Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Zaverio Kusuma berdiri di bawah pohon rindang di halaman panti asuhan, kedua tangannya terlipat di depan dada, mata hijaunya yang tajam mengamati dengan seksama interaksi dua anak kecil berusia 5 tahun itu.
Anindita Paramitha—dengan dress pink simpel, rambut dikuncir dua, wajah bulatnya yang kesal membuat dada Zaverio sesak setiap kali melihatnya.
Dia hidup. Dia sehat. Dia bahagia.
Tiga kata yang Zaverio ulang dalam hatinya setiap hari seperti mantra.
Di samping Anindita, seorang anak laki-laki dengan potongan rambut bowl-cut yang rapi, mata tajam yang kontras dengan wajah polosnya, sedang mendengarkan omelan dari Anindita.
Vyan Syailendra.
Zaverio mengerutkan kening, otaknya yang sudah dewasa di tubuh anak-anak ini bekerja keras menganalisis.
Bagaimana mungkin?
Di kehidupan sebelumnya, Vyan dan Anindita adalah musuh bebuyutan. Keluarga mereka berperang selama puluhan tahun. Mereka saling menghancurkan bisnis satu sama lain. Vyan bahkan pernah menyabotase tender penting Anindita—walau di akhir, dia mengembalikannya sebagai hadiah untuk bayinya.
Tapi di sini, di masa yang belum terkontaminasi oleh dendam dan manipulasi Darwan Kusuma, mereka adalah sahabat. Sahabat sejati yang saling melindungi, saling mendukung.
Tentu saja, pikir Zaverio pahit. Di kehidupan sebelumnya, Kakek Darwan yang meracuni hubungan keluarga Paramitha dan Syailendra. Dia yang menyebarkan kebohongan. Dia yang membuat mereka bermusuhan.
Tapi sekarang? Zaverio sudah memastikan Darwan tidak pernah punya kesempatan untuk melakukan itu lagi.
"Zaverio!" Anindita melambai dengan antusias, senyumnya melebar. "Kemarilah! Aku akan memperkenalkan kamu dengan Vyan..."
Zaverio melangkah mendekat, ekspresinya tetap datar—kebiasaan dari kehidupan sebelumnya yang sulit dihilangkan—tapi ada kehangatan kecil di matanya.
"Vyan, ini Zaverio... Dia teman baru kita," katanya dengan ceria dan bersemangat.
Zaverio hanya menatap Byan dengan datar, ciri khas yang tidak bisa dihilangkannya.
"Bukannya dia lebih tua dari kita, Dita? Seharusnya kita memanggil kakak..." bisik Vyan kepada Anindita.
"Iya ya? Kalau begitu, Kak Zaverio ini Vyan..." ucap Anindita kembali memperkenalkan Vyan kepada Zaverio dengan semangat.
"Vyan Syailendra," katanya dengan nada serius yang tidak cocok dengan usianya. "Sahabat TERBAIK Dita."
Penekanan di kata 'terbaik' membuat Anindita giggle, tidak menyadari perang dingin mini antara dua bocah laki-laki di hadapannya.
Sebelum Zaverio bisa merespons, dua suara dewasa terdengar dari arah gerbang panti asuhan.
"Dita, sayang!"
Anindita langsung melompat berdiri, wajahnya berbinar. "PAPA!"
Zaverio ikut berdiri, tubuhnya menegang secara refleks.
Aditya Paramitha—ayah Anindita—berjalan mendekat dengan senyum lebar. Dia masih muda, belum ada beban kehidupan dan kematian tragis yang akan dia alami di kehidupan sebelumnya. Di sampingnya, seorang pria dengan postur serupa berjalan dengan tangan di saku—ayah Vyan, Arman Syailendra.
"Papa!" Vyan juga berlari, diikuti Anindita.
Zaverio berdiri di tempat, mengamati dengan tatapan yang terlalu matang untuk anak seusianya.
Aditya Paramitha. Di kehidupan sebelumnya, pria ini meninggal saat Anindita baru berusia 6 tahun—diracuni oleh Taruni, istri keduanya yang ternyata dimanipulasi oleh... siapa lagi kalau bukan Darwan Kusuma. Dan 3 bulan setelah kematian Aditya Paramitha, Arman Syailendra meninggal dunia dengan cara yang sama dengan sahabatnya itu.
Tapi sekarang? Mereka masih hidup, masih bahagia, masih bisa memeluk anak mereka masing-masing.
Aditya mengangkat Anindita tinggi-tinggi, membuat gadis kecil itu tertawa kencang. Arman melakukan hal yang sama dengan Vyan.
"Apa kalian sedang bertengkar, sayang?" tanya Aditya sambil mencubit hidung Anindita gemas.
"Tidak, Pa! Dita dan Vyan tidak bertengkar," jawab Anindita cepat. "Kami tadi hanya bermain!"
"Kami tidak bertengkar kok, Paman Aditya," tambah Vyan dengan nada sopan—tapi mata kecilnya melirik ke Zaverio dengan tatapan 'tapi aku tidak suka bocah satu itu'.
Zaverio hampir—hampir—tersenyum melihat tingkah anak-anak ini.
Aditya dan Arman akhirnya menyadari keberadaan Zaverio yang berdiri sedikit menjauh, mengamati mereka dengan tatapan dingin yang tidak sesuai usianya.
Aditya membisikkan sesuatu ke telinga Arman—tapi bisikan yang cukup keras hingga Zaverio bisa mendengar dengan jelas.
"Apa kau kenal anak itu? Wajahnya sangat familiar, bukan?"
Arman menyipitkan mata, mengamati Zaverio dengan teliti. "Sepertinya iya... mata hijau itu... dan aura dinginnya..."
"Hei, bocah," panggil Arman dengan nada yang mencoba ramah tapi tetap terdengar menyelidik. "Siapa namamu?"
Zaverio menatap langsung ke mata Arman tanpa berkedip—tatapan yang membuat pria dewasa itu sedikit tidak nyaman.
"Zaverio Kusuma," jawabnya dengan nada datar, tanpa emosi.
Hening sejenak.
Kemudian—
Aditya dan Arman meledak dalam tawa.
"HAHAHA! Oh, anak si Bramantara ternyata!" Aditya menepuk pahanya sendiri, matanya berkaca-kaca karena terlalu kencang tertawa.
"Astaga, pantas saja!" Arman ikut tertawa, menggelengkan kepala. "Mata hijau itu... aura dingin itu... Dia mini version dari Paman Darwan!"
Anindita dan Vyan menatap ayah mereka masing-masing dengan wajah bingung—ada apa sih yang lucu?
"Di mana ayahmu, bocah?" tanya Arman, masih dengan senyum di wajahnya.
"Tidak tahu," jawab Zaverio ketus, nada suaranya turun beberapa oktaf—atau setidaknya sedingin yang bisa anak 10 tahun lakukan.
Di dalam hatinya, amarah bergolak. Di mana ayahku? Sibuk dengan bisnis. Sibuk dengan rencana jahatnya. Sibuk menjadi anak buah Darwan untuk menghancurkan keluarga kalian.
Aditya dan Arman terdiam sejenak, saling berpandangan, kemudian berbisik lagi—tapi kali ini tidak berusaha menurunkan suara.
"Bocah itu benar-benar mirip Paman Darwan ya? Lihat wajah datarnya... kalimat ketusnya..."
"Hooh, sama persis! Dingin seperti es tapi kayaknya dalamnya peduli. Tipe tsundere gitu kali ya?"
"Papa!" Anindita memasang wajah cemberut imut, pipinya menggembung. "Kedengeran tahu! Jangan bilang Kak Zav mirip sama orang tua yang menyeramkan!"
Vyan mengangguk setuju. "Papa jangan membicarakan orang yang lebih tua di belakang mereka. Itu tidak sopan. Guru Santi bilang begitu."
Aditya dan Arman langsung cengengesan—dua pria dewasa yang ketangkap basah gossiping sama anak-anak.
"Iya, iya, maaf, maaf," Aditya mengacak rambut Anindita dengan sayang. "Papa janji tidak akan gossip lagi."
"Bohong!" tuduh Anindita dengan mata menyipit. "Papa paling suka gossip sama Paman Arman!"
"Dita, sayang, itu namanya 'diskusi bisnis', bukan gossip," koreksi Aditya dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Papa bilang kemarin ke kakek kalau Paman Arman itu 'queen of drama'," Anindita menjulurkan lidah. "Itu gossip!"
Arman langsung menoleh ke Aditya dengan wajah terkhianati. "KAU BILANG APA TENTANGKU?!"
"Dita! Jangan bongkar rahasia Papa!" Aditya panik.
Vyan ikut tertawa melihat ayahnya dan Paman Aditya bertengkar konyol.
Zaverio berdiri di sana, mengamati scene ini dengan perasaan yang sangat kompleks.
Di kehidupan sebelumnya, dia tidak pernah melihat ini. Tidak pernah melihat Aditya dan Arman tertawa bersama. Tidak pernah melihat Anindita dan Vyan bermain dengan ceria tanpa beban dendam keluarga.
Yang dia lihat hanyalah kehancuran. Kematian. Dendam.
Tapi sekarang...
Ini indah, pikir Zaverio, sesuatu di dadanya yang sudah mati di kehidupan sebelumnya mulai berdetak lagi. Ini yang seharusnya terjadi. Ini yang akan kupertahankan.
"Zav?"
Zaverio tersentak dari lamunannya. Anindita berdiri di hadapannya, kepala miring dengan ekspresi khawatir.
"Kenapa diem aja? Apa Zav marah sama Papa karena bilang Zav mirip kakek yang menyeramkan?"
Zaverio menggeleng. Tangannya terangkat—ragu sejenak—kemudian mengacak rambut Anindita dengan lembut.
"Tidak," katanya pelan. "Aku hanya... senang melihat kalian bahagia."
Anindita tersenyum lebar—senyum yang membuat dunia Zaverio terasa lebih cerah.
"Zav baik kok! Walaupun mukanya datar dan ketus seperti robot!" Anindita memeluk lengan Zaverio dengan erat. "Zav adalah Kakak terbaik!"
"Hei! Aku juga Kakak Dita!" protes Vyan cemburu.
"Vyan adalah sahabat terbaik! Beda!" Anindita tertawa.
Zaverio menatap ke arah Aditya dan Arman yang sekarang sedang berbincang serius di kejauhan—mungkin memang membicarakan bisnis kali ini.
Dan di sana, di kursi taman dekat gerbang, tiga orang tua duduk sambil tertawa—
Darma Paramitha, kakek Anindita.
Arjuna Syailendra, kakek Vyan.
Dan... Darwan Kusuma, kakeknya sendiri.
Zaverio menatap Darwan dengan tatapan yang sangat dingin.
Di kehidupan sebelumnya, pria tua itu adalah dalang dari segalanya. Manipulator. Pembunuh. Monster yang bersembunyi di balik senyum ramah.
Tapi sekarang?
Sekarang Zaverio sudah mengambil langkah-langkah untuk memastikan Darwan tidak pernah punya kekuatan itu lagi.