Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35: Balasan pagi dan tamu di balik bayangan
Pagi hari di ibu kota kekaisaran biasanya dimulai dengan suara para pedagang yang menjajakan barang atau derap kaki kuda yang tenang. Namun, di depan gerbang megah Kediaman Perdana Menteri Li, ketenangan itu pecah menjadi kegemparan yang luar biasa.
Ratusan warga, pedagang pasar, hingga beberapa pejabat rendah yang sedang lewat berkumpul membentuk lingkaran besar sambil berbisik-bisik heboh.
Di sana, terikat kuat pada tiang kayu di seberang gerbang, tiga orang pembunuh bayaran elite dari Sekte Bayangan Hitam hanya bisa menunduk pasrah dengan wajah merah padam karena malu.
Sesuai dengan instruksi Ruozi semalam, mereka hanya mengenakan pakaian dalam, sementara sebuah papan kayu besar tergantung di leher pemimpin mereka dengan tulisan tinta hitam yang mencolok: 'Paket gagal kirim. Atap saya bocor, dendanya lima ratus koin emas. Ditunggu kompensasinya. Dari Ruozi.'
"Astaga... bukankah itu lambang tato Sekte Bayangan Hitam di lengan mereka?" bisik salah satu pengawal kota yang ikut menonton.
"Jadi benar rumor kemarin? Perdana Menteri Li mengirim pembunuh untuk menghabisi Nona Ruozi, tapi malah mereka yang ditangkap? Hebat sekali tabib muda itu!" sahut warga lain dengan nada kagum. Penghinaan terbuka ini langsung menyebar seperti api menyiram minyak ke seluruh pelosok ibu kota.
Di dalam kediamannya, Perdana Menteri Li membanting cangkir teh porselen langka miliknya hingga hancur berkeping-keping ke lantai. Wajahnya yang biasa tenang dan penuh wibawa kini memerah padam, menahan amarah yang meledak-ledak sampai ke ubun-ubun. "Gadis sialan! Berani-beraninya dia mempermalukan namaku di depan publik kekaisaran seperti ini!" geramnya dengan suara bergetar, sementara para pelayan di sekitarnya langsung berlutut ketakutan.
Sementara itu, di Apotek Ruozi Jaya Medika, suasana justru terasa sangat damai dan kontras. Ruozi sedang duduk santai di balik konter sambil menikmati secangkir teh krisan hangat. Matanya sesekali melirik ke arah langit-langit toko yang kini sudah rapi kembali berkat para tukang bangunan yang ia sewa pagi-pagi sekali menggunakan sebagian uang rampasan dari para pembunuh semalam.
Meskipun sifatnya yang suka mencari keuntungan tetap ada, kali ini Ruozi tidak fokus pada uangnya. Ia tahu betul bahwa tindakan nekatnya mengirim balik para pembunuh itu adalah sebuah deklarasi perang psikologis yang matang. Ia ingin menunjukkan kepada Perdana Menteri Li bahwa dirinya bukanlah bidak lemah yang bisa diintimidasi dengan mudah.
Ruozi kemudian meletakkan cangkir tehnya, lalu menengadah menatap langit-langit kayu di sudut ruangan yang gelap. "Kalian berdua yang di atas sana, apa tidak capai jongkok terus sejak subuh? Turunlah, aku sudah merebus pangsit ayam hangat. Anggap saja sebagai menu sarapan," ucap Ruozi dengan nada santai namun tegas.
Hening sejenak, sebelum akhirnya dua bayangan hitam berkelebat turun tanpa suara dari atas langit-langit. Mereka adalah dua pengawal bayangan tingkat tinggi yang dikirim oleh Long Tianxu semalam. Keduanya memakai topeng perak setengah wajah dan memiliki aura yang sangat terlatih. Mereka sempat saling pandang, tampak terkejut karena keberadaan mereka yang biasanya tidak terdeteksi oleh kultivator tingkat bumi sekalipun, justru bisa diketahui dengan mudah oleh Ruozi.
"Nona Ruozi, tugas kami hanya mengawasi dari kegelapan atas perintah Jenderal," ucap salah satu pengawal dengan suara kaku dan formal.
Ruozi terkekeh, lalu mendorong dua mangkuk pangsit hangat di atas meja. "Aturan di tokomu ini simpel. Siapa pun yang menjagaku, harus dalam kondisi kenyang agar fokusnya tidak pecah saat ada musuh datang lagi. Lagipula, bos kalian itu orangnya kaku, jadi kalian tidak perlu ikut-ikutan kaku di sini. Makanlah."
Melihat ketulusan dan sikap santai Ruozi yang tidak memandang mereka sebagai pelayan rendahan, kedua pengawal bayangan itu perlahan melunakkan tatapan mata mereka. Mereka akhirnya mengangguk hormat dan mulai memakan sarapan mereka dengan cepat namun tetap waspada.
Ruozi tersenyum tipis; ia tahu cara terbaik membangun kesetiaan adalah dengan memperlakukan manusia sebagaimana mestinya, bukan sekadar dengan uang atau perintah kasar.
Sret.
Pintu rahasia di samping konter mendadak terbuka, dan sosok tinggi Long Tianxu melangkah masuk dengan jubah kasual berwarna biru tua yang membuatnya terlihat luar biasa tampan tanpa baju zirah perangnya.
Kedua pengawal bayangan yang sedang memegang sumpit langsung tersedak dan buru-buru berlutut memberi hormat di lantai, merasa bersalah karena tertangkap basah sedang asyik sarapan saat bertugas.
Long Tianxu menatap kedua pengawalnya dengan sebelah alis terangkat, lalu beralih memandang Ruozi yang masih memegang cangkir tehnya dengan santai. Suasana di dalam kedai mendadak hening, hanya menyisakan uap tipis yang mengepul dari mangkuk pangsit yang baru setengah habis. Alih-alih meluapkan amarah atau memberikan hukuman karena kelalaian tugas, sang jenderal justru menghela napas panjang dan melambaikan tangan, memberi isyarat agar kedua bawahannya segera berdiri. "Lanjutkan makan kalian," ujarnya dengan suara berat yang minim intimidasi, membuat kedua pengawal bayangan itu saling pandang dengan rasa tidak percaya.
Ruozi sama sekali tidak terkejut dengan reaksi tersebut; ia justru menggeser sebuah kursi kosong di dekatnya menggunakan ujung kaki, mempersilakan sang jenderal untuk duduk. "Kau datang terlalu pagi, Jenderal. Apa aroma pangsit hangatku yang membangunkan mu dari tidur, atau kau hanya rindu pada suasana tokomu yang malang ini?" sindir Ruozi dengan nada jenaka yang sanggup mencairkan ketegangan di ruangan.
Senyum tipis yang sarat akan kehangatan terukir di sudut bibirnya, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan kepada orang asing, namun terasa begitu alami saat berhadapan dengan pria di depannya.
Long Tianxu mendengkus pelan mendengarkan sindiran itu, namun ia tetap melangkah maju dan menduduki kursi yang telah disediakan tanpa banyak protes. Jubah biru tuanya bergerak mengikuti langkah kakinya yang tegas, memancarkan aura wibawa yang tidak bisa disembunyikan bahkan dalam balutan pakaian kasual sekalipun. Tatapan matanya yang tajam mengunci sepasang manik mata Ruozi, seolah sedang membaca setiap pikiran tersembunyi yang ada di balik senyuman pemuda itu. "Jika aku tidak datang secepat ini, aku khawatir seluruh pengawal terbaikku akan berlutut dan setia kepadamu hanya karena semangkuk sarapan gratis," sahut Long Tianxu retoris.
Mendengar ucapan bos mereka, kedua pengawal bayangan yang tadinya baru saja menyuapkan pangsit kembali tersedak untuk kedua kalinya, buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam demi menyembunyikan wajah mereka yang memerah karena malu.
Ruozi tertawa renyah, sebuah suara yang terdengar bagai denting lonceng perak di pagi hari yang cerah, membuat suasana tegang di kedai itu menguap sepenuhnya tanpa bekas. "Kesetiaan tidak bisa dibeli hanya dengan makanan, Tianxu. Aku hanya memastikan bahwa mereka memiliki energi yang cukup untuk melindungiku dan tentu saja, melindungi investasimu di toko ini," balas Ruozi sembari menuangkan secangkir teh hangat baru untuk pria itu.
Long Tianxu menerima cangkir teh yang disodorkan padanya, merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangannya sebelum menyesap cairan pekat tersebut perlahan. Keheningan yang nyaman kembali melingkupi mereka berdua, sebuah interaksi tanpa kata yang menunjukkan betapa dalamnya pemahaman yang mulai terbangun di antara mereka setelah melewati berbagai badai.
Di sudut ruangan, kedua pengawal bayangan itu buru-buru menghabiskan sisa makanan mereka dengan kecepatan luar biasa, menyadari bahwa kehadiran mereka saat ini mungkin saja mengganggu ruang pribadi sang majikan.
Setelah meletakkan cangkir tehnya yang telah kosong ke atas meja kayu, sorot mata Long Tianxu mendadak berubah menjadi jauh lebih serius dan intens. Ia memajukan sedikit tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka hingga Ruozi bisa mencium aroma samar kayu cendana yang menjadi ciri khas pria itu. "Musuh-musuh di luar sana mulai bergerak lebih agresif setelah kegagalan semalam, Ruozi. Kedai ini tidak lagi sepenuhnya aman untukmu, dan aku tidak akan membiarkan seujung rambutmu pun terluka karena kelalaianku," bisik Long Tianxu dengan nada protektif yang begitu kentara.
Ruozi tertegun sejenak mendengarkan keseriusan dalam suara pria itu, merasakan debaran halus yang tidak biasa menyusup ke dalam dadanya. Namun, alih-alih menunjukkan ketakutan atau kelemahan, ia justru membalas tatapan tajam sang jenderal dengan binar mata yang penuh dengan keberanian dan tekad yang tak tergoyahkan. "Biarkan mereka datang, Tianxu. Toko ini mungkin terlihat rapuh, tapi pemiliknya tidak akan pernah lari dari tantangan terutama saat aku tahu ada kau yang selalu berdiri di garda terdepan untukku."