Anastasya Vallensia (19 tahun), putri dari Firdaus Vallensia dan Maryam Sihad. Ibunya sudah lama meninggal dan setelah ibunya meninggal Ayahnya menikah lagi dengan Laura vatalia yang beralih nama menjadi Laura Vallensia dan memiliki putri bernama Sabrina Vallensia (18 tahun).
Awalnya hari-harinya berjalan dengan baik, Anastasya sangat bahagia karena dia selalu bersama dengan kekasihnya Satria kusmojo (22 tahun) sampai sebuah kecelakaan mobil menimpa dirinya, bukannya hanya penglihatannya yang hilang tapi kekasihnya juga meninggalkannya dan malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Akankah Anastasya menemukan kebahagiaannya?
Jangan lupa like dan Votenya 😊
ig:@KismiBebby
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSGB-31
Sudah hampir 3 bulan ayah Anastasya dan juga ibu tirinya hidup bersama lagi, kini kandungan dalam perutnya sudah menginjak bulan ke 4.
Sementara itu, kondisi kesehatan ayah Anastasya Menurun secara dratis. Anastasya pun sempat heran kenapa ayahnya bisa sakit-sakitan seperti itu karena setahunya ayahnya tak memiliki riwayat penyakit apapun.
Sempat ada kecurigaan pada ibu tiri dan juga saudara tirinya, tapi Anastasya langsung menepis semua pemikiran itu.
Kini Anastasya tengah berada di dalam kamar ayahnya, nampak ayahnya tengah terbaring di atas ranjang.
"Ayah, lebih baik ayah di rawat di rumah sakit saja." Ucap Anastasya.
"Hem, tidak Tasya. Ayah lebih suka di rawat di rumah saja." Jawabnya sambil tersenyum.
"Tapi kondisi ayah semakin memburuk dari hari ke hari." Ucap Anastasya.
"Kondisi ayah baik kok Tasya. Jadi kamu tenang saja." Ucap ayahnya menenangkan Anastasya.
Terlihat air mata Anastasya mulai menetes, dia tak kuat menahan air matanya jika orang tuanya sakit.
"Sudah Tasya, kamu jangan menangis." Ucap ayahnya sambil menghampus air mata Anastasya. Dan Anastasya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Sekarang kamu istirahat saja." Ucap ayahnya.
"Baik ayah." Jawab Anastasya.
Lalu dengan di bantu oleh simbok, Anastasya langsung pergi keluar meninggalkan kamar ayahnya. Sementara Laura dan sabrina mereka tengah berbelanja pakaian bermerek di mall.
Kini Anastasya hanya bisa diam di rumah, dia bingung harus melakukan apa. Sudah beberapa Minggu dia tak bertemu dengan Septyan kadang mereka suka saling berkomunikasi menggunakan panggilan seluler.
Entah kenapa ada perasaan tak enak di hati Anastasya, dia seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga di hidupnya tapi Anastasya bingung. sesuatu apa yang akan hilang dari hidupnya, dan dia pun tak sanggup jika harus terus kehilangan. Cukup sudah penglihatannya yang hilang tapi jangan sampai hilangkan yang lain.
"Non..." Panggil simbok.
"Ada apa mbok." Tanya Anastasya.
"Tuan." Ucap simbok.
"Ada apa dengan ayah mbok?" Tanya Anastasya khawatir.
"Tuan, kejang-kejang non." Ucap simbok.
Nampak Anastasya langsung Panik, lalu dia langsung berusaha berjalan menuju kamar ayahnya.
"Panggilkan ambulan mbok." Ucap Anastasya.
Lalu simbok langsung memanggil ambulan untuk membawa ayah Anastasya ke rumah sakit. Anastasya langsung di buat panik dengan kondisi ayahnya yang seperti ini.
Dan dia bingun karena saat ayahnya di bawa ke rumah sakit, Dokter selalu mengatakan jika kondisinya baik-baik saja.
"Ayah..." Teriak Anastasya sambil menangis.
Nampak ayahnya terus kejang-kejang, dan setelah itu dari mulutnya keluar busa putih.
"Mbok, ada apa dengan ayah?" Tanya Anastasya karena ayahnya sudah berhenti kejang-kejang.
Lalu simbok mendekatkan jarinya ke hidung pak firduas, nampak simbok langsung menangis. Anastasya yang mendengar tangisan simbok langsung khawatir.
"Ada apa dengan ayah mbok?" Tanya Anastasya sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Maaf non, tuan sudah.." Ucap simbok mengantungkan kata-katanya.
"Ayah sudah apa mbok?" Tanya Anastasya semakin panik.
"Tuan sudah tiada non." Jawab simbok.
"Tidak, tidak. Ayah.. Bangun kau tak boleh meninggalkan Tasya sendiri." Ucap Anastasya sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya agar terbangun.
"Ayah ini tak lucu, kau tak boleh pergi. Kau tak boleh meninggalkan aku sendiri. AYAH..." Teriak Anastasya. "Arggg... Kau tak boleh pergi, ayah bangun... Bangun... Ayah buka matamu. Ku mohon. Hiks, hiks, hiks.." Ucap Anastasya sambil terus berusaha membangunkan ayahnya.
"Istighfar non." Ucap simbok sambil memegang bahu Anastasya.
"Tidak, ayah ku tak mungkin meninggal. Ayah tak mungkin meninggalkan aku sendirian di sini. Ayah Tasya mohon, buka mata ayah... Ayah... Jangan tinggalkan Tasya sendiri." Ucap Anastasya sambil terus berusaha membangunkan ayahnya.
Tapi percuma ayahnya tak akan pernah lagi membuka matanya, lalu tak beberapa lama datang Sabrina dan juga Laura sambil membawa setumpuk belanjaan.
"Ada apa ini?" Tanya Laura
"Nyonya, tu..an. meninggal." Ucap simbok.
"Tidak, tidak mungkin. Mas.." Ucap Laura sambil menghampiri jasad suaminya.
Dan begitu pun juga Sabrina dia langsung menghampiri jasad pak firduas. Nampak mereka berdua menangisi kepergian pak firdaus.
Sementara Anastasya hanya bisa berusaha membuat ayahnya bangun lagi, dia terus memanggil- manggil nama ayahnya. Meski dia tahu jika hal itu tak akan berguna.
datang pelakor baru.... siap" ditampar tasya kamu faniaaa awas sajaaaa