harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23.Hamil?
Anggi terus termenung di kamarnya, kali ini ia tidur di kamar Tuan Hazard, karena Shara tak bereaksi apa-apa saat ia mengetahui kalau Anggi adalah istri sah Tuan Hazard.
Disini Anggi bisa menyimpulkan bahwa keduanya tak menginginkan pernikahan ini. tapi kedua orang tua mereka tentu tak setuju kalau kedua anak mereka membatalkan pernikahan.
Anggi mengelus pelan perutnya yang rata."Semoga kamu tidak ada disini, aku tak sanggup kamu di benci oleh keluarga ayahmu,"kata Anggi pelan.
Ia teringat betul bagaimana keluarga bibiknya tak menganggap ia sebagai keluarga, bahkan ia tak ingin anaknya merasakan tatapan sinis nan tajam, bahkan kata-kata yang menyakitkan hati, mengingat itu Ia tak ingin memiliki anak dari Hazard.
Anggi di kejutkan dengan pelukan tiba-tiba dari Hazard."Tuan."
"hmm,"Hazard memejamkan mata, menikmati aroma floral dari Anggi.
"Tuan, jika aku hamil, apa yang akan tuan lakukan?"tanya Anggi tanpa menoleh ke arah Hazard yang di samping pipinya.
"Apalagi,kita akan membesarkannya,"Hazard memeluknya begitu erat sambil mengelus perut rata Anggi, seakan menanti sebuah roh di tiupkan di dalam rahimnya.
"Lalu, bagaimana dengan Tuan Azam dan Nyonya Helena?"
Hazard seakan mengerti kekhawatiran yang di tunjukkan Anggi.tangan Hazard memegang kedua bahu Anggi, matanya menatap dalam mata Anggi yang memperlihatkan ketakutan dalam hatinya.
"Dengar,sejak kamu menjadi istri saya, saya akan selamanya bersama kamu, bahkan, saya akan merelakan semuanya."
Anggi tak menjawab,Ia yakin setelah kata yang melegakan ini, akan ada kata yang lain, memberikan rasa ketakutan yang lebih besar.
"Kecuali, saya harus mengorbankan kamu demi seseorang yang saya jaga hidupnya."
Hati Anggi bagai di iris, sebegitu tak berharganya kah ia, sampai ada orang lain yang lebih di prioritas kan di banding dirinya.
Anggi menunduk,dan kembali memandang ke luar Jendela, malam ini, rembulan bahkan tak sudi memperlihatkan cahayanya, sama seperti hatinya.
Hazard takut Anggi akan berpikir macam-macam berusaha meluruskan, tapi suara Anggi terdengar tegas dan pelan.
"Jika Tuan bisa mengorbankan aku demi orang yang Tuan jaga hidupnya selama ini, maka aku juga akan mengorbankan segalanya,demi apa yang aku inginkan."
DEG.
Hazard tertegun, tapi ia berusaha menepis pikiran tak layak di pikirkan.Hazard memeluk Anggi dari samping, Anggi terlihat dingin, tak memberikan reaksi apapun.
Di Ruang tamu, Helena sedang di pijit oleh Sudara, dan Tuan Azam yang diam saja sambil menatap layar laptop yang kosong.
"Papa kenapa bengong, ada masalah?"tanya Sudara menunjukkan pada Sudara bagian kakinya yang sakit.
"Papa merasa ada yang tidak beres ma."ujar Tuan Azam.
"Apanya yang tidak beres,apa Zuma gagal membuat apa yang kamu inginkan?"tanya Nyonya Helena.
"Apa kamu merasakan seharian ini, Hazar, putramu itu, terus mengekori wanita rendahan itu."
"Namanya Anggi pa,ck,papa tidak boleh seperti itu, bagaimanapun juga dia menantu kita, sudah sepatutnya kita buat dia merasakan kasih sayang orang tua setelah Ia di persunting oleh putra kita."
Tuan Azam terkejut istrinya tumben sekali berpikir sedalam itu."Tumben ma."
Helena mengerutkan kening."Tumben apanya Pa?"
"Maksud Tuan,tumben sekali Nyonya bisa bicara bijaksana begitu."
Helena diam sebentar."maksudnya, mama nggak pernah ngomong bijaksana gitu pa,"tekan Helena siap memberi pelototan tajam pada sang suami, matanya sudah siap aba-aba memicing.
"Enggak ma, tumben sekali rasanya lebih dalam dari biasanya,"Alibi Tuan Azam.
Helena yang awalnya akan marah jadi urung. Tuan Azam kembali berucap,"Jadi, kamu mulai merestui hubungan mereka? apa kamu juga sudah tak menginginkannya?"
Helena menatap datar suaminya."masih," Tuan Azam menaikkan satu alisnya."Tapi lihatlah putra kita,dia terlihat bahagia dengan wanita itu, awalnya mama merasa Hazard hanya membutuhkan tempat pelampiasan nafsu,tapi ternyata putra kita yang pendiam dan nakal itu, sudah menarget wanita itu sejak lama,"Helena tertawa pelan memikirkan setiap minggu Hazard akan kemari selepas pulang sekolah.
Tuan Azam mengerutkan kening."lalu?"tanya Tuan Azam, entah ia pura-pura tak mengerti atau memang sengaja ingin tahu lebih.
"Lalu, apalagi, kita harus bicarakan ini pada orang tua Shara, kita pinta Shara agar mengatakan yang sebenarnya dan membantu kita dalam proyek yang kamu bangun bersama Tuan Wiratama."
"Mama ini dungu apa bodoh, ma,sama seperti kita, mereka juga menginginkan hal lain dari kita,bukan hanya karena proyek."
Helena cemberut di sebut dungu."Memangnya apa yang mereka inginkan, putra kita yang keras kepala dan pendiam seperti kulkas itu, lagi pula putraku hanyalah putra Darkizan hanya itu,dan harta mereka jauh lebih banyak dari kita, lantas apa yang mereka inginkan,"ketus Helena.
Tuan Azam panik mendengar nada bicara istrinya, Ia langsung mendekat, dan menggantikan Sudara memijit kaki istrinya.
Sudara sampai menggeleng melihat Tuan Azam yang terlihat ketakutan pada istrinya.
"Maka marah ya sama papa?"
"Menurut papa."
"Ma, ini, kan, juga buat mama, resikonya terlalu besar kalau kita batalkan, apalagi kekuasaan Tuan Wiratama tidak main-main ma, kalau sampai mereka gegabah membuat kita miskin, memangnya mama mau?"
Mendengar kata miskin, Helena langsung menggeleng keras."Enggak pa! mama nggak mau miskin!"
Tuan Azam tersenyum senang."Nah itu ma, makannya, mama harus bujuk Hazard agar mau menikah dengan Shara."
"Kak Shara nggak bakalan mau pa,"Zuma datang sambil membawakan sebuah kentung kecil, dan menyerahkannya pada Tuan Azam.
"Apa maksud kamu?" Tuan Azam meraih kantung itu dengan senyuman lebar.
"Kak Shara dan Kak Hazard sudah sepakat akan membatalkan pernikahan, dan kak Shara juga berniat untuk pergi malam ini."
Tuan Azam membulatkan mata."Dia pulang bersama siapa? bukannya kedua pelayan dan asistennya pergi setelah mengantar dia kemari?"tanya Tuan Azam sedikit panik.
"iya, tapi Bang Gadi, yang Antar."
Tuak Azam langsung berdiri."Kapan perginya?"
Zuma melirik Jam."Sekitar 20 menit lalu."
"Belum jauh, kejar mereka sekarang, suruh kembali."
Zuma langsung pergi.
aahhh!
Zuma berhenti di ambang pintu sambil tertawa pelan dan menggeleng.
"Kenapa putramu itu sangat suka sekali membuat kita merasakan panas dingin Helena," Adu Tuan Azam, yang di Sahuti tawa renyah.
Sedangkan yang membuat suara itu, sedang menari di atas pria yang memaksanya melakukan itu.
Suara daging yang jatuh ters terdengar, keringat dingin membasahi tubuh keduanya.
Tangan Hazard terus membantu tempo permainan Anggi lebih cepat.
Membuat Anggi tak kuasa meredam desahannya, sampai Klimaks, Anggi sungguh tak tahan.
Aahhh, ehhhm, aaahh.
Hazard sendiri menikmati wajah merah Anggi.
Hingga suara ketukan terdengar dengan suara seseorang yang membuat keduanya memerah malu.
"Hei, kalian kalau main suaranya jangan kencang-kencang."
Waow berani banget ya yang tegur😅
Kira-kira siapa ya, yang negur itu?
Jangan lupa like.
Kasih bintangnya dan like yah😍
Maaf ngelunjak minta mawarnya juga😁