NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Peluncuran Kuantum

Kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh runtuhnya faksi militer Wiranto Baskoro di Batam segera diisi oleh pengaruh absolut Wijaya Group. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Pulau Ranai yang tadinya merupakan basis pertahanan swasta ilegal, kini telah disulap menjadi kawasan paling terisolasi dan paling ketat pengawasannya di seluruh Nusantara. Ratusan kapal pengangkut material berat milik perusahaan logistik kami berlabuh bergantian di dermaga baru pulau tersebut, memobilisasi komponen-komponen raksasa yang tidak pernah dilihat oleh pekerja konstruksi biasa.

Pagi ini, langit di atas Pulau Ranai tampak biru bersih tanpa awan. Di tengah-tengah pulau, sebuah menara peluncuran roket setinggi seratus dua puluh meter berdiri dengan megah, memantulkan cahaya matahari pada lapisan logam titanium-grafena yang berkilau perak kehitaman.

Ini adalah fasilitas inti dari Asura Space.

Di dalam ruang kendali utama yang berlantai marmer hitam mengilat, puluhan layar monitor raksasa menampilkan grafik telemetri, tekanan bahan bakar ion kuantum, dan jalur orbit satelit. Di tengah ruangan, Kirana berdiri dengan gaun formal blazer biru dongker yang elegan. Matanya menatap tidak berkedip ke arah infografis roket Asura-1 yang siap meluncur di luar jendela kaca tebal.

"Adrian..." Kirana berjalan mendekat ke arahku, suaranya dipenuhi oleh rasa takjub yang berbaur dengan ketegangan. "Sistem pertahanan udara yang baru saja dipasang di sekeliling pulau ini... aku baru saja melihat laporannya. Itu adalah meriam laser berkekuatan tinggi yang bahkan bisa melelehkan jet tempur siluman dalam waktu satu detik dari jarak lima puluh kilometer. Dari mana semua teknologi ini berasal?"

Aku yang sedang berdiri di depan konsol kendali utama hanya tersenyum tipis, merapikan lengan kemeja hitamku. "Dunia ini dipenuhi oleh rahasia, Kirana. Anggap saja ini adalah hasil kerja sama dengan para ilmuwan jenius dunia yang memilih untuk setia di bawah naungan modal tanpa batas milik Asura Digital Bank. Dengan sistem laser Asura Shield ini, tidak akan ada satu pun kekuatan asing atau intelijen barat yang bisa mengintip apa yang sedang kita bangun di sini."

[Ding! Pembangunan Fasilitas Peluncuran 'Asura Space' Mencapai 100%!]

[Status Roket 'Asura-1': Siap Meluncur ke Orbit Geostasioner!]

[Tugas Misi: Luncurkan Satelit Komunikasi Kuantum Pertama dan Hubungkan Jaringan Enkripsi 'Asura Bank' Secara Global!]

Mendengar konfirmasi mekanis dari Sistem Penguasa Dewa di dalam benakku, aku langsung menekan tombol interkom ruangan. "Seluruh divisi, aktifkan hitung mundur peluncuran. Kosongkan radius lima kilometer dari zona landasan."

"Dimengerti, Tuan Adrian! Hitung mundur dimulai dari T-minus enam puluh detik!" suara kepala insinyur siber bergema melalui pengeras suara ruangan, memicu atmosfer ketegangan yang sangat tinggi di antara ratusan staf ahli yang hadir.

Namun, di tengah jalannya hitung mundur yang krusial itu, salah satu layar monitor pemantau perimeter radar mendadak berkedip merah secara agresif. Suara alarm peringatan dini berbunyi dengan nada yang melengking pendek.

"Lapor, Tuan! Ada gangguan!" teriak operator radar dengan wajah memucat. "Tiga jet tempur tak dikenal tanpa tanda negara terdeteksi memasuki wilayah udara teritorial Pulau Ranai secara ilegal dari arah Laut Cina Selatan! Kecepatan mereka mencapai Mach 2 dan mereka telah mengunci sistem pemandu rudal mereka ke arah menara peluncuran kita!"

Kirana langsung menegang, tangannya refleks menggenggam lengan bajuku dengan sangat erat. "Adrian! Itu pasti sabotase dari aliansi dagang barat atau sisa-sisa sekutu Baskoro yang tidak ingin kita menguasai jalur komunikasi satelit!"

Di dalam ruang kendali, kepanikan mulai menjalar di antara para staf. Serangan udara dari tiga jet tempur modern bisa menghancurkan investasi senilai ratusan triliun ini dalam sekejap mata.

Namun, wajahku tetap sedingin es. Aku melangkah ke konsol kendali pertahanan, menggeser tuas digital berlogo kepala dewa pelindung, dan mengaktifkan sistem yang didapatkan dari hadiah misi kemarin: Asura Shield.

"Aktifkan pertahanan laser otomatis," perintahku datar, tanpa ada sedikit pun kepanikan di dalam nada suaraku. "Targetkan mesin pendorong mereka. Beri mereka pelajaran tentang siapa pemilik langit Nusantara yang sesungguhnya."

Di luar gedung, dari tiga menara kubah metalik yang tersebar di sudut-sudut pulau, perlahan muncul laras meriam optik kuantum yang memancarkan energi biru murni. Tepat ketika tiga jet tempur siluman musuh menukik turun dan bersiap melepaskan rudal jelajah mereka, tiga kilatan cahaya laser tak terlihat melesat membelah atmosfer dengan kecepatan cahaya.

Bzzzt!

Tidak ada suara ledakan yang menggelegar, namun di layar monitor pemantau, bagian sayap dan mesin dari ketiga jet tempur tak dikenal itu mendadak meleleh dan terpotong rapi di udara seperti pisau panas yang memotong mentega. Sistem kendali mereka lumpuh total, memaksa ketiga pilot asing itu menekan tombol kursi lontar darurat sebelum jet-jet mewah seharga miliaran dolar itu jatuh dan tenggelam ke dalam dasar laut Natuna yang dalam.

"Seluruh target dilumpuhkan dalam waktu nol koma empat detik!" lapor operator radar dengan mulut terbuka lebar karena syok yang amat sangat. Mereka belum pernah melihat sistem pertahanan udara seefisien dan semematikan ini sepanjang sejarah militer modern.

"Lanjutkan hitung mundur," ujarku tenang, seolah-olah baru saja mengusir tiga ekor lalat yang mengganggu.

"T-minus sepuluh... sembilan... delapan..." suara kepala insinyur kembali bergema, kali ini dipenuhi oleh rasa hormat dan kekaguman yang mutlak terhadap kekuatanku.

"Tiga... dua... satu... IGNITION!"

Di luar jendela kaca besar, bagian dasar roket Asura-1 mendadak memancarkan semburan api biru murni yang sangat tenang dari mesin pendorong ion kuantumnya. Tanpa suara gemuruh yang memekakkan telinga seperti roket berbahan bakar konvensional, roket raksasa seberat ratusan ton itu melesat naik ke angkasa dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan lingkaran asap putih vertikal yang membelah awan langit Pulau Ranai.

Hanya dalam waktu tiga menit, roket tersebut telah menembus batas atmosfer bumi dan memasuki orbit luar yang ditentukan. Di layar utama ruang kendali, sebuah grafis animasi menunjukkan satelit Asura-Alpha*l berhasil membuka panel surya dan antena pemancar kuantumnya dengan sempurna.

[Ding! Peluncuran Satelit Kuantum 'Asura-Alpha' Sukses Mutlak!]

[Jaringan Enkripsi Global 'Asura Digital Bank' Telah Terhubung 100%!]

[Seluruh Sistem Keuangan Wijaya Group Kini Tidak Dapat Disadap atau Diblokir Oleh Negara Mana Pun di Bumi!]

[Hadiah Utama Diaktifkan: Sistem Pertahanan Udara Laser 'Asura Shield' Diperbarui ke Level Maksimal!]

[Saldo Rekening Tambahan Rp 1 Triliun Telah Berhasil Masuk ke Rekening Utama Anda!]

Mendengar rentetan laporan kesuksesan dari Sistem, aku membalikkan tubuhku menatap Kirana yang kini menatapku dengan air mata kebahagiaan yang mengalir di pipinya. Dia langsung menghambur ke dalam pelukanku, menangis haru karena menyadari bahwa posisi kami sekarang sudah berada di atas segalanya. Tidak ada lagi ancaman finansial, tidak ada lagi ancaman militer. Kami telah menguasai bumi dan langit.

Aku mempererat pelukanku pada pinggangnya, menatap layar monitor yang menampilkan jaringan Asura Bank yang mulai menyebar menguasai benua Eropa dan Amerika secara digital. "Ini baru awal, Kirana. Setelah langit ini berada di bawah kendali kita, saatnya kita membuat para penguasa dunia di belahan barat sana berlutut di hadapan Wijaya Group."

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!