NovelToon NovelToon
TERIKAT DENDAM SANG CEO

TERIKAT DENDAM SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."

​Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.

​Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.


​Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6.Manipulasi Direksi

"Bagus. Silakan nikmati neraka buatanmu sendiri, Dokter Naya," ucap Aksa telak tanpa mengalihkan pandangan dari kertas jadwal penuh blok merah di atas mejanya. "Pintu keluar ada di belakangmu. Pasienmu sudah menunggu."

Naya memutar bola matanya tajam. Ia membalikkan badan dan langsung membanting pintu ruang kerja kayu mahoni itu hingga tertutup rapat. Bunyi debuman keras menggema di lorong lantai atas.

 Langkah kakinya berderap cepat menyusuri koridor. Pergantian sif malamnya sudah berjalan. Tidak ada waktu untuk istirahat atau sekadar duduk meluruskan kaki.

 Tubuhnya memang menjerit lelah, tapi amarah di dadanya menjadi bahan bakar baru yang membuatnya tetap berdiri tegak.

Naya langsung menuju ruang ganti. Ia mencuci wajahnya dengan air sedingin es, menepuk pipinya keras-keras.

 "Fokus, Naya. Fokus. Jangan biarkan pria brengsek itu menang," gumamnya pada pantulan dirinya di cermin.

Lampu ruang operasi bernomor tiga kembali menyala terang benderang. Suasana tegang khas ruang bedah langsung menyelimuti. Perut Naya melilit perih menahan lapar karena dia melewatkan jam makan malam, tapi matanya tetap fokus tajam pada rongga perut pasien yang lagi-lagi korban kecelakaan di depannya.

"Pendarahan masih aktif di area kolon," lapor Naya sambil menahan napas. "Klem arteri, Suster. Cepat."

Suster Rina meletakkan alat logam itu ke telapak tangan Naya. Begitu jari Naya menjepit ujung klem tersebut, alisnya langsung berkerut dalam. Bobot alat ini terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Permukaannya juga sedikit kasar menembus lapisan sarung tangan karet tipis yang ia pakai.

Saat Naya menekan klem itu pada pembuluh darah pasien yang berdenyut, capitannya meleset. Logam murahan itu tidak mengunci dengan presisi. Kunciannya slip. Darah segar langsung menyemprot deras menodai baju jaga hijau yang dipakai Naya.

"Sialan! Suction! Sedot darahnya sekarang!" teriak Naya panik. Tangannya bergerak secepat kilat menahan sumber pendarahan dengan jari telunjuknya. "Rina, klem macam apa ini? Kenapa engselnya longgar begini? Ini bukan merek yang biasa kita pakai!"

"Itu stok baru dari gudang farmasi pusat, Dok," jawab Suster Rina dengan suara gemetar panik sambil menyodorkan klem lain yang tampak serupa. "Semua merek luar negeri kita ditarik paksa tadi sore dan diganti dengan merek ini."

Naya merampas klem baru itu, menggigit bibir bawahnya mencari celah. Ia harus menekan dua kali lebih kuat untuk memastikan jepitannya tidak meleset lagi. Beruntung, ia berhasil menghentikan pendarahan fatal itu tepat waktu.

 Napasnya memburu keras di balik masker. Jantungnya berdetak gila-gilaan. Satu kesalahan kecil dari alat cacat seperti ini bisa mencabut nyawa pasien dalam hitungan detik.

"Siapa yang berani mengganti standar alat bedah kita secara diam-diam?" geram Naya pelan sambil terus menjahit luka pasien dengan hati-hati.

"Wakil Direktur Medis, Dokter Bima," cicit asisten bedah dari seberang meja. "Beliau yang menandatangani persetujuan pengadaan barang masuk tadi siang."

Begitu jahitan terakhir tertutup dan pasien dinyatakan stabil untuk dipindahkan ke ruang pemulihan, Naya keluar dari ruang operasi seperti orang kesetanan. Tangan kanannya mencengkeram erat klem bedah cacat yang nyaris merenggut nyawa pasiennya tadi.

Langkah kakinya membawa Naya lurus membelah keramaian lorong menuju ruang sterilisasi alat sentral di lantai dasar. Benar saja, di sana terlihat Dokter Bima sedang berdiri angkuh mengawasi para teknisi membongkar kardus-kardus berisi puluhan set alat medis baru.

"Apa maksudnya ini, Bima?" bentak Naya tanpa basa-basi. Suaranya menggema keras memantul di dinding ubin ruangan serba putih itu, membuat beberapa teknisi langsung menghentikan pekerjaan mereka.

Dokter Bima menoleh santai. Pria paruh baya dengan perut buncit itu tersenyum miring melihat kedatangan Naya yang terlihat sangat kacau, marah, dan kelelahan parah.

"Oh, Kepala Bedah kita yang sangat hebat dan dihormati sudah selesai operasi rupanya. Ada apa teriak-teriak? Ini ruang sterilisasi pusat, bukan pasar malam," jawab Bima dengan nada santai yang dibuat-buat meremehkan.

Naya melangkah maju memangkas jarak. Matanya menyalang tajam. "Jangan pura-pura bodoh di depanku. Kamu diam-diam mengganti semua klem dan pisau bedah berkualitas kita dengan barang rongsokan ini! Kualitas paduan logamnya sangat buruk. Klem ini nyaris patah saat aku pakai menghentikan pendarahan arteri barusan!"

"Jaga nada bicaramu di depanku, Naya. Aku atasanmu," sahut Bima dengan wajah sok berwibawa. "Itu barang bagus. Harganya jauh lebih murah dan sangat membantu rumah sakit menghemat anggaran operasional. Bukankah bos baru kita, Aksa Dirgantara, sangat cerewet soal pemotongan dana besar-besaran di departemen bedahmu? Aku hanya membantumu menekan biaya agar kamu tidak terus-menerus diserang."

"Membantu?" Naya tertawa sinis dan pahit. "Kamu sedang korupsi, Bima! Kamu sengaja membeli barang murahan ini, memasukkannya ke laporan keuangan dengan harga standar, lalu mengantongi semua selisih uangnya masuk ke rekening pribadimu! Kamu sedang mempertaruhkan nyawa pasien tidak berdosa di atas meja bedah demi keserakahanmu!"

Wajah Bima langsung berubah keras dan bengis. Ia melangkah mendekati Naya, menunduk menatap wanita itu dengan tatapan mengancam.

"Kamu jangan sembarangan membuka mulut menuduh tanpa bukti. Lihat pantulan dirimu sendiri di kaca, Naya. Mata merah bengkak, wajah sepucat mayat, kantung mata menghitam. Kamu sudah bekerja puluhan jam tanpa henti. Otakmu sudah tidak waras. Kamu mulai berhalusinasi karena kurang tidur!" desis Bima licik dan menekan kata-katanya. "Kinerjamu sendiri yang menurun drastis, tanganmu yang lemas bergetar, tapi kamu dengan liciknya menyalahkan alat medis!"

"Aku belum gila!" teriak Naya tidak terima. Darahnya benar-benar mendidih mendengar manipulasi menjijikkan itu. Bima memang selalu mencari celah kotor untuk menyingkirkannya dari posisi Kepala Bedah Umum. Dan kali ini, pria licik itu memanfaatkan tekanan dari Aksa sebagai tameng untuk menutupi jejak korupsinya.

Naya mengangkat klem cacat di tangannya tinggi-tinggi. "Alat murahan sialan ini buktinya! Aku akan melaporkan kelakuan busukmu ini ke komite etika medis pusat sekarang juga. Aku tidak akan membiarkanmu merusak rumah sakit ini!"

Dengan napas memburu dan dada naik turun menahan amarah yang meledak, Naya membanting klem bedah berbahan logam ringan itu ke atas meja besi tepat di depan wajah Bima.

Suara hantaman logam berdenting nyaring terdengar sangat memekakkan telinga, memecah ketegangan dan keheningan di ruangan sterilisasi itu.

Namun, sebelum Bima sempat membuka mulut untuk membalas bantingan Naya, pintu kaca otomatis ruang sterilisasi bergeser terbuka dari luar. Udara dingin seketika masuk menyapu ruangan.

Semua orang refleks menoleh. Langkah kaki berbalut sepatu pantofel kulit terdengar melangkah masuk dengan mantap dan tegas.

Aksa Dirgantara.

CEO muda itu berdiri menjulang dengan aura sedingin es, wajahnya datar tak terbaca. Aksa masuk ke ruang sterilisasi, memergoki Naya yang sedang marah besar sambil membanting klem bedah cacat ke meja Bima.

Mata gelap Aksa menyapu ketegangan di ruangan itu pelan, sebelum akhirnya tatapan tajamnya berhenti lurus mengunci wajah Naya yang memerah menahan amarah.

1
Muft Smoker
waah garcep. juga nih Pak CEO ,,


si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
Muft Smoker: butut aj kak ,, udh cukup si bima nikmati kemewahan ,, 🤭😁
total 2 replies
Muft Smoker
duuuh bisa aj bayi beruang akal ny😒😒😒
Muft Smoker: bnr kak ,, 🤭🤭🤭anak ny sypa siih ,, jitak dkit boleh laa🤭😁
total 2 replies
Muft Smoker
udh nikah kah mereka kak???
koq gx ngundang2🤔
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
ElHi
ya..ya..ya
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
ElHi: udah kak...tarik napas..keluarkan...tarik...keluarkan...yg ada malah lebih jengkel nih gmn Yoo??😤
total 3 replies
ryuka
eeaaaa... bisa banget
Savana Liora: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Savana Liora: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
ryuka
eeaaaaa... ada yg panasss 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Muft Smoker
duuuh bayi gede niih gx liat tempat cemburu ny ,, 😒😒😒 ,,
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
Muft Smoker: hihihihi greget kak🤭
total 2 replies
ElHi
mulai...mulai dah......heh
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
Savana Liora: ada besti adaa
total 3 replies
Muft Smoker
lanjuuuut kak Savana ,,
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
Jelita S
jgn lama2 up nya y thor
ryuka
👍👍👍👍👍👍🔥🔥🔥🔥🔥🔥
ElHi
percakapan billionaire yg baru saja siuman dari koma kyk gini ya ternyata...mo beli kacang goreng yg wujudnya rumah sakit??😤😤
Muft Smoker: bnr kak 🤭😁
total 4 replies
MamDeyh
Lagiii dong kak
Savana Liora: sabar
total 1 replies
MamDeyh
/Sob//Sob//Sob/
Muft Smoker
koq deg2an yx ,, ayoo aksaa km harus baik2 kalo gx mau Naya pindah k RS sebelah ,,
ryuka
aksa kamu harus brrtahan biar naya ga gila
Muft Smoker
aduuuuuh kak Savana ,,, di gantuung ,, semoga mereka baik2 aj ,,


lanjuuut kak
Muft Smoker: yx pake perasaan 🤭🫣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
apa bnr gx bisa di sembuhin tangan Naya kak ,, Mimpi ny loo tu ,, 😭😭😭😭😭
Muft Smoker: udh sabar banget loo nii 😁
total 2 replies
Muft Smoker
hai kak ,, mampir lgii niih ,, akhirnya ny kak Savana ad cerita terbaru ny 😉
Savana Liora: haaaii selamat datang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!