NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Berubah manjadi cantik / Tamat
Popularitas:17.7M
Nilai: 4.6
Nama Author: Kirana Pramudya

Saat suamimu merundungmu dan mengataimu hanya karena fisikmu yang berukuran XXL, bagaimanakah perasaanmu?

Kanaya Salsabilla, Penulis Novel Digital yang harus menerima kenyataan bahwa suaminya merundungnya, melakukan kekerasan verbal, hingga bermain api dengan mantan terindahnya di depan matanya.

Darren Jaya Wardhana, Direktur Pemasaran Jaya Corp yang merupakan pria mapan dan gagal move on dari cinta masa lalunya itu, justru memperlakukan Kanaya sebagai istrinya dengan buruk.

Di satu sisi, ada Bisma Adi Pradana, seorang Dokter yang membantu Kanaya dan terus memotivasi gadis itu untuk mengubah penampilannya.

"Tidak ada yang lebih menyakitkan selain hidup seatap dengan suami yang terang-terangan terjebak dengan mantan terindanya." Kanaya Salsabilla.

"Aku menolakmu. Menikahi Kalkun Jelek sepertimu, justru membuatku mendapatkan kutukan." Darren Jaya Wardhana.

"Teruslah berusaha, karena pintu selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha dan tidak menyerah." Bisma Adi Pr

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Make Up is Art

Sinta menyadari bahwa Kanaya yang dia kenal hampir satu dekade yang lalu dan sekarang tidak banyak berubah. Gadis bertubuh lebar itu, terlihat begitu polos bahkan wajahnya tidak pernah tersentuh oleh yang namanya Make up. 

Mendengar pengakuan Kanaya dan setiap sudut apartemen yang begitu mewah ini, Sinta menganggap bahwa Kanaya pasti digaji cukup besar untuk mengurus apartemen mewah ini. Maka dari itu, Sinta berpikir untuk mengenalkan temannya itu dengan sebuah dunia yang disukai oleh kaum Hawa. Make Up! Ya, make up adalah surga bagi para kaum Hawa.

“Nay, kamu sibuk enggak? Kapan-kapan kita keluar yuk.” ajaknya kepada Kanaya.

Nampak menimbang-nimbang, Kanaya memang tidak sibuk. Lebih tepatnya dialah yang menyibukkan dirinya sendiri dengan menulis novel dan mempublikasikan berbab-bab hasil tulisannya di aplikasi membaca dan menulis novelnya. 

Kanaya lantas melirik pada Sinta yang duduk di sebelahnya itu. “Emang mau ke mana Sin?”

“Jalan-jalan ke Mall … waktu saja berubah Nay, tetapi dalam satu dekade terakhir mengapa kamu sama sekali tidak berubah. Bumi saja berotasi setiap hari hingga terjadi siang dan malam, tetapi kenapa kamu dari SMA hingga sekarang tidak berubah. Rasanya, kamu harus berkenalan dengan Make up, Nay.” ucap Sinta dengan yakin.

Menurut Sinta, make up bukan sekadar mengenakan bedak dan memoles bibir dengan lipstik. Lebih dari yang kaum Hawa bayangkan, make up bisa memberikan keajaiban. Sapuan kuas di wajah bisa menghasilkan karya seni dari sebuah kecantikan yang begitu epik.

“Make up?” tanya Kanaya seakan tidak percaya.

“Ya Make up … kamu pasti tidak pernah menggunakannya bukan? Padahal sekali saja kamu mencobanya, sudah pasti wajahnya terlihat lebih segar, bagian pipimu bisa sedikit tirus, dan bibirmu tidak terlihat pucat dengan lipstik. Jadi bagaimana, mau? Tenang saja, aku akan mengajarimu menggunakan Make up natural yang nyaman dipakai setiap hari.” ucap Sinta.

“Masalahnya aku tidak pernah menggunakan Make up. Aku hanya menggunakan facial foam saja usai mandi.” jawab Kanaya dengan begitu polos.

Sinta justru tertawa. “Cobalah merias diri, Nay … selama berabad-abad make up dipercayakan sebagai seni. Make up is Art. Dengan make up tidak jarang mereka yang merasa insecure dan merasa dirinya tidak cantik dengan sapuas brush di wajahnya, mereka berani menghadapi dunia. Ayo, Nay … cobalah.” 

Menimbang-nimbang apa yang dikatakan Sinta, Kanaya pun berpikir dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih tepatnya. Apakah dia layak mengenakan make up? Akankah make up bisa memupuk rasa percaya dirinya? Tidakkah dia ditertawai sebagai badut karena bermake up? Kanaya menghela napasnya, kemudian menganggukkan kepala.

“Okay, tetapi ajari aku ya Sin … dan ingat aku tidak mau make up yang tebal, bisa-bisa justru orang yang menertawaiku.” ucapnya.

...🍁🍁🍁...

Keesokan harinya, di salah satu Mall di pusat Ibukota, Kanaya menemui Sinta. Sebagaimana janji keduanya, kali ini Sinta akan menemani Kanaya untuk membeli beberapa peralatan make up dan sekaligus mengajari sahabatnya itu untuk memoles wajahnya supaya lebih terlihat cantik dan menambah kepercayaan dirinya.

Sinta langsung menggandeng tangan Kanaya dan mengajaknya memasuki salah satu outlet yang menjual berbagai make up.

“Nah, semua ini disebut Make up, Nay … jadi, make up itu bukan sekadar bedak dan pemulas bibir atau lipstik. Akan tetapi, make up sangat banyak mulai dari Primer, Cussions, Lipstik, Eye Shadow, Mascara, Highlighter, Blush on, dan masih banyak lagi.” ucap Sinta yang seolah mengedukasi temannya itu dengan berbagai peralatan make up yang bermacam-macam.

Sementara Kanaya yang benar-benar awam, hanya mencoba memahami apa yang dimaksud oleh temannya itu.

“Apa semua itu harus dibeli dan dipakai?” tanya Kanaya dengan begitu lugunya.

Sinta pun menggelengkan kepalanya. “Tidak … beli sesuai kebutuhan saja. Ayo, aku tunjukkan padamu beberapa produk yang wajib dibeli saja.” ucapnya sembari membawa Kanaya melihat satu per satu produk kecantikan untuk merias wajah itu.

“Kamu cukup membeli sembilan produk saja, Nay … kamu membawa uang kan?” tanyanya sebelum mulai mengambil sembilan produk yang diperlukan untuk merias diri dengan sederhana.

Kanaya menganggukkan kepala, karena usai menikah Darren memang menyodorkan sebuah Black Card kepadanya dan kali ini Kanaya datang dengan membawa Black Card itu.

“Pertama adalah Primer. Primer itu fungsinya untuk menyiapkan wajah sebelum dimake-up dan tetap awet sepanjang hari. Permukaan kulit wajah menjadi rata sehingga foundation lebih mudah diaplikasikan. Primer juga jadi solusi untuk menutupi pori-pori di wajah. Kedua adalah Foundation yang akan menyamarkan warna kulit saat dirias. Lalu Concealer, benda sekecil ini tetapi sangat ampuh untuk menutupi bercak pada wajah. Lalu ini tentu kamu sudah tahu bukan?” tanya Sinta dengan mengangkat sebuah make up yang berbentuk bulat itu.

“Bedak ….” jawab Kanaya dengan cepat.

Sinta pun mengangguk. “Yup, ini adalah bedak. Kapan pun kamu perlu touch up, pakai bedak ini. Kemudian ada Eyeshadow, karena kamu adalah pemula pilihlah Eyeshadow dengan warna-warna nude atau natural untuk mengaplikasikannya. Eyeliner, untuk memberi kesan mata kita lebih tajam dan seksi. Mascara untuk menebalkan dan memanjangkan bulu mata. Blush on untuk membuat pipi kita lebih segar dan nampak berseri-seri. Nah, karena kamu juga adalah pemula jadi pilihlah warna coral, light pink, atau pecah. Yang terakhir adalah lipstik. Untuk lipstik, setiap warna lipstik yang kamu pakai akan menghasilkan kesan yang berbeda, jadi pilih saja warna favoritmu.”

Kanaya melihat satu demi satu, make up yang diambil Sinta itu di dalam keranjang kecil lalu berniat untuk membayarnya. “Aku bayar dulu ya Sin … sudah tidak ada lagi kan?” tanyanya kepada Sinta.

Temannya itu tertawa, lalu memasukkan sebuah botol bening ke dalam keranjang Kanaya. “Tambahkan ini Nay, ini adalah Micellar Water yang bisa untuk membersihkan seluruh sisa make up yang menempel di wajahmu dan menyegarkan kembali kulit wajah. Pastikan kamu memakai ini setelah bermake up.”

Kanaya mengangguk, kemudian membawa semua make up itu dan membayarnya ke kasir. “Kamu tidak ingin membeli salah satu dari semua make up itu Sin?” tanyanya sembari antri di depan kasir.

Sinta menggelengkan kepalanya. “Tidak … make up-ku sangat banyak di rumah.” akunya sembari mengedikkan bahunya.

“O … pantesan kamu tahu semua berbagai make up dan namanya. Kayaknya aku harus belajar banyak tentang make up sama kamu nih.” ucap Kanaya.

Sinta pun tersenyum. “Dengan senang hati aku akan membantumu, Nay … perubahan kecil di wajah kita bisa terjadi karena make up. Bahkan banyak wanita yang menemukan kepercayaan dirinya kembali dengan berbagai make up di wajahnya.” ucap Sinta yang berusaha memotivasi Kanaya tentunya.

Giliran Kanaya membayar semua make up itu, setelahnya mereka berdua duduk di salah satu restoran yang berada di dalam Mall itu.

Sinta kemudian meraih paper bag berisi berbagai make up yang baru dibeli Kanaya itu.

“Sekarang, aku rias wajah kamu ya.” ucapnya meminta izin terlebih dahulu untuk merias wajah Kanaya.

“Di sini Sin? Ini di restoran, aku malu loh.” akunya yang tidak percaya diri karena temannya akan melakukan make over kepadanya di restoran itu.

Sinta mengangguk. “Iya … di sini. Ayo, aku tunjukkan bahwa semua ini adalah dunianya wanita.”

Pertama, Sinta membersihkan wajah Kanaya terlebih dahulu dengan Micellar Water, kemudian mengaplikasikan Primer di sana. Membiarkan sejenak, lalu krim foundation turut dibubuhkan Sinta di wajah Kanaya. Dipercantik dengan touch up dari beda. Menggambar alis mata di sana, mengenakan eyeliner, memulas pipi dengan perona blush on, dan terakhir adalah menggunakan lipstik yang menyempurnakan wajah Kanaya.

Sinta tersenyum seakan puas dengan hasil riasannya di wajah Kanaya. Gadis itu tersenyum dan menyodorkan sebuah cermin kepada Kanaya.

“Lihatlah Nay … kamu benar-benar cantik. Hanya dengan semua alat ini, kamu terlihat lebih segar dan cantik tentunya.” ucap Sinta sembari menepuk pundak Kanaya.

Benarkah aku cantik? Apakah aku tidak salah mendengar? Tidakkah make up ini membuatku aneh?

Kanaya lantas mengamati wajahnya di cermin. Pantulan yang terpampang di cermin nampak seperti bukan dirinya. Tidak ada Kanaya yang polos dan lugu, benar-benar berubah. Dirinya kini sedikit terlebih seperti gadis Ibukota.

“Apakah aku tidak terlihat aneh, Sin?” tanya Kanaya yang memastikan dan membutuhkan pendapat dari orang lain bahwa dirinya tidak terlihat aneh.

Dengan cepat Sinta menggelengkan kepalanya. “Tidak … kamu cantik, Nay. Cobalah belajar bermake-up ya, sekarang banyak tutorial make up di aplikasi menonton, bahkan banyak selebram yang membagikan tips make up untuk sehari-hari. Atau usai latihan Muay Thai, aku juga bisa mengajarimu bermake up.” ucap Sinta yang memberikan berbagai opsi kepada Kanaya untuk belajar make up secara mandiri dan otodidak.

Kanaya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Makasih ya Sin, kamu udah bantuin aku. Semoga aja, make up tidak membuatku aneh. Jujur saja, aku masih malu.” akunya dengan jujur melihat perubahan wajahnya pasca dirias di cermin tersebut.

1
Ran Tea
Luar biasa
esther
Kanaya kok kayak tsk ingat sama org tua angkat nya yg begitu syg sama dia pd hal jd dir keuangan di peeusahaan org tua angkt sadat kanaya ‘
esther
Kayana tdk usah terlalu menuntut sdh bersyukur dapat suami yg baik dr spesialis kok berlebihan seksli ‘
Casudin Udin
Luar biasa
v_cupid
😉
Puriah
anakku juga lancar bicaranya 3tahunan
Fily Barasi
Luar biasa
Hera Edrina
haddeh.badan gede apa gunanya??

tubruk aja itu laki laki..hingga terjungkal
Zahra Rika
lg gndut nya jg cantik lho
Zahra Rika
ak mendukung mu nay
y_res
perceraian emang dibenci Allah tapi dibolehkan jika mudharatx lebih banyak,,,
Nurhana
ya salah jg orang tua nya Daren klu ga cinta kenapa masih di paksa nikah itu nama nya ego nya orang tua lagian jg Kanaya kenapa mau aja di jodohin kesel jg baca novel ini
Yus Warkop
sakitkatkan? nikmatilah
Yus Warkop
iya yah kadang orang itu kalau lagi susah atau menemui kesulitan selslu merasa bahwa dia paling susah pdahal kadang udate sttus mersa paling teraniaya pdhal kalo kita lihat ke bawah banyak yg lebih menderita dari kita sungguh kita harus banyak"pandai bersyukur.

terimakasih thor atas ilmunya aku yg hanya tinggal baca novel dngan gratis , kadang suka ngeluh kalau nunggu lama up
Yus Warkop
kabar s daren gimna
Yus Warkop
semangat
Yus Warkop
rasain daren
Yus Warkop
naudzubillah khimindzalik zinah daren
Yus Warkop
rasain daren
Yus Warkop
bersyukur mertua baik adik ipar baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!