Vania Abigail, wanita cantik yng harus menjadi korban pembunuhan oleh suaminya yaitu Justin Andrian, dengan merencanakan kecelakaan yang seolah itu terjadi secara alami.
beruntung Vania diselamatkan oleh seorang laki-laki dan membantu Vania agar bisa kembali sehat. Namun karna luka bakar yang dialaminya cukup serius, sehingga mereka memutuskan untuk mengoperasi dan memberikan Vania identitas baru sebagai Elena Sinclair.
Balas dendam dengan menghancurkan rumah tangga mantan suami adalah tujuan Elena mulai detik ini.
Ia kan menggoda Justin dengan berbagai macam cara dan membuatnya jatuh cinta, lalu meninggalkannya setelah Justin kembali merasakan cinta dari seorang Elena.
Apakah Elena mampu menjadi seorang pelakor seperti sumpahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jackpot or Double Kill?
"Silahkan, Nona!" ucap Clayton mempersilahkan Elena berjalan lebih dahulu.
"Terima kasih, Clayton. Apa Rexy mengatakan sesuatu tentang pengawasanku?" Tanya Elena
"Tidak, Nona. Tuan Rexy tidak mengatakan apapun selama latihan Nona berjalan dengan teratur dan ada kemajuan pastinya," ucap Clayton tersenyum.
Elena tersenyum tipis, ia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Clayton. Namun di sisi lain, ia tau jika Rexy memberikannya kepercayaan yang begitu besar kepadanya.
"Bagaimana dengan laki-laki yang semalam?" Tanya Elena memasuki lift.
"Mereka belum mengakuinya, Nona," ucap Clayton.
Pintu lift tertutup, Elena hanya terdiam dengan wajah datar, begitu juga dengan Clayton. Hingga lift terbuka, tidak ada satupun pembicaraan yang keluar dari mulut mereka.
Elena mengenakan masker begitu juga dengan Clayton. Mereka berjalan dengan elegan menuju mobil yang sudah terparkir di depan loby.
"Kita ke markas, Clay!" ucap Elena masuk kedalam mobil.
"Baik, Nona," ucap Clayton.
Elena menatap keluar, dan terkejut ketika melihat seseorang yang sangat ia kenali.
"Clay, tunggu! Kamu lihat dua orang itu?" Tanya Elena.
"Ah, ada apa dengan mereka, Nona?" Tanya Clayton mengernyit.
"Tolong ambil beberapa foto atau video untukku, Clay!" Ucap Elena tersenyum.
"Baiklah, Nona." Ucap Clayton patuh.
Ia kembali turun dari mobil dan mengejar orang yang dimaksud oleh Elena tadi.
Sementara perempuan cantik itu tersenyum, seolah mendapat cara baru untuk mengancam keberadaan para musuhnya.
Setengah jam berlalu, Clayton sudah kembali dan memasuki mobil. Ia terlihat tenang mengirimkan beberapa gambar dan video yang sudah ia ambil.
"Kerja bagus, Clay! Bonus kamu minggu ini akan saya tambah," ucap Elena tersenyum senang.
"Terima kasih, Nona," Ucap Clayton tersenyum.
"Ayo kita ke markas!" Ucap Elena.
"Siap, laksanakan." Ucap Clayton menjalankan mobilnya.
Elena melihat beberapa foto yang cukup jelas, memperlihatkan wajah dua orang yang tengah bermesraan itu.
Ini akan menjadi sesuatu yang bisa aku gunakan untuk menyerang mereka. Semoga semua ini bisa selesai dengan cepat dan Justin memang berpisah dengan Reema. Batin Elena.
Tak lama mobil berhenti di halaman sebuah rumah mewah yang menjadi markas para bodyguard Rexy.
Tidak akan ada yang percaya jika itu adalah sebuah markas, karena aktifitas yang ada didalamnya sangat tertutup.
"Selamat datang, Nona," ucap penjaga yang berada diluar.
"Terima kasih. Bagaimana perkembangan mereka?" Tanya Elena berjalan masuk kedalam rumah.
"Belum ada yang mengaku, Nona. Mereka tetap bertahan jika tidak ada yang menyuruh. Murni karena hanya tertarik dengan anda," ucap pengawal yang bernama Fauzi itu.
"Bawa saya menemui mereka!" ucap Elena berjalan dengan anggun.
"Silahkan, Nona."
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan bawah tanah untuk mengeksekusi para musuh atau pun para penguntit yang tidak bertanggung jawab.
"Mereka ada di dalam, Nona. Silahkan!" Ucap Fauzi membuka pintu penjara dan memperlihatkan dua orang itu sudah mendapatkan beberapa luka lebam di wajahnya.
"Apa mereka pingsan?" Tanya Elena.
"Tidak, Nona," ucap Fauzi. "Siram mereka!" sambungnya kepada seorang pengawal untuk menyiram mereka dengan air.
Byur!
Dua orang itu gelagapan karena mendapatkan serangan tiba-tiba.
"Apa kalian belum puas menyiksa kami?" pekik mereka.
"Belum, sampai kalian mengaku siapa yang memberi perintah untuk mengikuti saya!" ucap Elena dingin.
"Eh kau Nona, syalan! sudah saya katakan tidak ada yang menyuruh kami!" pekik salah satunya.
"Jaga ucapanmu!" Pekik Fauzi menghantam perut laki-laki itu.
"Lagian kau pembohong nona! Mana ada buaya di sini!" pekik penguntit yang lain.
"Oh, kau menantang? Saya sudah baik hati untuk tidak menghadirkan buaya di sini, dan kalian malah menagihnya? Baru kali ini saya melihat ada orang yang begitu antusias untuk bertemu dengan ajal," ucap Elena mengernyit.
Clayton hanya terdiam sambil mencari cara untuk membuat mereka mengaku. Karena hal yang seperti ini sudah banyak ia temui dengan berbagai macam alasan.
"Nona, sepertinya saya menemukan cara untuk membuat mereka mengaku," ucap Clayton.
"Apa pemikiran kita sama Clay?" tanya Elena dengan masih menatap dua orang itu bergantian.
"Silahkan, Nona!" ucap Clayton.
"Cari keluarga mereka, dan bunuh mereka semua!" ucap Elena tegas.
Clayton tersenyum, dan mengangguk, sementara semua orang membulatkan mata mendengarkan suruhan wanita cantik itu.
"Kami sudah menemukan keluarga mereka, dan beberapa orang sudah berada di lokasi. Hanya menunggu perintah anda saja, Nona," ucap Fauzi.
Dua orang laki-laki itu mulai pucat dan kesulitan untuk menelan ludah ketika mendengar ucapan Elena. Mereka saling pandang dan memberi kode untuk mengaku satu sama lain.
"Apa kalian masih tidak ingin mengaku? Saya malas membuang waktu untuk menunggu kalian berbicara! Fauzi...,"
"Baik, kami akan mengaku! Tolong jangan sentuh keluarga saya kami!" pekik mereka cukup takut.
"Katakan!" Ucap Elena tegas.
Clayton masuk kedalam jeruji itu dan mengambil video. Merekam pengakuan mereka agar bisa membuat laporan kepada pihak kepolisian nanti.
"Kami mendapat perintah dari seorang perempuan, tetapi kami tidak tau siapa dia," ucap salah satu dari mereka.
"Apa dia mentransfer sejumlah uang?" Tanya Elena.
"Iya, dia memberi kami sejumlah uang untuk membunuh anda," ucap mereka lagi.
"Clay!" Panggil Elena.
"Baik, Nona!" ucap Clayton langsung paham dengan apa yang di inginkan oleh Elena.
"Kenapa kalian tidak langsung membunuh saya? Padahal kemarin masih ada kesempatan untuk menabrak, apalagi di pinggir jalan ada kali yang cukup dalam sepertinya," ucap Elena dengan rahang yang mengeras.
"Sungguh anda terlihat sangat cantik, Nona. Sayang jika kami langsung membunuh anda. Ternyata kami salah menerima pekerjaan!" ucap laki-laki itu sambil tersenyum menyeringai.
Brak!
Fauzi menghantam keras kepala laki-laki itu hingga tersungkur.
"Jaga ucapan kau syalan! Kau tidak pantas mengatakan hal itu kepada nona kami!" bentak Fauzi sambil menjambak kepala laki-laki itu.
"Biarkan saja dia. Setelah kita mendapatkan data itu, seret mereka ke penjara, laporkan dengan pasal yang berlapis. Jika tidak patuh jalankan perintah saya tadi!" ucap Elena.
"Kau perempuan berhati busuk, Nona! Menjadikan keluarga untuk mengancam kami!" pekik laki-laki itu.
Elena hanya terdiam dan berbalik badan meninggalkan mereka yang masih saja melayangkan sumpah serapahnya kepada Elena.
"Nona, sepertinya ada akan tersenyum lebar melihat ini! Jackpot atau double kill?" Ucap Clayton menyeringai sambil memberikan data yang sudah ia peroleh.
"Saya pikir dia sangat pintar, ternyata...," ucap Elena menggeleng. "Atur pertemuanku dengan dia seperti biasa, Clay. Saya ingin semuanya cepat selesai!" sambungnya berjalan menuju ruang ganti.
Pagi ini ia akan berlatih beberapa ilmu bela diri yang sudah cukup ia kuasai. Namun harus lebih kuat lagi agar bisa tahan banting nantinya.
Elena terdiam sejenak, memikirkan hal yang sudah ia lakukan belakang ini. Hanya tersisa dua perkara lagi yang harus ia selesaikan.
Memisahkan justin dan Reema, lalu menjebloskan mereka ke penjara. Mengambil apa yang sudah menjadi miliknya yang kini dikuasai oleh perempuan itu.
Ia melatih diri dengan serius walaupun sering mendapatkan pukulan yang cukup sakit dan juga berbekas, namun itu semua harus ia kuasai agar bisa mendampingi Rexy jika sewaktu ada marabahaya yang akan menimpanya.
Apa waktu sebulan cukup untuk menyelesaikan semua ini?. Batin Elena sebelum keluar dari ruangan itu.