Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan Palsu
Begitu pintu kamar tertutup rapat di belakangnya, topeng ketenangan yang Jake pertahankan di meja makan runtuh seketika. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, napasnya memburu, dan wajahnya yang tadi datar kini berubah menjadi merah padam dalam sekejap.
“Gadis sialan!” desisnya dengan suara serak.
Lidah dan tenggorokannya terasa seperti disiram logam panas, sementara perutnya mulai bergejolak hebat. Rasa pedas itu benar-benar di luar nalar.
“Tidak akan kubiarkan kau terlihat menang di depanku... sedikit pun!” umpatnya lagi. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada Shasha dengan memperlihatkan kelemahannya di meja makan tadi, meski itu berarti ia harus menyiksa dirinya sendiri.
“Damn it!” Jake memaki sambil melangkah sempoyongan menuju ranjang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku jasnya dan mencari ponsel dengan gerakan tidak sabar.
Begitu sambungan terhubung, ia tidak memberikan kesempatan bagi orang di seberang untuk menyapa.
“Bawakan obat pencernaan dan penetral lambung ke kamarku sekarang juga!” perintahnya mutlak.
“Apa, Tuan? Maaf, bisa diulang?” sahut Kevin di seberang sana, terdengar bingung karena permintaan tuannya yang tidak biasa di jam seperti ini.
“APA KAU TULI?!” Jake berteriak, urat-urat di lehernya menonjol saat ia mulai membuka seluruh kancing kemejanya dengan paksa, seolah udara di kamar itu mendadak habis, “Lakukan sekarang atau aku akan memecatmu!”
“L-laksanakan, Tuan!” balas Leo cepat sebelum suara sambungan terputus secara kasar.
Jake melempar ponselnya ke atas ranjang dengan penuh amarah. Ia menyentakkan kemejanya hingga terlepas, membiarkan tubuh tegapnya terpapar udara dingin AC, namun itu tidak cukup untuk meredam api yang membakar dari dalam.
Rasa pedas itu kini berubah menjadi rasa mual yang melilit, membuatnya merasa seolah lambungnya sedang diperas kuat-kuat. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera melangkah lebar menuju kamar mandi, tidak tahan lagi dengan siksaan yang diberikan oleh makanan maut karya gadis itu.
Sementara di dapur, sekarang hanya diisi oleh suara gemericik air dan denting porselen saat Shasha membilas piring-piring kotor. Pikirannya masih tertambat pada satu hal, yakni pada sosok Jake yang tidak masuk akal.
“Apa dia memiliki kekuatan super?” gumam Shasha pada dirinya sendiri.
Ia bahkan sudah membayangkan jika Jake mungkin adalah makhluk dari dunia lain yang saraf perasanya sudah mati. Bagaimana mungkin manusia biasa bisa menelan bubuk cabai sebanyak itu tanpa mengedipkan mata, apalagi berkeringat?
Namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir pemikiran konyol yang mulai melantur itu.
“Apa yang kau pikirkan, Shasha? Dia hanya manusia angkuh yang mungkin lidahnya sudah mati rasa karena terlalu banyak makan makanan mahal,” gerutunya, mencoba mencari penjelasan yang lebih logis. Mungkin saja Jake memang memiliki toleransi rasa pedas yang tidak manusiawi, “Yah, walaupun memang sedikit mengecewakan karena tidak bisa memberinya pelajaran.” Ia menghela napas pasrah, lalu melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.
Setelah memastikan dapur kembali bersih dan tertata rapi, Shasha mengelap tangannya hingga kering. Baru kemudian meninggalkan area itu dan menuju ke kamarnya di lantai atas.
Namun langkahnya terhenti seketika begitu sampai di depan pintu kamar. Jemarinya yang baru saja hendak menyentuh gagang pintu itupun mendadak kaku saat sebuah suara dari lantai bawah memecah keheningan malam. Ia bisa menduga bahwa suara itu adalah dentuman pintu utama yang terdengar baru saja dibuka secara paksa.
Dengan rasa penasaran yang bercampur cemas, ia memutar arah, berjalan mengendap-endap menuju pinggiran teralis balkon lantai dua. Ia mencondongkan tubuh, melongokkan kepala untuk mengintip apa yang terjadi di lantai bawah yang luas itu.
Kosong.
Sejauh matanya memandang, tidak ada satu pun bayangan manusia yang tertangkap oleh penglihatannya. Namun saat tatapannya jatuh pada pintu besar di bawah sana, napas Shasha tertahan. Pintu itu memang terbuka sedikit, menyisakan celah hitam yang memperlihatkan kegelapan malam di luar. Seolah-olah seseorang baru saja menerobos masuk dengan terburu-buru hingga lupa menutupnya kembali dengan rapat.
Hawa dingin mendadak merayapi tengkuk Shasha. Mansion ini dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata, mustahil ada penyusup yang bisa masuk semudah itu. Tapi, jika bukan manusia, lalu siapa?
“Apa... hantu?” bisiknya dengan suara gemetar.
Bulu kuduknya berdiri tegak. Bayangan tentang mansion yang dihuni roh-roh penasaran korban pembunuhan Jake mendadak memenuhi kepalanya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Shasha membalikkan badan dan berlari kecil menuju pintu kamarnya. Ia masuk dengan cepat, mengunci pintu dari dalam, dan bersandar di sana sambil mengatur napasnya yang memburu.
Di sisi lain mansion, kini didominasi oleh derap langkah kaki yang terburu-buru. Kevin berlari menyusuri lorong panjang di lantai bawah dengan tangan yang mencengkeram erat kantung plastik berisi obat pencernaan seolah itu adalah benda paling berharga di dunia saat ini.
“Tuan!” panggilnya sembari mendorong pintu kamar Jake hingga terbuka lebar.
Namun ruangan megah itu tampak sunyi, menyisakan aura dingin yang mencekam. Sorot mata Kevin tertuju pada tempat tidur berukuran king size di tengah ruangan. Di sana, kemeja mahal milik Jake teronggok tidak berdaya, tampak kusut dan dilempar begitu saja.
Suara percikan air dari arah kamar mandi segera menarik perhatiannya. Kevin melangkah mendekat, “Tuan!” panggilnya lagi.
Di dalam sana, di bawah pendar lampu temaram yang memantul di dinding marmer gelap, Jake tengah berendam di dalam kolam kecil pribadinya. Ia menyandarkan kepalanya di pinggiran kolam dengan mata terpejam rapat. Dahinya juga terlihat berkerut dalam menunjukkan bahwa ia sedang menahan gejolak hebat yang sedang menyiksa perutnya. Suasana yang seharusnya menjadi tempat relaksasi itu kini terasa pengap oleh ketegangan yang tidak kasat mata.
“Tuan,” panggil Kevin lagi, kali ini dengan suara yang jauh lebih lirih.
Perlahan, Jake membuka matanya. Sepasang mata tajam itu berkilat penuh amarah saat melirik ke arah tangan kanannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia bangkit dari kolam. Air menetes deras dari tubuhnya, menciptakan suara gemericik yang memecah kesunyian.
Celana panjang yang masih ia kenakan kini basah kuyup, menempel ketat pada kaki panjangnya, namun pria itu tetap melangkah keluar dengan keangkuhan yang tidak luntur sedikit pun. Ia berdiri di hadapan Kevin dalam kondisi shirtless. Menampakkan tubuh tegap dengan otot-otot perut yang terpahat sempurna, yang kini berkilau oleh bulir-bulir air sisa rendaman.
“Obatnya!” desis Jake.
Kevin terkesiap, segera menyodorkan kantung yang ia bawa beserta botol air mineral yang sebelumnya sempat ia ambil dari dapur.
Jake menyambar botol itu dengan kasar. Ia merobek kemasan obat dan menelannya dalam sekali gerakan yang tidak sabar. Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat seiring dengan air mineral yang ia tenggak habis-habisan.
Begitu botol itu kosong, Jake tidak menyerahkannya kembali dengan cara yang wajar. Alih-alih meletakkannya, ia justru mencengkeram botol plastik itu dengan kepalan tangan yang dipenuhi urat-urat menonjol.
Krak!
Suara plastik yang remuk terdengar mengerikan di ruangan sunyi itu. Ia meremasnya hingga benar-benar hancur tidak berbentuk, lalu melemparkannya ke lantai dengan gerakan penuh kebencian. Seolah-olah botol itu adalah raga Shasha yang ingin ia hancurkan saat ini juga.
“Gadis sialan!” maki Jake dengan napas yang memburu. Matanya yang memerah menatap kosong ke depan, membayangkan wajah Shasha yang mungkin saat ini tengah tertawa di kamarnya, “Dia benar-benar punya nyali untuk bermain-main denganku.”
Kevin terpaku, “Apa yang terjadi, Tuan? Apakah dia benar-benar meracuni Anda?” suaranya meninggi, dipenuhi kekhawatiran yang nyaris meluap menjadi kepanikan.
Jake tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang yang terdengar seperti rintihan tertahan, lalu perlahan menenggelamkan kembali tubuh tegapnya ke dalam air dingin di kolam pribadinya, “Entah racun apa yang dia tambahkan ke dalam gulai itu sampai membuat seluruh sarafku terasa terbakar oleh rasa pedas yang tidak masuk akal,” ucap Jake dengan suara rendah yang bergetar karena emosi yang tertahan di ulu hatinya.
Mendengar itu, darah Kevin seolah mendidih. Kesetiaannya pada Jake membuatnya tidak terima jika pria paling berkuasa yang ia kenal dikerjai dengan cara serendah itu oleh seorang gadis rendahan.
“Benar kan, Tuan? Sudah saya katakan berkali-kali, kita tidak boleh meremehkan gadis itu!” Kevin mengepalkan tangannya, “Muslihat wanita memang tidak terduga. Saya akan memberinya pelajaran yang setimpal sekarang juga!”
Tanpa menunggu perintah, Kevin membalikkan badan dengan langkah lebar, hendak menyerbu kamar Shasha untuk melampiaskan amarahnya.
“Berhenti!”
Suara Jake menggelegar di dalam ruangan yang lembap itu, menghentikan langkah Kevin seketika. Kevin membalikkan badan, menatap tuannya dengan bingung.
“Aku yang akan memberikan pelajaran untuknya!” hardik Jake dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya. Ia kemudian memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu akibat rasa panas dan kemarahan, “Sekarang, pergilah dari sini!”
Kevin menarik napas dalam, mencoba meredam emosinya sendiri. Ia tahu jika Jake sudah mengeluarkan perintah dengan nada seperti itu, maka tidak ada lagi ruang untuk negosiasi.
“Baik, Tuan,” sahut Kevin dengan nada pasrah namun tetap waspada, “Jika Tuan membutuhkan sesuatu, segera panggil saya. Saya akan berjaga di dalam mansion untuk memastikan tidak ada gangguan lain.”
Jake sama sekali tidak menanggapi lagi. Ia tetap bergeming di dalam air, membiarkan keheningan dan dinginnya kolam meredam api yang menyulut tubuhnya.
Kevin pun melangkah mundur, lalu keluar dari area kamar mandi, meninggalkan sang Tuan yang kini tengah menyusun rencana pembalasan dalam pikirannya sendiri.