Kehidupan rumah tangga Riana baik-baik saja, sampai suatu malam dia tak sengaja bertemu dengan Almeer. Seorang pemuda yang hadir ke dalam hidupnya dan membuat biduk rumah tangganya menjadi kacau.
Rumah tangga Riana tak dapat lagi diselamatkan, setelah suaminya mengetahui Riana sedang mengandung anak dari pria lain.
Bagaimana lika-liku percintaan Riana dan Almeer?
Akankah mereka menemukan kebahagiaan?
Salahkah apa yang Riana lakukan?
Ikuti kisah selengkapnya.
Follow IG : @poel_story27
Cover By : @wnc_design_didesc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Tak Menentu
"Untuk apa aku harus bohong sih, Tante. Tadi itu aku emang ngelihat om Al," sahut Kurnia lalu mengayunkan langkah ke dapur untuk menata belanjaannya.
Baru beberapa langkah Kurnia kembali berhenti. "Ehmm, bisa jadi om Al mampir ke tempat lain dulu sebelum ke sini, mungkin dia mau beliin oleh-oleh dulu buat Tante!"
Riana diam saja, dia memperhatikan langkah Kurnia yang melanjutkan niatnya menuju dapur.
Dalam hatinya Riana berharap apa yang dikatakan keponakannya itu benar, dan pria yang merupakan ayah dari anaknya itu segera muncul di hadapannya.
Riana terus menunggu, waktu terus berputar, tapi sosok Almeer tak juga muncul. Hal ini membuat Riana gelisah, ke mana perginya pria itu?
Apa terjadi sesuatu padanya di jalan?
Atau mungkin dia memang tidak berniat datang ke sini?
Berkali-kali Riana menoleh ke arah pintu rumahnya, berharap pria yang dinantinya itu datang, dan mengetuk pintu.
Namun sepertinya harapan Riana tidak akan terjadi. Bahkan hingga menjelang tengah malam, batang hidung Almeer tidak juga muncul.
Riana kini hanya bisa mengutuk dirinya karena terlalu berharap kepada pria seperti Almeer. Dia merasa bodoh, karena terlalu mudah percaya dengan ucapan pria muda tersebut.
Riana pergi ke kamarnya, dia rebahan di sana. Mencoba memajamkankan mata, tapi hatinya yang gelisah membuatnya kesulitan untuk terlelap.
'Salahkan dirimu sendiri yang terlalu berharap Riana,' Dia bergumam merutuki dirinya sendiri.
Ada rasa kecewa yang bersarang di hatinya, kecewa pada diri sendiri yang lemah, kecewa pada Almeer yang menghilang tanpa sebab, semuanya bebaur menjadi satu.
Riana akhirnya tertidur saat malam sudah benar-benar larut, dia harus menerima kenyataan pahit, Almeer tidak akan muncul malam ini.
Pagi harinya Riana terbangun karena dering ponsel yang begitu mengganggu, dia menggeliat malas untuk meraih ponselnya di atas nakas.
Riana berdecak saat melihat nama pemanggil yang tak dikenalnya, meski begitu dia tetap menjawab panggilan tersebut.
"Selamat pagi, ini siapa ya?" tanya Riana dengan suara yang masih terdengar mengantuk.
"Halo, Bu, eh maksudku Kak. Ini aku Aeyza," Terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.
"Iya, Za, ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, kok. Hanya ingin tahu kabar Kakak saja," sahut Aeyza.
"Kabarku baik, bagaimana dengan dirimu sendiri?" balas Riana ramah, sejujurnya dia ingin menanyakan kabar Almeer kepada adiknya itu, tapi dia sekuat hati menahan perasaannya.
"Syukurlah. Oh, iya, Kak. Bagaimana hubunganmu dengan abangku?"
"Hubungan kami baik, tidak ada masalah apa-apa," jawab Riana berbohong, padahal pria itu sudah menghilang tanpa kabar sejak seminggu yang lalu.
"Aku senang mendengarnya. Jangan kecewain abang Al, ya, Kak. Dia sudah berkorban banyak untukmu, aku berharap kamu mau menemaninya untuk bangkit dari titik terendahnya," ujar Aeyza.
Berkorban banyak? Menemaninya di titik terendah? Apa terjadi sesuatu pada Almeer?
Riana tertengun sejenak, dia tidak mengerti. Riana sama sekali tidak tahu tentang kabar terbaru Almeer, mereka tidak pernah bertemu lagi sejak Almeer memberinya sebuah cincin. Dan jujur, dia sudah sangat merindukan pria itu.
"Kak, kamu masih di sana?" tanya Aeyza, sudah beberapa detik berlalu, tapi tidak terdengar suara Riana menyahut.
"Eh, iya, Za. Aku masih di sini. Apa maksud perkataanmu tadi, Za? Aku tidak mengerti!" Riana baru kembali ke alam sadarnya.
"Kak, mungkin abangku itu sedikit konyol dan tidak tahu aturan. Tapi dia bersungguh-sungguh memilihmu sebagai pendampingnya, dia bahkan rela melepaskan segalanya demi menolak perjodohan yang direncanakan daddyku. Semua itu dia lakukan karena dia menginginkan kakak sebagai istrinya. Dia ...."
"Sebentar, Za!" Riana memotong perkataan Aeyza. "Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu, apa terjadi sesuatu pada Almeer?"
Di seberang sana Aeyza mulai bingung, tapi akal cerdasnya dengan cepat menangkap apa yang sebenarnya terjadi. Pasti kakaknya itu belum memberitahu Riana tentang apa yang menimpanya, dengan alasan yang tidak Aeyza ketahui.
"Sudah berapa lama kakak tidak bertemu abang Al?" Aeyza bertanya balik.
"Sekitar seminggu!"
"Astaga!" Aeyza semakin yakin akan tebakannya, Almeer pasti merahasiakan semuanya dari Riana.
"Kak, jika ada sedikit saja perasaanmu untuk abangku, tolong support dia, ya. Saat ini dia sedang menata hidupnya dari awal, dia sekarang tidak punya apa-apa, dia dikeluarkan dari perusahaan, Kak. Semua itu dia lakukan demi kamu, karena dia menolak perjodohannya Kak," jelas Aeyza.
Seketika itu juga perasaan Riana menjadi tak menentu. Ada kebahagiaan yang membuncah di hatinya saat mendengar ada seorang pria yang begitu tulus memperjuangkannya. Tapi di sisi lain dia juga merasa bersalah, karena sudah membuat kacau kehidupan pria tersebut, dan membuatnya kehilangan segalanya.
"Za, boleh aku tahu di mana alamat abangmu?" tanya Riana dengan suara bergetar.
"Nanti akan aku kirimkan," sahut Aeyza.
"Terimakasih."
"Jangan bilang abang Al, kalau aku yang ngasih tahu alamatnya, ya Kak. Sepertinya dia punya alasan sendiri, sehingga merahasiakan apa yang terjadi padanya darimu," ujar Aeyza.
"Iya, Za. Aku tidak akan memberi-tahunya." Riana berjanji.
"Aku titip abangku, ya Kak. hari ini aku pindah ke kampung suamiku!"
"Kamu mau pergi, Za? Apa yang terjadi?
"Panjang ceritanya! Jika nanti Tuhan memberi kita umur yang panjang, dan kamu berjodoh abangku, kita pasti akan bertemu lagi. Dan kita bisa saling berbagi cerita sembari menikmati segelas teh hangat. Aku tutup telponnya ya Kak, aku harus berkemas untuk keberangkatanku." Aeyza mengakhiri sambungan mereka.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Aeyza, Riana segera mandi, dia harus menemui Almeer hari ini.
Berbagai rasa kini sedang kini sedang berkecamuk, merasa paling berhak menempati hatinya. Bahagia karena ada pria yang tulus memperjuangkannya. Sedih mengetahui pria itu harus kehilangan segalanya demi dirinya. Marah karena pria itu tidak memberi-tahunya. Hingga kecewa karena pria itu tidak ingin berbagi suka-duka dengannya.
Setelah selasai mandi dan mengganti pakaian, Riana langsung memeriksa ponselnya. Ada sebuah pesan dari Aeyza di sana, yang mengirimkan alamat Almeer.
Riana pun bergegas berangkat ke alamat yang diberikan Aeyza, dia menekan bell berkali-kali saat tiba di depan di apartemen Dino, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Apa dia sudah ada di caffenya sepagi ini?" gumam Riana. Dia kembali membuka ponsel untuk melihat Alamat caffe yang tadi dikirimkan Aeyza.
Riana segera berangkat menuju caffe tersebut. Dia tiba di sana, cafe ini masih terlihat sangat baru, bahkan tatanan outdoornya pun belum selesai dikerjakan. Jelas sekali cafe ini dibuka dengan tergesa-gesa, tanpa memiliki persiapan yang matang.
Riana mengintip ke dalam cafe, air matanya hampir menitik melihat almeer sedang melayani pelanggan.
Memang pekerjaan itu tidak buruk, bahkan lumrah bagi orang yang sudah terbiasa banting tulang untuk sesuap nasi. Tapi ini akan menjadi hal yang sangat tabu, bila dikerjakan oleh seorang anak sultan seperti Almeer. Dan yang membuat Riana semakin pilu, Almeer menjadi seperti ini karena dirinya.
Rasa marah kini juga membakar hati Riana, dia kecewa karena pria itu lebih memilih menjauh, daripada memintanya hadir untuk membangun kehidupan bersama.
Riana menyusul Almeer yang sedang membawa piring kotor ke dapur, mata Riana yang sudah berkaca-kaca itu melotot tajam saat mereka beradu pandang.
"Picik kamu, Al. Seburuk itukah penilaianmu terhadapku!" Riana berucap di antara terisak dan meraung.
Tangan yang sejak tadi sudah mengepal di sisi tubuh Riana tiba-tiba mengayun, lalu mendarat mulus di pipi Almeer.
Plaakk ....
Almeer menatap bingung sembari memegangi pipinya yang perih.
Apa yang terjadi sehingga dia tiba-tiba mendapatkan tamparan?
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya.
Terimakasih.
semangaaaat semua perempuan