NovelToon NovelToon
OFF SCRIPT LOVE

OFF SCRIPT LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.

Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.

Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.

“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.

Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal lagi

“Kasih tau gue kalo calon suami utama mau mundur, gue udah ready pake banget buat jadi pengganti."

“Malah ketawa. Gue serius, Ra!” Tama menengok sebentar pada Kara kemudian kembali fokus pada jalan di depan sana. Gadis berambut panjang yang duduk di sampingnya hanya terkekeh mendengar tawarannya menjadi calon suami cadangan.

“Kara!” panggilnya karena gadis itu masih tak memberi respon.

“Lo denger gue ngomong nggak sih?” lanjutnya seraya berhenti karena traffic light merah menyala.

“Iya iya gue denger kok.” Jawab Kara masih dengan tawanya yang ditahan.

“Terus gimana?”

“Gimana apanya, Tama?”

“Ya barusan tawaran gue lah.” Ucap Tama.

Kara kembali terkekeh, “Lo kira hidup ini pertandingan sepak bola apa? Pake ada cadangan segala. Calon suami pula.”

“Ya kan kadang segala sesuatu nggak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, Ra. So, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.”

“ya ya lah terserah lo aja, Tamarin!”

“Tamarin?”

“Ya, lo Tama. Tamarin! Manis-manis asem gitu.” Kelakar Kara.

“Dasar! Kirain manis-manis bikin jantung lo jedag jedug gitu.” Balas Tama.

“Jantung gue kan emang jedag jedug terus, kalo nggak jedag jedug mati dong.” Jawab Kara.

“Eh udah ijo, buruan jalan.” Lanjutnya.

Tama hanya menggeleng pelan karena gadis di sampingnya tak memahami makna jedag jedug yang ia maksud. Entahlah benar-benar tak paham atau hanya sekedar pura-pura. Tama kembali melajukan mobilnya.

“Tama, lo fokus ke depan yah. Jangan liat kesini!” ucap Kara.

“Kenapa emang?” disuruh untuk tak melihat padanya, Tama justru langsung menengok pada Kara.

“Heleh di suruh jangan liat, malah liat!” gerutu Kara.

“Gue mau buka ini celana olahraga. Bentar lagi nyampe sekolah, malu lah turun dari mobil masa pake celana olahraga sama rok. Ntar gue di kira nggak waras.”

“Jangan liat jangan liat!” teriaknya.

Kara menutup kakinya dengan jaket Dirga kemudian dengan perlahan menarik celana olahraganya hingga terlepas.

“Udah.” Ucapnya seraya melipat celana olahraga.

“Udah boleh nengok?”

“Hm iya boleh.” Jawab Kara.

“Lagian ngapain sih pake celana olahraga segala, Ra? Terus tadi bawa helm juga. Emang tiap hari lo kayak gitu?”

“Kalo mau naik ojeg kan uda disediain helm sama kang ojeg nya.”

“Iya ini juga helm punya kang ojeg spesial gue. Cuma baru sampe dipakein helm sama ngasih jaket langsung ditinggal kabur.” Ucap Kara.

“Emang nggak ada akhlak tuh tukang ojeg!” lanjutnya.

“Kok bisa? Besok-besok lo nggak usah naik ojeg lagi. Berangkat bareng gue aja, Ra. Lagian kita searah. Lo tinggal chat aja kalo mau dijemput.”

“Chat?”

“Iya.” Jawab Tama.

“Nomor gue yang semalem.” Lanjutnya.

“Yang mana?” Kara mulai mengingat chat yang masuk ke ponselnya, seingatnya ia tak bertukar pesan dengan siapapun sejak kemarin. Kecuali Dirga yang malam tadi mengingatkan supaya tak telat, ya meskipun berakhir ditinggalkan juga.

“Yang kirim gambar?” tebaknya kemudian.

“Yups.” Balas Tama.

“Kok bisa tau nomor gue?”

“Tau lah. Kemarin pas gue tinggal ambil mobil ke parkiran lo udah ngilang, gue sampe nyari balik ke UKS buat mastiin lo masih ada di sana apa nggak. Eh hasilnya nihil, untung ketemu bu Dini."

“Dapat nomor gue dari bu Dini?”

“Nggak.”

“Terus?”

“Dari grup kelas. Makanya punya grup tuh di baca!” cibir Tama.

“Jadi kita satu kelas?” tanya Kara seraya melihat ke arah jajaran guru BK dan anggota OSIS yang berdiri di dekat gerbang.

“Cih so banget si sabun batangan.” Gumamnya yang kesal melihat Deva begitu dekat dengan My Dirgantara nya.

“Kenapa manyun-manyun gitu?” tanya Tama.

“Nggak apa-apa. Makasih yah buat tumpangannya.” Kara membuka sabuk pengamannya sementara Tama dengan cepat keluar dan berlari mengitari mobil untuk membukakan pintu.

“Padahal gue bisa buka sendiri.” Ucap Kara saat lelaki tinggi itu sudah membukakan pintu untuknya.

“Kan gue mesti memastikan Lengkara terlindungi.” Balas Tama dengan senyum ramahnya.

“Cih! Gombal banget sih.”

“Tapi suka kan digombalin?” Tama mengikuti Kara.

“Nggak.”

“Tapi cewek-cewek di sekolah lama gue suka lo digombalin. Katanya romantis.” Ledek Tama.

“Tapi gue nggak suka tuh.” Jawab Kara.

“Makanya gue gombalin terus lah biar lo jadi suka. Kali aja kita berjodoh gitu.” Jawab Tama seraya melambaikan tangan dan tersenyum ramah pada beberapa gadis yang tersenyum padanya.

“Tepe tepe lo!” cibir Kara.

“Apaan tepe tepe?” tanya Tama yang mensejajarkan jalannya dengan Kara.

"Tebar pesona!"

“Oh... ini bukan tepe tepe tau Ra, tapi menghargai orang lain. Mereka senyum ya gue senyumin lah. Kenapa lo nggak suka gue ramah sama cewek lain?” ledeknya.

Kara memutar bola matanya jengah, kenapa lelaki di sampingnya itu begitu percaya diri? Udah dicuekin tetep aja mengikutinya.

“Suka-suka lo lah, Tamarin. Gue nggak peduli.”

“Tapi gue peduli. Gimana dong?” ledek Tama.

“Eh mau kemana?” Tama menarik tas gendong Kara hingga gadis itu berhenti.

“Kelas kita bukannya di sebelah sana?” Tama menunjuk arah yang berlawan dengan Kara.

“Lewat sana aja lebih cepet.” Lanjutnya memberi saran.

Kara berbalik menatap Tama, “jangan main tarik dong! Rambut panjang gue jadi ikutan ke tarik nih. Sakit tau!” Gerutu Kara.

“Sorry... sorry... sini gue bantu rapiin.” Tama tanpa permisi langsung mengusap kepala Kara dan merapikan rambut panjang gadis itu dengan jari.

“Udah-udahlah biar gue aja.” Kara menepis tangan Tama.

Lokasi parkiran yang berada di sebelah kanan pintu masuk memiliki dua pintu keluar, dimana yang satu kembali ke dekat gerbang sedang yang satu lagi mengarah langsung ke jajaran kelas. Tak jauh dari jarak Kara dan Tama yang sedang ribut soal rambut, seorang lelaki yang berdiri di dekat gerbang masuk menatap keduanya dengan tajam.

“Gue mau nyamperin bu Irma dulu. Bu Irma pasti bangga nih gue nggak telat. Lo kalo mau ke kelas duluan aja sana.” Ucap Kara kemudian berjalan menuju gerbang tempat bu Irma dan beberapa anggota OSIS berdiri.

“Gue temenin deh.” Balas Tama yang kemudian mengikuti Kara.

“Pagi bu Irma... “ sapa Kara seraya menyalami guru BP yang selalu menugaskannya menyapu daun mangga.

“Pagi juga. Wah tumben Lengkara nggak telat yah. Kesambet apa kamu bisa berangkat pagi?” ledek bu Irma.

“Tapi bagus, ibu bangga. Akhirnya kamu benar-benar tobat.”

“Ibu tenang aja, saya pastikan mulai sekarang Lengkara tidak akan telat lagi. Saya jemput tiap pagi.” Sambung Tama.

Bu Irma menatap Tama, “ibu baru lihat kamu sekarang, murid baru?”

“Iya, bu. Pindahan.” Jawab Tama sopan.

“Oh pantesan.” Ucap bu Irma.

“Ibu seneng Lengkara punya temen baru yang bisa jemput dia tiap pagi, jadi beban ibu berkurang. Ibu sampe bosen hampir tiap hari ngehukum dia.” Lanjutnya.

“Ibu tenang aja. Mulai sekarang Lengkara nggak akan telat lagi. Ya kan, Ra?” ucap Tama seraya merangkul bahu Kara dengan akrab, merasa akhirnya bisa juga dia lebih dekat dengan gadis yang sejak kemarin begitu cuek padahal dirinya full effort.

Namun sayang tak berlangsung lama, Kara menepis tangannya dan pergi mengikuti Dirgantara, si ketua OSIS yang katanya calon suami.

"Susah bener dah naklukin cewek satu ini." gumamnya.

.

.

.

Kencengin like komen sama awur-awur bunga+kopinya guys🤗🤗🤗

1
Rita
emang😂
Rita
awas hbs mkn tenaga lbh2 😂
Rita
😂😂😂😂😂😜
Rita
abang ktmu gede Kara k2😜😂😂😂
Dwisya Aurizra
si micin tuh biang rusuh, nyebelin tp ngangenin awas loh tam sebentar LG Lo bakal kecintaan sama si micin
Ummah Intan
boong banget si micin
Ummah Intan
cie cie ..jutek jutek perhatian
Ummah Intan
Dirga emang bucin brutal ma kara
Septi
cieee.. manis katanya 🤭
Septi
kalau inget Dirga inget di ledekin papa Rama, soal minum susu tiap hari. beda konsep yang diomongin papa mertua sama yang dialamin Dirga 😂😂🤭
Septi
siapa lagi yang nyuekin Sasa kalau bukan Tamarin🤣🤣
Septi
orang kayak Sasa nggak bakalan punya keruwetan hidup🤭
Septi
kok kita samaan Sa, cita-citanya 🤣🤣
👑yosha💣
semangat mengejar cinta y micin ......
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣
Defvi Vlog
bagus. ceritanya aku suka🥰👍
MACA
abang2 yg di tipu bocil🤭🤭
MACA
drama ini...turunan kaleng
MACA
tatap terus bang...tayap...
MACA
pokknya pepet terus cin...jangan kasih kendor si tamarin
MACA
kagetlah...g jualan bakso...koq tiba2 ada yg manggil abang🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!