Bu Dosen cantik.
Kisah ini menceritakan perjalanan cinta dua anak manusia, antara seorang Mahasiswa yang jatuh cinta dengan Dosen nya sendiri.
Mahasiswa itu bernama Gavindra putera wijaya, sedangkan Dosen itu sendiri bernama Ratih puteri gayatri. Bu Ratih pernah mengalami trauma soal asmara, karena tunangannya meninggal sebelum mereka menikah.
Setelah itu, Bu Ratih bertemu dengan Gavindra saat mengajar di kampus dimana Gavindra kuliah.
Gavindra langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan penuh perjuangan Gavin terus mendekati Bu Ratih. Setelah itu, gayung pun bersambut, cinta Gavin diterima.
Tapi perjalanan cinta mereka tidak mulus, karena sebelumnya Bu Ratih sudah dijodohkan dengan laki-laki lain. Sampai akhirnya suatu hari Bu Ratih mengalami kejadian memalukan yang dilakukan oleh laki-laki yang dijodohkan dengannya.
Meskipun Bu Ratih telah mengalami kejadian yang tidak terpuji, Gavindra tetap bersikukuh untuk tetap menikahinya. Akhirnya mereka berdua menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 30 (Hari pertama Gavin masuk kerja)
...........................................
Gavin keluar dari kamarnya setelah sekian jam berada di depan cermin. Dia melangkah menuruni anak tangga di rumahnya. Papa Mamanya sudah menunggu di meja makan.
Bu Hesty kaget dengan penampilan anaknya jika memakai baju formal kantoran. Gavin memakai kemeja warna krem, dipadu dengan bawahan celana hitam, tak lupa dasi dengan warna senada.
"Keren amat, anak Mama. Sudah dewasa, ya Pa.?" ucap Bu Hesty sambil menoleh ke arah Pak Indra.
"Iya, dong, Ma. Mewarisi kegantengan Papanya.!" seru Pak Indra sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Bu Hesty.
"Hemm..yang baik-baik aja ikut Papa.!" jawab Bu Hesty sewot.
"Sudah, sudah! kok malah rebutan kegantengan Gavin. Ini semua mewarisi kegantengan dan kecantikan Papa Mama." seru Gavin.
Pak Indra dan Bu Hesty tertawa lebar. Tambah bangga mereka sama Gavindra.
"Oh, ya Vin. Kamu berangkat ke kantor bareng-bareng Papa apa naik mobil sendiri.?" tanya Pak Indra.
"Sendiri aja, boleh kan, Pa? Nanti pulang kantor Gavin mau jemput Ratih sekalian." ucap Gavin sambil menaikan alisnya.
Pak Indra hanya senyum-senyum melihat sikap anak bungsunya yang semakin lama semakin bertingkah lantaran kasmaran.
"Iya, iya. Terserah kamu. Nanti kita ketemu di kantor, ya?" ucap Pak Indra.
"Siap. Pa.!" sahut Gavin.
"Oke Son.!" jawab Pak Indra.
Keakraban antara Anak dan Bapak itu terlihat begitu hangat. Gavin menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan garasi rumahnya. Sedangkan Papanya sudah berangkat dengan sopir Pak Narto.
Setelah sampai kantor, Gavin memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Dia turun dari mobilnya kemudian melangkah menuju pintu utama. Tapi Gavin melihat mobil Papanya baru nyampai. Gavin berhenti menunggu Papanya.
Setelah Pak Indra masuk diikuti oleh Gavin dibelakangnya. Para karyawan pada melihat ke arah Gavin. Mungkin mereka terpana dengan ketampanan Gavin. Pak Indra tersenyum disaat melewati beberapa karyawannya.
Bahkan ada yang berbisik-bisik memperhatikan laki-laki yang berjalan disamping Pak Indra. Gavin hari ini terlihat beda dengan pakaian formal, dia keliatan gagah, tampan dan lebih dewasa. Setibanya di ruangan Pak Indra, Gavin duduk di sofa. Pak Indra juga duduk di dekat Gavin.
Sementara ada satu orang karyawan yang tadi memang disuruh ke ruangan Pak Indra.
"Oh, ya Pak Bima. Ini Gavindra putra saya. Hari ini dia akan bergabung di perusahan kita. Sementara dia saya tugaskan sebagai asisten saya. Nantinya dia juga yang akan menggantikan saya. Jadi misal saya nggak dikantor, ataupun lagi diluar kota untuk meninjau proyek, urusan kantor saya serahkan sama Gavin." terang Pak Indra.
"Baik, Pak. Saya akan sampaikan ke semua karyawan." jawab Pak Bima selaku HRD perusahaan.
"Mohon bantuannya Pak Bima, jika saya membutuhkan data-data karyawan." ucap Gavin.
"Siap, Pak Gavin." jawab Pak Bima.
"Baiklah, Pak Bima. Sekarang tolong, ajak Gavin keliling kantor guna melihat-lihat keseluruh bagian. Biar dia belajar bagaimana mereka bekerja." ucap Pak Indra.
"Baik, Pak.! Silahkan, Pak Gavin sekarang ikut dengan saya." ajak Pak Bima.
"Baik." jawab Gavin.
Mereka berdua berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada di kantor. Gavin diperkenalkan ke semua karyawan oleh Pak Bima. Semua karyawan menyambutnya dengan baik dan ramah. Terutama para karyawan perempuan.
Mereka terpesona dengan ketampanan Gavin. Tibalah di ruangan terakhir yang belum dikunjungi. Ruangan itu adalah ruangan marketing. Disitu ada tiga orang, masing-masing satu orang menjabat sebagai Meneger Marketing, dan dua yang lainnya sebagai staf biasa.
Gavin masuk dibelakang Pak Bima.
"Selamat Pagi, Pak Galih. Ini Pak Gavin putra Pak Indra. Mulai hari ini beliau bergabung perusahaan ini, sementara menjadi asisten Pak Indra. Jadi untuk urusan kantor ini jika Pak Indra ada tugas diluar, Pak Gavinlah ganti yang urus." terang Pak Bima.
"Pagi, saya Gavin. Mohon kerjasamanya, jika saya ada yang kurang mengerti mohon dibantu." ucap Gavin.
"Siap, Pak. Dengan senang hati team kami akan membantu Pak Gavin." jawab Pak Galih.
"Ini, ada Bu Mela dan Bu Sita, sebagai staf Pak Galih." ucap Pak Bima.
"Gavin, mohon kerjasamanya, ya Bu?" ucap Gavin pelan.
Kedua wanita itu mengangguk sembari tersenyum. Gavin membalas senyuman mereka. Karyawan disini rata-rata ramah dan santun. Gavin mulai menyukai tempat kerja ini.
Akhirnya Gavin dan Pak Bima kembali ke ruangan masing-masing. Gavin menceritakan ke Papanya kalau semua karyawan disini ramah-ramah. Situasinya juga juga nyaman dan bersih.
Pak Indra seneng kalau Gavin mulai menyukai pekerjaan ini. Nantinya perusahaan ini juga kamu yang kelola, Nak. Bathin Pak Indra.
"Pa..! makan siang dimana biasanya.?" tanya Gavin.
"Kalau nggak malas, biasanya Papa keluar minta antar Pak Narto. Tapi kalau males, ya minta tolong Ob." jawab Pak Indra.
"Gavin, juga malas keluar, Pa. Minta tolong Ob saja, Vin.!" jawab Pak Indra.
"Oke." jawab Gavin.
Kemudian Pak Indra mengangkat gagang aerphone untuk memanggil Ob. Tak lama kemudian terdengar pintu di ketuk.
"Tok...tok...tok..!"
"Masuk.!" jawab Pak Indra.
Kemudian masuklah seorang karyawan perempuan. Wajahnya sayu tapi manis. Kulitnya sawo matang serta memakai hijab.
"Ada, yang bisa saya bantu, Pak?" tanya wanita itu.
"lho.! si Firman kemana, kok kamu yang kesini. biasanya Firman yang saya suruh?" tanya Pak Indra.
"Pak Firman, hari ini ijin nggak masuk, istrinya melahirkan, Pak." jawab wanita itu.
"Oh..gitu.? ya sudah, kalau gitu tolong, saya dibelikan nasi padang dua bungkus, ya?" ucap Pak Indra.
"Baik, Pak.?" jawab wanita itu.
"Ini uangnya." sahut Pak indra sambil menyerahkan dua lembar uang, seratus dan lima puluh ribuan.
"Siap, Pak.!" jawab wanita itu.
"Kembaliannya buat kamu, aja!" seru Pak Indra.
Kemudian wanita itu meninggalkan ruangan Pak Indra. Gavin seperti mengingat sesuatu. Siapa, ya karyawan Papa itu tadi. Aku kok nggak asing dengan mukanya. Gavin mencoba mengingat-ingat, tapi dimana ya. Bathin gavin.
"Pa, itu tadi karyawan Papa juga?" tanya Gavin.
"Iya, kenapa emang?" jawab Pak Indra.
"Gavin, kok pernah liat wanita itu.!" jawab Gavin.
"Emang, kamu pernah liat dimana.?" tanya Pak Indra.
"Itu dia permasalahannya, Pa. Gavin lupa, cuma Gavin ingat bener kalau dia pake hijab, mukanya nggak asing." terang Gavin.
"Hemm.. Gavin, Gavin..! kamu ada-ada saja.?" ucap Pak Indra.
Setelah setengah jam. Datanglah pesanan Pak Indra. Wanita yang tadi dibicarakan Gavin dan Papanya, masuk ke ruangan.
Gavin memandangi wanita itu tanpa kedip. Wanita itu jadi gugup karena dari tadi dilihatin sama Gavin.
Sementara Gavin masih penasaran dengan mukanya yang dia rasa nggak asing. Setelah wanita itu keluar ruangan. Gavin mencoba mengejar wanita itu, tapi keburu Pak Indra mencegahnya.
"Gavin, jangan diteruskan. Ingat, Ada Bu Dosen cantik." seru Papanya sambil menggoda anaknya itu.
"Ya ampun, Pa. Gavin nggak punya niat macem-macem. cuma penasaran aja, kok wajahnya nggak asing bagi Gavin." ucap Gavin.
"Iya, Papa percaya. Cuma nggak usah diterusin penasarannya, ya?" ucap Papanya.
"Baiklah, Pa. Gavin lupain aja.! toh dia juga nggak kenal Gavin." ucap Gavin.
Kemudian mereka berdua menikmati makan siang diruangan itu.
Setelah seharian disibukan di kantor, akhirnya jam kantor pun selesai. Gavin dan Pak Indra pulang sendiri-sendiri.
Gavin sengaja belakangan pulangnya, karena dia masih ingin mempelajari berkas-berkas. Akhirnya selesai juga Gavin melototin monitor untuk melihat data-data.
Kemudian dia meninggalkan ruangannya. Gavin berjalan menuju ke luar, sebagian masih ada karyawan yang masih menyelesaikan kerjaannya. Ketika Gavin hendak melangkah keluar, tiba-tiba..
AAARRRGGGHH...!!
Next...............(31).