Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Dan Tekanan Keluarga
Sementara di luar sana, dalam kemewahan rumah megah bernuansa modern di pusat kota, atmosfer ruangan keluarga terasa begitu tegang dan mencekam. Adrian berdiri di dekat jendela besar yang menampil kan pemandangan pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian. Jemarinya yang kokoh menggenggam gelas kristal berisi minuman keras, sementara pikirannya melayang jauh melintasi waktu, membayangkan sosok wanita yang lenyap tanpa jejak empat tahun lalu.
"Adrian! Sampai kapan kamu akan terus mencari wanita tidak jelas itu?" tanya sang mama dengan suara melengking, memecahkan keheningan yang sejak tadi menggantung di udara.
Wanita paruh baya berpenampilan elegan itu melangkah mendekat dengan raut wajah penuh kekesalan. Gaun mewahnya dan perhiasan berkilau tidak mampu menutup rasa frustrasi yang terpancar dari matanya. Ia sudah melipat tangan di dada, menatap putra tunggalnya yang tetap bergeming memunggungi dirinya.
"Jessica sudah lama menunggumu! Dia perhatian ke Mama, ke Papa, dan keluarga kita juga saling mengenal," tambah sang mama dengan nada menuntut yang makin tinggi. "Kurang apa lagi dia? Jessica berasal dari keluarga terpandang, berpendidikan tinggi, dan sangat cocok untuk mendampingi posisimu sekarang. Kenapa kamu malah terobsesi dengan wanita liar yang bahkan tidak kamu ketahui asal-usulnya itu?"
Mendengar cercaan ibunya, Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa muak berkecamuk di dalam dadanya. Nama Jessica selalu dimunculkan dalam setiap percakapan keluarga, seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa di dunia ini. Padahal, Adrian tahu betul bahwa pernikahan yang diinginkan ibunya hanyalah aliansi bisnis demi memperkuat gengsi dan kekuasaan keluarga mereka.
Adrian memutar tubuhnya perlahan. Tatapan matanya yang dingin dan tajam menusuk langsung ke arah sang mama, membuat wanita itu refleks terdiam sejenak.
"Maa, kita sepakat untuk tidak membahas ini lagi. Aku belum mau menikah, dan Jessica bukan tipeku," ucap Adrian dengan suara berat dan datar, namun memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Adrian! Kamu jangan membangkang terus!" pekik mamanya, melangkah satu pijakan lebih dekat. "Empat tahun, Adrian! Empat tahun kamu menyuruh anak buahmu mengacak-acak kota hanya untuk mencari bayangan! Kamu itu pemimpin, tapi kamu diperbudak oleh penyesalan konyol dari malam yang bahkan tidak kamu ingat sepenuhnya!"
"Itu bukan penyesalan konyol, Ma," potong Adrian dengan intonasi yang makin mendingin. "Itu urusanku. Dan mengenai pernikahan, jangan pernah bermimpi menempatkan Jessica di sampingku. Aku tidak suka dicampuri, termasuk oleh Mama."
Sang mama menarik napas tajam, terperanjat oleh ucapan dingin putranya. Sebelum ibunya sempat membalas, ponsel pribadi di dalam saku jas Adrian bergetar hebat. Adrian menarik benda pipih itu out dan melirik layarnya. Sebuah nama tertera di sana: Rian.
Tanpa mempedulikan wajah bersungut-sungut mamanya yang masih menahan amarah, Adrian langsung mengangkat panggilan tersebut dan menggeser ponselnya ke telinga.
"Bicara, Rian," perintah Adrian singkat.
Dari balik telepon, suara Rian terdengar begitu tegang dan tergesa-gesa. "Tuan Adrian... saya sudah menemukan tempatnya. Wanita itu ada di sebuah daerah pinggiran kota, bekerja di toko bunga kecil."
Adrian membeku di tempat. Udara di sekitarnya seolah mendadak berhenti mengalir. "Alea?" bisiknya lirih, suara yang amat jarang menunjukkan emosi.
"Benar, Tuan. Tapi ada hal lain yang jauh lebih penting..." Rian jeda sejenak, menahan napas sebelum melanjutkan. "Alea memiliki seorang putra berusia tiga setengah tahun... dan wajah anak itu adalah cetakan sempurna dari Anda sewaktu kecil."
Gelas kristal di genggaman Adrian hampir saja terlepas jika ia tidak refleks mempererat cengkeramannya. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya yang semula dingin mendadak berkilat tajam oleh gelombang syok serta gejolak yang tak tertahankan.