OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Raka Adhitama tidak pernah menyangka bahwa meminta maaf bisa lebih melelahkan daripada menjalani pertandingan final selama lima gim.
Setidaknya, dalam pertandingan, ia tahu kapan harus menyerang, kapan harus bertahan, dan kapan harus mengakui bahwa strategi awalnya gagal.
Berhadapan dengan Nadira, semua aturan itu mendadak tidak berlaku.
“Kapten, kamu sudah membaca pesan itu selama lima menit.”
Suara Bima membuyarkan lamunannya.
Raka mengangkat wajah. “Kamu menghitung?”
“Tidak. Aku cuma melihatmu menatap layar seperti sedang menunggu pengumuman hasil tes nasional.”
Raka mengunci ponselnya.
“Aku sedang berpikir.”
“Kalau begitu, pikirkan sambil bergerak. Kita punya latihan.”
Bima berjalan menuju ruang latihan, meninggalkan Raka dengan senyum menyebalkan yang sudah terlalu dikenalnya.
Raka menyusul beberapa detik kemudian.
Ia tidak sedang menunggu pesan dari Nadira. Setidaknya, itulah yang berusaha ia yakini sejak semalam.
Percakapan terakhir mereka berlangsung singkat, tetapi berbeda dari hari-hari sebelumnya. Nadira masih menjaga batas, namun ia tidak lagi menutup setiap percakapan seolah-olah Raka baru saja melakukan pelanggaran berat.
Mungkin itu kemajuan.
Mungkin juga ia hanya terlalu berharap.
“Raka!”
Panggilan Arman membuatnya berhenti sebelum memasuki ruang latihan.
Manajer ASTRAL itu berdiri sambil memegang tablet.
“Ada undangan untuk makan siang bersama beberapa mitra turnamen. Aku sudah mengonfirmasi kehadiran tim, tetapi kamu boleh menolak kalau ada urusan keluarga.”
“Tidak ada.”
“Bagus. Karena aku butuh kamu hadir. Mereka ingin membahas kerja sama untuk musim berikutnya.”
Raka mengangguk.
Ia memang harus mulai menyeimbangkan tanggung jawabnya sebagai pemain dan pewaris keluarga. Namun, ia tidak berniat membiarkan salah satunya mengambil alih seluruh hidupnya.
“Jam berapa?”
“Besok siang.”
Raka mengangguk sekali lagi.
Kemudian, tanpa benar-benar merencanakannya, ia bertanya, “Arman, menurutmu kalau seseorang melakukan kesalahan, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai orang lain bisa mempercayainya lagi?”
Arman menatapnya.
“Ini pertanyaan tentang kerja sama tim?”
“Anggap saja begitu.”
“Kalau begitu, tergantung kesalahannya.”
Raka menghela napas. “Jawaban yang sangat membantu.”
“Aku belum selesai.” Arman menyilangkan tangan. “Ada kesalahan yang bisa diperbaiki dengan satu pertandingan bagus. Ada juga yang membutuhkan waktu berbulan-bulan karena menyangkut kepercayaan. Kamu tidak bisa memaksa orang lain melupakan sesuatu hanya karena kamu sudah siap melanjutkan hidup.”
Raka terdiam.
Arman menepuk bahunya.
“Kalau kamu memang melakukan kesalahan, perbaiki bagian yang bisa kamu perbaiki. Sisanya, biarkan orang itu menentukan sendiri.”
Setelah Arman pergi, Raka berdiri beberapa saat di lorong.
Ia tahu siapa yang sedang ia pikirkan.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa kesempatan kedua bukan sesuatu yang bisa ia minta lalu langsung ia terima.
Kadang-kadang, kesempatan itu harus dibangun sedikit demi sedikit.
Di kantor Media Arena, Nadira sedang berusaha menyelesaikan artikelnya ketika Keisha meletakkan sebungkus roti di samping laptopnya.
“Makan.”
“Aku sudah sarapan.”
“Dua biskuit bukan sarapan.”
Nadira melirik roti itu. “Kamu mengawasiku?”
“Aku mengawasi rekan kerja yang akan pingsan lalu membuatku harus menjelaskan kepada Dimas kenapa artikelnya belum selesai.”
Nadira tertawa kecil dan membuka bungkus roti.
Di layar laptopnya, surel dari Yayasan Adhitama Peduli masih menjadi salah satu tab yang terbuka. Proses verifikasi telah dimulai, tetapi belum ada kepastian kapan dokumen yang relevan bisa diperiksa.
Ia sudah berjanji kepada ibunya untuk tidak membaca informasi itu sendirian.
Untuk sementara, ia harus bersabar.
“Ngomong-ngomong,” kata Keisha sambil menarik kursi, “kamu dan Raka sudah bicara lagi?”
Nadira hampir tersedak.
“Kenapa pertanyaanmu selalu kembali ke sana?”
“Karena setiap kali namanya disebut, kamu langsung terlihat seperti orang yang sedang mempertimbangkan apakah membunuh seseorang bisa dibenarkan secara hukum.”
“Aku hanya sedang berpikir.”
“Persis seperti Raka, berarti.”
Nadira melemparkan bungkus roti kosong ke arah Keisha. Temannya itu menangkapnya sambil tertawa.
“Aku serius,” lanjut Keisha. “Kamu masih marah?”
“Masih.”
“Masih peduli?”
Nadira terdiam.
Pertanyaan itu jauh lebih sulit dijawab.
Ia masih mengingat makan malam mereka, cara Raka mendengarkan ketika ia berbicara tentang pekerjaannya, dan bagaimana laki-laki itu tidak pernah menertawakan ambisinya.
Ia juga masih mengingat saat Raka berdiri di atas panggung sebagai pewaris Adhitama Global, sementara dirinya menjadi salah satu orang yang paling tidak tahu apa-apa.
Keduanya benar.
Dan ia belum tahu bagaimana menyatukannya.
“Aku tidak tahu,” jawab Nadira akhirnya.
Keisha mengangguk tanpa menggoda lagi.
“Kalau begitu, kamu tidak harus memutuskan sekarang.”
Nadira kembali menatap laptopnya.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa tidak perlu segera menemukan jawaban untuk semua hal.
Sayangnya, ketenangan itu hanya bertahan sampai ponselnya bergetar.
Pesan dari Raka muncul di layar.
Raka: Kamu ada waktu makan siang besok?
Nadira mengernyit.
Nadira: Kenapa?
Balasannya datang cepat.
Raka: Aku ingin mengajakmu makan. Bukan untuk membahas artikel, bukan untuk meminta wawancara, dan bukan untuk membicarakan keluargaku.
Nadira membaca pesan itu dua kali.
Nadira: Jadi, kita akan membicarakan apa?
Raka: Hal-hal biasa.
Nadira: Kamu mengajakku makan untuk membicarakan hal-hal biasa?
Raka: Aku sedang mencoba mengingat bagaimana caranya menjadi orang biasa di dekatmu.
Nadira menatap layar lebih lama daripada yang seharusnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat dadanya terasa sedikit hangat.
Ia mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Nadira: Satu jam. Tempat umum. Dan jangan membawa rombongan ASTRAL.
Raka: Bima akan kecewa.
Nadira: Aku bisa hidup dengan kekecewaannya.
Raka: Baik. Aku juga akan berusaha hidup dengan ancamanmu.
Nadira tersenyum tanpa sadar.
Keisha, yang sejak tadi memperhatikan dari samping, langsung menunjuk wajahnya.
“Nah!”
Nadira segera meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
“Jangan mulai.”
“Aku belum mengatakan apa-apa.”
“Wajahmu sudah mengatakan semuanya.”
Keisha mengangkat kedua tangan, menyerah.
Namun, senyum di wajahnya tidak menghilang.
Dan Nadira tahu ia tidak akan mendengar akhir dari persoalan ini dalam waktu dekat.
Keesokan harinya, Raka datang sepuluh menit lebih awal.
Ia memilih sebuah restoran kecil di kawasan Jakarta Selatan yang tidak terlalu ramai, cukup jauh dari markas ASTRAL, dan memiliki tempat duduk di sudut yang memungkinkan mereka berbicara tanpa menarik perhatian.
Ketika Nadira tiba, Raka sedang membaca menu.
Perempuan itu berhenti di samping meja.
“Kamu datang lebih awal?”
Raka mengangkat wajah. “Aku sedang mencoba memberi kesan baik.”
“Biasanya kamu membuat orang menunggu.”
“Itu tuduhan yang tidak didukung bukti.”
“Wawancara pertama kita dimulai terlambat.”
“Itu karena kamu datang sebelum waktu yang disepakati.”
Nadira menarik kursi.
“Dan sekarang kamu membela diri atas kejadian yang sudah lewat.”
Raka tersenyum kecil.
“Berarti kita kembali ke pola komunikasi yang biasa.”
“Jangan senang dulu. Aku belum memaafkanmu.”
Senyum Raka mereda, tetapi ia mengangguk.
“Aku tahu.”
Pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Nadira memilih nasi ayam dengan es teh, sementara Raka memesan makanan yang sama setelah mengamati menu selama hampir dua menit.
Nadira mengangkat alis.
“Tidak bisa memilih?”
“Aku sedang memastikan tidak ada sesuatu yang lebih menarik.”
“Ini restoran, bukan bursa saham.”
“Aku tahu. Aku juga tidak akan membeli restoran ini.”
“Bagus. Aku mulai khawatir.”
Raka tertawa.
Percakapan mereka mengalir melalui hal-hal kecil: latihan ASTRAL, artikel yang sedang ditulis Nadira, dan keluhan Raka tentang Bima yang menganggap setiap kekalahan dalam gim latihan sebagai tragedi nasional.
Nadira bercerita tentang seorang narasumber yang meminta membaca artikel sebelum diterbitkan, lalu marah ketika ia menolak.
“Dia bilang aku tidak menghargai kerja samanya,” kata Nadira.
“Apa jawabanmu?”
“Aku bilang kalau dia ingin menulis artikelnya sendiri, dia boleh mencoba melamar sebagai wartawan.”
Raka tertawa begitu keras hingga dua orang di meja sebelah menoleh.
Nadira menyipitkan mata.
“Apa?”
“Tidak ada. Aku hanya bisa membayangkan ekspresinya.”
“Ekspresinya sangat bagus. Sayang sekali aku tidak merekamnya.”
Raka masih tersenyum ketika makanan mereka datang.
Untuk beberapa saat, mereka benar-benar tampak seperti dua orang yang tidak sedang berusaha memperbaiki sesuatu.
Namun, setelah makanan hampir habis, percakapan perlahan melambat.
Raka meletakkan sendoknya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Nadira mengangkat wajah.
“Kalau kamu akan meminta maaf lagi, aku sudah mendengarnya.”
“Bukan itu.”
Raka menarik napas.
“Aku tidak akan membenarkan keputusanku menyembunyikan identitasku. Aku juga tidak akan meminta kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak penting hanya karena aku punya alasan sendiri.”
Nadira tidak menyela.
“Aku terbiasa menyelesaikan masalah dengan menjelaskan situasinya, lalu mencari jalan keluar. Tapi kali ini aku tidak bisa menentukan bagaimana perasaanmu harus berubah.”
Ia menatap Nadira dengan sungguh-sungguh.
“Aku hanya bisa menunjukkan bahwa aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.”
Nadira memainkan sedotan di gelasnya.
“Masalahnya bukan hanya tentang siapa kamu, Raka. Masalahnya adalah ketika aku memberimu kesempatan untuk jujur, kamu memilih jawaban yang membuatku salah memahami situasinya.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak ingin menjadi orang yang harus terus menebak bagian mana dari hidupmu yang benar.”
Raka mengangguk perlahan.
“Kamu tidak seharusnya harus melakukan itu.”
Nadira menatapnya.
Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan baru. Hanya pengakuan yang sederhana, tetapi terasa lebih berarti daripada semua pesan panjang yang pernah dikirimkannya.
“Aku belum bisa kembali seperti dulu,” katanya.
“Aku tidak meminta itu.”
“Tapi aku bersedia mencoba berbicara denganmu lagi.”
Raka terdiam sesaat.
Lalu, senyum kecil muncul di wajahnya.
“Itu sudah lebih dari cukup.”
“Jangan membuatku menyesal mengatakan itu.”
“Aku akan berusaha.”
“Berusaha dengan sungguh-sungguh.”
“Baik, Bu Wartawan.”
Nadira menggeleng sambil tersenyum.
Pertemuan itu tidak menyelesaikan semua masalah mereka. Tidak ada janji besar, tidak ada pengakuan perasaan, dan tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan bertengkar lagi.
Namun, ketika mereka meninggalkan restoran, Nadira tidak lagi merasa harus berjalan beberapa langkah di depan Raka.
Mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir.
Sebelum berpisah, Raka berkata, “Terima kasih sudah datang.”
Nadira memasukkan ponselnya ke tas.
“Terima kasih sudah memilih restoran yang makanannya enak.”
“Hanya makanannya?”
“Jangan serakah.”
Raka tertawa.
Nadira berjalan menuju mobilnya, tetapi sebelum masuk, ia sempat menoleh.
Raka masih berdiri di tempat yang sama, memperhatikannya dengan senyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak rahasia itu terbongkar, Nadira tidak langsung mengalihkan pandangan.
Ia membalas senyumnya sebelum masuk ke mobil.
Itu bukan pengampunan.
Belum.
Tetapi mungkin, setelah semua yang terjadi, mereka akhirnya memiliki sesuatu yang lebih baik daripada jarak.
Mereka memiliki kesempatan kedua.