NovelToon NovelToon
NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama
Popularitas:509k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Nu Yayan

"Ningrat?? kok miskin?"

Pertanyaan itu sudah sering dilontarkan orang- orang pada Ning, saat mereka tahu nama asli Ning . Akan tetapi karena keadaan nya yang tak sesuai dengan namanya, seringkali menjadikan namanya sebagai ejekan baginya.


Tak hanya itu, bahkan ia memiliki kebiasaan aneh yang lain dari yang lain.

Akankah Ning bertemu dengan kebahagiaannya dibawah bayang- bayang cemoohan orang?



Ning juga dihadapkan pada dua pilihan tersulit dalam hidupnya.

"Yang satu ku sayangi, yang satu kucintai ...."

Pada siapakah hati dan hidupnya akan ia serahkan ...?

Nantikan kisahnya dalam NINGRAT Antara Dia dan Duda ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Nu Yayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menangislah Jika Itu Membuat Mu Lega ...

Ning yang sedang tertawa tiba- tiba teringat sesuatu hal. Ia pun berhenti tertawa.

“Eh, omong – ngomong kenapa wajah si kudanil kayak bonyok gitu ya? Tepian bibirnya juga kayak luka ….” ucapnya yang baru menyadari.

“Arhhh … apa peduli ku … mending aku tidur lagi ….” Ning pun kembali ke tempat tidur Nana. Baru saja ia duduk dan hendak berbaring, suara perut keroncongan kembali terdengar.

Kruk krukk krukk…

“Ya ampun, aku kan belum makan apa- apa setelah makan siang tadi ….” ucapnya sembari mengusap perutnya yang terasa lapar. Ia pun kembali bangun dan beranjak keluar dari kamar Nana.

Setelah menutup pintu Ning melihat kesana- kemari seperti memperhatikan situasi di rumah itu. Ia yang berdiri di ruang tengah, nampak bingung antara pergi ke ruang depan atau langsung ke ruang makan.

“Kok sepi amat sih? Udah pada tidur apa ya? Em, apa aku minta izin dulu ke Mbak Kinanti kalau aku mau makan? Tapi ... gak enak juga ngebangunin orang tidur ….” gumamnya berdialog sendiri.

Ning pun akhirnya pergi ke ruang makan. Dan ternyata di sana ada Athar yang sedang duduk sembari memegang sesuatu yang di tekan- tekankan ke wajahnya.

“Ih, ngapain sih si kudanil di situ juga?” gerutu Ning dengan suara pelan.

Ia hendak memutar arah, namun perutnya yang terasa lapar membuatnya tetap melangkahkan kakinya ke ruang makan.

“Tuan Om sedang apa disini?” tanyanya Ning yang kemudian menghampiri Athar.

“Ngompres wajah ….” jawabnya dengan menempelkan kompresan es batu dibalut kain pada pipinya.

“Emangnya Tuan Om lagi demam?” tanyanya lagi kemudian duduk di kursi yang berbeda sehingga membuatnya duduk saling berhadapan di meja makan berbentuk persegi panjang.

“Sejak kapan orang demam yang dikompres wajahnya, Ning?” Athar malah balik bertanya.

“Terus kenapa?” tanya Ning penasaran.

“Habis menghajar orang ….”

“Menghajar orang kok yang bonyok wajah Tuan Om? Menghajar atau dihajar?” Ning meragukan ucapan Athar.

“Awalnya menghajar jadi saling hajar ….” ucapnya mengakui.

Krukk kruk krukk …

“Perut siapa itu yang bunyi?” tanya Ning terkejut, hingga ia meraba perutnya sendiri.

“Tentu saja perut ku ….” ucap Athar ketus.

“Hah?” Ning terkejut mendengarnya.

“Huh hah hah hah!!! Ini semua gara- gara kau!” Athar kini menyalahkan Ning.

“Loh, kenapa aku yang disalahkan?” ucap Ning tak terima.

“Mana makan malam ku?” ucapnya menagih.

“Apa?” Ning kini baru teringat.

“Kau lupa atau pura- pura lupa?” Athar menatap kesal pada Ning.

“Hehehehehe ….” Ning malah cengengesan.

“Cepat masakan aku sesuatu, aku sangat lapar!!” titahnya.

“Ogah … masak aja sendiri sana!” tolak Ning.

“Baiklah, fotonya tinggal aku upload ….” Athar megeluarkan ponsel dari saju kemejanya.

“Ihhh, kau ini bisanya ngancam … iya iya iya aku buatkan sesuatu.”

Dengan terpaksa Ning pergi ke dapur dan memasak makanan untuk Athar yang menunggunya di meja makan. Ia pun sekalian memasak untuk dirinya yang juga.

“Nih ….” Ning menyajikan mangkuk berisi masakannya dan ia membawa satu mangkuk lagi untuknya.

“Makanan macam apa ini?” Athar seolah menghina masakan Ning.

“Mi instan pakai telur dan sawi … hanya itu yang bisa dimasak cepat ... Sudah makan saja daripda kelaparan ….” Ning pun duduk untuk makan mie instan yang sudah dimasaknya pula.

Athar yang sebenarnya tidak ingin makan, terpaksa makan masakan Ning, karena memang ia sudah sangat lapar. Keduanya pun makan tanpa bicara hingga mereka berdua menghabiskan makanan masing- masing.

“Enak kan ….” ucap Ning yang baru selesai minum.

“Lumayan buat ganjel perut.”

“Lumayan kok cepat banget habisnya ….” sindir Ning, namun Athar tak menghiraukannya dan malah memainkan ponselnya.

“Tuan Om ….” Panggil Ning.

“Hmmm ….” sahutnya tanpa menoleh karena matanya tetap fokus pada layar ponselnya.

“Nana itu manggil Tuan Om Dady atau Papa sih?” Ning yang penasaran sejak lama, akhirnya berani menanyakan hal itu pada Athar.

“Dady.” jawabnya singkat.

“Tapi kok kadang Nana manggil Papa?” tanya Ning heran.

“Itu beda lagi.”

“Hah? Maksudnya?” Ning semakin bingung.

“Nana memanggil ku Dady dan yang dipanggil Papa ya si Singgih sialan itu ….” ucap Athar memperjelas.

“Apa? Kok bisa?” Ning kembali terkejut.

“Emang dia bapaknya, mau gimana lagi?”

“Hah? Maksudnya Nana anaknya Bu Ros sama Dokter Singgih gitu? Aku pikir Nana itu anaknya tuan Om sama Nyonya Rosmala ….” Ning mengungkapkan hasil pemikirannya sendiri.

“Apa?” kini gilran Athar yang terkejut, ia langsung menatap kesal pada Ning.

“Apa kau sudah tidak waras? Kak Ros itu kakak ipar yang sudah seperti ibu bagi ku, yang benar saja aku punya anak dengnnya? Abang ku saja masih hidup ….” cerocosnya kesal.

“Abisnya Nana memanggil tuan Om Dady, sedangkan Nyonya Ros dipanggil onty mama ….” Ning mengemukakan alasannya.

“Apa kau tidak tahu kalau dalam bahasa Inggris, onty itu artinya tante?” ejek Athar.

“Ya tahu lah … aku gak bego- bego amat kali … Tapi kan manggilnya onty mama … Apalagi saat aku membawa Nana ke rumah itu, Nyonya Ros sangat marah dan menyebunyikan Nana dari Nyonya besar … makanya aku berspekulasi sendiri ….” ucap Nin panjang lebar.

“Iya … spekulasi gila!!” sindir Athar.

“Biasa aja kali … gak usah pakai soda!!” Ning mendengus kesal, namun ia masih sangat penasaran. “Jadi Nana itu anak siapa sih sebenernya?”

“Pijat dulu punggung ku … pegal banget nih ….” Athar malah mengalihkan pembicaraan dan menagih upahnya.

“Ogah …” Ning memutar jengah bola matanya dan mencebikkan bibirnya.

“Fotonya____” Athar menggoyang- goyangkan ponselnya sembari tersenyum licik.

“Ck … Iya iya iya ….” Ning tak bisa lagi menolak perintah Athar. Ia bangkit dan menghentakkan kaki, lalu berjalan hingga ia berdiri tepat di belakang Athar yang sedang duduk di kursi.

“Kok berdiri aja … pijat dong ….” Protes Athar yang tak kunjung merasakan ada yang memijatnya.

“Iya, bawel ….” Ning pun memulai pijatannya dengan kasar.

“Aww … yang ikhlas dong mijat nya … Jangan kasar gitu ….” Protes Athar, Ning pun memelankan pijatannya.

“Itu terlalu pelan, seperti bukan dipijat tapi hanya diusap saja ….”

“Protes mulu sih !!!”

“Aku kirim fotonya ke Kak Ros nih ….” anacaman kembali dikeluarkan.

“Iya iya bawel ….” Ning akhirnya memijat Athar dengan benar, namun sesungguhnya ia ingin sekali mencakar- cakar wajah Athar dan menjambak rambutnya sampai botak dengan membabi buta.

“Nah gitu dong … enak juga pijatannya ….” ucapnya memuji karena sudah mulai menikmati pijatan Ning, hingga matanya merem melek.

Ning yang merasa jengkel hanya mencebikkan bibirnya tanpa menjawab. Bibirnya seperti komat kamit memaki Athar, namun tak mengeluarkan suara. Ia pun hanya memijat sampai lima menit saja, lalu menghentikannya.

“Kok berhenti?” Athar kembali protes.

“Tangan ku pegal, lagian aku harus membereskan bekas makan kita ….” ucapnya lalu melengos dan mengambil mangkuk serta gelas kotor bekas mereka untuk dibersihkan di dapur.

Tak lama Ning pun kembali dan duduk di tempat semula.

“Tuan Om, kenapa belum pulang? Bukannya tinggal di apartemen?” tanyanya heran.

“Aku menginap disini, karena tidak mungkin meninggalkan kamu sama Nana berdua saja….”

“Hah? Berdua? Yaelah … di sini tuh ada Mbak Kinanti, Bu Asri sama Pak dokter kali ….”

“Dokter siapa? Dokter Daniel, hahaha ….” ejek Athar yang teringat bahwa Ning mengira jika Daniel itu adalah dokter anaknya Bu Asri.

“Ihh … kau itu !!! tentu saja Dokter Singgih ….”

“Ternyata kalau sudah tidur kau itu benar- benar seperti kebo … Sampai tadi ada ambulan saja gak tahu ….” ucap Athar.

“Hah? Ambulan?”

“Iya, Kondisi Bu Asri tidak memungkinkan untuk dirawat di rumah … makanya beliau dibawa ke rumah sakit ….”

“Apa? Ya ampun separah itu kah kondisi Bu Asri?” Ning terlihat khawatir.

“Tenang saja, Kinanti sudah mengabari ku kalau Bu Asri sudah membaik setelah mendapatkan penanganan.”

“Syukurlah ….” Ning bernafas lega, keduanya tiba- tiba terdiam.

”Tuan Om ….” panggil Ning

“Hmmm ….”

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi sih? Tadi Tuan Om bilang Dokter Singgih itu bapaknya Nana … Tapi tadi dia mengusir Nana dari kamarnya ….” Ning kembali ke pembahasan awal.

Athar menghela nafas panjang. Raut wajahnya tiba- tiba berubah. Bukannya menjawab, ia malah kembali terdiam nampak memikirkan sesuatu.

“Hei, Tuan Om … ko diam aja sih? Gak tahu apa kalau aku sudah kepo maksimal nih ….” Ning merasa greget karena tak kunjung mendapat jawaban dari rasa penasarannya.

“Nana itu anaknya Diandra dan Singgih ….” ucap Athar.

“Diandra?” tanya Ning heran.

“Diandra itu adik perempuan ku ….”

“Jadi Nana itu keponakan Tuan Om?” tanya Ning memastikan.

“Hmmm … Tapi aku sangat menyayanginya dan sudah menganggapnya seperti putri ku sendiri … Karena Singgih tak pernah memperhatikannya.”

“Kalau Nana anaknya dokter Singgih dan adiknya tuan Om, kenapa dia tadi mengusir Nana dari kamarnya?” Ning semakin bingung dan heran.

“Singgih mengabaikan Nana karena Diandra meninggal setelah melahirkannya. Dia menganggap Nana sebagai penyebab kematian istri yang sangat dicintainya dan menyebut Nana sebagai anak pembawa sial. Karena setelah pemakaman Diandra, Singgih dipecat dari rumah sakit dan klinik tempat ia bekerja.” Athar menjelaskan hal yang membuat Ning terus bertanya- tanya.

“Apa?” Ning terkejut mendengar hal itu.

Tiba- tiba ia terdiam dengan menundukkan kepalanya. Ning yang sebelumnya begitu antusias ingin tahu, kini nampak ada rasa sesal karena mencari tahu terlalu dalam. Ia seolah merasakan kesedihan yang Nana rasakan. Karena ia pun sudah tak memiliki orang tua sejak ia masih kecil.

Athar pun demikian, ia terlihat sedih setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Keduanya pun terdiam dalam pemikiran masing- masing hinga beberapa saat.

Athar bangkit dari duduknya. “Ini sudah larut … sebaiknya kamu tidur, Ning.”

“Hmmm …” Ning menganggukkan kepalanya, ia pun bangkit.

“Kau tidur saja di kamar Kinanti, aku akan tidur di ruang tamu.”

“Aku akan menemani Nana ….” ucap Ning dengan nada lemas.

Ning lalu pergi meninggalkan ruang makan, begitu pun dengan Athar. Ning kembali masuk ke kamar Nana. Ia melangkah perlahan agar tak mengusik tidur sang peri kecil. Ning pun kembali berbaring di sebelah Nana tidur.

“Kasihan kamu Nana … semua ini pasti berat untuk kamu .. Tapi kamu lebih beruntung, karena masih banyak orang yang menyayangi mu ….” lirihnya sembari mengusap kepala Nana, hingga tak terasa air mata pun menetes begitu saja.

***

Keesokan harinya, setelah subuhan Ning melakukan pekerjaan rumah tangga, dari beres- beres, bersih- bersih hingga memasak. Ia pun memandikan Nana dan menyiapkannya untuk berangkat ke sekolah.

“Kakak peri, Dady mana?” tanya Nana yang tak melihat keberadaan Athar.

“Em, kayaknya sudah pulang tadi subuh ….”

“Dady kan mau ajak Nana makan es krim ….” Nana menagih janji.

“Ini kan masih pagi … nanti makan es krim nya setelah peri kecil pulang sekolah, ya ….”

“Iya ….” angguk Nana yang kini selalu menuruti perkataan Ning.

“Ayok kita makan dulu ….” Ning lalu membawa Nana ke ruang makan.

“Nenek sama onty sama papa mana?”

“Em, mereka pergi ke rumah sakit … Hari ini Kakak yang akan menemani Nana sekolah juga bermain.”

“Horeee ….” Nana terlihat senang, karena ia pikir jika Kinan dan Singgih memang bekerja di rumah sakit. Jadi ia tak banyak bertanya lagi.

“Kalu gitu kita makan dulu ya … Nana harus makan yang banyak ….”

“Iya ….” Nana mengagguk dan ia pun makan dengan bersemangat.

Ting ting

Ponsel Ning berbunyi yang menandakan ada pesan masuk.

Kudanil Mesum

“Tolong jaga Nana selama Kinan menjaga Bu Asri di rumah sakit.”

“Sopir akan mengantar kalian ke sekolah.”

“Aku sedang banyak pekerjaan di kantor.”

“Aku sudah menitipkan sejumlah uang pada sopir untuk pegangan.”

Ning

“Iya.”

Ning hanya menjawab singkat. Ia lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia pun pergi mengantarkan Nana ke sekolah dan menunggunya di sana.

Setelah Nana selesai sekolah, ia menagih janji membeli es krim. Ning pun membelikan beberapa es krim yang dipilih Nana dari sebuah mini market. Mereka membawa pulang es krim nya dan di makan di rumah.

Nana yang sepulang sekolah terus bermain bersama Ning, akhirnya tertidur. Ning pun membereskan mainan Nana yang berserakan dan merapikannya.

“Apa ini?” Ning menemukan sebuah surat yang di kop suratnya bertuliskan nama sekolah Nana di atas meja belajar. Ia pun membuka dan membaca surat tersebut.

Ting Nong …

Terdengar suara bel rumah berbunyi. Ning pun berbegas pergi ke depan untuk membukakan pintu dengan surat yang masih di tangannya.

Ceklek …

Ning membuka pintu, dan terlihat seseorang berdiri di hadapannya. Pria tampan yang berperawakan tinggi itu membuat Ning terpana melihatnya.

“Ternyata dokter Singgih ganteng banget … Baru kali ini aku melihat wajahnya dengan jelas ….” gumam Ning dalam hati.

“Permisi ….” ucapnya yang membuat Ning terperanjat.

“Iy iya ….” Ning pun menggeser dari gawang pintu dan membiarkan Singgih masuk melewatinya begitu saja.

“Loh … kok pipinya kayak lebam gitu?” tanyanya dalam hati.

“Jangan- jangan semalam dokter Singgih yang berkelahi sama si kudanil ….” ucapnya menduga- duga. Ia menutup kembali pintu dan menguncinya, kemudian duduk di kursi tamu.

“Sepertinya aku pernah melihat dokter Singgih sebelumnya … tapi dimana ya?” gumamnya sembari mengingat- ingat.

Ning kembali berdiri saat melihat Singgih kembali dari kamarnya dengan menggendong tas ransel.

“Bagaimana keadaan Bu Asri?” Ning memberanikan diri berbicara pada Singgih.

Singgih menghentikan langkahnya.

“Sudah membaik, tapi masih perlu di rawat di rumah sakit.”

“Syukurlah kalau begitu … Nana baru saja tidur.” ucap Ning.

Singih kembali berjalan menuju pintu keluar dan tak menghiraukan ucapan Ning.

“Apa anda akan pergi? Apa anda sama sekali tidak perduli pada anak anda? Dia sendirian di sini dan saya tidak bisa menjaganya terus menerus, karena saya juga harus pulang,” ucap Ning berpura- pura akan pergi.

Singgih terdiam di depan pintu. Ning kemudian berjalan menghampirinya.

“Kemarin saya melihat Nana berdiri di depan pintu kamar anda … Dan dia ingin memberikan ini pada anda ….” Ning menydorkan surat yang ada di tangannya. Singgih pun menerima surat itu, kemudian membuka dan membacanya.

Singgih melipat kembali surat itu dan menyodorkannya lagi pada Ning utuk dikembalikan.

“Berikan saja ini pada Daniel ….”

“Apa? Pak Daniel itu siapa? Anda yang merupakan orang tua dari Nana … Dan acara sekolah itu diperuntukan untuk anak dan orang tuanya.” Bukannya menerima surat itu, Ning malah mempertanyakan respon Singgih.

“Saya tidak bisa hadir.”

“Kenapa?” tanya Ning lagi.

“Saya harus pergi bekerja.”

“Karena pekerjaan atau memang anda tidak memperdulikan Nana?” Ning memberanikan diri menatap pria yang berdiri di hadapannya itu. Meski ia harus menanggahkan kepalanya, karena Singgih jauh lebih tinggi darinya.

“Nana itu anak kandung anda, darah daging anda … Tapi kenapa anda memperlakukannya seperti ini?” ucapnya dengan tatapan tajam.

“Kasihan dia … setiap tidur selalu mengigau memanggil- manggil papa nya … Dia sudah kelilangan ibunya sejak ia lahir, dan sekarang hanya anda orang tua kandung yang dimilikinya.”

“Anda itu hanya orang asing dan tamu di rumah ini … Jadi tidak perlu ikut campur dalam urusan keluarga saya ….” ucapnya dengan penuh penegasan.

“Saya tahu saya ini orang asing … Tapi saya bisa merasakan apa yang Nana rasakan …” Ning menghela nafas sejenak untuk menjaga dirinya agar tetap tenang.

“Saya tahu bagaimana rasanya dianggap sebagai pembawa sial sejak saya lahir, dan itu sangat menyakitkan karena hingga saya dewasa pun saya selalu mengangap diri saya ini membawa sial pada setiap orang yang dekat dengan saya ….” ucap Ning lalu menundukan kepalanya.

“Saya juga tidak diterima oleh bapak saya sejak saya lahir, karena ibu saya meninggal sesaat setelah melahirkan saya … Hingga saya berusia 6 tahun, Bapak saya baru bisa menerima saya … Anda tahu kenapa?” Ning kembali menatap mata Singgih yang terdiam membisu.

“Karena jauh di lubuk hatinya, beliau mencintai dan menyayangi saya sebagai darah dagingnya sendiri … Tapi rasa sedih dan marahnya karena kehilangan ibu menutupi hal itu … Dan saya rasa itulah yang juga terjadi pada anda ….”

Singgih menatap balik mata Ning yang mulai berkaca- kaca. Ia lalu membuang muka dan kembali melangkah untuk pergi. Baru saja ia menekan pegangan pintu, Ning kembali bicara.

“Saya yakin jika mendiang istri anda masih ada, ia tidak akan membiarkan anak yang sudah susah payah ia perjuangkan dengan bertaruh nyawa diperlakukan seperti ini … Jika anda tidak percaya, silahkan gali kuburan istri anda dan anda akan menemukan dia sedang menangis darah melihat putrinya diabaikan bahkan disia- siakan oleh ayah kandungnya sendiri ….”

“Tolong … jangan biarkan Nana mengalami keterpurukan seumur hidupnya karena menganggap dirinya sebagai pembawa sial bagi orang lain … Dia putri anda, darah daging anda dan dia sangat menyayangi anda ….”

Ning tak kuasa menahan air matanya yang jatuh menetes begitu saja. Hal itu seolah menjadi kilas balik akan apa yang pernah dialaminya dalam kehidupannya.

“Dia sudah kehilangan ibunya, dan kini andalah orang tua kandungnya satu- satunya yang dia miliki … Jangan buat dia merasakan kalau dirinya anak yatim piatu ….” Ning menahan diri agar tak menangis di tempat itu, meski air matanya tak berhenti menetes.

“Mungkin sekarang anda tidak mau menerimanya … Tapi jangan pernah menyesali jika suatu hari dimana saat anda ingin mengakuinya, tapi dia menolak anda dan lebih memilih menyanyagi orang lain yang memberinya cinta dan kasih sayang… Itu pasti akan lebih menyakitkan ….”

Ning kemudian pergi begitu saja meninggalkan Singgih yang masih diam membisu setelah mendengar semua ucapan Ning. Ia nampaknya sudah tak sanggup lagi menahan perasaaanya yang sangat sedih mengingat semua yang pernah menimpa dirinya dan kini menimpa Nana.

Ia hanya mengikuti langkah kakinya kemana membawanya pergi dengan deraian air mata, namun tetap menahan suara agar isakannya tak terdengar orang lain.

Kini ia berdiri di depan wastafel tempat mencuci piring di dapur. Air matanya tak berhenti mengalir, namun ia masih menahan bibirnya agar tak mengeluarkan suara.

Tiba- tiba ada tangan seseorang yang menyentuh bahunya dari arah belakang. Ning yang merasakan sentuhan itu segera menghapus air jejak air matanya dan berbalik.

Orang itu tersenyum pada Ning dan kedua mata mereka pun saling bertatapan.

Grepp …

Ning langsung memeluk orang itu. Dan air matanya pun kembali tumpah.

“Menangislah jika itu bisa membat mu lega ….” ucapnya lirih.

“Huaaaaaaa … Huaaaaaa ….”

Tak disangka Ning benar- benar meluapkan kesedihannya dengan menangis sekencang yang ia bisa di pelukan orang itu.

--------------- TBC -------------

**********************

Happy Reading …

1
Chintya
1 tahun lebih gada kelanjutanya sayg bgt
Chintya
kpn endingnya
ziya
udah 2024 Thor
N_ariya
galau" tuh si ning
anjurna
Ketawa
N_ariya
Mimi peri pake baju daun kelapa,,,,,😂😂😂
Sebastian Clements
lanjut thor
Sebastian Clements
Lanjut thor
Sebastian Clements
lanjut thor
Asngadah Baruharjo
patah hati Ning 😀
Asngadah Baruharjo
om tamvan 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
hadeehhhhhhh,bikin sakit perut 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
ngakak paraahhh
Asngadah Baruharjo
asyiiikk asyik
Asngadah Baruharjo
sakit perut kebanyakan ngakak
Asngadah Baruharjo
ningrat kok miskin wa ha ha 🤣🤣🤣🤣, ngakak paraahhh 😀
Asngadah Baruharjo
Ning sabar ya
Asngadah Baruharjo
aduh Ning Ning
Asngadah Baruharjo
semangat thoorrr 🌹🌹🌹
Asngadah Baruharjo
hoalah Ning Ning apes temen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!