NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Hukuman dan Ancaman Nyata

Cengkeraman tangan Angkasa di pergelangan tangan Eca terasa begitu dingin namun membakar di saat yang sama. Eca bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu brutal seperti hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Dompet kulit hitam milik Angkasa yang baru ditarik setengah jalan dari saku almamater kini tergelincir jatuh, mendarat dengan suara debukan pelan di atas karpet ruang OSIS.

Eca membeku, tidak berani menggerakkan seujung jarinya pun. Dia bisa merasakan hawa tubuh Angkasa yang menempel begitu dekat di punggungnya. Cowok itu mencondongkan tubuhnya di atas kursi kerja kebesaran ketua OSIS, mengurung Eca dari belakang dengan kedua lengannya yang kekar.

"Jadi... ini alasan lo setuju ngetik proposal anggaran di meja gue?" bisik Angkasa lagi. Suaranya terdengar sangat rendah, merayap di telinga Eca dan sukses membuat bulu kuduk cewek itu merinding disko. "Nunggu gue merem, terus lo main gerilya mau ngambil jaminan lo balik? Licik juga ya lo, Asisten."

Eca menarik napas dalam-dalam, berusaha mati-matian mengumpulkan sisa keberaniannya yang sempat ambrol ke lantai. Dengan sentakan kuat, dia mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Angkasa. "Lepasin gue, Angkasa! Sakit tahu nggak!" ketus Eca, membuang total mode cewek cupunya yang ketakutan.

Angkasa tidak melepaskannya. Sebaliknya, cowok itu justru memutar kursi kerja Eca dengan satu sentakan bertenaga, membuat Eca kini duduk menghadap langsung ke arahnya. Angkasa kemudian bertumpu pada kedua lengan kursi kerja, menundukkan wajahnya hingga jarak di antara hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Mata elang cowok itu berkilat penuh kemenangan, campur aduk dengan sedikit rasa gemas yang tertahan.

"Gue benci pencuri, Alesya. Dan gue lebih benci lagi sama orang yang berani main-main di belakang gue setelah kita buat kesepakatan resmi," desis Angkasa dengan rahang yang mengeras. Sepasang matanya mengunci lekat-lekat ke dalam manik mata Eca di balik lensa kacamata tebalnya.

Eca membalas tatapan itu dengan pandangan menantang, meski dalam hati dia sudah gemetaran hebat. Ego aslinya sebagai mantan cewek populer yang tegar di sekolah lama tidak mau runtuh begitu saja di depan cowok arogan ini. "Perjanjian macam apa yang lo maksud, hah?! Lo yang duluan licik! Lo bilang kalau gue selesai ngerjain ringkasan Geografi semalam tepat waktu, rahasia gue aman dan lo nggak bakal sebarin! Tapi tadi pagi lo malah ingkar janji dan bilang mau nahan kartu pelajar gue selama tiga bulan! Lo yang mulai perang ini, Angkasa!"

Mendengar rentetan protes dari bibir Eca yang mengerucut kesal, kilatan amarah di mata Angkasa mendadak mencair sedikit, digantikan oleh seringai licik yang sangat menyebalkan. Dia perlahan melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Eca yang kini meninggalkan bekas kemerahan samar.

Angkasa membungkuk, mengambil dompet kulit hitamnya yang tergeletak di karpet, lalu menepuk-nepuknya pelan untuk membersihkan debu. Dia membuka dompet itu sengaja di depan mata Eca, memperlihatkan kartu pelajar lama Eca yang masih terselip rapi di sana, sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku celana seragamnya yang paling dalam.

"Gue nggak ingkar janji. Rahasia lo aman hari ini, kan? Nggak ada satu pun murid yang tahu identitas asli lo selain Reno yang tadi pagi mulai curiga," ucap Angkasa santai. Dia menegakkan tubuhnya, berjalan mundur dua langkah lalu bersandar di pinggiran meja kerjanya sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Tapi karena lo baru aja ngelanggar aturan main dengan mencoba mencuri... artinya ada konsekuensi tambahan yang harus lo bayar, Asisten."

Firasat Eca langsung memburuk seratus persen. "Konsekuensi apa lagi?! Jangan bilang lo mau nyuruh gue ngeringkas lima bab buku paket lagi ya!"

Angkasa terkekeh hambar, sebuah suara tawa yang terdengar sangat seksi namun mengerikan di telinga Eca. "Ngeringkas buku itu terlalu gampang buat otak encer lo. Hukuman lo kali ini bakal jauh lebih menarik."

Angkasa mengambil sebuah map biru tebal berisi proposal pentas seni yang sejak tadi diketik Eca. Dia mengetukkan map itu ke telapak tangannya. "Rapat donatur yayasan jam dua siang nanti bukan cuma rapat biasa. Reno sama fraksinya di OSIS bakal nyoba buat nolak anggaran pentas seni yang gue ajuin ini. Mereka mau motong dananya sampai setengah. Dan tugas lo siang ini adalah... ikut masuk ke ruang rapat besar sebagai sekretaris pribadi gue."

"Hah?! Nggak mau! Ogah banget!" tolak Eca spontan sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat hingga kuncir dua rambutnya bergoyang. "Gue kan murid baru, cupu pula! Ngapain gue harus ikut rapat donatur kelas kakap kayak gitu?! Lagian tugas sekretaris kan ada si cewek OSIS yang lain!"

"Gue nggak menerima penolakan, Alesya," potong Angkasa dingin, suaranya kembali berubah menjadi mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Dia maju satu langkah, menatap Eca dengan pandangan serius. "Lo harus duduk di sebelah gue, catat semua poin pembicaraan rapat, dan yang paling penting: lo harus bantuin gue buat mata-matai setiap pergerakan Reno di dalam ruangan itu. Kalau lo sampai gagal, atau kalau lo sengaja ngebocorin strategi anggaran gue ke Reno..."

Angkasa menggantung kalimatnya, lalu meraba saku celananya tempat kartu pelajar lama Eca disimpan. "...bukan cuma mading sekolah yang bakal dipenuhin sama foto asli lo besok pagi. Tapi gue sendiri yang bakal mastiin status beasiswa pindahan lo di sekolah ini dicabut sebelum matahari terbenam."

Ancaman itu bagaikan petir di siang bolong bagi Eca. Tubuhnya mendadak lemas. Status beasiswanya di SMA Taruna Bangsa adalah satu-satunya tiket baginya untuk bisa sekolah dengan tenang tanpa membebani keuangan orang tuanya setelah kekacauan di sekolah lamanya. Angkasa benar-benar tahu cara mengunci pergerakannya dari segala penjuru. Cowok itu memegang semua kartu as dalam hidupnya sekarang.

Eca mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sampai kukunya memutih dan menembus kulit telapak tangannya sendiri. Rasa marahnya sudah menumpuk di dada hingga membuatnya sesak. "Lo bener-bener iblis, Angkasa," desis Eca dengan suara bergetar karena menahan emosi.

Angkasa hanya menanggapi makian itu dengan senyuman tipis yang sangat menyebalkan. Dia melirik jam dinding ruang OSIS yang sudah menunjukkan pukul 13.45 WIB. Waktu istirahat pertama sudah lama selesai, dan waktu rapat besar yayasan tinggal lima belas menit lagi.

"Simpan amarah lo buat nanti di ruang rapat, Asisten," ujar Angkasa dingin. Dia mengambil jas almamater OSIS-nya yang tersampir di kursi, memakainya dengan gerakan yang sangat rapi dan berwibawa, lalu berjalan menuju pintu keluar. Sebelum membuka pintu, dia menoleh sekilas ke arah Eca yang masih duduk diam menahan dongkol di kursi kerjanya. "Merapikan kuncir rambut lo yang berantakan itu. Ambil laptop gue dan berkas biru di meja. Ikut gue ke lantai tiga sekarang. Jangan telat semenit pun kalau lo nggak mau liat beasiswa lo melayang."

Angkasa membuka pintu ruang OSIS dan melangkah keluar lebih dulu, meninggalkan Eca sendirian yang kini sedang memandangi laptop perak di depannya dengan tatapan ingin menghancurkannya berkeping-keping. Dengan perasaan campur aduk antara dendam, panik, dan tertekan, Eca terpaksa menutup laptop itu, mendekap berkas biru tebal di dadanya, dan melangkah keluar dari ruangan itu untuk menghadapi arena pertempuran baru yang jauh lebih besar dan berbahaya di lantai tiga. Di sana, Reno dan Angkasa sudah bersiap untuk saling menjatuhkan, dan Eca kini resmi terjebak tepat di tengah-tengah garis peperangan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!