Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 22
Pukul Enam petang, Dave ingin menemui Emma di tempat kerjanya. Ada suatu hal yang ingin ia katakan sebelum meninggalkan kota ini. Namun, saat ia membukan pintu, ayahnya berdiri tepat didepannya.
"Ayah ? Kenapa datangnya cepat sekali ? Bukannya nanti malam aku pulangnya ?" tanya Dave bingung.
"Iya, Dave. Kita harus pulang sekarang. Soalnya nanti malam, ayah akan pergi keluar kota."
"Tidak, aku akan tetap pulang nanti malam," sahut Dave tegas.
"Tidak bisa, Dave. Kamu harus pulang sekarang. Ayah tidak mau ketinggalan pesawat."
"Tidak. Aku tetap akan pulang nanti malam. Aku tidak peduli mau ayah ketinggalan pesawat atau apapun itu." Dave seketika menutup pintu dan berjalan tanpa permisi langsung meninggalkan ayahnya.
"Ayah sakit, Dave," seru Pak Thomas. Seketika menghentikan langkah Dave.
"Yang kamu tahu ayah pergi karena perjalanan bisnis. Ayah bohong, Dave. Sebenarnya, ayah sedang melakukan perawatan di luar kota."
Dave sangat terkejut mendengar ucapan ayahnya. Jantungnya seakan berhenti sesaat. "Kenapa ayah sampai bohong kepadaku ?" tanyanya.
"Karena ayah tidak bisa mengatakan semuanya kepadamu. Ayah tidak tega." Kini Pak Thomas mulai sedih.
Dave berbalik dan menatap iba ayahnya. Ia sekarang dihadapkan pada pilihan sulit. Ia belum pernah sebimbang ini. Pertama ia ingin sekali menemui Emma, sementara pilihan kedua ayahnya harus segera pergi keluar kota untuk perawatan pada penyakitnya.
Akhirnya dengan berat hati, Dave meninggalkan keinginannya untuk bertemu Emma dan memilih pulang bersama ayahnya.
"Baiklah, Ayah. Kita sebaiknya pulang sekarang," ucap Dave membelah keheningan koridor dilantai dua.
...----------------...
Keesokan harinya, Emma dibuat terkejut dengan keadaan. Saat membuka pintu, tak ada Dave yang selalu berdiri menunggunya disana. Ia sempat menuju unit tiga, mencoba membuka pintu karena takut Dave masih tertidur. Namun, pintunya terkunci.
"Terkunci," ucap Emma. "Dave, ayo bangun," panggilnya sambil mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari dalam.
Tuan Smith mendengar kegaduhan di koridor segera bangun dan berjalan menuju keluar.
"Emma, kenapa kamu mengetuk pintu itu ?" tanya Tuan Smith setelah membuka pintu.
"Maaf, Tuan Smith. Jika aku menganggumu. Aku sedang membangunkan temanku," jawab Emma.
"Emma, unit itu sudah tidak ada penghuninya. Anak muda itu sudah pergi kamarin petang. Katanya mau pulang."
Emma terkejut. Ia tak percaya Dave pergi begitu saja tanpa ada kabar sebelumnya. Di dalam hatinya, ia sangat merasakan sebuah kehilangan yang mendalam.
"Pulang, Tuan Smith ?" tanya Emma.
"Iya, kemarin dijemput orang tuanya."
"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih, Tuan Smith," ucap Emma. Ia lalu berjalan menghampiri kedua adiknya yang menunggu didekat lantai tangga.
Kenapa Dave pulang tidak memberiku kabar dulu ? Kenapa dia harus tiba-tiba pulang ?, batin Emma.
...----------------...
Mungkin pagi ini, Emma akan terlambat sampai toko. Ia sudah dihalte, namun melewatkan bus pagi yang selalu ramai. Kini disana tinggal dirinya saja.
Emma duduk termenung dengan sebuah perasaan yang berat merelakan Dave pulang begitu cepat. Ia juga masih tak percaya kalau pria itu benar-benar meninggalkan kota ini.
Bayangan kebersamaan dengan Dave, kembali terputar di otaknya. Setiap pagi pria itu selalu berdiri di depan pintu sehingga berhasil mengagetkannya. Dihalte ini juga, ia dan Dave selalu berdiri bersama menunggu bus. Lucu rasanya melihat pria itu berhimpitan dengan penumpang. Sesaat Emma tampak tersenyum saat mengingat kejadian itu kambali.
Walaupun dihari pertama, Dave sangat menjengkelkan. Tapi ia memiliki sisi lembut yang menarik perhatian Emma. Saat di dekat pria itu, ia juga nyaman seakan memiliki tempat berbagi cerita tanpa ragu sekalipun. Namun, mulai pagi ini, ia tidak akan pernah merasakan itu lagi. Entah kenapa berat rasanya bagi Emma untuk kehilangan Dave.
Bus berhenti tepat dihalte. Emma masih tertunduk lesu dan belum berminat untuk naik. Akhirnya setelah menurunkan penumpang, bus itu kembali berjalan.
"Emma, kenapa belum berangkat ?" tanya seorang pria berjas dan tampilannya sangat rapi.
Mendengarnya, Emma seakan tidak asing dengan suara itu—suara Dave. Ia pun mendongak. Teryata Dave berdiri didepannya dan tersenyum kepadanya. Seketika, Emma menumpahkan semua kesedihan, lalu memeluk tubuh hangat pria itu.
"Kenapa—kamu tidak bilang—kalau kamu pulang ?" tanya Emma dengan terisak.
"Maaf, Emma. Aku belum sempat mengatakannya kepadamu," sahut Dave.
"Ada yang ingin aku katakan kapadamu" ucapnya lagi dengan serius
Emma melepaskan pelukannya. Matanya tampak sembab dan pipinya basah. "Sekarang hapus dulu air matamu," ucap Dave. Dengan lembut ia mengusap air mata perempuan itu.
"Apa yang ingin kamu katakan ?"
"Selama tiga puluh hari kita bersama. Aku mendapat banyak pelajaran beharga darimu. Walaupun waktunya terasa singkat, tapi aku nyaman selalu didekatmu," ucap Dave penuh kesungguhan. "Emma, apakah kamu mau jadi kekasihku ?"
Sebelum menjawab, Emma menatap kedua mata pria didepannya. Tatapannya serius dan pria ini tidak hanya asal berkata.
"Iya, aku mau," jawab Emma. Ia lalu meneteskan air mata.
Mendengar jawabannya, seketika Dave menarik kedua tangan Emma dan akhirnya jatuh ke dekapannya.
Pelukan itu, menjadi awal kisah cinta Emma dan Dave. Walaupun mereka saling berjarak, tidak menjadi halangan untuk saling berbagi kasih. Setiap seminggu sekali diakhir pekan, Dave dan Emma menyempatkan untuk liburan bersama demi melepaskan rasa kangen dan menambah kadar sayang di hati masing-masing.
..._______TAMAT_________...