Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Ujian Fitur Medsos
Reno menatap layar ponsel hitam di genggamannya dengan napas yang memburu sangat kencang, berusaha keras menahan luapan emosi yang nyaris meledak keluar dari ubun-ubunnya.
Wajah kurusnya memerah padam saat melihat sebuah stiker digital bergambar dirinya yang sedang tertidur pulas dengan mulut terbuka lebar dan air liur menetes ke bantal.
Stiker memalukan hasil karya manipulasi gambar itu terpampang jelas di dalam sebuah grup obrolan yang diberi nama sangat merendahkan martabat para kaum lajang kampus.
Ia perlahan mengangkat wajahnya dari layar sentuh perangkat misterius itu, menatap tajam ke arah sahabat karibnya yang kini sedang duduk mematung di atas karpet kamarnya.
{Benar-benar pengkhianatan tingkat dewa, bisa-bisanya dia menjadikan aib tidurku sebagai bahan tertawaan publik di saat aku sedang berjuang mencari cinta sejati.}
"Itu... itu cuma sekadar lelucon internal antar sesama desainer grafis yang kurang tidur dan butuh hiburan malam, Reno."
Radit mengangkat kedua tangannya ke udara setinggi bahu, memasang pose menyerah total sambil perlahan menggeser pantatnya mundur menjauhi kerangka besi ranjang.
"Lelucon katamu, kau baru saja menghancurkan sisa-sisa wibawaku sebagai pria mapan pencari pasangan hidup di hadapan teman-teman seangkatan kita!"
Reno melompat turun dari atas kasur busanya dengan gerakan sangat cepat, melangkah maju mendekati sahabatnya yang bertubuh gempal tersebut.
Radit buru-buru memeluk erat laptop bututnya di depan dada, menggunakannya sebagai perisai pelindung darurat dari amukan pemuda kurus yang sedang dilanda patah hati itu.
"Aku bersumpah akan menghapus stiker konyol itu sekarang juga, asalkan kamu tidak menggunakan mesin peretas berbahaya itu untuk membalas dendam kepadaku malam ini."
Reno mendengus kesal mendengar permohonan maaf tersebut, ia memilih kembali duduk di tepi kasur sambil mengusap permukaan kaca ponsel hitamnya.
{Sahabat yang baik harus diberikan pelajaran yang setimpal agar dia tahu rasanya harga diri diinjak-injak secara digital tanpa ampun.}
Barisan teks berwarna biru mendadak muncul bergulir di layar ponsel, menawarkan sebuah opsi pembalasan dendam yang terdengar sangat menggiurkan bagi ego Reno.
"Apa yang bisa dilakukan oleh fitur konyol buatanmu itu terhadap akun media sosial milik pembuat stiker laknat yang sedang ketakutan ini?"
Reno berbisik pelan ke arah perangkat pintar di tangannya, sama sekali tidak memedulikan tatapan heran penuh selidik dari Radit di sudut ruangan.
Senyum licik perlahan mengembang di bibir Reno, membayangkan betapa asyiknya mengubah akun desain profesional Radit menjadi akun penggemar boyband plastik dari negeri seberang.
"Bersiaplah menghadapi karma digitalmu hari ini, Radit, karena reputasimu sebagai desainer maskulin kebanggaan jurusan akan hancur lebur malam ini juga."
Ia memposisikan kedua ibu jarinya di atas kibor virtual yang baru saja muncul melayang secara holografis di layar ponsel misterius tersebut.
Radit menjerit panik mendengar ancaman itu, ia segera melemparkan sebuah bantal guling usang ke arah kepala Reno untuk menggagalkan proses peretasan tersebut secara fisik.
Bantal empuk yang sarungnya sudah pudar itu melayang dengan lintasan melengkung, mendarat telak menghantam sisi kiri wajah Reno yang sedang fokus menatap layar.
Reno terkejut bukan main menerima serangan mendadak itu, keseimbangan tubuhnya oleng ke belakang hingga jempol kanannya terpeleset menekan layar sentuh secara tidak beraturan.
Sistem pencarian target di dalam ponsel itu langsung menangkap ketikan acak dari jempol Reno, memunculkan sebuah saran nama pengguna dari basis data jaringan nirkabel kampus.
Nama akun yang dicari Radit seharusnya adalah gabungan dari nama panggilan dan profesi desainnya, namun sistem justru memilihkan saran teratas yang kebetulan memiliki susunan huruf awal serupa.
Reno yang pandangannya masih sedikit buram akibat hantaman bantal tebal, langsung menekan tombol eksekusi tanpa memeriksa ulang deretan nama pengguna yang tertera di layarnya.
Sebuah panel modifikasi visual yang sangat canggih terbuka di layar ponsel, menampilkan ruang kosong untuk mengunggah foto profil dan kolom panjang untuk merangkai takarir baru.
Reno mengusap layarnya dengan penuh semangat balas dendam, mencari sebuah gambar karakter gadis anime berpakaian pelayan dari galeri hasil unduhan rahasianya bulan lalu.
{Biar dia tahu rasa bagaimana malunya memiliki profil media sosial yang dipenuhi oleh karakter kartun dua dimensi pemanggil tuan di depan para pelanggannya.}
Ia memasukkan gambar gadis anime berambut merah muda itu sebagai foto profil utama, menggantikan foto profil asli yang bahkan tidak sempat ia perhatikan bentuk wajahnya.
Jari-jarinya kemudian menari sangat lincah di atas kibor virtual, merangkai sebuah kalimat sapaan yang luar biasa memalukan untuk dipajang di halaman depan akun profil target.
"Halo semuanya, mulai hari ini aku adalah seorang wibu akut yang sedang mencari waifu sejati untuk menemani kesepian hatiku di dunia nyata."
Reno menggumamkan kalimat tersebut sambil mengetiknya kata demi kata dengan sangat teliti, memberikan tambahan puluhan emotikon ciuman dan tanda hati berwarna merah di akhir rentetan kalimat.
Ia menekan tombol simpan perubahan dengan sangat mantap, merasa telah berhasil membalaskan dendam kesumatnya secara elegan tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik berlebih.
Reno sengaja mengabaikan pesan peringatan bernada sinis dari Siri-usly tersebut, ia segera memasukkan ponsel hitam itu kembali ke dalam saku kemejanya dengan perasaan puas.
"Coba periksa akun Instagram resmi milikmu sekarang juga untuk melihat hasil karya seniku, Tuan Desainer."
Radit yang masih duduk gemetar di lantai segera membuka layar ponsel pintarnya, mengecek profil akun pribadinya dengan tangan yang berkeringat dingin menahan rasa takut.
"Tidak ada yang berubah dari profil utamaku sama sekali, jumlah pengikutku bahkan bertambah dua orang dari panti asuhan sebelah gang kosan."
Sahabat gempalnya itu menghela napas lega dengan sangat panjang, memamerkan layar ponselnya ke arah Reno yang seketika mengernyitkan dahi keheranan melihat bukti tersebut.
{Kalau akun media sosial Radit masih aman terkendali dan tidak berubah sama sekali, lalu akun milik siapa yang baru saja aku ubah menjadi etalase penggemar kartun dua dimensi barusan?}
Perasaan tidak enak mulai merayap naik menyelimuti rongga dada Reno, namun ia memilih untuk mengubur rasa penasarannya dan segera menarik selimut tebal untuk melanjutkan tidur malam.
||||
Keesokan paginya, suasana lingkungan Universitas Megantara sudah terasa sangat berbeda jauh dari rutinitas membosankan pada hari-hari perkuliahan biasanya.
Reno melangkah lesu memasuki gerbang utama kampus dengan langkah kaki yang gontai, ransel bututnya menggantung miring menutupi bahu kirinya yang terasa pegal.
Puluhan mahasiswa dari berbagai jurusan tampak berkerumun padat di berbagai sudut halaman, memusatkan pandangan mereka secara serentak ke arah layar ponsel pintar masing-masing.
Suara kasak-kusuk penuh rasa heran dan gelak tawa yang tertahan terdengar bersahutan dari arah koridor fakultas utama, menciptakan suasana gempar yang sangat tidak biasa pagi ini.
Reno menoleh ke kanan dan ke kiri dengan kening berkerut, mencoba mencari tahu peristiwa penting apa yang berhasil mengumpulkan perhatian seluruh warga kampus sepagi ini.
Ia melihat beberapa mahasiswa senior dari jurusan ilmu komunikasi sedang berbisik-bisik serius sambil sesekali menunjuk-nunjuk ke arah gedung rektorat yang menjulang tinggi di tengah kampus.
Luna tiba-tiba muncul dari balik pilar beton gedung perpustakaan, berjalan setengah berlari menghampiri Reno dengan langkah tergesa-gesa dan raut wajah penuh tanda tanya.
"Kamu sudah melihat unggahan terbaru yang menghebohkan di akun resmi kampus kita pagi ini, belum?"
Gadis berwajah ayu itu langsung menyodorkan layar ponsel pintarnya tepat ke depan wajah Reno, bahkan sebelum pemuda kemeja kotak itu sempat mengucapkan rentetan kalimat sapaan selamat pagi.
Reno memiringkan kepalanya sedikit ke belakang, memfokuskan pandangan matanya pada layar ponsel Luna yang sedang menampilkan halaman profil resmi milik Dekan Kampus Universitas Megantara.
Jantungnya seakan berhenti memompa darah selama beberapa detik saat melihat foto pria paruh baya berwibawa itu telah menghilang sepenuhnya dari tempat asalnya.
Sebagai gantinya, sebuah foto karakter gadis anime berambut merah muda dengan pakaian pelayan yang sangat familiar bagi ingatan Reno kini terpampang besar sebagai identitas utama sang Dekan.
Bagian biodata resmi yang biasanya berisi rentetan panjang gelar akademik dan pencapaian kampus kini telah berubah menjadi sebuah kalimat pengakuan dosa yang sangat konyol.
Kalimat bio memalukan tersebut ditulis sangat lengkap dengan deretan emotikon ciuman dan tanda hati, sama persis dengan apa yang diketiknya semalam suntuk di kamar kos.
Reno menelan ludah kasarnya yang mendadak terasa seperti menelan segenggam kerikil tajam, kedua lututnya mendadak lemas menyadari kesalahan target peretasannya semalam yang berakibat fatal.
{Tamatlah seluruh riwayat akademisku, aku baru saja merusak citra orang nomor satu di fakultas ini dengan sepasang tangan bodohku sendiri di tengah malam buta.}
"Ini pasti ulah peretas iseng dari kampus sebelah yang iri dengan pencapaian akreditasi kita tahun ini, sungguh tindakan siber yang sangat memalukan bagi dunia pendidikan."
Luna menggelengkan kepalanya dengan tatapan prihatin mendalam, sama sekali tidak menyadari bahwa pelaku kejahatan siber yang sesungguhnya sedang berdiri mematung ketakutan tepat di hadapannya.
"Tentu saja, orang gila mana di dunia ini yang berani bermain-main meretas akun petinggi kampus kalau bukan dari pihak pesaing luar."
Reno memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat kering dan sumbang, keringat dingin mulai mengucur deras tanpa henti membasahi kerah kemeja bagian belakangnya.
Sebuah getaran mekanik yang luar biasa kuat tiba-tiba terasa berdenyut ritmis dari dalam saku celana jins sebelah kirinya, memaksa Reno untuk segera merogohnya dengan tangan gemetar.
Ia menarik keluar ponsel hitam X-Phreak 9000 dengan gerakan yang sangat pelan, menyembunyikan layarnya dengan cermat di balik telapak tangan agar tidak sempat terlihat oleh Luna.
Layar ponsel canggih itu berkedip-kedip cepat menampilkan kotak peringatan darurat, menyajikan sebuah notifikasi sistem yang membuat seluruh aliran darah di tubuhnya terasa membeku seketika.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending