Habis manis sepah dibuang, begitulah kiranya Alex memperlakukan Lilyana setelah merenggut kesuciannya.
Lantas hal mengejutkan terjadi, sebab setelah melahirkan bayi perempuan, Lilyana justru menjadi sekretaris pribadi Axel yang notabenenya saudara kembar Alex sendiri.
"Dari semua pria, kenapa harus Axel yang menyukai Lilyana?" Alex.
"Dari semua orang, kenapa harus Alex yang meniduri Lilyana ku?" Axel.
"Aku tidak pernah menyesal mengenal Alex, karena Livia berasal darinya. Dan aku tidak pernah menyesal bertemu dengan Axel, sebab karena dirinya lah aku menjadi kuat." Lilyana.
Terjebak diantara dua pemuda tampan yang masih satu darah. Pada siapakah hati Lily berlabuh? Dengan siapa Lily mengakhiri status single mom nya?
Simak kisahnya di sini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restoran
Cuaca siang ini cukup terik. Lily menikmati tingginya matahari dengan menghabiskan waktu bersama Livia.
Setelah dua malam yang lalu diadakan resepsi pernikahan Chika putri pewaris X-meria, rupanya Millers-Corpora pun ikut diliburkan selama satu Minggu penuh.
Dua hari sudah Lily hanya mengisi kegiatannya dengan bermain-main bersama Livia di rumah.
Satu sisi Lily bahagia, sisi lainnya Lily merindukan suasana hiruk pikuk di gedung perkantoran yang selama ini menjadi rumah ke dua baginya.
Terlebih, Axel sang CEO tampan yang selalu ada di sisinya, dua hari terakhir beliau tak kunjung memberikan kabar apa pun padanya.
Melamun Lily menatap Livia, anak itu sudah aktif belajar berdiri sendiri. Tak ayal Livia sudah hampir genap memasuki bulan ke sembilan.
Rambatan kaki dan tangannya sudah sampai menyusuri sofa ruang tengah. Keceriaan Livia membuat Nina dan Mitha terkekeh kekeh, namun tidak dengan Lily yang merasakan gundahnya sebilah hati saat ini.
📨 [Bapak baik-baik saja kan?]
Menepis rasa canggung dan malu, Lily lebih dahulu melayangkan pesat teks pada Axel.
✉️ [Sedang mengetik] Satu menit... Dua menit... Tiga menit...
Lama sudah Lily menunggu datangnya chat dari Axel, sampai satu jam berikutnya status sedang mengetik berubah menjadi offline.
Lily mendengus pelan. Sesibuk itukah liburan keluarga Axel, sehingga tak sekalipun sempat memberikan dirinya kabar?
"Kamu kenapa?" Mitha peka terhadap ekspresi wajah sahabatnya. Lily murung meski Livia selalu membuatnya tertawa.
"Nggak apa-apa." Tidak dengan jawaban sesungguhnya, Lily menggeleng perlahan.
"Axel? Atau Alex lagi?" Cecar Mitha.
Lily mendengus. "Kemarin Alex datang ke kamar tamu. Lalu, setelah mengantar ku pulang, justru Pak Axel yang ngilang tanpa kabar. Barusan dia typing, tapi sampai sekarang nggak ada satu pun chat darinya."
Di sudut tempat, Nina juga mendengar percakapan ibu dari Nona asuhnya. Kelihatannya, Lily memang tak peduli meski Nina tahu sekalipun, Lily percaya Nina sudah menjadi bagian dari keluarganya.
"Apa Axel tahu soal Livia?" Mitha berasumsi.
"Entah lah, aku kurang paham cara hidup Pak Axel. Tiba-tiba aja, aku merasa dia berubah jadi lebih dingin dari sebelumnya." Sanggah Lily.
Mitha meredup ekspresi. "Kamu sadar nggak? Dengan kamu peduli sama sikap dan perlakuan Axel, itu berarti, kamu juga menyukainya Ly." Katanya.
"Lalu?" Lily menatap Mitha cemas. "Gimana cara ku lupain dia? Aku nggak mungkin punya rasa ini kan? Dia adik Alex." Tambahnya.
Mitha mengelus lembut sebelah lengan sahabatnya. "Maaf, aku yang buat kamu terjebak di antara keduanya. Coba saja dari dulu aku nggak dukung kamu nerima kerjaan ini, kamu nggak perlu ngalamin hal ini."
"Gimana pun, aku nggak pernah nyesel kenal Alex dan Pak Axel Mit. Alex membuat ku memiliki Livia sementara Pak Axel yang buat aku jadi setegar ini." Lirih, Lily mengutarakan kata itu. Jujur, saat ini Lily mengalami dilema yang cukup pelik.
"Sabar yah, ..." Lagi, Mitha mengusap lembut sebelah lengan sahabatnya.
Klik....
Satu pesan teks masuk. Seketika senyum Lily terbit tipis-tipis. Gegas Lily meraih ponsel miliknya dan membuka dengan cepat. Bukan dari Axel, melainkan orang lain.
"Siapa? Axel?" Terka Mitha.
"Bukan." Lily mendengus, seketika ia menekuk wajahnya menjadi tak sumringah.
"Lalu?"
"Ini Buk Reni, salah satu tamu elit dari keluarga Pak Axel. Dia yang kemarin nawarin kerjaan. Dia mau Livia jadi model buat produk makanan bayi sehatnya. Malam ini juga, dia minta ketemu di restoran fine dining buat bicarain kontrak kerjasama." Jelas Lily.
"Wah, Livia mulai dikenal, dia mulai populer, dan aku yakin Livia anak yang pintar, punya pesona sendiri, kalo kamu sadar, ini juga peluang Ly, mungkin nggak sih Livia menuruni bakat Neneknya? Bukannya dari masih umur satu tahun setengah Nyonya Queen sudah jadi model? Dengan bakat Livia, kamu bisa kerja tanpa perlu bersangkutan sama Axel dan Alex lagi kan?" Senyum Mitha mekar.
"Aku sempat mikir, apa aku resign aja dari kantor, terus fokus ke Livia?" Lirih Lily.
"Itu sih terserah kamu Ly. Apa pun itu, aku dukung kamu." Kata Mitha.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Malam harinya, seperti jadwal yang sudah ditentukan. Lily menitipkan kembali Livia pada Nina. Hari ini Lily ingin mencoba peruntungan baru, yaitu menerima job untuk Livia.
Sebelum benar-benar resign dari Millers-Corpora, Lily juga perlu memikirkan masa depan putrinya. Jika dipikir lagi, Lily tak perlu meninggalkan Livia ke kantor, tapi mereka masih bisa menghasilkan uang lebih banyak, hidup harus realistis.
Memasuki ruangan VVIP, Lily mengenakan dress dengan model sayap kecil di bagian lengannya, busana warna maroon yang panjangnya hanya di atas lutut.
Tak ada aksen apa pun, Lily menyukai pakaian yang polos. Terurai rambut indahnya, Lily tampak memesona dengan flat shoes nya.
"Selamat malam Jeng Lily. Silahkan duduk, kita bicara masalah kontrak." Wanita paruh baya tersenyum menyambut kedatangan Lily.
Jujur, Lily merasa lebih dihargai setelah berpenampilan menarik. Axel benar, tidak ada salahnya memperindah diri untuk menghargai diri sendiri.
"Sudah lama menunggu kah, Buk? Maaf, Livia baru bisa ditinggal setelah tidur." Kata Lily seraya duduk.
"Nggak masalah." Reni nama wanita berbaju putih gading itu. Wajahnya cantik, rambut disirkam rapi, sedikit agak gemuk, terlihat berwibawa.
Sepuluh menit pertama, Lily dan Reni membicarakan tentang pekerjaan Livia.
Hanya pemotretan, syuting iklan, dan mungkin akan main film. Lily juga ditawari sejumlah keuntungan jika mau bekerjasama.
Asyik bercakap-cakap, pesanan minum dan makanan mereka pun datang melengkapi obrolan bisnis keduanya.
"Minum dulu." Cukup lama mereka mengobrol, Reni mempersilahkan Lily minum.
"Terima kasih." Dengan sedikit sunggingan senyum. Lily lantas meneguk minuman miliknya.
"Jeng Lily tanda tangan saja dulu. Lalu Minggu depan, kita atur skedul Livia." Kata Reni kembali.
"Saya belum resign dari pekerjaan saya Buk, jadi untuk malam ini, saya belum bisa tanda tangan kontrak." Jawab Lily.
Reni menyodorkan mapnya. "Kalau begitu, ambil dokumen ini, lalu Jeng Lily boleh temui saya lagi setelah siap tanda tangan."
"Baiklah." Lily tersenyum tipis, sebelum kemudian ia memijat pelan pelipisnya.
Ada rasa berat di kelopak matanya, entah kenapa tiba-tiba saja ia merasakan kantuk tak tertahankan, padahal hari masih belum terlalu malam, Lily juga sempat tidur siang tadi.
"Jeng, Jeng Lily kenapa?"
Suara Reni sudah terdengar mengambang. Lily tak bisa fokus pada keadaan sekitar. Sedikit berdenging telinga Lily, lalu, ...
"Jeng Lily!"
Sebutan cemas Reni yang sempat terdengar sebelum akhirnya pandangan Lily gelap sepenuhnya.
Reni menoleh ke kanan. Ia meminta bantuan pada rekan kerja lainnya. "Cepat bantu aku merebahkan Lily di sofa." Katanya.
Satu laki-laki berseragam hitam mendekat. Di rebahkannya Lily di atas sofa luxury ruangan VVIP itu.
Reni menghela napas lega, syukurlah, Lily sudah tak sadarkan diri. Reni lantas meraih ponsel miliknya dari dalam tas clutch demi melayangkan panggilan pada seseorang.
📞 "Sudah berhasil?" Jawaban seketika yang Reni dengar.
"Lily sudah tertidur Tuan." Kata Reni.
📞 "Bawa dia ke kamar ku, tanpa lecet." Titahnya.
Segera up lagi... Sorry kemarin healing dulu, hehe...
selama itu menarik,mau sad ending apa happy ending aku suka aja
apalagi yg plot twist ending
karena kalau terlalu ketebak ceritanya
ga seru..ya kan
lanjutkan Thor
kan Mayan dpt up bab banyak 🤣
tapi butuh pembuktian..yaitu money talks🤣🤣
bungkusin atu Thor....buat aku
seruu ni