"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Rahasia Terungkap.
Bab 1-22 Ada Perombakan Ya..
**
...Happy Reading....
Gerimis tipis mulai turun membasahi aspal kota, membawa aroma tanah yang khas dan hawa dingin yang menusuk kulit.
Di sudut kedai kopi bernuansa industrial yang sudah sepi, Rian duduk berhadapan dengan Ziva. Dua cangkir americano hangat yang sudah berkurang setengah menjadi saksi bisu keheningan yang sempat merayap di antara mereka setelah badai di parkiran sekolah sore tadi.
Ziva bersandar pada kursi besi, menopang dagunya dengan satu tangan.
Rambutnya yang tadi ikat asal-asalan kini sudah digerai bebas, membingkai wajahnya yang kelihatan letih tapi tetap memancarkan aura menantang.
"Jadi," Ziva membuka suara, memecah deru mesin pembuat kopi di sudut ruangan. "Gue baru aja resmi jadi tameng lo di depan umum. Dan lo utang penjelasan besar sama gue, Rian."
Rian menarik napas dalam-dalam, menatap cairan hitam di cangkirnya. Cowok itu terkekeh pelan, mengingat bagaimana wajah Keysha yang pucat dan rahang Marvel yang seolah mau lepas saat Ziva mengklaimnya sebagai pacar.
"Makasih buat yang tadi," kata Rian tulus. "Gue gak nyangka lo bakal se-nekat itu."
"Gue gak suka utang budi, dan gue lebih gak suka lagi liat Marvel ngerasa berkuasa," sahut Ziva datar. Matanya menatap Rian tajam, menuntut kejujuran. "Tapi yang bikin gue penasaran... kenapa cowok se-logis lo bisa bego banget bertahan sama cewek manipulatif kayak Keysha selama dua tahun? Lo kayak kerbau dicucuk hidung, Rian. Itu gak masuk akal buat ukuran cowok yang juara umum paralel."
Rian tersenyum miris. Dia memutar-mutar cangkirnya. "Lo bener. Itu emang bego. Tapi buat gue yang dulu, Keysha itu bukan cuma sekadar pacar. Dia itu alasan gue buat tetep bertahan hidup."
Ziva menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Kedengarannya dramatis. Spill."
Rian menyandarkan punggungnya, pandangannya menerawang menembus kaca jendela yang mulai berembun oleh rintik hujan. Memorinya berputar mundur ke dua tahun lalu. Ke salah satu fase paling hitam dalam hidupnya.
"Dua tahun lalu, waktu bokap sama nyokap gue cerai dengan cara yang paling kotor, mental gue hancur total," Rian memulai cerita. Suaranya rendah, agak serak, menahan beban emosi yang selama ini dia kubur sendiri. "Malam itu, gue bener-bener di titik nadir. Gue ngerasa gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Gue lari keluar dari rumah sakit umum daerah setelah denger kabar nyokap nyawanya gak bisa selamat di ruang UGD."
Ziva diam, mendengarkan dengan saksama. Aura sinisnya perlahan luruh, digantikan oleh sorot mata yang fokus.
"Gue keluar dari ruang rawat dengan otak kosong. Badan gue gemeteran hebat di koridor luar rumah sakit. Di luar lagi hujan badai, mirip kayak malam ini," lanjut Rian, jemarinya mengepal di atas meja. "Gue duduk di emperan, nangis sendirian kayak orang gila. Gue bener-bener mau menyerah malam itu. Gue mikir, buat apa gue bangun besok pagi kalau dunianya se-berantakan ini?"
Rian menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah oksigen di sekitarnya mendadak menipis. "Terus, dia datang."
"Keysha?" tebak Ziva, suaranya nyaris berbisik.
"Gue gak tau namanya malam itu. Tapi seorang gadis mendadak berdiri di depan gue. Dia payungin gue yang udah basah kuyup. Dia gak nanya gue kenapa, dia gak kepo. Dia cuma berlutut di depan gue, genggam tangan gue yang gemeteran parah, dan bisikin kata-kata yang gak akan pernah gue lupain seumur hidup gue."
Rian menatap Ziva, matanya berkaca-kaca namun penuh ketegasan. "Dia bilang: 'Jangan kalah sama malam. Besok matahari masih bangun.'"
Mendengar kalimat itu, tubuh Ziva mendadak kaku. Jemari cewek itu yang tadinya bermain di pinggiran meja langsung berhenti bergerak. Namun, Rian terlalu larut dalam ceritanya hingga tidak menyadari perubahan ekspresi lawan bicaranya.
"Kalimat itu sederhana, Ziv. Tapi buat gue yang lagi di ambang jurang, itu kayak pegangan hidup," tutur Rian dengan senyum tipis yang getir. "Gak lama setelah itu, dia pergi terburu-buru karena dipanggil sama sopirnya dari arah gerbang. Pas dia lari, pita merah yang dia pakai buat ikat rambutnya terlepas. Pita itu jatuh di genangan air tepat di depan gue."
"Pita... merah?" suara Ziva terdengar agak tercekat, tenggorokannya mendadak kering.
"Iya, pita merah satin. Gue simpen pita itu sampai sekarang," kata Rian. "Lalu beberapa bulan kemudian, pas masuk SMA, gue liat pita yang sama persis di tas Keysha. Warna, tekstur, bahkan potongan ujungnya sama. Pas gue tanya, Keysha mengonfirmasi kalau dia emang sering ke RSUD itu dua tahun lalu buat jenguk tantenya. Dari situ gue yakin, Keysha adalah malaikat penolong gue malam itu. Makanya, selama ini gue selalu ngalah, selalu sabar menghadapi semua sifat egois dan manipulatifnya. Karena gue ngerasa hidup gue ini milik dia."
Rian mengembuskan napas lega, seolah baru saja mengangkat batu besar dari dadanya. "Tapi sore tadi, pas gue liat dia lebih milih belain Marvel yang jelas-jelas bajingan, gue sadar. Malaikat malam itu mungkin udah berubah, atau gue yang terlalu bodoh mengaitkan masa lalu sama realitas sekarang. Gue udah selesai sama dia, Ziv."
Rian menyudahi ceritanya, lalu meneguk americanonya yang mulai dingin. "Kenapa, Ziv? Kok lo bengong? Cerita gue terlalu cengeng, ya?"
Di seberang meja, Ziva masih mematung. Wajahnya yang biasanya dipenuhi ekspresi meremehkan dan santai, kini berubah tegang luar biasa.
Matanya melebar, menatap Rian dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara syok, tidak percaya, dan kemarahan yang mendalam yang berusaha dia tekan sekuat tenaga.
Jantung Ziva bertalu-talu di dalam rongga dadanya.
'Jangan kalah sama malam. Besok matahari masih bangun.'
Itu kalimatnya. Itu adalah kalimat yang dia ucapkan dua tahun lalu kepada seorang cowok asing yang menangis sesenggukan di RSUD saat dirinya sendiri sedang frustrasi mencari ketenangan setelah bertengkar hebat dengan ayahnya. Dan pita merah itu... itu adalah pita kesayangan mendiang adik nya yang baru saja meninggal dunia malam itu.
Bukan Keysha. Keysha Mariela tidak pernah ada di sana malam itu. Keysha, si ratu drama yang licik itu, pasti tidak sengaja melihat pita tersebut, mendengar cerita Rian secara sekilas, dan dengan menjijikkannya mencuri identitas serta momen sakral itu untuk menjinakkan Rian.
Untuk menjadikan Rian peliharaan setianya yang selalu bisa dimanfaatkan.
Ziva mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah raksasa membakar dadanya.
Keysha dan Marvel... dua orang itu benar-benar sepasang manusia paling busuk yang pernah dia kenal.
Marvel menghancurkan reputasinya dengan rumor murahan, dan Keysha mencuri kenangan paling berharga dalam hidupnya untuk memanipulasi Rian.
Rian memperhatikan perubahan drastis pada wajah Ziva. Cowok itu mengerutkan kening, merasa heran. "Ziv? Lo oke? Muka lo pucat banget."
Ziva tersentak, dengan cepat menguasai dirinya kembali. Dia menarik napas dalam-dalam, memaksakan sebuah senyuman tipis dan dingin—senyuman yang menyembunyikan badai besar di baliknya.
Dia tidak akan membocorkan rahasia ini sekarang. Belum saatnya. Kalau dia mengatakannya sekarang, Rian hanya akan menganggapnya sedang mengarang cerita demi persaingan cewek belaka.
Tidak. Permainan ini harus dimainkan dengan cantik. Keysha dan Marvel harus jatuh sejatuh-jatuhnya sampai mereka tidak bisa bangkit lagi.
"Gue oke," jawab Ziva, suaranya kembali terdengar santai, walau ada nada tajam yang tersisa. Dia memperbaiki posisi duduknya, menatap Rian dengan binar mata penuh rencana. "Gue cuma... agak merinding aja denger cerita lo. Ternyata lo punya sisi puitis yang agak menggelikan."
Rian tertawa kecil, ketegangan di antara mereka mencair. "Sialan lo. Gue kan cuma jujur."
"Baguslah kalau lo udah sadar," kata Ziva sambil mengambil tas sekolahnya dan berdiri. "Udah malam, yuk balik. Lagian, status 'pacaran' kita di parkiran tadi pasti udah menyebar ke seluruh grup angkatan. Besok, siap-siap aja liat muka dua orang itu makin matang karena gosong menahan emosi."
Rian ikut berdiri, memakai jaketnya. "Gue siap. Lagian, ada pacar keren kayak lo yang bakal nemenin gue, kan?" canda Rian.
Ziva hanya mendengus, namun dalam hatinya, dia berjanji.
Keysha Mariela, lo udah nikmatin hasil curian lo cukup Lama. Sekarang, saatnya lo bayar bunganya.
......................
...****************...
Tbc,