Wanita Keras Kepala dan tak suka diatur selain menurut pada satu orang yaitu Kingnya, ia adalah sosok yang keras dan acuh.
Namun, ada hal dibalik sikap bengis itu muncul membuat ia dijahui banyak orang bahkan tak satupun pria yang mampu menyentuh hatinya.
Bagaimana jika ia di jodohkan dengan pria yang tak kalah Arogan dan keras kepala, kasar bahkan sama sekali tak menyukainya sedari awal bertemu?
Akankah mereka bertahan, atau malah berpisah ditengah ketidak cocokan Perasaan dan Kekerasan hati itu?
Na'as hati itu mulai mencair, masa lalu kelam datang menghampiri menerjang pondasi yang sama sekali tak kokoh karna hanya satu hati yang menopangnya. membuat goresan luka yang membekas dalam.
"Akan ku lepas, jika kau bahagia,"
Satu lirihan kata yang terucap dengan netra Elang yang menatap sendu kepergian seseorang yang sudah membuat jiwanya terbelah untuk yang kedua kalinya.
Sudah cukup rasanya Mencinta! tak ada yang menghargai hingga mereka pergi begitu saja.
Bagaimana kelanjutannya, apakah mereka tetap bersama atau malah kembali hidup keras masing-masing.
Simak ceritanya di Novel Author kesayangan ini😂..
Mohon Mampir...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melembut atau Melepas!!
Stephen tampak berdiri mundar-mandir didekat Pantai Barts Weet sana dengan Menyuguhkan Look yang sangat indah dan segar dipagi hari ini.
Namun, kesegaran itu tak berpengaruh pada wajahnya yang terlihat khawatir karna Sang kekasih yang baru bertemu dengannya itu sedari tadi tak menjawab Telfonnya, rasa takut dan resah itu muncul karna tak tahu apa yang menimpa wanita itu.
"Haiss, Ayolah Sayang, Angkat!"
Gumam Stephen beberapa kali mengacak rambutnya Frustasi, ia ingin menyusul tapi tak tahu dimana tempat tinggal Alen apalagi Wanita itu tak sempat bercerita siang itu.
"Maaf, Tuan! anda kenapa?"
Seorang Penjaga Pantai yang sedari tadi mengamati Gestur Stephen yang seperti orang yang kebingungan dan khawatir membuat ia menduga-duga.
"Hm, Tidak! hanya menunggu Kekasihku!"
"Ouh, saya pikir anda sedang kehilangan sesuatu!"
Stephen hanya tersenyum ramah lalu kembali sibuk dengan Ponselnya, ia berusaha menghubungi Alen tapi tetap saja hanya suara Operator yang menjawab.
...........
Nareus mengetuk meja kerjanya dengan pelan sesuai dengan kilatan pikiran yang berusaha mencari jalan keluar, ia sudah pergi ke Perusahaan Moureen Crops Company sedari tadi, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membuat wanita itu memilih dan menurut padanya.
"Buron!"
"Iya, Tuan!"
Nareus menatap Asisten Buron intens lalu melihat jam tangan yang melingkar ditangannya, ia bukanlah pawang Cinta dalam hal ini.
"Saya rasa King bisa membantumu, Lord!"
Smith yang tahu pergelutan pikiran Nareus yang terlihat sangat bimbang untuk memutuskan, pria ini benar-benar mempertimbangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Telfon dia!"
"Baik!"
Asisten Buron menelfon nomor Janson karna ia tak bisa sembarangan menyimpan Nomor Kontak King Latina itu.
Tutt..
"Maaf, Tuan! Nomornya tak aktif!"
Nareus menghela nafas halus lalu mengambil Ponselnya mencari nama pria Arogan satu itu, tapi juga sangat Malas akhir-akhir ini mengurus aliran Perusahaannya di Negara Perancis.
"Hm!"
"Kau dimana?"
"Lansung saja!"
Nareus mengumpat mendengar suara datar itu, sudah ia duga kalau Mark sedang bersama Keluarga kecilnya itu membuat iri saja.
"Aku mau kau membantuku!"
"Memangnya kau siapa?"
Asisten Buron dan Smith saling pandang diam menunduk mendengar percakapan dua Penguasa Benua ini, keduanya sama-sama mempunyai harga diri yang tinggi dan tentunya sangat datar dalam berintonasi suara.
"Mark! kau harus membantuku!"
"Memohonlah!"
Seketika Nareus ingin melempar Ponselnya namun ia menghentikannya setela hela'an nafas berat itu muncul mencoba menerima keadaannya.
"Bantu aku!"
"Suaramu perbaiki!"
"Shena!!! kau ada disitu? Musnahkan Pria ini!"
Bentak Nareus kuat merasa sangat jengkel, ia tak punya waktu untuk bercanda tapi Mark selalu tak menganggapnya penting.
"*Sayang!"
"Hm! Iyaaa*!!"
Terdengar suara Shena yang sedang memasak, membuat Nareus merotasi malas saja membayangkan Keluarga Harmonis pria itu darinya.
"Ayolah, bantu aku! hanya sekali ini saja,"
"Cuihh! Memangnya kenapa?"
Nareus menghela nafas halus memindahkan sambungannya ke Laptop untuk Vidio Call sekaligus ingin melihat Bocah-Bocah mungil itu.
"Uncel Yus!!"
Pekikan Baby Mian yang terlihat sedang dipangku Mark yang menerima suapan dari Shena yang juga tampak mengurus Baby Denzo dan Baby Rea yang asik bermain berdua tanpa Baby Mian.
"Hello, Mian!"
"Uncel Yusss!!"
Nareus tersenyum melihat wajah Baby Mian yang berbinar seraya liur bening itu menjadi mainannya membuat Mark menepuk pipi gembul sang putra.
Pugh..
"Biii!"
"Jangan main Liur, kau ini..!"
Mark mengambil tisu dan mengelap mulut Mian yang sering memainkam air liur, Bayi satu itu sangatlah berbeda dengan Denzo yang lebih asik memeluk Baby Rea yang juga nyaman dengan Pelukan sang kakak.
"Ada apa, Reus?"
"Kalian sibuk sekali!"
Jawab Nareus tersenyum miris membuat Shena yang tadi bertanya pun seketika tertegun, ia bisa menangkap exspresii lain dari raut biasa dan tenang Nareus yang seakan menyimpan sesuatu.
"Masalah Alen?"
"Cihh, kau tahu sendiri dia tak mau menurut padaku kecuali Si Tua beranak tiga ini!"
Mark hanya menatapnya jengah seraya membiarkan Baby Mian mengotak-atik Ponselnya dengan wajah yang begitu serius dan sangat menggemaskan.
"Dia Anggotaku! Perlu Pengorbanan untuk menundukannya!"
"Hm, aku merasakanya sekarang!"
Jawab Nareus menyandarkan tubuhnya kekuris kerja dengan mata yang tak lepas dari Baby Mian dan Baby Denzo, apalagi Baby Rea yang begitu cantik membuat ia menghangat.
Entah kapan pikiran menuju kesanapun terlintas di Kepala Nareus, namun senyum sinis itu seketika muncul merasa itu sangat mustahil.
"*Coba saja kau Lembutkan! Wanita itu suka yang lembut-lembut!"
"Kalau pria juga suka, Sayang*!"
Shena menepuk pipi Mark nyaris tak bertekanan hanya mengelus lembut saja membuat Nareus hanya menjadi Penonton adengan Mesra Pasutri ini.
"Kau mau membantuku apa tidak?"
"Dia itu sangat keras, Cobalah mengalah untuk sesaat!"
"Maksudmu?"
"Kau mencintai Alen!"
Degg..
Hati Nareus bergetar mendengarnya, benarkah ia sedang jatuh Cinta? tapi kenapa setiap bersama Alen ia seakan keluh untuk menyatakan apapun.
"A..Aku..!"
"Kau buat saja Alen luluh! aku yakin wanita itu tak sekuat yang terlihat, Dia pasti akan luluh jika kau memahami Semuanya!"
Jelas Shena yang mengerti dan sudah merasakan pahit manisnya kehidupan, ia tak ingin Nareus memaksa tapi ia lebih tak ingin jika terjadi perpisahan.
"Dia itu sangat keras, Shena!"
"Kau tahu, Lebih baik melihat dia bahagia bersama orang lain dari pada Pura-Pura bahagia bersamamu!, itu lebih menyakitkan dari pada melepas!"
"Me..Melepas?"
"Hm, kau berusahalah semampumu! kalau bukan jodoh itu tak masalah karna kau sudah mencintainya saat dia bersamamu!"
Nareus tertegun, ia menghangat mendengar Kebijaksana'an Wanita ini, pantas saja Mark rela mati hanya demi tak ingin ditinggalkan karna Berlian cantik dan Sempurna yang diggenggam itu bukanlah Mahluk sembarangan.
"Terimakasih!"
"Dan Kaa..!"
Mark lansung mematikan sambungannya saat melihat Nareus dan Shena asik mengobrol tanpa memperdulikannya membuat Nareus lansung mengumpat.
"dasar Pria tua beranak Tiga!"
"Lord, Nona sedang memesan Ponsel!"
Smith menunjukan data diponselnya kalau Alen sedang memesan Online Ponsel melalui Alicia dengan Waktu yang sudah dekat tepat dilingkungan Kediaman Moureen.
"Kau ambil Ponsel itu dan lakukan hal seperti biasa!"
Smith mengangguk paham lalu melangkah pergi menjalankan titahan Nareus yang harus menyadap benda pintar itu, ia tak bisa membiarkan Alen berkeliaran begitu saja tanpa pengawasan darinya.
"Lord, dari data yang masuk! panggilan dari Step sebanyak 20 kali!"
Nareus terdiam seraya berfikir, kalau ia menjauhkan Alen dan Step tak akan bisa terus ia lakukan. untuk saat ini hanya itu yang dapat ia lakukan seraya memikirkan hal yang baru.
"Lembut!"
Gumam Nareus yang akan lebih memperhatikan itu, ia harus mengambil hati Alen barulah ia bisa memisahkan kedua manusia itu, kalau tidak Nareus hanya bisa pasrah akan takdir dan melepas jika itu lebih baik.
....
Vote and Like Sayang..