Pacaran yang kelewat batas membuat Ervita jatuh dalam perbuatan terlarang bersama kekasihnya, Firhan Maulana. Janji untuk bertanggung jawab nyatanya hanya sekadar janji.
Sampai di mana Ervita mendapati dirinya berbadan dua, tidak ada tanggung jawab dari Firhan. Kondisinya kian pilu karena orang tuanya mengusirnya dan menganggap hamil di luar nikah adalah sebuah aib. Ervita yang masih muda harus menjalani hidup sendiri, menahan luka, dan mempertahankan bayi dalam kandungannya.
"Aku hamil memang karena kesalahan, tetapi hadirnya janin ini dalam rahimku sekali-kali bukan kesalahan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya Memaafkan
Sementara itu di Kota Solo ....
Tidak terasa ini sudah hampir sebelas bulan berlalu, sejak Ervita pergi dari rumah. Tentu saja, Bu Sri ada kalanya merasa sepi. Namun, suaminya juga seolah tidak merasakan perubahan sama sekali. Hanya saja, ketika Pak Agus bekerja di bengkel mobil antik miliknya. Bu Sri sering kali memasuki kamar Ervita. Sekadar duduk sebentar di ranjang dan mengamati kamar yang biasa ditempati oleh Ervita.
Terbayang kala Ervita dengan begitu rajinnya mengejarkan tugas-tugas kuliah. Semuanya masih berada di tempatnya. Tempat tidur, meja belajar, kursi, televisi, dan berbagai buku yang dimiliki Ervita masih berada di tempatnya. Bahkan di atas meja belajar masih ada foto Ervita bersama Firhan kala keduanya pacaran di bangku putih abu-abu.
Tangan Ibu Sri pun terulur dan menyentuh foto berukuran 4R yang berada di dalam bingkai yang berada di atas nakas itu. "Kalian berdua bahagia di sini, tetapi ketika satu kesalahan terjadi. Hilang sudah semua kebahagiaan itu. Semua terganti dengan duka yang dalam. Bahkan karena kesalahan kalian berdua, seorang Ibu harus terpisah jauh dari anaknya. Seorang Ayah harus murka hingga mengusir anaknya keluar dari rumah. Andai kalian berdua bisa lebih mawas diri."
Gumaman yang lirih dan terasa begitu sesak diucapkan Bu Sri kala itu. Seandainya tidak ada kesalahan satu malam yang membuat Ervita sampai hamil, sudah pasti semuanya masih berjalan dengan baik. Bu Sri tidak akan terpisah dari putri sulungnya, Pak Agus tidak akan murka dengan anaknya sendiri, dan juga Ervita masih bisa kuliah dengan baik. Sayangnya, semuanya hancur karena pacaran yang kelewatan batas.
"Cinta itu merawat bersama, bukan merusak. Lantas, setelah mendapatkannya sesuatu yang berharga untuk apa tidak mau bertanggung jawab dan lari begitu saja. Sekarang kamu di mana Ervita? Sudah hampir sebelas bulan berlalu. Apakah kamu sudah melahirkan anakmu? Bagaimana sekarang kamu hidup? Kok ya selama ini kamu tidak pernah menjenguk Bapak dan Ibu di Solo."
Air mata lolos begitu saja dari sudut mata Bu Sri. Hatinya sebagai seorang Ibu masih begitu lembut dan juga mengharapkan untuk bisa bertemu dengan Ervita. Ada rindu yang tertahan, ada rindu yang tak terucapkan, ada asa untuk bisa bertemu. Namun, semuanya itu hanya terucap di dalam hati saja.
Ketika Bu Sri masih berada di dalam kamar Ervita, rupanya Pak Agus pulang dari bengkel siang itu untuk mengambil beberapa perlengkapan montir yang tertinggal di rumah.
"Bu, di mana Bu ... mau ambil kunci inggris dan beberapa kunci," tanya Pak Agus kepada istrinya.
Merasa mendengar panggilan suaminya, Bu Sri pun segera keluar dari kamar Ervita. "Pak, kok pulang?" tanyanya dengan sedikit takut.
Itu semua karena memang Bu Sri, dan putri bungsunya yaitu Mei, dilarang untuk masuk ke dalam kamar milik Ervita. Sekarang, seolah Bu Sri ketahuan karena masuk ke dalam kamar Ervita.
"Kenapa ke kamar itu Bu?" tanya Pak Agus dengan menelisik.
"Enggak, cuma membersihkan debunya saja kok Pak," balas Bu Sri.
"Sudah tow Bu, tidak usah masuk ke sana lagi," balas Pak Agus dengan menghela nafasnya.
Kali ini, agaknya kerinduang Bu Sri kepada putrinya benar-benar tak tertahan lagi. Hingga Bu Sri berani mengutarakan isi hatinya kepada suaminya itu.
"Bapak ... kalau sudah mbok ya sudah marahnya kepada Ervita. Benar Ervita bersalah. Cuma kesalahan ini adalah kesalahan dua pihak. Waktunya orang tua untuk memaafkan kesalahan anak. Waktu berjalan sudah hampir sebelas bulan lamanya, pasti Ervita sudah melahirkan dan kita sudah memiliki cucu. Maafkan Ervita, Pak ... maafkan dia, ayo telepon Ervita dan minta dia untuk kembali," ucap Bu Sri.
Ketika Bu Sri mengatakan semuanya itu, Pak Agus hanya berdiam di tempatnya tidak mengatakan apa pun. Pikirannya terlalu pening dengan semuanya yang telah terjadi.
"Yang Ervita miliki hanya kita, Pak ... bukankah darah lebih kental dari air. Lalu, sampai kapan Bapak akan terus marah? Apa Bapak tidak kangen dengan Ervita. Kita maafkan dan kita cari Ervita, Pak ... kasihan dengan bayinya juga."
Lagi, Bu Sri berusaha untuk melembutkan hati suaminya yang memang keras itu. Hanya saja Bu Sri, sebagai seorang Bapak tentu saja suaminya juga akan merasa rindu dengan anak kandungnya sendiri. Anak-anak memang bisa membuat kesalahan, dan tugas orang tua adalah memaafkannya, dan menuntunnya agar anak-anak tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Semua ini bukan salah Ervita, keduanya bersalah, Pak. Cuma, memang seolah semua kesalahan ditimpakan kepada anak kita karena Firhan dan keluarganya yang lepas dari tanggung jawab. Percaya saja, Pak ... karma itu berlaku. Tidak sekarang, mungkin di lain waktu. Sekarang seolah hanya Vita yang salah karena hamil di luar nikah, tetapi sesungguhnya keduanya sama-sama salah," ucap Bu Sri lagi.
Ya, selama sebelas bulan ini juga tidak pernah ada itikad baik dari keluarga Firhan. Bahkan Pak Supri jika di jalan berpapasan dengan Bu Sri dan Pak Agus justru membuang muka. Tentu saja, sebagai keluarga yang merasa dirugikan Pak Agus pun merasa begitu geram. Anak mereka yang bersalah, tetapi orang tua yang menutupi kesalahan anak dan cuci tangan begitu saja.
"Suatu hari nanti, kalau Ervita pulang ya kita sambut dan terima dengan baik-baik ya Pak ... bagaimanapun, anaknya Vita juga cucu kita. Sudah, tidak usah mengingat Firhan. Semua orang akan mendapatkan ganjarannya sesuai dengan kelakuan mereka. Fokus pada Vita dan anaknya saja."
Perlahan Pak Agus pun menghela nafas kasar. Pria paruh baya itu menaruh kacamata di atas nakas dan memejamkan matanya sesaat. "Sebenarnya Bapak ini ya malu, Bu ... masih ingat dulu ketika Ervita bisa kuliah padahal di kampung kita semuanya hanya lulusan SMA, tetapi Ervita bisa kuliah dan jalur PMDK. Bapak sangat bangga kepada Ervita dan berharap Ervita jadi orang sukses di kemudian hari, bisa mengharumkan nama keluarga kita. Namun, satu kesalahannya merusak semuanya. Kuliahnya berhenti di tengah jalan, dan noda itu tidak bisa hilang, Bu. Anaknya pun akan turut menanggungnya."
Terlihat Bu Sri yang mengusapi bahu suaminya itu. "Biar saja Pak ... marah lama-lama kepada anak sendiri juga tidak baiknya. Marah ya tambah susah, kalau memaafkan dan bisa hidup berdampingan kan lebih enak."
"Ya sudah, lain kali kita cari Ervita pelan-pelan. Cuma mencari ke mana ya Bu?" tanya Pak Agus.
"Ya, kita coba ke daerah sekitaran Solo saja, Pak ... semoga kita bisa menemukan Ervita," balas Bu Sri.
Setidaknya Bu Sri merasa lega karena bisa membujuk suaminya, bahkan suaminya itu sudah luluh hatinya sekarang. Semoga saja, mereka bisa menemukan Ervita dan juga bisa kembali berkumpul dengan anak dan cucunya.
***
Sementara itu di Jogja ...
Indira sudah bertumbuh, bayi kecil itu kini sudah berusia hampir tiga bulan. Di rumah keluarga Hadinata, Ervita tidak hanya duduk diam dan menerima begitu saja bantuan dari Bu Tari dan keluarganya. Akan tetapi, packing seluruh batik yang dijual secara online semuanya diserahkan kepada Ervita.
Pemesanan dropshipper juga diserahkan kepada Ervita. Semua yang bisa dikerjakan Ervita di rumah akan dikerjakan oleh Ervita. Bahkan Ervita untuk menolong pencatatan keuangan kios Batik Hadinata. Sehingga bisa dilihat pemasukan mereka dalam satu bulan, pengeluaran untuk membeli batik dan juga menggaji karyawan. Untuk pembelian online e-Kios milik Hadinata Batik juga diserahkan kepada Ervita. Dengan demikian, Ervita tidak hanya berpangku tangan di rumah. Akan tetapi, dia bisa bekerja.
Waktu luang jika Indira tertidur, ada kalanya Ervita membantu Mbok Minah untuk merapikan rumput yang ada di depan Pendopo. Rumput-rumput yang terkadang tumbuh di antara sela-sela paving. Walau tidak banyak yang bisa dia lakukan, tetapi Ervita berusaha untuk membalas jasa. Walau Ervita tahu kebaikan keluarga Hadinata kepadanya tidak bisa dia balas.