku melebar melihat Adara sudah berdiri di depanku. Dia berdiri 2 meter dari ku.
Rasanya aku ingin mengucek mataku, tapi tidak bisa karena tanganku yang di borgol.
Adara, dia berdiri bersama seorang pria tampan.
Adara tampak sangat cantik, cantik sekali.
''Pak Erlang kenapa anda jorok sekali. Iih, bau pesing!''
Karena terpesona dengan kecantikan Adara, tanpa aku sadari aku telah terkencing di celana. Cairan hangat itu telah membasahi ujung kakiku lalu jatuh ke lantai tempat aku berdiri.
Kini, rasanya aku semakin tak punya muka saja.
Aku kembali menunduk.
Mengetahui kehadiran Adara diantara kami, Mama langsung menjerit mengumpat mantan istri ku. Beliau berusaha untuk melampiaskan amarahnya kepada Adara, tapi gerakannya tertahan karena polisi yang siap siaga.
Pun Winda, dia juga ikut-ikutan menyampaikan protes nya kepada Adara.
Bersambung.
saga kasihan Thor😢😢
dan semoga rajin lagi Up nya 😍