"Hamili aku, please!"
Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya lalu melirik dan meneliti gadis di depannya dengan seksama.
"Badan kamu ngga se mok, terkesan kaya orang kampung, mana bau kembang 7 rupa! Mana gue nav su!" gidiknya acuh sama sekali tak tertarik, bahkan mantan-mantannya 3 kali lipat lebih sempurna darinya.
Sontak saja mata bulat itu membola, "kamu ngga tau saya siapa?! Saya R.Rr. Rashmi Sundari Kertawidjaja!" logatnya sundanese banget.
Alva malah meneguk air mineral dalam botol sampai tandas, lalu berdiri. Tingginya cukup membuat gadis itu mendongak kaya lagi liatin jerapah, "lo kayanya kurang minum, dehidrasi bikin lo halu."
"Tunggu! Rakyat jelata!" jeritnya meneriaki Alva yang sudah berlalu.
Warna-warni kisah kasih si princess Rashmi yang ternyata seorang keturunan menak bersama Alvaro si pemuda datar, cuek terhadap sekitarnya terkesan apatis, mencintai kehidupan dari sisi hitam.
Bagaimana lika-liku perjalanan cinta keduanya, ditengah aturan dan pemahaman aristok rat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BCR # 31.AKU SUKA KAMU
"Jrin, beneran ini teh rumah Asmi?" tanya Saka mendongak, melihat gerbang rumahnya saja kaya mau masuk ke taman sejarah budaya Sunda. Mereka datang beberapa motor kaya mau ngajak konvoi atau lebih tepatnya kopdar terus menyampaikan aspirasi.
"Bener atuh, sebentar! Harus ngomong dulu sama securitynya," jawab Fajrin. Sony dan Filman saling lirik, se-tajir itu Rashmi?! Atau emang gadis itu tinggal di rumah peninggalan sejarah yang masuk ke dalam peninggalan Unesco sampe dijaga security segala?!
Alvaro kini benar-benar percaya jika Rashmi memang menak, ia menatap pagar kayu setinggi-tinggi tembok lapas, dengan runcing di bagian puncaknya, lumayan tuh kalo maling ketusuk bisa bikin sate maling.
Fajrin memencet bel di depan. Hanya berselang beberapa menit saja, pintu terbuka sedikit dengan pria paruh baya memakai seragam rapi biru khas security.
"Ya?"
"Punteun mang, saya Fajrin...temennya raden rara, barusan udah ada janji sama Rashmi..." ucap Fajrin disertai Elisa.
Awalnya ia meneliti Elisa, Fajrin dan segerombol mahasiswa dibelakang mereka.
"Gue baru tau kalo Asmi se-tajir ini," imbuh Saka. Cintya yang satu kelas pun baru tau jika rumah Rashmi sebesar ini. Pasalnya Rashmi memang cukup menutup identitasnya dari teman sekelas lain, lebih tepatnya sih tak pernah mengumbar-umbar siapa dirinya.
"Sebentar," ia kemudian masuk ke dalam dan menutup pintunya terlebih dahulu, hingga tak lama pintu kembali terbuka menampilkan sosok yang Elisa kenali, "hay mamang!" ia menaik turunkan alisnya, sepertinya Elisa memang sering datang kesini.
"Neng Elisa? A Fajrin?!" seorang security lain mengenali mereka.
"Iya atuh!"
"Mangga atuh kalebet, ini---" tunjuknya ke arag rombongan manusia di belakang Elisa saat ia melebarkan pintu gerbang yang sepertinya cukup berbobot.
"Mang, ini temen mahasiswa Asmi. Katanya pengen jenguk, Asmi sakit ya mang? Gimana sekarang?"
Fajrin menoleh ke arah Alva dan mengangguk pertanda jika mereka boleh masuk.
"Anjirrr Va, kok gue berasa horor gini mau masuk rumah Asmi." ujar Anjar berbisik.
"Aku aja baru tau, baru kesini..." akui Cintya.
Mereka masuk ke dalam halaman rumah, dan wow! Mata mereka membeliak demi melihat halaman seluas lapangan sepakbola yang bak taman surga.
"Anjrittt, bener ini mah! Asli orang kaya!" gumam Sony mirip emak-emak julid.
"Edann euy! Kalo emak gue kesini udah dipake piknik saban hari!" balas Saka.
Elisa terlihat berbicara dengan mamang yang tadi.
"Hayu atuh masuk, ada ngga Asminya?" tanya Cintya.
Namun Elisa menggeleng, "ngga bisa maen masuk aja ai kamu. Nunggu aja disini, nanti kalo Asmi nya keluar dipanggilin baru boleh masuk..."
"Makin penasaran da sumpah!" jawab Cintya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
*Tok--tok--tok*!
"Den rara, ada tamu...katanya temen-temen kampus, ada neng Elisa sama a Fajrin," ujar bi Lilis.
Nawang yang masih berada di kamar Asmi melihat raut wajah yang cerah dari Asmi.
"Iya ambu, tunggu sebentar Asmi keluar!" gadis itu segera beranjak dan bercermin, "teh, Asmi keliatan dekil engga?" tanya nya.
Nawang mengernyit, "tumben. Biasanya juga cuek bebek. Hayooo ada siapa?!" goda Nawang ikut beranjak dari duduknya.
"Engga. Ya nanya aja, takut keliatan belum mandinya, malu atuh sama temen-temen kampus!" alibinya. Nawang melengkungkan bibirnya, "*bad liar*!" cibir Nawang keluar dari kamar Asmi.
Alva menatap sekelilingnya, benar! Ayahnya memang benar, menyukai Asmi berat, berat di ongkos dan pengorbanan. Harus kuat mental dan modal, lihatlah dari sisi materi saja ia hanya sepersekiannya dari keluarga Asmi.
Apa yang ia punya untuk mencukupi kehidupan Asmi? Cinta?! What the F*ck! Manusia ngga akan kenyang makan cinta.
Tap---tap---tap.
"Eh, rame-rame....temen kampus neng Asmi, ya?! Mau jenguk?!" seorang wanita dengan wajah yang enak dipandang menyapa Alva cs di halaman rumah.
"Iya teh," angguk Sony dan yang lain macam burung beo.
"Kenapa ngga masuk?! Meni ngga sopan ih, si mamang sama ambu teh tamu dibiarin disini!"
"Teh Katresna ya," tebak Elisa.
Katresna mengangguk, "bener, kenapa keliatan banget ya, cantik?!" tawanya renyah.
"Hooh, cantik," jawab Sony keceplosan di kekehi Katresna. Sontak saja Sony langsung diserang netizen maha budiman di sekelilingnya dengan pukulan telak dan sorakan riuh.
"Hayu atuh masuk!" ajaknya.
"Neng Asmi'nya rada hareeng, biasalah kayanya mah masuk angin!" jelas Katresna mengajak mereka masuk ke dalam, seperti sedang tur ke museum sri baduga, para mahasiswa itu cengo nan melolong seraya berjalan melihat setiap ruangan di rumah ini.
"Busettt, gue mah bakalan butuh guugle map kalo kesini," bisik Filman.
"Disini aja lah, anak muda mah biasanya seneng yang santai-santai..." Katresna membawa mereka melewati pintu samping dan jalan setapak di halaman samping rumah dimana ada gazzebo diantara taman dan aliran air menuju kolam ikan layaknya selo kan atau sungai kecil.
"Sok disini aja, biar dipanggilin dulu yang mau dijenguknya." Ia tersenyum begitu ramah nan hangat.
"Makasih teh,"
Mereka berebut duduk setelah membuka sepatunya termasuk Alvaro.
"Ambu! Minta minum dong ada tamunya neng Asmi!" teriak Katresna sambil beranjak.
"Gila keren abis!" decak kagum Cintya. "Kok gue ngga tau ya, kalo Asmi orang tajir, dia teh menak? Sampe dipanggil raden rara?! Ada yang mau ceritakah sama gue?" tanya Cintya.
Tatapan Alva cs menelan jangi Elisa dan Fajrin, "lo tanya aja nanti sama orangnya, takut salah gue!" jawab Fajrin.
Langkah kaki-kaki putih berdress coklat susu itu semakin mendekat, Asmi tak mengikat rambutnya satu dan membiarkan surai tebal bervolume itu terbawa angin.
"Sampurasun," suara lembut itu memecah kerinduan Alvaro. Wajah Asmi yang pucat tak sedikit pun mengurangi kecantikannya.
Pandangan Asmi jatuh bersitatap dengan netra Alva, seolah sedang sama-sama menumpahkan rasa rindu, i miss you....
"Mi!"
Fajrin dan Elisa langsung memeluk gadis ini yang sempoyongan dan hampir ambruk ditubruk keduanya.
"Aduhh ih!" Asmi mengaduh.
"Mi sehat?!"
"Masih waras?"
"Masih inget kan sama gue, Mi?!"
Asmi tertawa dan mendorong kepala kedua temannya itu, "dasar gelo!"
"Asmi, seriusan kamu teh ningrat?!" tanya Cintya ikut menyerbu membuat Asmi bingung menjawab mereka.
"Woy!" panggil Alvaro membuat ketiganya berhenti seketika.
"Asmi sakit, bukan abis menang undian yang mesti direcokin."
Asmi mengu lum bibirnya, termasuk Sony, Filman, Saka, dan Anjar.
"Mi, sorry kita ngga bawa apa-apa...nengoknya dadakan," ucap Anjar.
"Iya karena ditodong kang Alva!" cebik Fajrin mengadu, Asmi tersenyum usil pada Alvaro, oke! Sampe nodong Fajrin rupanya.
"Maaf ya, cuma duduk lesehan...rumah Asmi mah ngga ada kursi," basa basi blekok yang jelas-jelas Asmi sedang merendah.
"Ck, ngga usah ngerendah untuk meroket, Mi!" cibir Fajrin.
"Apa kabar rumah gue yang cuma pake karpet plastik A B C sama nama-nama buah!" balas Filman ditertawai yang lain.
Entah disengaja atau tidak, hanya saja Alvaro duduk benar-benar di tepian bale-bale, lalu menggeser duduknya ketika Asmi mulai bergabung sehingga Asmi duduk di sampingnya.
Asmi sedikit menggeser duduknya, "akang kuman nodong Fajrin?" godanya usil, sedang sakit saja, Asmi masih usil.
"Udah sehat ya, bisa nyindir orang?" tanya Alva balik, Asmi benar-benar menyimpan memory wajah Alva di otaknya, mungkin nanti ia akan merindukan Alvaro.
Asmi kemudian mengalihkan pandangannya dari Alva, tak ingin terlalu lama memandangnya, takut ngga bisa move on. Namun Alvaro masih memandangnya lekat ketika Asmi berusaha menghindar, membuatnya salah tingkah.
"Punteun den rara," dua orang ambu membawa serta nampan berisi makanan dan minuman.
"Eh iya, ditaro aja disitu ambu... Hatur nuhun," ucap Asmi.
"Den rara? Raden?" tanya Biani.
Asmi menoleh dan menatap mereka satu persatu dengan tatapan nanar, kemudian Asmi mengangguk, "iya. Namaku, Raden rara Rashmi Sundari Kertawidjaja."
"Tapi setau gue, di kta KTM nama kamu cuma..."
"Rashmi. Rashmi Sundari....tanpa embel-embel raden rara, buat apa juga sih? Biar orang-orang bilang gini....wah raden rara euy! Sampurasun Raden...sambil nunduk," cibir Asmi tak suka.
Cintya kini diam, karena apa yang dikatakan Rashmi benar adanya, pikiran pertamanya saat mendengar nama lengkap Asmi saja langsung begitu.
"Atau gini....wah menak, ningrat euy! Culik---culik! Atau justru, engga mau ah, temenan sama menak, salah-salah berabe lagi!" terlihat gurat wajah terbebani dari Asmi.
"Santai aja atuh Mi, kita-kita engga gitu!"
Asmi terkekeh, "becanda lah! Udah ngga usah dibahas ah, Asmi ngga mau aja, karena namanya kepanjangan! Ribet!"
"Sok atuh dimakan, dicicipin kudapan seadanya," Asmi mempersilahkan.
Sony dan Saka bahkan sudah melihatnya kebingungan, bukan karena makanannya aneh, melainkan banyak jenisnya, udah kaya ngunjungin festival cemilan daerah!
"Mi, dicobain ya!" Cintya mengambil gemblong di depannya.
"Bisa ngobrol berdua ngga?" tanya Alva, Asmi menoleh dan melihatnya getir, "ngga bisa disini aja kang? Biar rame-rame?"
"Ekhem, hem!" cibir Saka, "gatel euy tenggorokan!"
"Garuk pake garpu rumput! Ka," jawab Anjar tertawa.
"Pake sikat wese!" timpal Elisa.
"Heem, ngobrol disini aja atuh Va! Kita-kita juga pengen denger!" ujar Filman.
"Aku suka kamu," ucap Alva lirih di depan teman-temannya.
"Emh?!" mereka berhenti mengunyah, Sony menepuk-nepuk dadhanya yang mendadak tersedak kelapa parut dari penganan yang tengah dimakannya, klepon.
"Njirr, kaget gue sampe muncrat gini euy gulanya kena baju!"
"Si Alva, kalo ngomong ngga pake aba-aba 1, 2, 3, goo kitu!"
Asmi membatu di tempatnya, rasanya dadha dan nafasnya terasa sesak meskipun hatinya sudah meleleh.
.
.
.
.
.
.
part bikin ngakak👏👏👏