Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misteri ibu kandung
Langit New York diselimuti awan kelabu ketika mobil Galaxy melaju meninggalkan gedung tua itu.
Di dalam mobil, suasana begitu hening.
Grizella masih memikirkan pesan terakhir yang diterima Galaxy.
"Cari tahu siapa ibu kandung Grizella."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Ia menoleh ke arah Galaxy yang sedang fokus menyetir.
"Galaxy..."
Pria itu mengalihkan pandangan sesaat.
"Hm?"
"Pesan itu..."
"Apa maksudnya?"
Galaxy menghela napas pelan.
"Aku belum tahu."
"Tapi aku akan mencari jawabannya."
Grizella menggigit bibir bawahnya.
"Saya dibesarkan oleh ibu saya sejak kecil."
"Beliau meninggal ketika saya berusia enam belas tahun."
Galaxy mengangguk.
"Aku tahu."
"Tapi mungkin..."
"Masih ada bagian dari masa lalumu yang belum kau ketahui."
Ucapan itu membuat Grizella semakin gelisah.
Selama ini ia tidak pernah meragukan asal-usul keluarganya.
Namun kini, semua terasa dipenuhi tanda tanya.
Keesokan paginya...
Galaxy memanggil Aaron ke ruang kerjanya.
"Aaron."
"Ya, Tuan."
"Aku ingin semua data tentang keluarga Dealova."
"Termasuk catatan kelahiran Grizella."
Aaron tampak sedikit terkejut.
"Apakah penyelidikan ini berkaitan dengan pesan semalam?"
Galaxy mengangguk.
"Aku merasa seseorang sengaja mengarahkan kita ke masa lalu."
Aaron segera mencatat semua perintah.
"Baik, Tuan."
Sementara itu, Grizella mencoba menghubungi bibi yang membesarkannya setelah ibunya meninggal.
Sambungan telepon akhirnya tersambung.
"Bibi..."
"Grizella? Ada apa, Nak?"
Grizella menarik napas dalam.
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Waktu saya kecil..."
"Apakah Ibu pernah bercerita tentang keluarga kami?"
Di ujung telepon, bibinya mendadak diam.
Keheningan itu berlangsung cukup lama.
"Bibi?"
Suara wanita itu terdengar pelan.
"Ada beberapa hal..."
"Yang memang tidak pernah ibumu ceritakan kepadamu."
Jantung Grizella berdegup semakin cepat.
"Maksud Bibi?"
"Kalau kau ingin tahu semuanya..."
"Pulanglah."
Grizella membeku.
"Pulang?"
"Ke rumah lama ibumu."
"Masih ada sesuatu yang disimpan di sana."
Telepon pun terputus.
Siang harinya...
Aaron kembali membawa hasil penyelidikan awal.
Galaxy membuka map berwarna cokelat itu.
"Bagaimana?"
"Ada kejanggalan, Tuan."
Galaxy mengangkat alis.
"Kejanggalan apa?"
Aaron menunjukkan salinan akta kelahiran Grizella.
"Dokumen ini pernah diubah."
Galaxy langsung memeriksanya.
Di bagian nama ibu kandung terdapat bekas perubahan data administrasi yang dilakukan bertahun-tahun lalu.
"Tidak mungkin..."
Galaxy mengernyit.
"Siapa yang mengubahnya?"
Aaron menggeleng.
"Nama petugas sudah dihapus dari arsip."
Galaxy mengepalkan tangannya.
Berarti seseorang benar-benar berusaha menyembunyikan identitas ibu kandung Grizella.
Sore menjelang malam.
Galaxy mengajak Grizella ke rumah lamanya di pinggiran kota.
Rumah itu sudah lama kosong.
Cat dindingnya mulai memudar, tetapi bangunannya masih berdiri kokoh.
Grizella membuka pintu perlahan.
Debu tipis memenuhi ruangan.
Ia melangkah masuk dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Semua kenangan masa kecilnya kembali memenuhi ingatan.
Galaxy berjalan di belakangnya tanpa banyak bicara.
Ia membiarkan Grizella menikmati setiap kenangan yang tersisa.
Tiba-tiba Grizella berhenti di depan sebuah lemari kayu tua.
"Ini..."
Ia perlahan membuka laci paling bawah.
Di sana terdapat sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat.
Kotak itu terkunci.
Namun di atas tutupnya tertulis sebuah nama yang membuat Galaxy ikut membeku.
"Untuk Grizella, buka saat waktunya tiba."
Mereka saling berpandangan.
Apakah isi kotak itu akan menjawab semua pertanyaan?
Atau justru membuka rahasia yang lebih besar?
Grizella memandangi kotak besi tua itu tanpa berkedip.
Debu yang menempel di permukaannya menandakan bahwa benda itu telah tersimpan selama bertahun-tahun.
Di atas tutupnya masih terukir jelas kalimat itu.
"Untuk Grizella, buka saat waktunya tiba."
Jantung Grizella berdegup semakin cepat.
"Apa... ini peninggalan Ibu?"
Galaxy berdiri di sampingnya.
"Kemungkinan besar."
Grizella mencoba membuka kunci kotak itu.
Namun tidak berhasil.
"Kuncinya tidak ada."
Galaxy memperhatikan lubang kuncinya.
"Jangan dipaksa."
"Kalau rusak, isi di dalamnya juga bisa ikut rusak."
Grizella mengangguk pelan.
Ia mengusap permukaan kotak itu dengan hati-hati, seolah sedang menyentuh kenangan terakhir ibunya.
Mereka mulai mencari di seluruh rumah.
Lemari.
Rak buku.
Laci meja.
Hingga ruang loteng yang sudah lama tidak dibuka.
Di sudut loteng, Grizella menemukan sebuah kotak kayu kecil berisi album foto lama.
Ia membukanya perlahan.
Foto-foto masa kecilnya tersusun rapi.
Ada foto saat ulang tahun, saat masuk sekolah, dan saat bermain di taman bersama ibunya.
Grizella tersenyum haru.
"Saya sangat merindukannya."
Galaxy tidak berkata apa-apa.
Ia hanya berdiri di samping Grizella, memberikan ruang bagi wanita itu menikmati kenangannya.
Tiba-tiba sebuah foto terlepas dari album.
Foto itu menampilkan ibu Grizella bersama seorang pria yang mengenakan jas hitam.
Wajah pria itu sengaja disobek hingga tidak terlihat.
Grizella mengernyit.
"Saya belum pernah melihat foto ini."
Galaxy mengambilnya dengan hati-hati.
"Siapa pria ini?"
Grizella menggeleng.
"Saya tidak tahu."
Di balik foto terdapat tulisan tangan yang mulai memudar.
"Maafkan kami, Grizella. Semua ini demi keselamatanmu."
Galaxy membaca tulisan itu berulang kali.
Kalimat tersebut bukan tulisan biasa.
Itu seperti pesan yang sengaja ditinggalkan.
Sementara itu...
Aaron menelepon Galaxy.
"Tuan."
"Ada perkembangan."
Galaxy segera mengangkat panggilan itu.
"Katakan."
"Kami menemukan data lama rumah sakit tempat Grizella dilahirkan."
Galaxy langsung fokus.
"Bagaimana hasilnya?"
"Ada dua berkas kelahiran."
"Dua?"
"Ya, Tuan."
"Nama bayinya sama."
"Tetapi nama ibunya berbeda."
Galaxy terdiam.
"Dua identitas?"
"Benar."
"Seolah-olah seseorang sengaja mengganti data setelah Grizella lahir."
Galaxy menoleh ke arah Grizella yang masih memegang album foto.
Semakin jauh mereka mencari jawaban...
Semakin rumit semuanya.
Tak lama kemudian, Grizella menemukan sebuah kotak musik kecil di balik lemari.
Saat diputar, terdengar melodi lembut yang pernah dinyanyikan ibunya sebelum tidur.
Namun ketika kotak musik itu terbuka sempurna...
Sebuah kunci kecil jatuh ke lantai.
Ting...
Grizella membungkuk dan mengambilnya.
"Galaxy..."
"Kurasa ini kunci kotak besi."
Mereka segera kembali ke ruang tamu.
Dengan tangan sedikit gemetar, Grizella memasukkan kunci itu ke dalam lubang.
Klik.
Kunci berhasil terbuka.
Perlahan, ia mengangkat tutup kotak.
Di dalamnya hanya ada tiga benda.
Sebuah kalung berliontin bunga lily berwarna perak.
Sepucuk surat yang masih tersegel.
Dan sebuah flash drive hitam tanpa label.
Galaxy saling berpandangan dengan Grizella.
Lambang bunga lily itu kembali muncul.
Lambang yang sejak awal selalu menjadi petunjuk dalam setiap teror.
Grizella mengambil surat itu.
Di bagian depannya tertulis:
"Hanya Galaxy Adelion Wesley yang boleh membaca surat ini."
Grizella membeku.
"Kenapa... nama Anda?"
Galaxy pun ikut terkejut.
Sebelum sempat membuka surat tersebut, terdengar suara kaca jendela pecah dari belakang rumah.
PRAANG!
Seseorang berhasil masuk ke dalam rumah.
Dan dari luar terdengar suara pria yang sangat mereka kenal.
"Serahkan kotak itu!"
Suara itu...
Adalah suara Adrian.
PRAANG!
Pecahan kaca berserakan di lantai ruang tamu.
Grizella refleks mundur selangkah sambil memeluk kotak besi itu.
Galaxy langsung berdiri di depannya, menjadikan tubuhnya sebagai pelindung.
"Grizella, tetap di belakangku."
Suara Galaxy terdengar tenang, tetapi penuh kewaspadaan.
Dari balik jendela yang pecah, Adrian melangkah masuk dengan dua orang bertubuh besar.
Tatapannya langsung tertuju pada kotak besi di tangan Grizella.
"Akhirnya kalian menemukannya."
Galaxy menatap Adrian tanpa gentar.
"Jadi memang kau yang mengincar kotak ini."
Adrian tersenyum tipis.
"Aku hanya mengambil sesuatu yang bukan milik kalian."
Galaxy mengepalkan tangan.
"Kalau begitu, datang dan ambil sendiri."
---
Salah satu anak buah Adrian maju lebih dulu.
Galaxy dengan sigap mendorong Grizella ke belakang sofa.
"Berlindung!"
Pria itu mencoba menerjang, tetapi Galaxy berhasil menangkis serangannya.
Pertarungan singkat pun terjadi di ruang tamu rumah tua itu.
Grizella yang melihat kesempatan segera meraih ponselnya.
Tangannya gemetar saat menghubungi Aaron.
"Aaron! Kami diserang di rumah lama!"
"Apa? Kami berangkat sekarang!"
Sambungan telepon terputus.
Sementara itu, Galaxy berhasil menjatuhkan salah satu penyerang.
Namun Adrian tidak bergerak sedikit pun.
Ia hanya mengawasi dengan senyum tipis.
"Galaxy..."
"Kau masih sehebat dulu."
Galaxy menatapnya tajam.
"Siapa yang menyuruhmu?"
Adrian menggeleng pelan.
"Kalau kuberitahu sekarang, permainan ini akan terlalu cepat selesai."
---
Saat Galaxy lengah sesaat, Adrian bergerak cepat ke arah Grizella.
"Serahkan kotaknya!"
Grizella memeluk kotak besi itu erat.
"Tidak!"
Adrian hampir meraihnya.
Namun Galaxy datang tepat waktu dan menarik Grizella ke belakang tubuhnya.
"Cukup!"
Suara Galaxy menggema memenuhi ruangan.
Tatapan matanya kini dipenuhi kemarahan.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Grizella."
Kalimat itu membuat Grizella membeku.
Ia menatap punggung Galaxy.
Untuk pertama kalinya, pria itu mengatakannya secara terang-terangan.
Ia akan melindunginya.
Apa pun risikonya.
---
Tak lama kemudian, suara sirene keamanan terdengar dari luar rumah.
Aaron bersama tim keamanan Wesley Corporation tiba.
Melihat keadaan mulai tidak menguntungkan, Adrian tersenyum tipis.
"Kali ini kalian menang."
"Tapi ingat satu hal."
Ia menatap Galaxy.
"Kebenaran selalu memiliki harga."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Adrian dan kedua anak buahnya melarikan diri melalui pintu belakang.
Tim keamanan mengejar mereka.
Namun Adrian berhasil menghilang.
---
Rumah kembali sunyi.
Galaxy menoleh kepada Grizella.
"Kau terluka?"
Grizella menggeleng pelan.
"Tidak."
Galaxy mengembuskan napas lega.
Tanpa sadar, ia menggenggam kedua bahu Grizella.
"Jangan pernah mempertaruhkan keselamatanmu lagi."
Grizella tersenyum lembut.
"Kalau saya menyerahkan kotak itu, semua petunjuk akan hilang."
Galaxy menatapnya beberapa detik.
Lalu perlahan tersenyum tipis.
"Itulah yang membuatmu berbeda."
---
Malam itu, mereka kembali ke penthouse.
Kotak besi diletakkan di atas meja kerja.
Galaxy memandang surat yang masih tersegel.
Di bagian depan masih tertulis jelas:
"Hanya Galaxy Adelion Wesley yang boleh membaca surat ini."
Dengan hati-hati, ia membuka segelnya.
Isi surat itu hanya beberapa lembar.
Namun sejak kalimat pertama, wajah Galaxy berubah pucat.
«"Galaxy, jika surat ini sudah sampai di tanganmu, berarti kami gagal melindungi Grizella. Ketahuilah bahwa gadis itu sama sekali bukan musuhmu. Justru suatu hari nanti, hanya dia yang mampu menyelamatkan keluarga Wesley dari kehancuran..."»
Galaxy membaca hingga halaman terakhir.
Di bagian bawah surat terdapat tanda tangan yang membuat napasnya tertahan.
Alexander Wesley.
Ayahnya sendiri.
Grizella melihat perubahan ekspresi Galaxy.
"Ada apa?"
Galaxy perlahan menutup surat itu.
Tangannya masih bergetar.
"Grizella..."
"Ayahku mengenal ibumu."
Belum sempat Grizella mencerna ucapan itu, flash drive hitam yang ada di dalam kotak tiba-tiba menyala dengan lampu merah kecil.
Layar laptop di meja menyala sendiri.
Sebuah video mulai diputar otomatis.
Di layar muncul sosok seorang wanita yang sangat mirip dengan Grizella.
Wanita itu menatap kamera dengan mata berkaca-kaca.
Lalu berkata pelan,
"Kalau kamu melihat rekaman ini, Grizella... berarti akhirnya kamu mengetahui bahwa aku bukan ibu kandungmu."
Grizella membeku.
Air matanya langsung mengalir tanpa bisa ditahan.
Video itu akan mengungkap identitas asli ibu kandung Grizella, sekaligus membuka rahasia yang menghubungkan keluarga Dealova dan keluarga Wesley selama lebih dari dua puluh tahun.