NovelToon NovelToon
BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat / Cintamanis / Patahhati / CEO
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Five Vee

Putri Regina Prayoga, gadis berusia 28 tahun yang hendak menyerahkan diri kepada sang kekasih yang telah di pacari nya selama 3 tahun belakangan ini, harus menelan pahitnya pengkhianatan.

Tepat di hari jadi mereka yang ke 3, Regina yang akan memberi kejutan kepada sang kekasih, justru mendapatkan kejutan yang lebih besar. Ia mendapati Alvino, sang kekasih, tengah bergelut dengan sekretarisnya di ruang tamu apartemen pria itu.

Membanting pintu dengan kasar, gadis itu berlari meninggalkan dua manusia yang tengah sibuk berbagi peluh. Hari masih sore, Regina memutuskan mengunjungi salah satu klub malam di pusat kota untuk menenangkan dirinya.

Dan, hidup Regina pun berubah dari sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31. Satu Sama.

Keesokan harinya, Alvino kembali menghubungi Regina. Merasa kasihan, wanita itu pun menjawab panggilan dari pria yang masih berstatus sebagai kekasihnya.

Pria itu mengajak Regina untuk makan siang bersama. Dan Regina menyanggupi. Ia tidak mau membuat Alvino curiga, jika dirinya terus menghindari pria itu.

“Makan siang dimana?” Tanya William saat sang sekretaris meminta ijin untuk keluar makan siang bersama Alvino.

Tentu dalam hati, William ingin sekali melarang. Namun, ia menyadari, dia bukanlah siapa-siapa untuk Regina saat ini. William tidak mau wanita itu merasa terkekang bersamanya. William ingin Regina perlahan jatuh cinta kepadanya karena ketulusan dan kebebasan yang William berikan.

Regina mendekat, wanita itu duduk di atas pangkuan sang atasan. Kedua tangannya pun melingkar sempurna pada leher pria tampan itu.

“Restoran di seberang gedung.”

William memicingkan matanya. Ia ikut melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang sekretaris.

“Apa tidak ada tempat yang lebih jauh? Sengaja ingin melihat aku cemburu?”

Regina mencebik. Ia merasa gemas dengan William. Pria yang terkadang bersikap dewasa, namun terkadang sangat kekanakan.

“Aku tidak ingin berlama-lama dengannya.”

“Benarkah?”

Kepala Regina mengangguk.

“Mau aku bawakan apa untuk makan siangmu?” Tanyanya sembari meneliti wajah tampan tanpa cela itu.

“Nafsu makan ku menghilang, saat mendengar kamu pergi dengan pria itu.”

“Jangan begitu. Aku hanya makan siang dengannya. Aku tidak mau dia curiga, jika aku terus menghindarinya.”

Kepala William mengangguk. Ia mengeratkan pelukan pada pinggang Regina. Kemudian membenamkan wajahnya diatas dada wanita itu.

“Bawakan saja nasi campur seperti biasa.” Ucapnya kemudian.

“Ya sudah, aku pergi dulu. Jangan sampai dia menghubungi aku lagi.” Wanita melepas belitan tangan William. Ia kemudian menangkup pipi sang atasan. Membuat bibir tebal pria itu mengerucut. Kemudian melabuhkan sebuah kecupan disana.

Regina pun meninggalkan William yang enggan melepasnya pergi. Wanita itu hanya mampu menggelengkan kepala, melihat tingkah atasannya.

Regina datang sedikit terlambat, ia sengaja berjalan kaki datang ke restoran itu. Selain karena letak tempat makan itu berada di seberang gedung Sanjaya, wanita itu juga ingin mengulur waktu, supaya ia tidak terlalu lama bersama Alvino.

“Maaf aku datang terlambat.” Ucap Regina sembari mengambil tempat duduk di depan Alvino.

Pria itu tersenyum. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa duduk berdua lagi, dengan wanita yang ia cintai.

“Tidak apa-apa, sayang.”

Tak lama kemudian, seorang pramusaji datang, membawa beberapa makanan yang sebelumnya sudah dipesan oleh Alvino.

“Aku sudah memesan makanan tadi sebelum kamu datang.” Ucapnya kemudian.

“Ya. Terima kasih, Vin.”

Mereka berdua makan dengan damai. Sesekali di selingi obrolan ringan.

“Sayang?”

“Ya.”

Alvino meletakkan alat makannya di atas piring yang telah kosong. Ia kemudian meminum sisa air di dalam gelas.

Menggeser piring kosong itu ke pinggiran meja, Alvino menumpangkan kedua tangannya di atas meja.

“Apa kamu sudah tidak tinggal di kontrakan?”

Deg!!

Regina yang tengah asyik menikmati hidangan penutup berupa puding coklat, seketika mengangkat pandangannya ke arah Alvino.

“Kenapa?” Tanyanya berusaha senormal mungkin. Agar pria itu tidak curiga.

“Tidak, hanya saja, beberapa kali aku datang kesana mencarimu, tetapi tidak menemukanmu, sayang. Salah satu tetanggamu, juga mengatakan jika kamu jarang terlihat pulang.”

Regina menghela nafasnya. Ia berusaha untuk memutar otaknya. Merangkai kalimat yang tepat, supaya menjadi alasan yang masuk di akal.

“Aku sering kerja lembur, terkadang harus berangkat pagi. Bagaimana pun, pak William masih baru di kantor. Aku mendapat tugas dari pak Antony, jika berhasil membuat pak William bekerja dengan baik, maka aku akan mendapatkan bonus dari rekening pribadinya. Lumayan kan?” Regina berbicara panjang lebar. Tak lupa ia membubuhkan senyuman di akhir kalimat panjangnya.

Alvino menghela nafasnya pelan. Entah kenapa hatinya merasa panas, membayangkan wanita yang di cintainya menghabiskan banyak waktu bersama pria lain.

“Apa kalian hanya berdua?”

Kepala Regina mengangguk.

“Apa harus berdua?” Ulang Alvino kembali.

“Ya mau bagaimana lagi, Vin. Namanya juga tuntutan pekerjaan.”

Regina menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia melipat kedua tangan di dada.

“Sama seperti kamu, dan juga Tamara.” Wanita itu menekan pengucapan nama sekretaris Alvino itu.

Alvino menjadi salah tingkah, ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.

“Aku dan Tamara, kami profesional dalam bekerja, sayang.” Jelas pria itu tanpa di minta.

‘Cih.. lihat lah, Vin. Kamu bahkan menjadi gugup. Apa kamu tidak mengerti maksudku? Aku dan William, sama seperti kamu dan Tamara.’

Wanita itu pun mencebikan bibirnya.

“Aku pun begitu.”

Di sudut restoran, Tamara sedang mengamati interaksi Alvino dan Regina. Hatinya menjadi panas, kala melihat perilaku Regina yang biasa saja. Bahkan mereka masih sempat tertawa bersama.

Wanita berusia 26 tahun itu, mengepalkan tangannya. Ia sengaja mengikuti kemana Alvino pergi, karena mendengar pria itu menghubungi Regina.

“Kita lihat Regina., tidak lama lagi, kamu bahkan tidak akan sudi duduk bersama dengan Alvino.”

******

“Permisi, pak.” Regina masuk kedalam ruangan sang atasan dengan menenteng papper bag, berisi kotak makanan.

Mendapati pria itu hanya diam, menatapnya dengan tatapan membunuh, membuat wanita itu bergidik ngeri.

‘Astaga, si girl masih terasa aneh akibat ulahnya semalam. Jangan katakan jika dia ingin menghabisi ku lagi.’

Regina berusaha untuk tetap tenang. Ia berjalan ke arah mini pantry, untuk mengambil peralatan makan. Kemudian menata makanan yang ia beli di atas piring.

“Bos.. makan siang dulu.” Ucapnya dengan nada suara yang di buat semendayu mungkin. Ia kembali mendekat ke arah meja sang atasan dengan piring berisi nasi campur.

“Aku tidak lapar.” Ucap pria itu dengan ketus.

Regina mengembungkan kedua pipinya, untuk menahan rasa gemas yang menggelitik di hati.

“Babe? Aku suapi ya?”

William mencebikan bibirnya. Berpura-pura marah, ternyata menguntungkan untuk dirinya. Di panggil sayang, kemudian di suapi. Ah, kapan lagi bisa begini.

Batin William bersorak gembira. Ia pun melanjutkan aksi marahnya, dengan tak menanggapi ucapan sang sekretaris.

Regina meletakan piring di atas meja kerja William. Dengan berani ia mendaratkan bokongnya di atas pangkuan William. Ia tidak perduli jika pria itu kini sedang marah.

“Ayo, buka mulutnya?” Sendok berisi nasi dan lauk, telah berada di depan bibir William, namun pria itu enggan membuka bibirnya.

“Will, ayo lah. Ini sudah lewat jam makan siang, jangan sampai kamu sakit nanti.”

“Apa kamu mengkhawatirkan aku?” Tanya pria itu sembari menatap lekat manik mata sang sekretaris.

Kepala Regina mengangguk. Ia meletakkan kembali sendok ke atas piring. Kemudian menangkup kedua pipi atasannya.

“Tentu aku mengkhawatirkan mu, William Antony.”

“Jika mengkhawatirkan aku, kenapa baru kembali? Waktu istirahat sudah lewat sepuluh menit.”

Regina membuang nafasnya kasar. Ia melepaskan kedua tangannya dari pipi pria tampan itu.

“Aku berjalan kaki, aku sengaja. Supaya tidak terlalu lama dengan Alvino.”

“Benarkah?” Tanya William meyakinkan.

“Benar. Maaf, karena aku, kamu jadi terlambat makan siang.” Nada suara Regina terdengar bergetar. Hal itu membuat William seketika panik. Ia tidak suka melihat wanitanya menangis.

“Honey. Hei? Kenapa menangis?” William menangkup kedua pipi Regina. Ia dapat melihat manik mata itu mulai berembun.

“Aku hanya bercanda. Sekarang, suapi aku. Aku sudah sangat lapar.” Pria itu membuka mulutnya dengan lebar:

Regina menganggukkan kepalanya, ia meraih piring di atas meja. Kemudian mulai menyuapi atasannya.

‘Sangat mudah membuat kamu luluh, Will. Hanya dengan air mataku. Terima kasih. Kamu begitu perduli, hingga tak ingin melihat aku menangis.’

.

.

.

Bersambung.

1
Suzanne Shine Cha
wachhh seruuu dan lucu dech kamuu Thorr brarti kita se angkatan trnyata 🤣🤣🤣🙈🙈💝💝💝💪🏼💪🏼💪🏼bttp mgt Thorr 👍🏻👍🏻🌹🌹🌹
Suzanne Shine Cha
/Facepalm/🤣🤣🤣🤣/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Sustika Ekawati
aku mampir baca ya thor
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
kalau kiraan tepat ada lebihan hari contoh 1bln - 4 minggu 2 hari🤭
Nining Chili
👍👍👍
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
aduinaaa🤣🤣🤣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
lagaknya kayak pria suci🤣🤣🤣🤣
Mutiah Siti Musthofa
ngakak 🤣🤣🤣🤣🤣
Yolla
so sweet🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yolla
ternyata si BOY anak yg rajin juga yaaa🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ika Wahyuni
ah boy kamu nakal ya🤭
Surati
bagus
Meimei Memei
Luar biasa
@arieyy
ku lihat...lihat....ku buka bab nya ...mampir lahhh🤣🤣🤣
Rohimatul Amanah
Luar biasa
SariRani
Kereeen!! Suka semua karakternya thor ❤️🥳
Eka Uderayana
secangkir kopi buat author ☕
Eka Uderayana
wkwkwkwk 😁...GE er
andrana maula
Luar biasa
Fajar Khanaya
perutku sampek sakit, ketawa ngakak mbaca ini🙏☺️🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!