NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. SEBUAH PETUNJUK

Beberapa saat, Arka terdiam melihat daftar tersebut.

"Orang hilang?"

Ayahnya mengangguk.

Arka terus membalik halaman demi halaman.

Ada foto seorang pria tua.

Seorang perempuan muda.

Seorang pekerja perkebunan.

Bahkan beberapa anak muda yang wajahnya terpampang di laporan tersebut.

Di samping setiap foto terdapat nama, umur serta tanggal terakhir mereka terlihat.

Arka semakin serius membaca.

"Lima belas orang..."

Tangannya berhenti di salah satu halaman.

"Sudah berapa lama kejadian ini terjadi?"

Arka menatap ayahnya.

"Baru beberapa bulan yang lalu."

Phat yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara dengan ekspresi sedikit cemas dan menatap ayahnya.

"Dan bukan cuma lima belas orang saja yang hilang."

Arka menoleh ke arahnya.

"Apa, maksud mu?"

Phat menyandarkan tubuhnya ke kursi dan duduk.

"Kau ini bodoh atau apa!?"

"Itu hanya daftar tidak berguna dan tidak jelas."

Arka terdiam.

Ia kembali melihat dokumen di tangannya.

"Tapi...apa hubungannya dengan Pak Braun?"

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Justru ia mengambil sebuah foto dari dalam map dan menyerahkan kepada Arka.

Arka menerima foto tersebut.

Foto itu memperlihatkan Pak Braun sedang berdiri di depan peternakan domba miliknya beberapa hari sebelum kematiannya.

Arka mengeriyit.

"Ini foto Pak Braun."

"Benar."

"Kenapa ayah punya foto ini disini?"

Phat menyela dan marah kepada Arka.

"Apa kau perlu tau ayah mendapatkan foto itu dari mana!"

"Umm... Yah aku hanya bertanya, mungkin ini bisa menjadi bukti untuk diserahkan kepada polisi."

Phat dan ayahnya seketika tersentak bersamaan dan berdiri menatap Arka dengan sedikit kecemasan.

"TIDAK! KAU TIDAK BOLEH!"

"Kenapa kalian marah, aku hanya sedikit memberikan saran agar aku bisa bebas dari tahanan rumah."

Ayahnya menunjuk ke arah Arka.

"Saran yang kau berikan adalah saran seperti membunuh diri mu sendiri."

Arka menatap ayahnya dengan penuh kebingungan.

Phat menyela percakapan ayahnya dengan Arka.

"Karena kau adalah orang yang menemukannya!"

Arka langsung menoleh.

"Apa maksud mu?"

"Kau berada di kebun malam itu. Kau yang pertama melihat mayat tersebut!"

"Dan itu berarti bukan aku yang membunuhnya!"

"Suara Arka meninggi.

Phat ikut berdiri.

"Aku tidak bilang kau membunuhnya!"

"Tapi cara bicara mu seolah-olah aku pelakunya!"

"Kau sendiri yang membuat semuanya terlihat mencurigakan!"

"Cukup!"

Suara ayah mereka menggema di dalam ruangan.

Keduanya langsung terdiam.

Ayah Arka menatap mereka dengan wajah serius.

"Ini bukannya untuk saling menuduh!"

"Dan kau Arka! Jaga bicara mu dan ikuti saja apa yang ku suruh!"

Arka menarik napas panjang dan kembali duduk.

Namun Phat masih menatapnya dengan penuh kemarahan.

Beberapa detik kemudian, Phat berkata.

"Ayah, ada sesuatu yang belum aku katakan."

Arka mengerutkan kening nya.

"Hah?"

Phat menatap ayahnya.

"Pagi tadi aku mendengar dari salah satu pekerja."

"Apa yang kau dengar?" tanya ayahnya.

"Katanya... Sara ada datang ke rumah utama."

Arka langsung terdiam.

"Sara?"

Phat melirik Arka tidak senang.

"Cihh! Tidak mungkin kau tidak tau, sialan!"

"Tapi sungguh aku tidak tau!"

"Kau tau kan, aku menjadi tahanan rumah dan itu berarti aku tidak bisa bergerak dengan bebas!"

Phat tertawa kecil, tetapi terdengar sinis.

"Tidak tau?"

"Salah satu pekerja mengatakan bahwa Sara datang dan mencari seseorang."

"Dan orang yang dicarinya adalah kau!"

"Kenapa dia mencari ku?"

Phat menghantam meja dengan telapak tangannya.

"Jangan berbohong!"

"PHAT!"

Ayahnya membentak.

Phat mengepalkan tangannya lalu keluar dari ruangan.

"Dasar! Aku pergi!"

"Phat!" Phat! Kembali kau!"

Phat tetap pergi walau ayahnya memanggilnya untuk kembali.

"Dasar anak itu!"

Arka terdiam dan menatap pintu yang Phat gunakan untuk keluar dari ruangan.

Hanya suara jarum jam yang terdengar dari dalam ruangan saat ini.

Tik...

Tik...

Tik...

Untuk pertama kalinya, Arka mulai menyadari bahwa kematian Pak Braun mungkin bukan sebuah kejadian yang berdiri sendiri.

Dan mungkin...

Arka mulai berpikir bahwa Sara sudah ada dirumah dan ingin menemuinya, apakah Sara mengetahui sesuatu dari ayahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!