Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.
Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.
Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"
Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"
Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.
Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?
Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: CINTAMU BENAR - BELAHAN BUMI LAIN
Maafkan, kakak. ~batin Angkasa memejamkan matanya karena tak sanggup melihat kehancuran Alkan akibat cinta tulus yang selalu terjaga selama bertahun-tahun.
"Apa salahku, Ka? Apa cintaku tidak pantas untuknya?" Alkan meracau dengan suara parau. Sekejap mata seluruh cinta tulusnya menjadi pertanyaan, apakah ada yang kurang dalam cintanya?
Tangisan adiknya lebih menyakitkan, tapi tidak mungkin kebenaran selamanya disimpan. Selama dua puluh lima tahun, Alkan mencintai Sifani tanpa pernah mencari teman wanita lain, jangankan berteman. Melihat wanita saja sangat jarang dilakukan. Mengingat usia yang semakin tua, kini waktunya memperbaiki keadaan.
Tubuh gemetar Alkan masih trus bergetar hebat, hingga kedua tangan sang kakak menegakkan tubuh kekar sang adik. Kini keduanya berdiri berhadapan dengan tatapan saling memandang. Hanya kekecewaan, kesedihan, putus asa, kegelisahan, dan juga luka berselimut cinta yang terpancar dari netra adiknya.
"De, dengarkan kakak. Cintamu benar adanya, tidak ada kekurangan ataupun diragukan. Akan tetapi takdir hanya Milik Allah, rezeki, maut, dan jodoh adalah rahasia ilahi. Kita berdua dibesarkan dengan bimbingan agama. Ikhlaskan, lepaskan dia dalam do'amu. Percayalah apapun yang terjadi adalah yang terbaik untuk hidupmu. Kamu dengar kakak?'' Angkasa menasehati Alkan, dimana adiknya masih saja menatap kosong ke arahnya.
Tidak ada jawaban, membuat Angkasa kembali merengkuh tubuh adiknya masuk ke dalam dekapannya. Membiarkan sang waktu berlalu dengan deraian air mata atas nama cinta Alkan Putra. Sementara di belahan bumi lain hanya ada keseriusan di wajah para manusia yang kini duduk berkumpul bersama. Hingga suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka.
"Sorry lama, Aku harus membuat istriku benar-benar tertidur pulas."
"Bry, apa tidak sebaiknya....,"
Bryant yang baru saja masuk melangkahkan kaki menghampiri dokter, sahabat dan juga bodyguard nya di ruangan kerja harus menghentikan langkah kakinya dengan tatapan tegas terarah hanya untuk Muel seorang. Sontak yang ditatap langsung terdiam. "Aku tidak ingin ada bantahan. Disini kita harus bekerjasama. Apa kalian paham?"
"Tuan Bryant, kenapa Anda tidak membawa Ibu Ara ke rumah sakit saja. Semua peralatan medis tersedia lengkap, dan pemeriksaan apapun bisa dilakukan tanpa perlu mengkhawatirkan....,"
"Jika mau, seisi rumah sakit bisa dipindahkan." Muel menyela penjelasan dokter Kinara tanpa sungkan, sedangkan Ocy tak ingin ikut berdebat karena orang bijak mengatakan diamlah dan dengarkan! Setelah memahami semuanya, maka silahkan jalankan.
Mungkin ada yang akan bertanya, siapa orang bijak itu? Dari seluruh anggota keluarga sang majikan. Hanya ada satu orang bijak yaitu Tuan Alkan, yah dia yang selalu berpikir rasional. Ketenangan pria itu tak dapat diragukan. Hanya saja sikap protective nya sangatlah *******. Kenapa seperti itu? Bayangkan saja, dia bisa mengirim bodyguard yang sibuk menikmati masa cuti harus kembali bekerja dalam hitungan detik.
Ampun, sadar Ocy. Kenapa malah mikirin Pak Alkan? ASTAGHFIRULLAH, mau dikemanain si babang tampan ku? Ini lagi, ngapain sih, pake acara ajak cewek kurang bahan?~batin Ocy yang tanpa sadar menghentakkan kakinya karena kesal melihat perdebatan di antara Muel dan dokter Kinara.
"Ocy, kamu kenapa?" tanya Bryant pura-pura tak memahami isi hati wanita itu, agar sahabatnya paham perasaan seorang wanita.
Ocy hanya menggelengkan kepala seraya menghindar dari tatapan menyelidik Muel. Sikap tak biasa dari pacar barunya itu, membuatnya penasaran. "Bry, boleh pinjam bodyguard mu sebentar?"
Glek!
"Jangan! Aku mau kerja. Bos usir aja dia, ya?" protes Ocy asal sontak langsung membungkam bibirnya sendiri.
Sorot tatapan mata yang menghunus terarah padanya, dan jelas itu berasal dari netra Muel. Dokter Kinara yang melihat bagaimana cara si dokter dingin memperlakukan wanita berpakaian casual itu hanya bisa menyimpan banyak pertanyaan di dalam hati.
"Pergilah! Sekalian beli bahan makanan." ucap Bryant menengahi perang mata di antara Muel dan Ocy, sedangkan dokter Kinara tak bisa berkata apapun.
"Boss?" cicit Ocy.
Sebuah kesempatan tidak akan pernah dilewatkan. Muel langsung beranjak dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Ocy. Dimana wanita itu semakin menegang. Tanpa basa basi, tangan putih yang kini memakai sarung tangan digenggam.
"Bry, kirim semua yang kamu inginkan. Aku akan bawakan. Ayo!" Muel menarik tangan Ocy, membuat wanita itu mau tidak mau harus pasrah.
Beberapa saat hanya ada suara langkah kaki yang menjauh. Hingga suara pintu terbuka lalu tertutup menghadirkan helaan nafas lega seorang Bryant. Sebagai penyimak, tentu dokter Kinara penasaran, tapi apakah etis bertanya hal pribadi pada pria yang kini menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya?
"Samuel dan Ocy adalah sepasang kekasih. Apapun perasaan di hatimu, kuharap tidak melewati batasan. Mari kita mulai diskusi tentang program kehamilan istriku." ajak Bryant mengubah posisi duduknya menjadi tegak dengan tatapan serius, membuat dokter Kinara mengangguk paham.
Pembicaraan dokter dan suami pasien berlangsung dalam ketenangan. Berbeda dengan amarah yang menyelimuti hati seorang wanita. Dimana wanita itu sibuk menatap hamburan foto yang tersebar di seluruh kamarnya. Kepalan tangan begitu erat hingga kuku memutih dengan tonjolan otot biru.
"KETERLALUAN!....,"
Sukses bwt karyanya