Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suara deru mesin pengaduk semen terdengar bising memecah keheningan halaman depan SMA Garuda Kelam pagi itu.
Brrrrm!
Beberapa pekerja bangunan sedang sibuk mengecat ulang tembok sekolah yang tadinya kusam berlumut menjadi putih bersih.
Husen berdiri di koridor lantai dua sambil memperhatikan proses perbaikan fasilitas itu dengan senyum tipis.
"Pagi yang cerah untuk sebuah permulaan yang baru, Pak Husen."
Suara sapaan ramah itu membuat Husen menoleh ke samping kanannya perlahan.
Pak Haris berdiri di sana bersama seorang pria muda berkemeja rapi dengan senyum yang sangat manis di wajahnya.
"Selamat pagi juga, Pak Haris."
"Sepertinya dana hibah dari pemerintah kota turun jauh lebih cepat dari dugaan saya sebelumnya."
Pak Haris tertawa pelan dan menepuk bahu pria muda di sebelahnya itu dengan rasa bangga.
"Tentu saja, pemerintah kota tidak mau kehilangan muka setelah prestasi anak-anak kita masuk koran halaman depan."
"Oh ya, perkenalkan ini Pak Dimas, guru honorer baru yang dikirim langsung dari Dinas Pendidikan untuk membantu mengajar di sini."
Husen menatap pria bernama Dimas itu dari atas sampai bawah dengan tatapan tenang yang sulit ditebak maknanya.
"Salam kenal, Pak Husen, saya sudah banyak mendengar kehebatan Bapak dari berita akhir-akhir ini."
Dimas mengulurkan tangan kanannya dengan gaya yang sangat bersahabat dan rendah hati.
"Saya harap saya bisa banyak belajar dari Bapak tentang cara membimbing anak-anak kelas XI-7 yang terkenal itu."
Husen membalas uluran tangan itu dengan genggaman yang cukup erat namun tetap sopan santun.
"Salam kenal juga, Pak Dimas."
"Saya hanyalah guru biasa, anak-anak itu sendiri yang sebenarnya berjuang sangat keras untuk menang."
Tepat saat kulit tangan mereka bersentuhan, sebuah sensasi dingin tiba-tiba merayap masuk ke telapak tangan Husen.
Ting!
Suara peringatan dari sistem mendadak berbunyi sangat nyaring di dalam kepala Husen tanpa aba-aba apa pun.
[Peringatan Darurat: Radar Sabotase Pasif mendeteksi niat permusuhan tersembunyi dalam radius satu meter]
[Target terindikasi mengaktifkan teknik manipulasi sosial tingkat tinggi]
Husen melepaskan jabatan tangan itu dengan santai seolah dia sama sekali tidak membaca tulisan merah melayang di depannya.
"Dinas Pendidikan rupanya sangat berbaik hati mengirimkan tenaga muda yang segar ke sekolah kita ini, Pak Haris."
Husen berbicara dengan nada datar sambil mengaktifkan Skill Mata Penilai Level 2 di dalam benaknya secara diam-diam.
Sring.
Pandangan Husen langsung menembus topeng keramahan Dimas dan memunculkan rentetan informasi rahasia yang sangat detail.
[Nama Target: Dimas Anggara]
[Afiliasi Asli: Mata-mata Yayasan Pendidikan Arunika / Suruhan Kepala Sekolah Wijaya]
[Potensi: Ahli Manipulasi Psikologis dan Pemalsuan Dokumen Berbahaya]
[Tujuan Saat Ini: Mengambil hati murid kelas XI-7 untuk meruntuhkan kepercayaan mereka pada Host]
Husen menyunggingkan senyum yang sangat tipis di sudut bibirnya setelah selesai membaca data intelijen tersebut.
"Ternyata si tua Wijaya bergerak jauh lebih cepat dari dugaanku kemarin sore."
"Dia mengirimkan serigala berbulu domba untuk menghancurkanku dari dalam kandangku sendiri."
Husen membatin dengan perasaan geli karena musuhnya sama sekali tidak tahu bahwa penyamaran rapi ini sudah terbongkar sejak detik pertama.
"Kalau begitu, mari kita sambut Pak Dimas di ruang guru agar beliau bisa meletakkan barang-barangnya sejenak."
"Kebetulan saya harus segera masuk ke kelas XI-7 untuk memulai jam pelajaran pagi ini."
Dimas tersenyum semakin lebar dan menganggukkan kepalanya dengan sopan santun yang dibuat-buat sedemikian rupa.
"Silakan Pak Husen, saya akan berkeliling sekolah dulu bersama Pak Haris untuk adaptasi lingkungan baru ini."
Tap tap tap.
Husen berjalan menyusuri koridor panjang dan mendorong pintu kayu kelas XI-7 yang sudah diperbaiki engselnya.
Krieet.
Suasana di dalam kelas langsung hening seketika begitu Husen melangkah masuk ke ruangan.
Bara yang sedang asyik mengobrol dengan Rico langsung berlari kembali ke tempat duduknya dengan tertib.
"Selamat pagi, Pak Husen!"
Seluruh kelas berseru serempak dengan suara lantang yang penuh dengan rasa hormat mutlak kepada pahlawan mereka.
"Selamat pagi semuanya, kalian terlihat sangat bersemangat pagi hari ini."
Husen meletakkan buku catatannya di atas meja guru dan menatap murid-muridnya satu per satu dengan hangat.
"Sebelum kita mulai pelajaran, saya punya satu pengumuman kecil dari pihak sekolah untuk kalian semua."
"Mulai hari ini, akan ada satu guru baru yang ikut mengajar di sekolah kita bernama Pak Dimas."
Nisa langsung mengangkat tangan kanannya dan membetulkan letak kacamata tebalnya perlahan.
"Guru baru?"
"Untuk apa sekolah kita tiba-tiba menerima guru baru padahal kita baru saja selamat dari ancaman penutupan bulan lalu, Pak?"
Husen mengangguk pelan membenarkan pertanyaan kritis yang keluar dari mulut siswi genius tersebut.
"Dinas beralasan kita kekurangan tenaga pengajar untuk persiapan akreditasi sekolah tahun depan, Nisa."
"Pak Dimas ini terlihat sangat ramah, baik hati, dan sepertinya sangat ingin dekat dengan kalian semua di sini."
Husen memberi penekanan khusus pada kata ramah dan baik hati dengan intonasi nada yang sedikit diayunkan turun.
Bara yang memiliki insting jalanan sangat tajam langsung mengerutkan dahinya mendengar intonasi aneh dari wali kelasnya itu.
"Bapak ngomongnya kok kedengeran kayak lagi nyindir guru baru itu sih?"
"Ada yang salah ya sama orang ini sampai Bapak harus kasih peringatan terselubung ke kita?"
Husen tersenyum lebar dan segera mengaktifkan Skill Komunikasi Empatik untuk menyambungkan pikirannya ke Bara dan Nisa.
Wusss.
"Jangan bereaksi berlebihan dan tetaplah menatap ke arah depan seolah aku sedang mengajar seperti biasa."
Suara Husen langsung bergema sangat jernih di dalam kepala Bara dan Nisa secara bersamaan, membuat mereka berdua sedikit tersentak kaget.
"Guru baru bernama Dimas itu adalah mata-mata kotor yang dikirim oleh musuh kita dari kubu Cakrawala."
"Dia ditugaskan untuk menghancurkan kelas ini dari dalam dengan cara berpura-pura menjadi teman baik yang pengertian pada kalian."
Nisa menggertakkan giginya pelan dan bola matanya langsung memancarkan aura permusuhan yang sangat dingin.
"Berani-beraninya mereka menyusup ke wilayah kita setelah kalah memalukan di panggung kota kemarin sore."
Nisa membatin dengan sangat kesal dan langsung direspons oleh Husen melalui saluran telepati pikirannya.
"Biarkan dia merasa rencananya berjalan mulus tanpa hambatan, Nisa."
"Kalau kita langsung mengusirnya sekarang, mereka hanya akan mengirim orang lain yang mungkin jauh lebih berbahaya dan tersembunyi."
Bara menyeringai miring dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan gaya preman aslinya yang slengekan.
"Gue paham maksud jalan pikiran Bapak sekarang."
"Kita mainin aja drama murahan guru baru itu sampai dia nyerah dan kena mentalnya sendiri nanti, kan?"
"Tepat sekali, Bara, aku ingin kalian semua berpura-pura jatuh ke dalam jebakan kebaikannya perlahan-lahan mulai hari ini."
Husen memutus koneksi telepatinya dan kembali berbicara dengan volume suara normal di depan kelas.
"Jadi, saya sangat berharap kalian semua bersikap baik dan sangat terbuka pada Pak Dimas saat dia masuk ke kelas ini nanti."
"Jangan sampai sekolah kita dinilai buruk karena murid-muridnya tidak sopan pada tamu dari dinas pendidikan."
Seluruh murid di kelas itu mengangguk patuh meskipun banyak dari mereka yang belum tahu rencana rahasia Husen sesungguhnya.