NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Jebakan di Ruang Rapat.

Pukul 14.00 WIB. atmosfer di dalam ruang rapat besar SMA Taruna Bangsa terasa begitu formal dan berat. Meja oval panjang dari kayu mahoni berpelitur legam itu kini telah dipenuhi oleh beberapa pria paruh baya berpakaian jas rapi—para donatur utama yayasan sekolah. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan tegap, mengenakan kembali jas almamater OSIS-nya yang terpasang sempurna, memancarkan aura kepemimpinan yang mutlak. Sementara itu, Eca duduk kaku di sebelah kiri Angkasa, memangku sebuah laptop perak dengan tumpukan berkas laporan anggaran pentas seni di tangannya. Sesuai dengan konsekuensi tambahan yang diberikan Angkasa karena Eca sempat mencoba "mencuri" dompetnya tadi, kini Eca terpaksa menjalani perannya sebagai sekretaris pribadi sekaligus mata-mata. Di seberang meja, Reno Aliansyah duduk bersama beberapa anggota fraksinya di OSIS. Tatapan mata Reno sesekali mengarah pada Eca dengan kilatan penuh arti, seolah menagih janji kerja sama yang mereka bicarakan di koridor tadi siang. Eca hanya bisa menunduk dalam, berpura-pura sibuk memeriksa draf di layar laptop. "Baik, bisa kita mulai pembahasannya, Angkasa?" suara berat Pak Hendi, sang donatur utama yayasan, memecah keheningan ruangan. Angkasa mengangguk hormat. "Silakan, Pak. Ringkasan anggaran untuk pentas seni tahun ini sudah disiapkan oleh sekretaris saya di dalam file PDF yang ada di layar utama," jawab Angkasa tenang. Dia melirik Eca sekilas, memberikan kode lewat kedipan mata yang sangat tipis agar Eca segera menampilkan dokumennya. Eca dengan cekatan menghubungkan laptop ke proyektor ruangan. Namun, tepat saat dokumen anggaran itu tampil di layar besar, Reno langsung mengangkat tangannya, memotong sebelum Angkasa sempat memberikan penjelasan lebih lanjut. "Mohon maaf sebelumnya, Pak Hendi dan para donatur yang saya hormati," ujar Reno dengan suara lantang dan penuh percaya diri. "Saya sebagai Wakil Ketua OSIS merasa ada kejanggalan yang cukup besar dalam draf anggaran yang diajukan oleh Ketua OSIS kita ini. Dana untuk dekorasi panggung utama dan penyewaan alat audio visual melonjak hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu. Kami dari fraksi pengawas menilai ini adalah bentuk pemborosan yang tidak efisien." Suasana ruangan mendadak kasak-kusuk. Beberapa donatur tampak mengernyitkan dahi sambil membaca ulang lembaran berkas fisik di tangan mereka. Reno tersenyum miring ke arah Angkasa, merasa serangannya berhasil. "Saya mengusulkan agar anggaran ini dipotong setengahnya, atau kita terpaksa mencari vendor alternatif yang jauh lebih murah," tambahnya menyudutkan. Eca melirik Angkasa dari sudut matanya. Cowok itu sama sekali tidak tampak panik. Rahangnya tetap kokoh, dan sepasang mata elangnya justru menatap Reno dengan binar meremehkan yang sangat pekat. "Alesya, buka lampiran halaman empat belas pada file PDF tersebut," perintah Angkasa dengan nada suara yang sangat dingin namun terdengar begitu mutlak. Eca segera menggeser kursor dan membuka halaman yang dimaksud. Di sana tertera rincian perbandingan spesifikasi alat dan garansi keselamatan kerja dari vendor pilihan Angkasa. "Silakan dibaca dengan teliti, Reno, juga para donatur sekalian," sambung Angkasa sambil menyandarkan punggungnya secara santai ke sandaran kursi kulitnya. "Vendor yang saya pilih memang lebih mahal karena mereka menyertakan asuransi penuh untuk struktur panggung dan sistem kelistrikan. Tahun lalu, kita memakai vendor murah pilihan fraksi lo, dan hasilnya? Panggung utama roboh sebagian karena angin kencang di sore hari, dan pihak mereka lepas tangan. Tidak ada garansi keamanan panggung jika terjadi cuaca buruk." Eca mengambil napas dalam-dalam, lalu melirik Reno dari balik kacamatanya dengan pandangan meminta maaf dalam hati sebelum dia ikut membuka suara untuk mendukung Angkasa—karena bagaimanapun, status beasiswanya saat ini berada di bawah ancaman cowok iblis di sebelahnya. "Jadi, kalau dihitung secara total risiko kecelakaan acara, anggaran Kak Angkasa sebenarnya jauh lebih hemat sepuluh juta rupiah dibanding vendor milik Kak Reno yang rawan kena denda tambahan jika terjadi kerusakan alat," jelas Eca dengan runtut dan cerdas, membuang sejenak format gugupnya demi menyelamatkan rapat ini. Suasana ruangan rapat mendadak senyap selama beberapa detik. Pak Hendi, sang donatur utama, langsung mengambil laptop Angkasa, membaca detail file PDF yang ditunjukkan Eca, lalu mengangguk-angguk puas dengan senyuman lebar untuk Angkasa. "Reno, apa yang dibilang siswi ini benar. Kamu kurang jeli melihat faktor asuransi keselamatan. Anggaran Angkasa resmi saya sahkan tanpa ada pemotongan satu rupiah pun!" tegas Pak Hendi. TOK! TOK! TOK! Palu rapat diketuk oleh Pak Hendi, menandakan kemenangan mutlak berada di tangan Angkasa siang ini. Reno Aliansyah perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap Eca dengan pandangan mata yang sangat intens, tajam, dan... tidak ada lagi kilatan amarah dingin di sana. Yang ada hanyalah tatapan penuh kekaguman tersembunyi yang membuat jantung Eca mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya karena merasa bersalah sekaligus terintimidasi oleh tatapan sang Wakil Ketua OSIS. Rapat besar akhirnya ditutup beberapa menit kemudian. Para donatur yayasan mulai meninggalkan ruangan satu per satu sambil menepuk pundak Angkasa dengan bangga. Begitu ruangan rapat kembali sepi dan hanya menyisakan mereka berdua, Eca langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang, merasa seluruh tenaganya sudah terkuras habis. Eca buru-buru merapikan laptop dan berkasnya, bersiap untuk segera kabur sebelum atmosfer mencekam kembali datang. Namun, baru saja dia hendak berdiri dari kursi kulitnya, sebuah tangan besar dengan gerakan cepat mencengkeram sandaran kursi Eca, menahannya agar tetap duduk di ruangan. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Eca bisa merasakan kehangatan napas Angkasa di pipinya. Aroma parfum maskulin bercampur wangi angin malam dari tubuh Angkasa yang begitu dominan kembali mengepung kesadaran Eca. "Gue nggak nyangka... otak lo ternyata jauh lebih berbahaya dari penampilan cupu lo ini, Alesya," bisik Angkasa dengan suara yang sangat rendah, berat, dan terdengar begitu seksi di keheningan ruang rapat yang kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!