Sejak kami kedatangan tetangga baru, kampung yang begitu tenang kini berubah menjadi mengerikan. Semua orang takut keluar rumah ketika malam. Makhluk tak kasat mata tidak pernah berhenti datang siang maupun malam. Bahkan mereka mengambil nyawa orang-orang satu per satu.
Kami bahkan tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba sakit dan langsung di kabarkan sudah meninggal. Bahkan di tubuh mayat mempunyai bekas telapat tangan yang berwarna keunguan.
Pertanda apa semua ini, aku yang mempunyai kemampuan mengobati, tidak bisa berbuat apapun. Meski aku sering melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku begitu takut. Karena energi mereka begitu besar.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus dilakukan warga di kampungku?
Kami merasa takut ketika setiap bulan, berjatuhan korban yang meninggal. Kepanikanku bertambah ketika adikku sakit, aku khawatir adikku akan seperti korban lain yang hanya mengalami sakit demam dan langsung meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UNI NANNI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ucapan Selamat Tinggal Untukku
"Nek," Lirihku ketika tanganku tertahan.
Perlahan, nenekku seperti sulit bernafas. Aku yang melihatnya, panik. Ingin memasang kembali infus nenekku, tetapi tanganku masih belum bisa di gerakkan.
"Dokter..." Teriakku seketika. Aku semakin panik, ketika detak jantung nenekku berhenti. Suster dan dokter berlarian ke arahku, denfan cepat dia melakukan segala cara.
Akhirnya yang begitu menyedihkan, perkataan dokter membuatku menjadi patung di tempat.
"Innalillahi Wainnailaihi rajiun," katanya sambil melepas semua alat yang menempel di tubuh nenekku.
"Ada apa ini?" tanya ayahku yang baru datang. Kakek dan tanteku juga ikut masuk. Tetapi, aku bahkan tidak bisa berkata. Hanya air mata yang turun membasahi pipiku.
"Luis, nenekmu kenapa?" Suara ayahku terdengar di telingaku.
Aku jatuh ke lantai sambil terus menanggis.
"Maaf pak, kami sudah berusaha menyelamatkan pasien. Tetapi Dia lebih di cintai oleh sang khalik," kata dokter sebelum pergi.
Tante dan kakek, mendatangi mayat nenekku dengan teriakan tangisannya.
Kesedihan yang begitu menyakitkan, untuk kedua kalinya, aku harus melihat orang yang aku sayangi meninggal di depan mataku.
****
Proses pemakaman telah selesai, aku masih duduk melamun di kursi. Ana, rahmat, fani, dan dion, datang menghampiriku.
"Kau terlambat luis," Kata ana.
"Seharusnya kau memberitahu kami dulu, sebelum membawa nenekmu ke rumah sakit. Kau kan tahu sendiri, masalah seperti itu tidak bisa di tangani dokter," Sahut rahmat.
"Luis, kau yang sabar. Semua ini berat untukmu, tetapi kau harus bangkit." Kata fani yang memberikan semangat padaku.
Aku tetap diam tanpa mengatakan apapun. Pandanganku kosong, aku sangat tidak menyanggka dengan semua ini.
Setelah temanku pergi, kini rian datang. Bajunya masih kotor karena membantu pemakaman nenekku.
"Luis, kau sedih?" pertanyaan yang begitu konyol.
Aky melihat ke arahnya dan memalingkan kembali pandanganku darinya.
"Jika sedih, jeluar jalan-jalan. Kita ke air terjun saja," katanya kembali.
"Luis..." Panggilnya ketika aku tidak merespon.
"Luis, kau sebaiknya keluar jalan-jalan bersama rian. Dari pada di sini, hanya melamun seperti tidak ada pekerjaan saja," kata ayahku.
"Kalau begitu, kami pamit dulu om," teriak rian sambil menarik tanganku.
Aku hanya bisa terkejut, tetapi tidak berani berbicara. Hanya mengikuti kemauan rian saja. Entah mengapa, saat di gengam rian sebagian masalahku seperti hilang.
Kini, aku dan rian sampai di air terjun. Dia ternyata sudah tahu tempatnya, padahal kemarin-kemarin minta di temani. Aku pikir dia tidak tahu.
"Luis, airnya begitu jernih. Ayo turun dan berenang," kata rian sambil membuka bajunya dan terjun ke sungai.
"Luis, sangat dingin. Cepat ke sini.." Katanya terus memanggil.
"Aku duduk di sini saja," kataku yang duduk di sebuah batu besar. Aku hanya memperhatikan rian yang asyik bermain air seperti anak kecil.
Tiba-tiba, rian berteriak minta tolong.
"Luis, tolong aku.." Katanya yang membuatku panik.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung terjun ke sungai dan di sambut tawa rian.
"Kau bercanda?" tanyaku dengan kesal. Aku kembali naik ke permukaan. Sementara rian terus tertawa.
"Luis, aku tergelam," katanya lagi, tetapi aku sudah tidak mau percaya lagi padanya. Mungkin rian sedang bercanda lagi.
"Jangan harap aku percaya," kataku yang hanya memperhatikan sambil mengejek.
"I..ini beneran luis," katanya lagi, sambil muncul dan tergelam ke dalam air.
akting rian begitu memukau, seperti orang tergelam beneran. Aku sama sekali tidak percaya, tidak semudah itu untuk membohongiku lagi.
"Tidak, aku tidak bisa lagi di bohongi," kataku sambil tersenyum mengejek.
"lu..lui.." Rian langsung hilang dari permukaan. Aku hanya tersenyum, ide konyol rian sudah bisa aku tebak.
"Mungkin, kau berpikir aku akan berubah pikiran. Makanya, kau menergelamkan dirimu agar terlihat asli," gumanku dalam hati, dan kembali duduk di batu besar.
Air sungai ini tidak terlalu dalam, tetapi tian tidak kunjung naik ke permukaan. Aku mendekat untuk mengamati, tetapi tidak melihat rian juga.
"Apa jangan-jangan rian benar tergelam?" tanyaku, yang mulai berpikir.
Aku langsung terjun dan berenang mencari rian. Ternyata benar, rian tergelam. Kakinya terikat rumput yang menjalar panjang. Aku berusaha melepasnya. Setelah terlepas, rian perlahan ke permukaan.
Ketika ingin menyusul rian, suara seperti bisikan terdengar di telingaku.
"Nak, temani nenek di sini," katanya dengan suara yang agak serak.
Aku menelan ludahku dan berusaha berenang. Tiba-tiba sebuah tangan yang penuh darah memegang kakiku. Dan seorang nenek-nenek dengan rambut putih datang memelukku.
"Nak, nenek kesepian. Temani nenek ya!," katanya yang tidak ingin melepasku.
"Hem hem hem," aku tidak bisa bicara di dalam air, hanya sebuah isyarat yanga aku berikan.
"Tidak nak, nenek sudah terlanjut menyayangimu. Temani nenek anak pintar," kata nenek dengan suara tertawa.
Dia kemudian menarikku semakin ke bawah, aku terus memberontak sambil menggeleng kepala. Tetapi sang nenek begitu kuat.
"He eh em em" kataku dengan mulut tidak terbuka. Aku ingin agar sang nenek melepasku, aku sudah kehabisan nafas. Tetapi, semakin aku memberontak, semakin membuat sang nenek tertawa senang.
"Aku sudah punya teman, aku tidak akan kesepian lagi," katanya dengan wajah yang berbinar-binar.
Sang nenek memegang tangaku, kemudian wajahku dan kini dia mencekikku. Aku berusaha melepas tangannya dari leherku, tetapi aku tetap tidak bisa.
"Luis..." Aku mendengar teriakan dari atas. Aku berusaha bernafas, tetapi cekikan nenek ini begitu kuat.
"To..Tolong..." Teriakku perlahan dalam hati dan membuatku pingsan.
Tiga menit kemudian...
Aku terbangun dan melihat rian tersenyum padaku. Hanya sebuah cahaya di depanku, aku bingun dengan diriku.
"Sekarang kita berada di mana?" tanyaku pada rian yang mendekat ke arahku.
"Maafkan aku luis," jata rian yang membuatku bingung. Kenapa juga dia harus minta maaf.
"Tidak perlu minta maaf, kau tinggal mengatakan padaku, di mana ini?" tanyaku yang semakin penasaran.
"Selamat tinggal luis.." Kata rian sambil berjalan menuju pintu di depannya.
"Rian, jangan tinggalkan aku sendirian di sini. Aku takut, aku mau ikut," teriakku, tetapi rian tetap berjalan dan semakin mendekati pintu.
"Rian, tunggu aku.." Kataku sambil berjalan menyusul rian.
Pintu sudah terbuka, kini rian sudah masuk. Sebelum dia pergi, dia melambaikan tangan padaku.
Tiba-tiba, cahaya langsung menghilang dan hanya gelap yang aku lihat. Pintu yang di masuki rian, sudah tidak bisa aku lihat lagi.
"Rian, rian jangan tinggalkan aku..." Teriakku dengan kencang, berharap rian mendengar dan datang kembali menjemputku.
Pintu di buka, bayangan seorang berdiri di pintu. Aku tersenyum lebar, ternyata rian kembali menjemputku.
"Maaf nak, aku tidak lagi kesepian," Suara yang bukan suara rian. Wajah nenek-nenek terlihat di depan mataku, aku sangat terkejut. Yang datang bukanlah rian, melainkan nenek-nenek yang buruk rupa. Di wajahnya, banyak luka goresan di mana-mana.
"Kau siapa?" tanyaku yang mundur kebelakang.
Sang nenek hanya tertawa yang membuat kupingku terasa mau pecah. Aku menutup telingaku, sambil menunduk.
Tak...
Aku di pukul dari belakang, yang membuat diriku tidak bisa melihat apapun.