Bagaimana jika tiba-tiba Jonathan Anderson bertemu kembali dengan wanita yang dulu pernah dia buat sakit?
Bagaimana jika wanita tersebut datang dengan membawa seorang anak kecil dengan wajah yang sangat mirip dengan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Mau
Jonathan menatap dengan tidak percaya kepada Julian, karena anak itu dengan terang-terangan meminta dirinya untuk menjadi ayahnya.
Walaupun itu adalah permintaan sederhana dari seorang anak kecil, tapi tetap saja hatinya terasa mencelos.
Dia jadi berpikir, jika memang Julian adalah anak kandungnya, rasa bersalah di dalam hatinya akan terasa sangat besar.
Waktu selama lima tahun yang terbuang membuat dirinya merasa semakin bersalah, apalagi jika mengingat saat Carol yang mengandung benihnya.
Pasti Carol merasa sangat sedih karena sendirian, dia bahkan berjuang untuk melahirkan putranya sendirian.
Tidak ada dirinya yang menemani, dia benar-benar merasa sakit sampai ke dasar hatinya. Rasanya dia ingin segera mengajak keduanya untuk tinggal bersama dengan dirinya, tapi tidak tahu bagaimana caranya.
"Om diam saja, berarti Om tidak mau jadi ayah Ian." Julian menunduk dengan sendu.
Jonathan benar-benar bingung harus berkata seperti apa, dia hanya bisa tersenyum kaku seraya mengelusi punggung anak itu dengan lembut.
Melihat dan mendengar permintaan putranya, Carol langsung duduk tepat di samping Jonathan. Kemudian, dia mengambil alih Julian dari pangkuan Jonathan dan mendudukannya di atas pangkuannya sendiri.
"Dengar, Sayang. Kamu tidak boleh meminta Om Jo untuk menjadi ayah kamu, karena--"
Carol terlihat bingung harus menjelaskan seperti apa kepada putranya, karena Julian terlihat menatap Carol dengan penuh kesedihan.
Selama ini dia selalu diam jika ada temannya yang mengejek kalau dirinya tidak mempunyai ayah, karna memang seingat anak itu dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
Tidak pernah ada sosok ayah yang berada di samping ibunya, tidak ada sosok pria yang selalu menjadi teman bermainnya.
Hanya ada Andrew yang selalu datang untuk bertemu untuk dengan dirinya, itu pun tidak sering. Hanya sesekali saja, mungkin jika Andrew sedang ada waktu saja.
"Om mau menjadi Daddy kamu, Sayang. Asal--"
Wajah Julian terlihat berbinar ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Jonathan, dia bahkan langsung turun dari pangkuan Carol dan melompat ke pangkuan Jonathan.
Bocah tampan itu menatap wajah Jonathan dengan penuh tanya, dia bahagia tapi juga tidak paham dengan ucapan Jonathan yang seakan terputus.
"Asal apa, Om?" tanya Julian dengan menggemaskan. Jonathan langsung mencubit gemas kedua pipi Julian.
Lalu, dia terlihat menatap wajah Carol dengan intens. Carol yang memang sejak lama mengagumi sosok Jonathan merasakan hatinya menghangat.
"Asal Mom kamu mau menikah dengan, Om. Setelah itu kita akan tinggal di rumah yang sama dan kita bisa bermain bersama," kata Jonathan.
Akhirnya dia bisa mengajak Carol untuk menikah, setidaknya dengan cara ini Carol tidak akan curiga jika dirinyalah yang sudah merebut mahkotanya enam tahun yang lalu.
Walaupun dia belum tahu apakah Carol adalah wanita itu atau bukan, tapi untuk menyenangkan anak kecil seperti Julian rasanya tidak mengapa.
"Beneran Om mau jadi Daddynya Ian?" tanya Julian dengan antusias.
"Ya, tentu saja. Asalkan Mom kamu mau menikah dengan Om," kata Jonathan mengulang perkataannya.
Carol hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, karena jujur saja dia merasa bingung apakah Jonathan mengatakan hal itu hanya untuk menghibur putranya atau memang benar-benar mengajak dirinya untuk menikah.
Jika benar Jonathan mengajak dirinya untuk menikah, dia sangat bahagia. Namun, jika mengingat dirinya yang mempunyai anak tanpa suami, dia merasa kerdil di hadapan Jonathan.
Dia takut Jonathan akan menghinanya karena memiliki anak di luar nikah, bahkan dia tidak tahu siapa yang sudah merenggut mahkotanya kala itu.
"Mom, apa Mom mau menikah dengan Om Jo?" tanya Julian dengan polosnya.
Carol terlihat kebingungan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari putranya, dia langsung menatap wajah Jonathan seolah meminta pertolongan.
"Oh iya, Sayang. Teman-teman kamu sedang bermain pasir, apa kamu tidak mau membuat istana pasir?" tanya Jonathan.
Sengaja Jonathan mengalihkan pembicaraan, karena dia tidak mau melihat Carol semakin terpojok oleh pertanyaan dari putranya.
"Mau, Om. Ian mau," jawab Julian.
Julian terlihat begitu senang dengan apa yang ditawarkan oleh Jonathan, tentu saja dia ingin bermain pasir. Karena itulah hal yang diinginkan oleh Julian ketika tiba di pantai.
"Kalau begitu bermainlah," kata Jonathan seraya memanggil petugas yang ada di pantai tersebut. Lalu dia memintanya untuk menyewakan alat untuk membuat istana pasir untuk Julian.
Julian benar-benar merasa senang, apalagi ketika melihat alat-alat untuk membuat istana pasir sudah dibawakan oleh petugas pantai.
"Terima kasih, Om. Ian main dulu," kata Julian dengan girang.
Julian terlihat bermain pasir tidak jauh dari tempat di mana Jonathan dan juga Carol berada, berbeda dengan Jonathan yang terlihat mendekatkan tubuhnya ke arah Carol.
"Ehm, boleh aku bertanya?" tanya Jonathan.
Jonathan benar-benar merasa penasaran, dia ingin menanyakan hal ini sejak tadi. Namun, dia bingung harus memulainya sari mana.
"Boleh, selama aku bisa pasti aku akan menjawab," jawab Carol.
Dia tersenyum mendengar pertanyaan dari Jonathan, tapi tatapan matanya terlihat lurus ke arah Julian yang sedang asik bermain pasir.
"Maaf kalau aku bertanya ke ranah pribadi, boleh tahu siapa ayah Julian?" tanya Jonathan.
Carol terdiam, dia bingung harus berkata apa. Namun, dia tidak mungkin diam saja mendapatkan pertanyaan dari Jonathan.
Selama ini dia tidak pernah menceritakan apa pun kepada orang yang tidak dia kenal, hanya Diana saja tempat dia berbagi cerita. Andrew mengetahui apa pun tentang dirinya dari Diana, bukan dari dirinya.
Selama ini Carol berusaha untuk menutup diri dari siapa pun, dia takut kecewa. Dia takut terluka, dia takut mendapatkan omongan yang tidak baik dari orang lain ketika dia berbaur dengan orang banyak.
"Aku, tidak mempunyai suami." Carol berkata dengan jujur.
Bodo amat bagaimana tanggapan Jonathan terhadap dirinya, yang terpenting dia tidak berbohong, pikirnya.
Mau apa pun tanggapan dari Jonathan, memang pada kenyataannya dia tidak bersuami. Dia tidak tahu lelaki mana yang sudah memberikannya putra yang sangat tampan itu.
"Maksudnya? Kamu--"
Jonathan menatap Carol dengan hati berdebar, apalagi kini mereka sangat dekat. Dia bisa mencium wangi parfum yang dipakai oleh Carol.
Wanginya sama persis dengan parfum yang dipakai oleh wanita yang dia tiduri, wanginya sama dengan parfum yang dipakai oleh Berlin.
"Enam tahun yang lalu aku diperkosa," jawab Carol pada akhirnya.
Deg!
Jantung Jonathan seakan berpacu dengan cepat, bahkan hatinya terasa sangat sakit. Seperti ada batu besar yang menghimpit.
"Ke--kenapa tidak melaporkan kepada polisi?" tanya Jonathan dengan gugup.
Carol terlihat sendu, jika mengingat kejadian enam tahun yang lalu, jangankan untuk melaporkan kejadian itu kepada polisi. Rasanya untuk bernapas saja dia seakan tidak punya kekuatan.
"Saat itu keadaan aku sedang terpuruk, aku takut tidak akan ada yang mendukungku," jawab Carol. "Aku memutuskan untuk pergi dan berusaha untuk melupakan semuanya," imbuhnya.
"Oh," hanya itu yang bisa dia katakan.
Jonathan terlihat menatap wajah Carol dengan penuh rasa takut dan juga kagum, takut karena jika benar dirinya yang mengambil mahkota dari Carol.
Dia benar-benar takut jika Carol akan membenci dirinya dan tidak memperbolehkan dirinya untuk bertemu dengan Julian, putranya.
Jonathan juga merasa kagum terhadap Carol, karena di usia Carol yang masih sangat muda dia mampu mengatasi segala masalahnya. Walaupun itu pasti tidak mudah, pikir Jonathan.
Di saat sedang asyik menatap wajah Carol, ponsel milik Jonathan terdengar berdenting, itu tandanya ada pesan yang masuk.
Jonathan terlihat merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, ternyata ada satu pesan chat masuk dari Leo. Jonathan yang merasa penasaran langsung membuka pesan masuk dari Leo tersebut.
"Saya sudah menyelidiki semuanya, Tuan. Ternyata wanita yang anda tiduri adalah Carolina Liandra Sebastian, setelah anda tiduri dia pergi ke negara A untuk melanjutkan kehidupannya dan kini wanita bernama Carolina Liandra Sebastian itu sudah datang kembali bersama dengan putranya, Julian Sebastian."
Membaca pesan chat yang dikirimkan oleh Leo membuat jantung Jonathan terasa terlepas dari tempatnya, bahkan untuk bernapas saja seakan begitu susah.
"Anda kenapa?" tanya Carol.
"Ti--tidak apa-apa, aku... aku hanya ingin bermain dengan Julian. Iya, itu," jawab Jonathan gugup.
****
Selamat siang kesayangan, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezekinya, terima kasih sudah meninggalkan like dan juga komentnya.