Bryona Martinez, seorang gadis yang sangat tidak percaya diri dengan penampilannya, terutama bagian dadanya yang terlalu besar. Ia selalu diejek dan dilecehkan. Hal itu membuatnya menutup diri dengan memotong pendek rambutnya, serta membebat tubuhnya, sehingga ia akan terlihat seperti laki-laki bertubuh tambun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Bryona dan Freya bersiap dengan kuda-kuda mereka dan berdiri saling membelakangi, sementara Nic yang berdiri bersama mereka, mulai mengeluarkan peluh meskipun udara malam di Kota Acapulco tidaklah panas.
“Dasar bodoh!” Gerutu Theo yang melihat mereka bertiga dari jarak yang agak jauh. Ia mengambil ponsel dan merekam adegan tersebut.
“Ayo majulah! Jangan katakan kalian takut dengan kami,” ucapan Bryona membuat para preman itu terpancing. Mereka pun mulai melancarkan serangan ke arah Bryona, Freya, dan Nic.
Bughh!!!
“Ahhh!!” teriak Nic yang terkena serangan di ulu hati serta di wajahnya. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah berkelahi. Sepertinya ia harus mengingat hari ini, di mana dirinya mendapatkan pukulan yang begitu keras.
Bughh!! Bughh!!
Dengan mudahnya Bryona dan Freya menjatuhkan para preman yang memang dalam kondisi setengah mabuk itu. Mereka tak perlu mengeluarkan tenaga banyak karena mereka langsung mencari celah agar memukul tubuh lawan tepat di titik kelemahan manusia.
Srettt!!!
Seorang preman tanpa diketahui mengeluarkan sebuah pisau lipat dan langsung menggores lengan atas Freya. Hal itu membuatnya meringis karena goresannya cukup dalam.
“Sialannn!!” Theo yang melihat dari kejauhan langsung memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan berlari. Ia mendorong preman itu dan memukul wajahnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Theo pada Freya. Terlihat lengannya yang masih mengeluarkan darah.
“Kamu bawa Nic kembali ke hotel. Aku akan membawa Freya ke rumah sakit,” Theo langsung menggendong Freya ala bridal style dan membawanya ke dalam mobil yang ia bawa.
Ia mendudukkan Freya di kursi penumpang samping kemudi. Ia memasangkan seatbelt, kemudian berjalan memutar menuju kursi kemudinya. Ia menyalakan GPS-nya untuk menemukan lokasi rumah sakit terdekat.
Freya merobek bagian bawah T-shirt-nya, kemudian mengikat bagian lenganya untuk menghentikan pendarahannya. Ia juga sedikit menekan dengan telapak tangannya. Theo melihat apa yang Freya lakukan, ia semakin cepat melajukan mobilnya agar sampai dengan cepat di rumah sakit.
Sementara itu, Bryona memapah Nic. Tentu saja Nic memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Di dalam hati, ia berterima kasih pada preman-preman itu, dan juga pada Theo yang telah membawa Freya pergi.
“Ayolah, kamu masih bisa berjalan,” ujar Bryona yang melihat Nic berusaha menempel padanya.
“Hatiku sakit, juga wajah tampanku,” Nic meringis saat ia menyentuh pipinya sendiri.
Bryona sedikit mencebik karena melihat betapa narsisnya Nic. Sesampainya di hotel, Bryona membawa Nic menuju kamarnya. Ia meminta Nic untuk membersihkan diri, ia juga akan melakukannya.
“Mandilah terlebih dahulu. Setelah itu aku akan mengobati lukamu,” kata Bryona.
“Apa kamu tidak ingin mandi di sini saja?” tanya Nic.
“Tidak. Lagipula tidak ada pakaianku di sini,” Nic tersenyum kecil saat melihat mudahnya menggoda Bryona.
Bryona langsung kembali ke kamarnya yang persis berada di sebelah kamar Nic dan Theo. Ia membersihkan diri, kemudian setelah berpakaian ia mengambil kotak obat yang selalu ia bawa jika bepergian.
Tokk tokkk tokkk …
Nic langsung membukakan pintu dan tersenyum saat melihat keberadaan Bryona di sana. Nic langsung meraih tangan Bryona dan membawanya masuk ke dalam kamar. Indera penciumannya langsung tergelitik ketika merasakan harum bunga yang menguar dari rambut dan tubuh Bryona.
“Duduklah, aku akan mengobati wajahmu,” dengan telaten Bryona mengibati sudut bibir Nic yang terluka.
“Sudah,” kata Bryona sambil menutup kotak obatnya.
“Apa kamu tidak ingin memeriksa tubuhku? Aku juga terkena pukulan di sini,” tanpa menunggu jawaban dari Bryona, Nic langsung saja membuka piyamanya. Bryona bisa merasakan pipinya memerah saat ini karena melihat tubuh Nic di hadapannya.
Nic mengulas senyumnya, kemudian menggenggam pergelangan tangan Bryona dan meletakkannya di dadanya, “Lihatlah, warnanya kebiruan, ini pasti akibat pukulan para preman itu.”
Jantung Bryona berdetak cepat ketika telapak tangannya menyentuh kulit tubuh Nic. Bryona menarik tangannya, kemudian membuka kembali kotak obat miliknya. Ia mencari obat untuk memar. Dengan perlahan Bryona mengoleskan salep pereda memar dan lebam di dada Nic dengan perlahan, membuat tubuh Nic seakan menegang dan merasakan gelenyar nikmat.
Nic menahan tangan Bryona di dadanya, kemudian meraih tengkuk wanita itu dan menciumnya. Ia sudah tak dapat menahan hasratnya yang selalu terasa berbeda setiap kali bersama dengan wanita itu.
Luis, kurasa aku benar-benar tidak belok. Kesalahan hanya pada mata Bryan yang begitu sama dengan wanitaku. - batin Nic.
Mendapatkan ciuman yang begitu dalam, membuat Bryona kembali merasakan sesuatu di tubuhnya, sama seperti malam di Jepang. Kotak obat yang ia pegang, diambil alih oleh Nic dan meletakkannya di atas nakas.
Nic merebahkan tubuh Bryona di atas tempat tidur dan kembali memperdalam ciumannya. Bryona yang seakan merindukan ciuman dan sentuhan Nic pun membalas ciuman itu. Ia juga membuka mulutnya dan memberikan akses pada Nic. Seulas senyum tercipta di bibir Nic. Ia pun kembali melummat bibir milik Bryona.
Nic menyesap leher Bryona dan meninggalkan tanda merah di sana. Nic menaikkan seluruh tubuh Bryona di atas tempat tidur, kemudian ia mengungkung gadis itu. Sekelebat bayangan malam di Jepang kembali dalam ingatan Nic.
Wanita ini, ya wanita ini yang bersamaku di Jepang. Mimpiku kembali dan kini adalah kenyataan. - batin Nic.
Setelah menatap mata Bryona, ia kembalimemberi lummatan di bibir gadis itu. Dengan perlahan tangan Nic membuka satu persatu kancing piyama Bryona, hingga memperlihatkan kedua aset kembarnya yang begitu menantang di mata Nic.
Namun, baru saja ia ingin menyentuh keduanya dengan bibirnya, terdengar suara pintu kamar terbuka.
**
“Bagaimana, Dok?” tanya Theo.
“Lukanya sudah kami jahit karena agak sedikit dalam, selebihnya tidak masalah.”
“Apa tidak sebaiknya rawat inap?” tanya Theo lagi dan pertanyaan itu langsung membuat Freya menajamkan tatapannya ke arah Theo.
“Aku tidak perlu rawat inap. Luka kecil seperti ini saja, jangan dilebih-lebihkan,” ujar Freya, sehingga dokter yang mengibati Freya tak melanjutkan jawabannya.
“Lihatlah, lukamu itu sampai perlu dijahit. Sebaiknya kita rawat inap saja, hingga lukamu sembuh.”
“Tidak!”
“Bagaimana nanti jika lukamu itu meninggalkan bekas?”
“Biarkan saja, tidak masalah bagiku,” jawab Freya.
“Apa kamu tidak berpikir jika nanti suamimu melihatnya? Ia pasti menginginkan seorang istri dengan kulit yang mulus,” Theo berusaha menjelaskan maksudnya pada Freya, namun Freya juga memicingkan matanya.
“Dengarlah, aku hanya akan mengatakannya 1 kali saja. Aku tidak peduli apakah luka ini akan meninggalkan bekas atau tidak, karena aku tak akan menikah. Simple!”
Jawaban Freya membuat Theo sedikit geram. Apa ia tidak menganggapnya sebagai calon tunangannya? Dialah yang akan menjadi suami Freya dan ia tak ingin melihat luka Freya membekas di kulit.
“Aku ini calon suamimu, sudah pasti kamu akan menikah!”
🌹🌹🌹
lihatlah luna hancur leticia hancur dengan sendirinya dan si thomas jadi berengsek karna ketamakannya juga.
kemakan omongan sorangan.
akhirnya m-tec kembali pada pemilik nya.
akhirnya nic di maafkan.