NovelToon NovelToon
Melarikan Diri dari Sang Mafia

Melarikan Diri dari Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Meche

Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.

Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.

Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Cium Mamaku

"Mama harus tidur bareng Om," ucap Alika.

Hati Arkana serasa terbelah dua. Ia tak sabar menanti saat putrinya memanggilnya Papa, tapi anak itu masih saja menyebutnya Om.

"Tidak, Nak, Mama suka sekali kamar ini. Kamar Om terlalu gelap," kata Salsabila.

Alika tak puas. Ia ingin orang tuanya seperti orang tua yang lain.

"Mmm, ya sudah, Mama. Kalau begitu Om saja yang pindah ke kamar Mama. Bagaimana, Om?"

Arkana mengernyit kesal. Ia memejamkan mata dan tak menjawab si kecil, tapi Alika tak sabaran. Di depan kedua orang dewasa itu, ia bagai mesin penghasil pertanyaan.

"Om, jawab dong, ayo, iyaaa? Om maunya apa?"

Arkana membuka matanya dan langsung menegur sang gadis kecil.

"Alika Salsabila, kapan kamu bertanya sesuatu padaku?"

"Alika baru saja tanya, Om."

"Rasanya kamu tadi bertanya pada Om-mu, kan? Om-mu tidak ada di mana pun. Atau kamu bisa melihatnya?"

Alika tak paham maksud Arkana. Salsabila merasa kasihan pada pria malang itu, lalu membantu putrinya mengerti dengan berbisik di telinganya.

"Maksudnya, dia tidak suka kamu terus memanggilnya Om. Mungkin gara-gara Mama kamu jadi terbiasa memanggilnya begitu, tapi dia ingin kamu memanggilnya Papa."

Alika menyimak kata-kata sang mama dalam diam dan penuh perhatian. Setelah selesai mendengarkan, ia menoleh ke arah Arkana.

"Mmm, sekarang Alika mengerti. Om mau dipanggil Papa atau Papi?"

Mata Arkana berkaca-kaca dan berbinar seperti tak pernah sebelumnya.

"Kamu boleh memanggilku dengan salah satunya."

"Papi mau tidur bareng Mama? Atau Mama yang tidur bareng Papi?"

Arkana berpikir masak-masak sebelum menjawab. Ia sama sekali tak berniat kurang ajar pada Salsabila, jadi ia bersikap seperti pria dewasa.

"Biar Mama yang memutuskan kalau ia sudah yakin."

"Kalau begitu jangan lama-lama ya, Mama, soalnya Papi ganteng banget, nanti dia dicuri orang, terus jangan bilang Alika tidak memperingatkan Mama."

Kepala Salsabila terasa pening. Ayah dan anak itu sama saja, dan ia terjebak dalam posisi yang canggung. Ia bahkan tak tahu harus bagaimana menjawab serangan bertubi-tubi dari sang anak dan ayahnya.

"Sebaiknya masing-masing ke kamarnya saja. Mama mau mandi, dan kamu juga sebaiknya begitu, Nona."

Arkana paham, lalu meminta Alika berjalan lebih dulu supaya anak itu tak melihatnya terlalu seksi.

"Putri cantik, minta salah satu pengasuh membantumu mandi, lalu tunggu kami di ruang makan sementara Papa bicara dengan Mamamu."

"Baik, Papi. Tapi boleh minta satu hal?"

"Katakan, apa maumu?"

"Alika mau Papi kasih ciuman kecil buat Mama. Alika selalu ingin punya Mama di sisi Papi."

"Jangan memaksa Mamamu. Ingat, ia baru saja sakit beberapa hari ini."

Alika teringat bahwa mamanya kehilangan ingatan, lalu ia mengerti maksud sang papi. Tapi tak seorang pun dari mereka menyangka apa yang akan mereka saksikan. Salsabila memberi Arkana sebuah ciuman lembut, hanya sekadar sentuhan bibir, dan sudah.

Tapi bagi pria itu, ciuman kecil tadi terasa lebih dari cukup dan menggetarkan.

Melihat perbuatan sang mama, Alika langsung berlari ke kamarnya.

Setelah memastikan si kecil sudah cukup jauh, Arkana melepaskan cengkeramannya pada Salsabila untuk menghadapinya.

"Aku tahu kamu tidak mengingat apa pun, tapi aku selalu bermimpi bisa memberitahu Alika bahwa aku ayahnya."

"Aku ingin tahu, apa alasannya dulu aku menolak memberimu hak itu?"

Arkana tahu suatu hari ia harus menghadapi kebenaran tentang apa yang terjadi malam itu.

"Berdandanlah, lalu kita makan malam bersama si kecil. Setelah itu kita bisa bicara lebih tenang, bagaimana?"

"Baik. Sekarang tutupi dulu tubuhmu sebelum keluar."

Arkana memang tak tahu malu. Setelah si kecil keluar dari kamar, ia tetap berpakaian minim, dan dengan pemandangan seperti itu di depan matanya, Salsabila tak mampu merangkai kata dengan benar.

"Mana ciuman perpisahanku?"

Salsabila melempari pria itu dengan bantal-bantal, lalu berlari ke kamar mandi. Dasar pria menyebalkan, pikirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!