Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan
Sudah seminggu sejak Keiko kembali dari Desa Tsukimori.
Pagi itu langit Aoyama cerah. Matahari bersinar cukup hangat di halaman rooftop tempat Keiko tinggal. Gadis itu memutuskan sarapan di tempat favoritnya meja makan diluar rumahnya. Di hadapan keiko ada dua potong roti panggang, segelas susu cokelat hangat, dan laptop yang terbuka. Ia memang sengaja bangun lebih awal hari ini. Selain ingin menikmati pagi yang tenang, ia harus memeriksa email untuk program Night Letter. Memilih sendiri cerita yang akan dibacakan sudah menjadi kebiasaannya.
"Hmm..." Keiko menggulir layar laptop pelan. "Seratus dua belas email?"
Ia tersenyum kecil. "Seminggu cuti saja sudah sebanyak ini."
Isinya beragam. Ada ucapan selamat datang karena ia sudah kembali siaran, ada cerita tentang pekerjaan, masalah keluarga, sampai kisah cinta yang kandas. Keiko membacanya satu per satu dan memberi tanda bintang pada email yang dirasa menarik.
Gerakan tangannya terhenti saat melihat satu judul email.
Menunggu.
Keiko mengernyitkan dahi. "Judulnya singkat, tapi menarik."
Ia mengklik email itu. Isinya pendek:
Okiek-san.
Menurutmu, apa kucing bisa ingat dengan orang yang pernah baik padanya?
Ataukah bagi kucing, semua manusia pada akhirnya tetap sama?
— Seorang pendengar.
Keiko membaca surat itu sekali lagi. Ia menopang dagu sambil menatap layar. "Sepertinya pendengar ini menyimak siaranku minggu lalu."
Kalimat terakhir dalam email itu terus terbayang. Keiko menarik nafas panjang, pertanyaan ini sederhana tapi jujur keiko sendiri tidak tau jawaban nya apa.. tiba-tiba Wajah seekor kucing abu-abu tiba-tiba muncul di benaknya.
"...Shiro." wajah Keiko sedikit sayu "Semoga kamu baik-baik saja."
perlahan Suara langkah kaki dari tangga besi membuyarkan lamunannya. Keiko menoleh. Renji berdiri di anak tangga teratas, mengangkat tangan sebagai sapaan.
"Maaf, Keiko-san," ucap Renji dengan senyum canggung. "Apa aku mengganggu? Aku tidak sempat memberi kabar sebelum datang."
Keiko sempat terkejut, namun segera menggeleng. "Tidak sama sekali. Silakan naik."
Renji menghela napas lega. Ia melangkah masuk ke halaman rooftop dengan map tipis di bawah lengan kirinya dan kantong kertas cokelat di tangan kanan yang tercium aroma roti hangat.
"Aku membawa revisi rundown dari produser," ujar Renji sambil meletakkan map di meja. Ia mengangkat kantong kertasnya. "Sekalian saja aku mampir membeli sarapan."
Keiko tertawa kecil. "Jadi, tujuan utama Renji-san ke sini sebenarnya yang mana?"
Renji berpura-pura berpikir sejenak. "Hmm... lima puluh banding lima puluh."
Keiko tertawa. "Hahaha... silakan duduk dulu."
Renji mengeluarkan dua bungkus sandwich dan kopi kaleng dingin dari kantong kertas. "Maaf, cuma sempat beli yang sederhana."
Keiko tersenyum. "Justru aku yang harusnya berterima kasih."
Ia menerima sandwich itu lalu duduk kembali. Renji duduk di seberang meja sambil membuka map yang tadi dibawanya. "Ini revisi rundown dari produser. Ada sedikit perubahan urutan lagu di segmen kedua."
Keiko membaca sekilas lalu mengangguk. "Tidak banyak berubah."
"Iya," Renji melirik laptop yang masih terbuka. "Sudah mulai memilih surat?"
"Baru beberapa." Keiko memutar layar laptop ke arah Renji. "Coba lihat. Menurutmu, mana yang menarik?"
Renji menggeser kursinya sedikit lebih dekat. Pandangannya menyapu daftar email yang sudah diberi tanda bintang. "Yang ini terlalu panjang," tunjuknya pada salah satu judul. "Kalau dibacakan semua, satu segmen bisa habis."
Keiko mengangguk sambil memberi catatan kecil. "Benar juga."
Renji berpindah ke email berikutnya. "Kalau yang ini, ceritanya bagus, tapi penyelesaiannya sudah jelas. Pendengar lain mungkin tidak banyak ikut berpikir."
"Hmm, berarti disimpan dulu," gumam Keiko.
"Pilih surat yang membuat pendengar ikut bertanya-tanya. Biasanya responsnya lebih banyak."
Keiko tersenyum tipis. "Kadang aku lupa kalau operator kita juga jago memilih cerita."
Renji terkekeh. "Sudah tiga tahun dengar curhatan orang setiap malam. Sedikit banyak jadi ikut belajar."
Tak lama kemudian, Renji berhenti pada email yang sejak tadi dibuka Keiko. "Yang ini?"
"Menurutku unik."
Renji membacanya hingga selesai. Ia tidak langsung bicara, hanya terdiam beberapa detik sebelum menutup sedikit layar laptop itu.
"Hm... menurutku," Renji menjeda sejenak, "pendengar ini sebenarnya bukan sedang bertanya tentang kucing."
Keiko menatapnya. "Maksudmu?"
Renji menyandarkan punggung ke kursi. "Dia sedang mencari kepastian. Menurutku, hewan apa pun, kalau sudah memiliki ikatan dengan seseorang, dia akan mengingat orang itu."
Keiko mengernyit. "Meskipun baru bersama beberapa hari?"
Renji mengangguk mantap. "Waktu bukan ukuran. Yang buat mereka saling mengingat adalah ikatannya."
"Lalu, bagaimana kalau hanya kasih makan kucing liar?"
Renji menggeleng pelan. "Itu berbeda. Kucing itu mungkin hanya mengingat makanannya, bukan orangnya."
Keiko menopang dagu. "Bagaimana kalau seseorang tinggal bersama kucing? Merawatnya, bermain dengannya, setiap hari pulang disambut olehnya?"
Renji tersenyum kecil. "Kalau sudah seperti itu, menurutku mereka sudah membangun ikatan." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Contohnya, kau dan Shiro, Keiko-san."
Keiko sedikit terkejut. "Aku?"
Renji mengangguk. "Kalau kau masih sering mengingatnya, bisa jadi Shiro juga sedang mengingatmu."
Keiko tidak menjawab. Pandangannya perlahan jatuh kembali pada email di layar laptop. Entah mengapa, kalimat Renji terus terngiang di kepalanya.
Sesaat kemudian, senyum tersungging di bibirnya. "Entah kenapa, aku jadi pengin membacakan surat ini malam nanti."
Renji mengangguk setuju. "Menurutku bagus juga. Surat seperti ini biasanya bikin pendengar ikut merenung—bukan buat cari jawaban yang benar, tapi sekadar mendengar sudut pandang orang lain."
Keiko menutup laptopnya perlahan. "Oke, yang ini masuk daftar buat nanti malam."
Renji ikut merapikan map di hadapannya. "Kalau begitu, tugasku selesai." Ia melirik jam tangan sekilas. "Masih ada waktu sebelum siaran, tapi aku harus mampir ke studio sebentar."
"Terima kasih ya sudah jauh-jauh ke sini," sahut Keiko.
"Ah, kebetulan saja kok," balas Renji sambil berdiri. Sebelum benar-benar pergi, pandangannya menyapu halaman rooftop itu sekali lagi; deretan pot bunga yang tertata rapi di pagar, meja kayu di bawah payung taman, serta embusan angin yang terasa sejuk di tengah kota. "Ngomong-ngomong, tempatmu enak juga ya," gumamnya.
Keiko ikut memperhatikan sekeliling. "Oh, masa?"
"Iya," jawab Renji dengan senyum kecil. "Kalau capek habis siaran, rasanya duduk di sini sambil ngopi pasti enak."
Keiko tertawa kecil. "Aku sering banget kayak gitu."
"Pantas saja," sahut Renji sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Ia menatap Keiko sejenak. "Kalau boleh, kapan-kapan aku numpang ngopi di sini ya?"
Keiko pura-pura berpikir sejenak, membuat Renji menunggu jawabannya dengan senyum geli. "Boleh saja. Asal jangan datang pas aku masih tidur."
Renji langsung tertawa. "Itu artinya aku harus datang setelah siang, ya?"
"Tepat. Kalau pagi-pagi banget, aku bisa pura-pura nggak dengar."
Renji menggeleng geli. "Baik, Keiko-san. Aku catat ya." Ia mulai melangkah menuju tangga besi, namun sempat menoleh sekali lagi. "Sampai nanti malam."
"Sampai nanti, Renji-san." Keiko membalas lambaian kecil itu.
Renji menuruni tangga hingga sosoknya menghilang di balik dinding bangunan. Keiko terdiam beberapa detik, membiarkan angin pagi menyapa wajahnya. Pandangannya jatuh kembali pada layar laptop yang belum tertutup rapat, di mana email berjudul Menunggu masih terpampang jelas.
Ia mengembuskan napas panjang. "Shiro,,apa benar begitu?"
Tidak ada yang menjawab. Hanya embusan angin pagi yang kembali menyapa, membawa hening yang kini terasa lebih tenang.