Spin of Senandung Lara.
Baca Senandung Lara lebih dahulu agar tidak bingung dengan jalan ceritanya.
Dendam pada Friska membuat Raka melampiaskan pada Nira yang tak lain adalah adik dari Friska.
Raka memperkosa Nira hingga mengandung dan membuat Nira terpaksa menikah dengan Raka, pria yang tidak Ia cintai.
Akankah pernikahan mereka bahagia jika niat Raka hanya balas dendam, lalu bagaimana dengan kekasih Nira yang tak lain adalah Vans sahabat Raka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Entah apa yang Vans pikirkan, mobilnya berhenti didepan rumah Nada, ya rumah Nada. Pagi tadi Ia mengantar Nada pulang dan sekarang dia sudah kembali kesini.
Tuk ... tuk... tuk ... kaca mobil diketuk oleh Zian kakak Nada.
Vans meminta Zian masuk ke mobilnya.
"Apa Tuan menginginkan adik saya lagi?" tawar Zian saat sudah memasuki mobil.
Vans tersenyum sinis, tidak menyangka dengan pria didepannya itu dengan santainya menawarkan adiknya.
"Apa kau butuh uang lagi?"
"Tentu saja saya butuh Tuan, bagaimana apa Tuan menginginkan adik saya lagi?" tanya Zian menatap Vans penuh harap.
"Bawa dia kesini sekarang!" perintah Vans.
"Uang di muka Tuan."
Vans mendegus sebal, Ia mengambil setumpuk uang didashboardnya yang langsung disambut senang oleh Zian.
"Tunggulah sebentar Tuan, saya akan membawanya kemari." kata Zian hendak keluar dari mobil namun Vans menarik kaos yang Zian pakai.
"Jika kau berani menipuku, ini yang akan membunuhmu." ancam Vans menempelkan pistol dibelakang kepala Zian.
Wajah Zian mulai memucat, "Tunggulah sebentar Tuan, saya akan membawa Nada kemari." kata Zian yang akhirnya Vans melepaskan kaos Zian.
Zian memasuki rumah membawa segepok uang yang langsung dilihat oleh Ratna, "Uang siapa itu Zian?" tanya Ratna terkejut sekaligus senang.
"Sudah ku bilang Tuan muda menginginkan Nada lagi Bu, kita akan cepat kaya jika setiap malam mendapatkan uang sebanyak ini." kata Zian.
"Jadi dia ingin membawa Nada lagi?"
Zian mengangguk, "Aku harus segera membawanya ke mobil jika tidak bisa bisa Tuan Vans meminta uangnya lagi."
Ratna mengangguk setuju, sementara tanpa Zian sadari, Nada mendengarkan obrolan kakak dan ibunya dari balik pintu kamarnya.
Jantung Nada berdegup kencang, Ia takut dan tidak mau lagi bertemu dengan Vans apalagi memenuhi hasrat Vans seperti semalam, tidak... Nada tidak ingin lagi.
Tanpa berpikir panjang, Nada segera kabur lewat jendela, bersamaan dengan Zian dan Ratna yang memasuki kamar.
"Sialan, jangan kabur Nada!" teriak Zian dari jendela kamar Nada.
Zian segera berlari mengejar Nada. keributan itu tentu saja didengar oleh Vans yang masih menunggu didepan dan tanpa disadari, tatapan mata Vans melihat ke arah jalan dimana ada seorang gadis berlari.
"Itu pasti dia."
Vans melajukan mobilnya untuk mengejar gadis itu dan cittt... suara decitan ban mobil bersamaan dengan ambruknya tubuh gadis yang Vans cari.
"Aduhhh..." keluh Nada saat kakinya terserempet mobil Vans.
"Kau baik baik saja?" tanya Vans keluar mobil dan mendekat ke arah Nada.
Melihat Vans tentu saja membuat Nada ketakutan.
"Tu tuan... jangan bawa saya!" kata Nada dengan wajah pucat.
"Ssttt diamlah, aku tidak akan menyakitimu." ucap Vans tersenyum manis, sangat manis.
"Tuan, ku mohon lepaskan saya."
"Aku ingin menolongmu, membawamu ke klinik. sepertinya kau terluka, apa kau tidak mau?" tawar Vans yang langsung membuat Nada menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tuan, tidak saya tidak mau!"
Vans menghela nafas panjang, "Pergilah jika begitu."
Kesempatan untuk Nada kabur dari sini, Nada bangun dan hendak berjalan namun siapa sangka kakinya terasa sakit. sepertinya kaki Nada terkilir. Wajah Nada meringgis kesakitan membuat Vans tersenyum kemenangan.
"Apa itu yang disebut baik baik saja?" ejek Vans.
"Aku benar benar tidak ingin ikut bersama mu." kata Nada.
"Kalau begitu pergilah."
Nada menunduk, bagaimana Ia bisa pergi sementara kakinya terasa sakit seperti ini.
"Pergilah."
"Apa Tuan akan membawa ku ke klinik?" tanya Nada akhirnya.
"Tentu saja tapi kau tidak mau jadi ya sudah pergilah sana!"
"Maafkan saya Tuan, saya mau dibawa ke klinik."
Vans tersenyum kemenangan, "Biar ku bantu."
Vans menuntun Nada membawanya ke mobil, segera Vans melajukan mobilnya.
Dari jauh Zian melihat Nada sudah masuk ke dalam mobil Vans membuatnya merasa lega.
"Ck, semudah ini." kata Zian lalu kembali ke rumah.
"Kau tidak berhasil menangkap Nada?" tanya Ratna saat Zian sampai dirumah.
"Ibu tenang saja. Nada sudah aman bersama Tuan Vans."
Ratna tersenyum lega, "Bagi uangnya sekarang!"
Zian mendecak kesal, "Masalah uang saja Ibu tidak lupa!"
"Tentu saja karena kita hidup butuh uang!" balas Ratna santai.
Zian mengambil segepok uang pemberian Vans, Ia membagi dua bersama ibunya.
"Ku pikir Ibu marah jika aku menjual Nada seperti ini." kata Zian saat melihat ibunya asyik menghitung uang.
"Ibu tidak akan marah jika ini tentang uang."
"Tapi Ibu, bukankah kita keterlaluan karena sudah menjual Nada?"
Zian sebenarnya sadar dengan apa yang Ia lakukan namun Ia tidak punya pilihan lain karena Zian butuh uang.
"Ck, dia pantas mendapatkan itu!"
"Apa maksud Ibu?" Zian terkejut mendengar ucapan Ibunya.
"Apa kau lupa? saat dulu Ayahmu masih ada, ayahmu sangat memanjakan dia sementara kamu tidak diperhatikan sama sekali."
Zian mengangguk, Ia ingat saat masih kecil hanya Nada yang dibelikan mainan sementara dirinya tidak pernah.
"Lagipula dia juga bukan anak Ibu." ungkap Ratna lalu kembali menghitung uang.
"A apa maksud Ibu?" Zian kembali terkejut.
Ratna menghela nafas panjang, "Kau sudah dewasa, kau harus tahu jika Nada itu anak haram hasil perselingkuhan Ayahmu dan saat selingkuhannya meninggal, Ayahmu membawa Nada pulang padahal waktu itu Ibu sudah memiliki mu dan umurmu masih dua tahun. sangat menyakitkan Zian, Ibu bahkan tidak bisa melupakan rasa sakitnya sampai sekarang." kenang Ratna, matanya berlinang ingin menangis.
Zian mengepalkan tangannya, Ia baru tahu kenyataan menyakitkan yang di alami ibunya. Jika saja Ayahnya masih hidup mungkin Zian akan membalas perbuatan Ayahnya namun sayang Ayahnya sudah mati jadi Nada adalah sasaran tepat untuk membalaskan sakit hati Ibunya.
"Ibu tenang saja, Nada akan berguna untuk kita, dia akan menghasilkan banyak uang untuk kita." kata Zian tersenyum jahat.
Sementara itu, Nada yant tadinya berpikir Vans akan mengajaknya ke klinik namun nyatanya, Nada malah di ajak kembali kerumah Vans.
"Tuan, bukankah kita seharusnya ke klinik?" tanya Nada menatap Vans yang kini berubah dingin, tidak selembut tadi.
Vans keluar dari mobilnya, Ia membuka pintu samping dimana Nada duduk disana, tanpa mengatakan apapun, Vans langsung mengendong tubuh Nada, membawanya masuk ke dalam.
Nada ingin memberontak dan marah namun Ia rasa percuma karena kakinya sakit, tidak akan bisa berlari kabur lagipula ini sudah malam jalanan disekitar rumah Vans sangat gelap, Nada takut hingga akhirnya Nada hanya bisa pasrah akan nasibnya.
Vans membawa masuk Nada ke dalam kamar yang sama seperti kemarin malam.
Vans keluar namun semenit kemudian Vans kembali masuk membawa minyak gosok.
Tanpa mengatakan apapun, Vans merobek celana panjang Nada dan melihat kaki Nada yang terkilir.
Vans memijit bagian kaki Nada yang terkilir membuat Nada menjerit kesakitan namun sedetik kemudian kaki Nada sembuh, bisa digerakan lagi.
"Kaki ku sembuh Tuan." ucap Nada tersenyum senang sambil menggerakan kakinya yang terkilir.
Vans tersenyum, "Jadi sekarang waktunya aku menerima bayaran ku." ucapnVans yang membuat Nada seketika merasa takut, ingat jika posisinya dalam bahaya saat ini.
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen yaa.
Haloo readers... maaf jika mungkin cerita ini nanti hanya ada satu updatetan saja soalnya lagi ada cerita baru permintaan dari editor.
tp cerita ini tetep di usahakan update setiap hari sampai end.
Jangan lupa mampir di karya baru ku judulnya My Crazy Brother.
thank you readers..