NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Bab 9

Empat belas tahun yang lalu. Rumah Ki Sarowang di lereng Gunung Lawu.

Lusi masih berumur enam tahun ketika ia pertama kali diperkenalkan dengan warisan keluarganya.

Saat itu bulan suro. Ia ingat karena ibunya selalu membangunkannya di malam satu suro dan mengajaknya ke belakang rumah, di mana kakek buyutnya sedang duduk bersila di atas tikar pandan, dikelilingi kemenyan dan bunga-bunga.

"Ayo, Nduk. Duduk sini."

Ki Sarowang saat itu masih terlihat lebih muda rambutnya masih hitam dengan sedikit uban di pelipis, punggungnya masih tegak, suaranya masih menggelegar. Tapi tatapan matanya sudah setua dunia. Tatapan yang seolah sudah melihat segalanya: kelahiran, kematian, cinta, pengkhianatan, dan segala hal di antaranya.

"Mbah Buyut mau ngajarin aku apa?" tanya Lusi kecil sambil duduk dengan kaki selonjoran belum bisa bersila.

"Hari ini Mbah cuma mau lihat, Nduk. Sini, tanganmu."

Lusi mengulurkan tangan mungilnya. Ki Sarowang menggenggamnya. Jemarinya yang keriput menelusuri garis-garis di telapak tangan Lusi. Ia terdiam lama. Matanya menyipit. Dahinya berkerut.

"Ada apa, Mbah?" tanya ibunya yang berdiri di samping mereka.

Ki Sarowang tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, melepaskan tangan Lusi, lalu menatap cucunya, ibu Lusi dengan tatapan berat.

"Anak ini punya api, Yu."

"Api?"

"Api warisan. Sama seperti eyangku dulu. Sama seperti aku." Ia menoleh ke arah Lusi yang sedang sibuk mengamati kumbang yang hinggap di bunga. "Tapi apinya besar. Terlalu besar. Kalau tidak dilatih, bisa membakar dirinya sendiri. Atau... orang lain."

Ibu Lusi menelan ludah. "Maksud Mbah, Lusi bisa... seperti Mbah?"

"Bisa. Tapi aku tidak mau itu terjadi." Ki Sarowang menatap tajam cucunya. "Kamu jangan ajari dia apa-apa dulu. Biarkan dia jadi anak biasa. Biarkan dia main, belajar, tumbuh seperti anak-anak lain. Kalau suatu hari nanti dia membutuhkan ilmunya sendiri... api itu akan bangun dengan sendirinya. Dan saat itu terjadi, baru bawa dia ke sini."

Sang ibu mengangguk, meski ada keraguan di matanya.

Dan Ki Sarowang kembali menatap Lusi kecil yang sekarang sudah tertidur di atas tikar, memeluk boneka kain lusuhnya. Lelaki tua itu membelai rambut cicitnya dengan tangan yang bisa memanggil hujan, menolak bala, dan konon mencabut nyawa orang hanya dengan sekali kedipan mata.

"Cucuku..." bisiknya. "Semoga kau tidak pernah membangunkannya."

Sekarang. Terminal Tawangmangu. Pukul 14.30 siang.

Bus berhenti dengan decitan rem yang memekakkan telinga. Lusi turun dengan ransel lusuhnya, melangkah ke aspal terminal yang retak-retak. Udara di sini sangat berbeda dengan Surabaya, dingin menusuk tulang, bersih, dan beraroma tanah basah bercampur getah pinus. Kabut masih menggantung rendah di antara puncak-puncak pohon. Di kejauhan, Gunung Lawu berdiri kokoh, puncaknya tertutup awan gelap.

"Lusi! LUSI!"

Suara itu. Lusi menoleh.

Seorang perempuan setengah baya berlari ke arahnya. Badannya kecil, rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh kerutan tapi ramah. Ia memakai kebaya lusuh dan kain batik yang sudah pudar warnanya.

"Bi Tun..." suara Lusi tiba-tiba serak.

Bibi Lastri atau Bi Tun, begitu Lusi memanggilnya sejak kecil adalah perempuan yang membantu Ki Sarowang di rumahnya. Ia bukan keluarga. Tapi ia sudah tinggal di sana sejak sebelum Lusi lahir. Ia yang memasak, membersihkan rumah, dan kadang-kadang membantu menyiapkan sesajen kalau Ki Sarowang sedang melakukan ritual.

"Ya Allah, Nduk..." Bi Tun langsung memeluk Lusi begitu dekat. "Kamu kenapa? Kok kurus banget? Muka kamu pucet. Bibir kamu pecah-pecah. Kamu sakit ya?"

Lusi tidak menjawab. Ia hanya berdiri kaku dalam pelukan Bi Tun, seperti boneka kain yang kehilangan isinya.

"Mbah Buyut ada, Bi?"

"Ada, ada. Beliau di rumah. Sejak kamu telpon tiga hari yang lalu, beliau nggak bisa tidur, lho. Tiap malem cuma duduk di pendopo, merokok, ngopi, sama nerawang. Beliau bilang... 'Ada apa dengan cucuku?'"

Tiga hari. Ki Sarowang sudah menunggu selama tiga hari. Dan selama tiga hari itu pula ia tidak tidur, menatap langit malam dengan mata yang bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang biasa.

Lusi tidak tahu itu. Tapi mendengar Bi Tun mengatakannya, sebersit rasa bersalah menyusup ke dalam dadanya. Kakek buyutnya sudah tua. Sudah renta. Harusnya ia tidak membebani lelaki tua itu dengan masalahnya.

Tapi ia tidak punya pilihan.

"Yuk, Nduk. Naik ojek dulu. Rumah masih setengah jam lagi."

Rumah Ki Sarowang. Pukul 15.00 sore.

Rumah itu berdiri di atas bukit kecil, setengah tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon pinus dan bambu. Bangunannya bergaya joglo kuno atapnya tinggi menjulang, terbuat dari sirap kayu jati yang sudah menghitam dimakan usia. Dindingnya dari anyaman bambu yang dicat putih, tapi catnya sudah mengelupas di sana-sini. Di halaman depan, bunga-bunga kamboja berjajar rapi, putih dan merah, menebarkan aroma manis yang menusuk hidung.

Tapi yang paling mencolok adalah gerbangnya.

Gerbang itu terbuat dari kayu jati hitam, diukir dengan pola-pola rumit: naga, burung garuda, dan aksara Jawa kuno yang berjejer di sepanjang sisi-sisinya. Konon, gerbang itu tidak hanya berfungsi sebagai pintu masuk. Tapi juga sebagai penolak bala. Siapa pun yang masuk ke sini dengan niat jahat, gerbang itu akan membacanya. Dan konon, ada beberapa orang yang tidak bisa masuk sama sekali terpental oleh kekuatan yang tidak terlihat.

Tapi Lusi bisa masuk dengan mudah. Gerbang itu mengenalinya. Gerbang itu tahu bahwa ia adalah darah daging sang pemilik rumah.

"LUSI!"

Suara itu menggelegar sebelum Lusi sempat menapakkan kaki di halaman.

Ki Sarowang berdiri di ambang pendopo. Tubuhnya yang dulu tegap kini sudah membungkuk. Rambutnya yang dulu cuma beruban di pelipis kini sudah putih semua, panjang tergerai sampai bahu. Kulitnya keriput, tapi matanya mata itu masih sama. Mata yang bisa menembus jiwa. Mata yang sekarang menatap Lusi dengan campuran emosi yang sulit diartikan: kaget, khawatir, marah, dan... takut.

Takut pada apa yang akan ia dengar.

"Mbah..." Lusi melangkah maju. Kakinya gemetar. Bukan karena perjalanan panjang. Tapi karena beban cerita yang harus ia keluarkan. "Mbah Buyut..."

Dan di hadapan kakek buyutnya, di halaman rumah joglo yang sunyi, Lusi akhirnya ambruk. Lututnya jatuh ke tanah. Bahunya bergetar. Air mata yang selama tiga hari tidak bisa keluar... akhirnya keluar juga. Bukan menangis. Melolong. Seperti serigala yang terluka. Suaranya pecah, memenuhi seluruh lembah.

"Mbah... Mbah Buyut... aku... aku..."

Ki Sarowang tidak bergerak. Tidak berlari memeluknya. Tidak menangis bersamanya. Ia hanya berdiri di ambang pendopo, menatap cicitnya dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu, dengan suara yang bergetar suara yang tidak pernah terdengar dari mulutnya selama delapan puluh tahun hidupnya ia berkata:

“Sopo, Nduk?”

(Siapa, Nduk?)

Lusi mendongak. Wajahnya basah kuyup oleh air mata dan ingus. "A-apa?"

“Sopo.”

(Siapa.)

Suara Ki Sarowang sekarang lebih berat. Lebih dalam. Lebih dingin.

“Sopo seng gawe kowe koyo ngene?”

(Siapa yang membuatmu menjadi seperti ini?)

Dan di saat itu, Lusi melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Mata kakek buyutnya berubah warna. Dari cokelat tua menjadi keemasan. Seperti mata elang. Seperti mata serigala. Seperti mata sesuatu yang bukan manusia.

Api warisan.

Api yang sama yang ada di dalam dirinya. Hanya saja, api Ki Sarowang sudah terlatih. Sudah matang. Sudah siap membakar apa pun yang menghalangi jalannya.

Dalam tiga hari belakangan, Lusi merasakan sesuatu selain sakit dan marah.

Ia merasakan... harapan.

[BERSAMBUNG…]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!