NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:341.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

​Bau antiseptik yang tajam menyambut Adila begitu ia melangkah memasuki lobi rumah sakit pendidikan tempatnya menempuh koas. Baginya, aroma ini biasanya terasa mencekik, namun pagi ini, bau obat-obatan dan pembersih lantai itu justru terasa seperti udara segar yang menyelamatkannya dari sesaknya udara di rumah tadi. Di sini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati atau menantu yang disudutkan. Di sini, ia adalah Adila, calon dokter yang memiliki tanggung jawab besar atas nyawa orang lain.

​Adila segera menuju ruang ganti, mengenakan jas putih kebanggaannya dengan gerakan cepat. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang buram. Matanya masih sembab, namun ia memulas sedikit bedak dan lipstik tipis untuk menyamarkan luka yang masih basah.

​"Fokus, Dila. Fokus," bisiknya pada diri sendiri.

​Hari itu, jadwal Adila benar-benar padat. Ia seolah-olah sengaja menenggelamkan diri dalam tumpukan status pasien dan jadwal visite dokter spesialis. Ia berlari dari satu bangsal ke bangsal lain, memeriksa tanda-tanda vital, mengganti perban, hingga membantu tindakan kecil di ruang gawat darurat. Setiap kali pikirannya mulai melayang pada wajah Revan yang marah atau suara mertuanya yang menghina, Adila segera mengalihkannya dengan membaca ulang dosis obat atau istilah-istilah medis yang rumit.

​Pekerjaan adalah pelarian terbaiknya. Saat ia sibuk menjelaskan kondisi pasien kepada keluarganya, ia lupa bahwa rumah tangganya sendiri sedang berada di ruang ICU. Saat ia sibuk mendengarkan detak jantung pasien dengan stetoskopnya, ia bisa mengabaikan detak jantungnya sendiri yang masih terasa nyeri.

​Namun, tubuh manusia punya batas. Menjelang jam istirahat siang, kaki Adila mulai terasa lemas. Setelah lima jam berdiri tanpa henti, ia akhirnya menyerah pada rasa lapar dan lelah yang mulai menggerogoti.

​Adila berjalan gontai menuju kantin rumah sakit yang bising. Di pojok ruangan, ia melihat dua sahabat karibnya, Maya dan Sari, yang juga sedang menempuh koas di departemen yang berbeda. Mereka sudah duduk dengan nampan makanan masing-masing.

​"Dila! Di sini!" lambaian tangan Maya membuat Adila mendekat.

​Adila duduk dengan lemas, ia bahkan tidak berniat memesan makanan berat. Ia hanya membeli sebotol air mineral dan segelas kopi hitam tanpa gula pahit, seperti suasana hatinya.

​"Kamu kenapa, Dil? Wajahmu pucat sekali. Kamu jaga malam lagi semalam?" tanya Sari khawatir sambil meletakkan garpunya.

​Adila menggeleng pelan, ia mencoba tersenyum, namun senyum itu justru nampak seperti rintihan. Ia hanya menatap botol air mineral di tangannya tanpa minat untuk membukanya.

​Maya, yang sudah mengenal Adila sejak semester pertama kuliah, menyipitkan mata. Ia tahu ada yang tidak beres. "Jangan bohong ya, Dila. Kamu itu kalau stres biasanya paling rajin kerja, tapi matamu tidak bisa bohong. Kamu habis menangis?"

​Pertanyaan sederhana itu seperti jarum yang menusuk balon berisi air.

Pertahanan yang dibangun Adila sejak pagi tadi runtuh seketika. Bahunya mulai bergetar, dan air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga, menetes jatuh ke atas meja kantin yang kusam.

​"Hei, kenapa? Ada apa?" Maya dan Sari segera bergeser duduk mendekati Adila, mencoba menghalangi pandangan orang-orang di kantin dari sahabat mereka yang sedang hancur.

​Adila menutup wajahnya dengan kedua tangan, isaknya pecah meski ia mencoba menahannya agar tidak bersuara keras. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana... Mas Revan... dia berubah."

​Dengan suara yang terputus-putus, Adila akhirnya menumpahkan segalanya. Ia menceritakan tentang pemotongan nafkah yang dilakukan sepihak demi Meisya.

Ia menceritakan tentang alasan Revan yang menganggapnya terlalu kuat untuk dibela. Dan yang paling menyakitkan, ia menceritakan bagaimana ibu mertuanya menyindirnya soal rahim yang masih kosong sebagai alasan mengapa ia tidak pantas diprioritaskan.

​Maya dan Sari mendengarkan dengan wajah yang memerah karena geram. Sari bahkan hampir menggebrak meja saat mendengar bagian tentang mertua Adila.

​"Gila! Itu sudah keterlaluan, Dil!" desis Sari tajam. "Hanya karena Meisya hamil, bukan berarti dia bisa merampas hakmu! Lagipula itu kan bukan anak Revan!"

​"Mas Revan bilang ini soal kemanusiaan," bisik Adila sambil menyeka air mata dengan ujung jas putihnya. "Dia bilang aku egois karena menuntut uang sekolahku sendiri di saat orang lain sedang susah. Dia bilang... mungkin aku belum pantas jadi ibu karena hatiku keras."

​Maya memegang tangan Adila erat-erat. "Dengar aku, Adila. Kamu bukan egois. Kamu menuntut hakmu sebagai istri sah. Dan soal anak... itu urusan Tuhan, bukan hak mereka untuk menghakimimu seperti itu. Kamu calon dokter, kamu tahu benar secara medis bagaimana proses itu bekerja. Jangan biarkan kata-kata picik mereka merusak mentalmu."

​"Aku merasa sendirian di rumah itu, May. Seolah-olah sepuluh tahun pengabdianku tidak ada harganya dibanding air mata Meisya yang baru muncul sebulan ini," Adila menatap sahabat-sahabatnya dengan pandangan kosong.

"Aku sudah pergi dari rumah pagi tadi tanpa pamit. Aku tidak tahu harus pulang ke mana nanti sore."

​"Jangan pulang ke sana dulu kalau kamu belum siap," ujar Maya tegas. "Kamu bisa menginap di tempatku. Kita harus fokus untuk ujian bedah minggu depan. Jangan biarkan drama suamimu menghancurkan gelar yang tinggal selangkah lagi kamu raih."

​Adila menarik napas panjang, merasa sedikit lebih ringan setelah membagikan beban yang menyesakkan dadanya. Meski masalahnya belum selesai, setidaknya ia tahu ia tidak benar-benar sendirian. Di balik jas putih ini, ada luka yang lebar, namun ada juga dukungan yang kuat dari sahabat-sahabat yang menghargai perjuangannya.

​"Terima kasih ya... aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kalian," ucap Adila tulus.

​"Sama-sama, Calon Dokter Spesialis!" Sari mencoba mencairkan suasana. "Sekarang, minum airmu dan makanlah sedikit. Kita masih punya daftar pasien panjang yang harus diperiksa setelah ini. Jangan sampai kamu pingsan dan malah jadi pasien di sini."

​Adila tersenyum kecil, kali ini senyumnya terasa sedikit lebih nyata. Ia membuka botol minumnya, bersiap kembali ke medan tempur di bangsal rumah sakit, dengan satu janji pada dirinya sendiri: ia akan tetap tegak, demi dirinya, demi mimpinya, dan demi setiap pasien yang membutuhkannya meskipun hatinya sendiri sedang hancur berkeping-keping.

1
Heni Hendrayani
is the best adilla 👍
Heni Hendrayani
kalau jodoh meskipun beda negara pasti ketemu jiga 😄💪
Heni Hendrayani
lelaki payah 🤣sundel tuh orang
Heni Hendrayani
,mantaap 👍😍
Weni Kasandra
Cerita yg bagus
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!