Sekretaris lamanya tiba-tiba mengundurkan diri. Dion menyuruh asisten pribadinya untuk merekrut sekretaris baru.
Dia terkejut ketika tau bahwa sekretaris barunya adalah sangat mantan istri yang telah kembali setelah hampir 5 tahun meninggalkannya.
Dion kecewa, dia menaruh kebencian pada mantan istrinya yang pergi dalam keadaan hamil tanpa sepengetahuan dirinya. Kemudian datang kembali dengan membawa anak laki-laki berusia 4 tahun.
Bagaimana Dion bisa fokus bekerja ketika harus bersanding dengan sang mantan istri setiap hari.?
Mungkinkah rasa benci akan kembali berubah menjadi cinta.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Sudah Di,,," Keyla menahan dan mendorong pelan dada bidang Dion agar menjauh. Dia menghentikan ciuman panas yang terasa semakin menuntut.
Keyla memalingkan wajah, malu pada Dion lantaran tidak memberikan penolakan. Dia pasrah begitu saja, membiarkan Dion menciumnya lebih dalam.
Jika tadi tidak di hentikan, mungkin kedua tangan Dion sudah masuk kedalam bajunya dan menyentuh bagian favoritnya.
Keyla tidak mau kejadian di Bandung terulang lagi. Dia takut akan terjadi hal-hal diluar kendali yang bisa saja memberikan dampak buruk kedepannya.
"Kenapa.? Bukannya kamu menikmati.?" Dion selalu terlihat kecewa saat permainannya di hentikan sepihak oleh Keyla. Jujur saja, Dion menginginkan hal lebih dari sekedar memagut bibir.
Lagipula Dion berfikir bahwa tidak ada yang salah jika melakukan hal lebih. Dia dan Keyla sudah dewasa, merasa wajar untuk melakukannya.
Keyla menunduk sembari menggeleng pelan. Mana mungkin dia berani mengakuinya di depan Dion. Memang tidak di pungkiri Keyla sedikit menikmati sentuhan Dion. Tapi dia bisa menahan diri, tak seperti Dion yang terlihat ingin merasakan kenikmatan yang lebih.
"Jangan bohong, aku tau kamu juga menikmatinya." Ujar Dion. Tatapan matanya mengisyaratkan Keyla untuk mau melanjutkan kegiatan yang di sengaja itu.
"A,,aaku ke kamar dulu,," Keyla beranjak, dia bergegas pergi menuju kamar untuk menghindari hal yang semakin tak terkontrol lagi.
Cara ini lebih efektif dari pada dengan penolakan lewat ucapan. Dion akan terus meminta lebih jika masih berada di sampingnya.
"Tidak ada yang dirugikan jika melakukannya.!" Ucap Dion dengan suara berat dan tegas. Tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Keyla dan menguncinya hingga Keyla tidak bisa bergerak karna terhalang oleh pintu kamar.
Keyla berbalik badan, dia terlihat grogi menatap Dion dalam jarak dekat dan posisi seperti memeluknya.
"Aku tau Di, tapi tidak seharusnya seperti ini." Keyla kembali menolak, dia ingin menyingkirkan kedua tangan Dion yang bertumpu pada pintu, tapi sayang tenaganya tidak cukup kuat untuk melakukannya.
"Lalu seperti apa, hemm.?" Dion bertanya sembari menaikan sebelah alisnya. Menatap dengan sorot mata dalam dan raut wajahnya yang terlihat sedang menggoda.
"Aku serius Di, jadi jangan bercanda." Ujar Keyla.
"Aku ingin tidur."
"Aaaakhh,,,,,
Tiba-tiba Dion mengangkat tubuh Keyla tanpa permisi. Dia membawanya pergi dari depan kamar yang di tempati oleh Leo, lalu beranjak ke kamar lain.
Sepertinya memang Dion benar-benar ingin melakukan hal lebih dengan mantan istrinya.
"Jangan gila Di, ini tidak benar,," Kata Keyla sambil menggelengkan kepala. Dion cuek saja, tidak peduli wanita dalam gendongannya sedang berusaha memberontak.
"Semakin banyak kamu bergerak, maka akan semakin lama. Diam dan nikmati saja, jangan pura-pura tidak mau.!" Ucap Dion ketus.
Keyla melongo, ucapan pedas Dion membuatnya kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan kakinya, Dion buru-buru membawa Keyla ke atas ranjang. Sedangkan Keyla sudah terlihat pasrah saja dengan semua keinginan Dion yang sepertinya tidak bisa di tunda lebih lama.
Keyla sudah berada dalam kungkungan Dion. Bagian bibir dan bukit kembarnya sudah di jelajahi seluruhnya oleh Dion tanpa sisa. Meninggalkan jejak merah pada bongkahan daging kenyal itu.
Kain yang menutupi bagian atasnya sudah tersingkap, membuat Dion bisa leluasa menggerakkan tangannya di atas sana.
Keyla lebih sering memejamkan mata, dia sedang bergulat dengan hati dan pikirannya sendiri.
Dia takut lantaran tau bahwa apa yang sedang dia lakukan dengan Dion merupakan sebuah kesalahan besar, tidak seharusnya dia melakukan hal ini tanpa adanya ikatan pernikahan. Namun hatinya mulai goyah, tubuhnya bahkan merespon dan meminta lebih.
Keyla sedang dilema, antara menolak dengan tegas atau membiarkan malam panjang ini terjadi setelah sekian tahun berlalu.
"Di,," Keyla mencekal tangan Dion yang sudah masuk kebawah, benar-benarnya menyentuhnya.
"Ini tidak benar." Ucap Keyla sembari menggelengkan kepala. Dion mengulas senyum smirk, senyum yang bercampur meledek lantaran dia tau kondisi yang sebenarnya.
"Tidak benar.? Tapi kamu basah." Sahut Dion enteng. Dia menyingkirkan tangan Keyla, lalu melanjutkan aksinya. Gerakan tangan itu semakin membuat pertahanan Keyla goyah. Tubuhnya menegang, suara khasnya yang seksi bahkan mulai keluar dari mulutnya.
"Sudah Di,," Setelah cukup lama, Keyla kembali menghentikan aksi Dion.
"Jangan di tahan, keluarkan saja." Suara Dion terdengar parau. Dia sudah berkabut gairah karna mendengar suara indah Keyla dan melihat raut wajah Keyla yang sejak tadi menikmati permainan tangannya.
Keyla menggelengkan kepala, tapi Dion justru semakin memainkannya. Hal itu membuat tubuh Keyla kembali menegang, rasa yang luar biasa itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Sudah lama tidak merasakan rasa seperi ini.
Tanpa sadar, Keyla terus mengeluarkan suara-suara indahnya.
Dion tersenyum lebar, dia bisa melihat sebentar lagi Keyla akan mencapai puncaknya.
Sayangnya Dion tidak semudah itu akan memberikan kepuasan pada Keyla. Dia menyingkirkan tangannya di saat Keyla hampir saya keluar.
Seketika Keyla membuka matanya, menatap Dion dengan tatapan kecewa. Dion sudah membuatnya melayang tinggi tapi tiba-tiba menjatuhkannya.
"Kenapa.?" Tanya Dion dengan santainya. Dia sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun telah membuat Keyla gagal mencapai *******.
Keyla memilih untuk menggelengkan kepala sembari merapikan kain yang tersingkap dari tubuhnya.
"Tidak mau pakai ini.?" Dion menarik tangan Keyla, dia meletakkan tangan itu di bagian tubuhnya yang sudah siap bertempur sejak tadi.
Kedua mata Keyla melotot sempurna, kaget dengan ulah Dion yang membuatnya jadi menyentuh benda keramat itu setelah 5 tahun tidak menyentuhnya.
"Di,, kamu mau apa.?" Wajah Keyla merona, dia mengalihkan pandangan ketika Dion melepaskan celana dan kain yang membungkus benda itu.
Dion melemparnya asal.
"Tunggu apa lagi.? Ayo naik, ini posisi favoritmu bukan.?" Ujar Dion santai. Dia meminta Keyla untuk naik ke atas tubuhnya.
"Tidak Di, aku,,,
"Kamu malu untuk memulai.? Kalau begitu biar aku saja." Dion bangun, dia menarik paksa penutup milik Keyla dan memposisikan dirinya.
Butuh waktu untuk membuat penyatuan. Entah karna sudah lama tidak melakukannya atau karna tempatnya yang semakin sempit, Dion jadi kesulitan membenamkannya.
Hal yang berusaha untuk di hindari oleh Keyla akhirnya benar-benar terjadi. Keduanya sama-sama tidak bisa menahan diri. Suara dari bibir keduanya terdengar bersautan.
Dion menghentikan gerakan saat teringat sesuatu. Dia beranjak dari ranjang begitu saja, membuat Keyla kebingungan di tengah-tengah rasa yang menjalar di tubuhnya.
Dia menatap Dion yang mendekati meja, rupanya dia mengambil dompet dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saja.
Sambil berjalan ke arah ranjang lagi, Dion tampak membuka benda yang dia pegang.
Keyla terkejut melihat Dion memegang alat pengaman. Entah bagaimana bisa alat itu ada di dalam dompet Dion. Hal itu membuat Keyla berfikir jika Dion sudah menyiapkan semua itu jauh-jauh hari.
"Kamu sudah merencanakan semua ini.?" Tanya Keyla dengan raut wajah serius. Sedangkan Dion santai saja sembari memasang pembungkus itu pada miliknya.
"Tidak, aku memang selalu membawanya sejak 2 bulan lalu setelah kedatangan wanita yang mengaku hamil denganku."
"Setidaknya alat ini berguna sekarang, jadi Leo tidak mendadak punya adik." Jelasnya dengan raut wajah datar. Dia lalu memposisikan diri seperti tadi dan menghentakkannya dengan keras.
"Di,,,!!" Pekik Keyla. Dia memukul dada bidang Dion.
Dion hanya tersenyum tipis, lalu memacu dirinya dengan gerakan cepat.
Malam itu terasa panjang dan panas, keduanya sama-sama hanyut dalam permainan yang memabukkan. Tidak berfikir lagi benar atau salah.
Mereka melakukan khilaf yang disengaja.
Penyatuan itu telah menciptakan rasa yang sulit untuk di ungkapan dengan kata-kata oleh keduanya.
km sndri jg salah key
laki2 mana yg mau di peralat