Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desakan Maura
Keributan rumah tangga Nadya dan Puguh belumlah berakhir. Setiap hari, ibunya Puguh selalu datang ke rumah untuk memaksakan pernikahan siri Puguh dengan Maura.
Semakin hari, rencana Nadya dan Puguh tidak pernah terlaksana. Puguh seperti mulai menghindari Nadya karena masalah yang menimpanya tak kunjung berakhir.
"Mas, bisa bicara sebentar?" Walaupun Nadya sedang bersitegang dengan suaminya, dia tetap menyiapkan segala kebutuhannya.
Puguh pun tidak menolak semua perhatian yang diberikan Nadya. Dia tetap bersikap layaknya suami istri pada umumnya. Dia juga selalu memberikan uang belanja seperti biasanya.
"Katakan saja."
"Sejujurnya aku merasa tertekan dengan hubungan ini, Mas. Setiap kali ibu datang ke rumah untuk memaki-maki aku karena tak kunjung hamil. Rencana kita untuk mengadopsi pun belum terlaksana sampai detik ini juga. Belum lagi ditambah rencana ibu yang selalu memaksamu untuk menikahi Maura. Kalau tahu seperti ini, mending kamu rujuk dengan Sashi, Mas," terang Nadya.
Puguh menghentikan sarapan paginya. Dia benar-benar tidak terima atas ucapan Nadya barusan.
"Mengapa kamu mengatakan seperti itu, Nadya? Bukankah dulu kamu yang memintaku untuk bercerai dari Sashi?"
"Setidaknya Sashi masih bisa menghormatiku dengan baik. Tidak seperti Maura yang memakai cara licik dengan menggunakan ibu sebagai tamengnya."
Nadya benar. Sashi memang wanita yang baik. Lalu, mengenai masalahnya beberapa bulan yang lalu, sehingga membuat Puguh menuduh Sashi perempuan yang berzina nyatanya masih lebih baik wanita itu daripada Maura.
"Tapi, Nad. Aku tidak mungkin meminta rujuk padanya. Sudah beberapa bulan ini kami tidak pernah bertemu."
"Kamu tidak harus meminta rujuk padanya, tetapi tegaskan pada ibu untuk menolak pernikahanmu dengan Maura, Mas. Aku pernah sakit hati pada Sashi, apakah sekarang kamu tega membuatku sakit hati lagi? Kalau kamu tidak bisa menentukan pilihan, aku akan mempermudah pilihanmu, Mas."
"Apa maksudmu?"
Nadya mendekati suaminya. Dia menggenggam erat tangan pria yang sudah menikah dengannya selama bertahun-tahun itu.
"Aku tidak mungkin membuatmu memilih antara aku atau ibu, tetapi pilihlah antara aku atau Maura. Maka tentukan pilihanmu!"
Nadya kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan sarapan pagi. Dia mulai berusaha membuka catering kecil-kecilan di rumahnya karena takut kalau sewaktu-waktu suaminya meminta cerai, dia sudah siap dengan segala konsekuensinya.
Puguh terdiam. Selama ini hubungan rumah tangganya baik-baik saja. Walaupun Sashi pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya, wanita itu memang tak pernah sedikitpun berniat menghancurkan kehidupan rumah tangganya dengan Nadya.
"Aku akan memikirkannya lagi, Nad. Bersabarlah. Ini ujian rumah tangga kita. Semoga setelah ini semuanya akan baik-baik saja."
"Itu tidak akan mudah selagi Maura masih mendekati ibu."
Nadya mengambil piring kotor bekas makan suaminya. Berbincang selagi makan memang jarang sekali dilakukan. Namun, Nadya tidak mampu menahan gejolak di hatinya. Dia cukup bersabar menghadapi segala situasi seperti ini. Sampai kapan? Ada kalanya dia merasa lelah dan butuh di mengerti. Setiap masalah pun butuh penyelesaian, bukan hanya sekadar rencana yang tak kunjung usai.
"Mas hari ini ragu kalau pergi ke kantor. Apa Mas minta izin pada atasan supaya kita bisa pergi ke rumah ibu lagi? Kita bertemu ayah juga. Jujur, aku juga merasa tertekan dengan semua ini."
"Mas pergi ke kantor saja. Tak masalah dengan kondisiku sekarang. Sore hari sepulang kerja, kita baru ke rumah ibu dan ayah. Aku juga harus menyelesaikan pesanan tetangga sebelah. Tak banyak, tetapi untuk menambah uang belanjaku."
Puguh tak bisa menghentikan istrinya untuk membuka usaha. Setiap Puguh melarang dan mengatakan kalau rumah tangganya akan baik-baik saja, Nadya selalu beralasan. Dia khawatir kalau sewaktu-waktu suaminya meminta cerai karena lebih memilih wanita lain, Nadya harus mempersiapkan diri dan keuangan yang didapatkan dari usahanya.
...***...
Puguh memutuskan untuk ke kantor. Di siang hari, biasanya dia lebih memilih makan siang di restoran yang tak jauh dari kantornya.
Baru saja duduk dan hendak memesan makanan, seorang wanita tiba-tiba duduk di hadapannya.
"Mas Puguh," sapa wanita itu yang ternyata adalah Maura. "Hemm, rupanya semesta setuju dengan hubungan kita ya, Mas. Buktinya, makan siang saja bisa bertemu seperti ini. Kamu apa kabar, Mas?"
"Untuk apa kamu di sini?" tanya Puguh dengan tatapan tidak suka. Hubungannya telah lama berakhir. Semenjak adanya Nadya, kehidupan Puguh benar-benar berubah sampai semua masalah bermula ketika Sashi masuk ke dalam kehidupannya.
Semua itu hanya berjalan sebentar. Sashi ternyata wanita yang baik. Dia lebih memilih untuk mundur daripada melanjutkan pernikahannya. Walaupun sebenarnya Sashi harus rela meninggalkan wasiat yang diberikan orang tuanya sebelum meninggal. Dia tidak bisa menyakiti orang lain terlalu lama walaupun bukan keinginannya.
"Untuk menagih janjimu, Mas. Kamu sadar atau tidak telah membiarkan anak orang lain terluka seperti ini. Aku bahkan tidak mau menikah dengan pria lain. Aku maunya menikah denganmu, Mas," jelas Maura.
Maura kecewa dan sakit hati saat tahu Puguh memutuskan dirinya kemudian menikah. Wajar saja kalau sekarang dia datang untuk membuat perhitungan dengan mantan kekasihnya itu.
"Maura, kurasa lebih baik kamu pulang. Aku mau makan siang. Aku merasa terganggu dengan kedatanganmu. Oh ya, jangan sekali-kali kamu memanfaatkan ibuku untuk memuluskan niat jahatmu itu!" Puguh geram sekali. Walaupun terkadang dia juga hampir mau mengikuti ucapan ibunya. Terkadang dalam kondisi terdesak, Puguh menjadi pria yang plin-plan.
"Tidak semudah itu, Mas Puguh! Luka yang kamu torehkan padaku begitu dalam." Maura menatap tajam wajah Puguh dengan tatapan kebencian dan hanya sedikit rasa cinta yang tersisa. Namun, karena Maura sampai sekarang belum menikah, dia memutuskan untuk mencari Puguh lagi. Dia ingin meminta pertanggungjawaban darinya.
"Maura, aku sudah menikah. Sebaiknya kamu jauhi aku dan keluargaku. Jangan sampai aku berbuat nekad untuk memenjarakanmu!" ancam Puguh agar wanita itu lekas menghindarinya.
Benar-benar sial bagi Puguh. Dia hendak memesan makanan, tetapi keberadaan Maura membuatnya hilang selera makannya.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Mas. Aku akan berhenti sampai kamu mengatakan siap menikahiku. Aku tak masalah harus menjadi istri kedua, asalkan aku bersamamu. Ini tidak sebanding dengan luka yang kamu tinggalkan, loh." Maura terus saja memaksa supaya Puguh mengiyakan kemauannya.
Puguh merasa risih sekali. Harus berapa kali pria ini menolak mantan di masa lalunya. Ternyata Maura tidak mau menyerah.
"Maura, aku tegaskan sekali lagi. Aku tidak akan pernah menikahimu."
Puguh berdiri hendak meninggalkan meja restoran yang hanya disinggahi beberapa menit karena kehadiran Maura. Namun, Maura menarik tangannya untuk tetap berada di tempat.
"Kamu bisa meninggalkan aku kapanpun yang kamu mau, Mas. Sebelum kamu pergi, bisa jelaskan apa hubunganmu dengan Sashi?" tanya Maura.
Rasanya Maura memang benar-benar berubah. Dulu, dia seperti menjadi gadis culun yang tidak mengerti apapun. Jangankan untuk mengerti, menggertak pun tak pernah dia lakukan. Rasanya sangat aneh juga kalau dia bisa tahu segalanya tentang kehidupan Puguh. Untuk kali ini, Puguh benar-benar merasa terdesak.